Opini: Mengapa Kita Masih Menyanyikan Lagu Erika?

0

Siapa yang tidak tahu lagu Erika? Lagu andalan band OSD Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ini acap kali dinyanyikan ketika perayaan-perayaan besar seperti wisuda hingga OSKM. Aku pertama kali mendengarnya ketika mereka menyanyikannya pada salah satu perayaan syukuran wisuda di ITB.

Pengalaman tak terlupa, waktu aku mahasiswa
Kecantol di Surabaya, janda muda nama Erika
Erika buka celana, diam-diam main gila
Sambil bawa botol fanta, siapa mau boleh coba
Oh …. goyang Erika luar biasa
Oh …. lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Pagi-pagi Erika mandi, lenggak-Ienggok di pinggir kali
Kagetku setengah mati, lihat barang kayak serabi
Ha ha ha ha … ha hi hi hi hi … hi anunya kegedean
Ha ha ha ha … ha hi hi hi hi … hi itunya kesempitan
Atas Nama Dangdut & Cinta

Sejak awal mendengar, aku sudah merasa tidak enak. Lirik apaan, sih? Lalu, aku melihat ke sekeliling. Tidak ada yang kelihatan terganggu. Orang-orang ikut asyik menyanyikan lagu itu, beberapa naik ke panggung dan ikut menari, semuanya tampak … baik-baik saja? Mungkin, aku yang terlalu berlebihan.

Erika sebagai Objek

Aku tidak berlebihan. Lirik lagu “Erika” adalah contoh yang sangat cocok untuk menggambarkan kategori “Lirik Lagu yang Mengobjektifikasi Perempuan secara Seksual, tetapi Masih Saja Dinyanyikan di Kampus ITB”. Lirik itu sudah salah sejak… dalam pikiran?

Mari kita kupas. Objektifikasi adalah suatu tindakan ketika seseorang diperlakukan sebagai komoditas atau objek tanpa memperhatikan kepribadian atau martabatnya, ketika seorang manusia hanya dipandang sebagai objek tanpa kemanusiaannya. Lagu “Erika”, tersurat dan tersirat dari liriknya, memperlakukan Erika (yang merupakan seorang wanita) sebagai objek seksual. Subjeknya adalah si “aku” yang saat ia masih menjadi mahasiswa, kecantol janda muda bernama Erika di Surabaya. Lirik tersebut jelas-jelas menunjukkan fantasi seksual terhadap perempuan.

Lebih spesifik, objektifikasi dalam lagu “Erika” adalah objektifikasi seksual—tindakan memperlakukan seseorang semata-mata sebagai objek hasrat seksual.  Objektifikasi seksual terhadap perempuan adalah bagian dari ketidaksetaraan gender, dengan mereduksi perempuan menjadi objek yang seakan mengamini adanya gender superior, dalam kasus ini laki-laki, yang mampu dan berhak menentukan dan membatasi “nilai” seorang perempuan. Objektifikasi juga dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan fisik dan mental pada perempuan. Objektifikasi seksual dapat direpresentasikan dalam sebuah spektrum [1]: tindakan dan kekerasan yang lebih mencolok—seperti penyerangan, eksploitasi, dan perdagangan—berada di satu sisi, dan tindakan yang lebih halus dan terselubung—seperti tatapan objektif, sindiran seksual yang tidak pantas, dan pujian penampilan—ada di sisi lain. Objektifikasi seksual perempuan membuat perempuan dilihat terutama sebagai objek pemuas hasrat seksual laki-laki, bukan sebagai pribadi secara keseluruhan, bukan manusia secara utuh.

Musik dan Objektifikasi Perempuan

Ditinjau dari segi musik, belum ada penelitian yang secara spesifik membahas lirik lagu yang mengobjektifikasi perempuan. Namun, terlepas dari alat bantu visual, lirik memiliki efek yang mendalam pada sosialisasi sikap perempuan dan laki-laki terhadap perempuan [2]. Lirik biasanya ditiru dan dinyanyikan dengan keras oleh pendengar, sehingga memiliki potensi lebih besar untuk memengaruhi pendengar sebagai bentuk ikatan sosial daripada konten visual yang direpresentasikan dalam video musik [3].

Banyak lirik dan video musik populer mengandung konten seksual tingkat tinggi, seiring  dengan semakin banyaknya lagu yang mengandung pesan-pesan seperti laki-laki yang mengendalikan perempuan, seks sebagai prioritas utama bagi laki-laki, objektifikasi, kekerasan seksual terhadap perempuan, eksploitasi seksual, degradasi perempuan, perempuan didefinisikan dengan memiliki laki-laki, dan perempuan tidak menghargai diri mereka sendiri tanpa laki-laki [4] [5] [6]. Dampak dari pesan-pesan ini telah diperiksa sehubungan dengan stereotip peran seks dan sikap terhadap wanita [7], kencan dan perilaku seksual [8], keyakinan misoginis [9], keyakinan pemerkosaan (rape beliefs) [10], persepsi calon pasangan kencan [11], keyakinan seksual [12], skrip seksual [13], kekerasan terhadap perempuan [14], dan menyatakan objektifikasi diri, suasana hati, dan kepuasan tubuh [15]. Studi-studi ini menunjukkan bahwa pesan dalam musik populer secara negatif memengaruhi persepsi dan interaksi pendengar terhadap perempuan.

Hal ini adalah gejala dari suatu sistem masyarakat yang memandang perempuan sebagai gender subordinat. Objektifikasi seksual perempuan dalam lirik lagu berperan seperti positive feedback dalam menguatkan sistem masyarakat yang patriarkis: semakin patriarkis, semakin banyak lirik yang mengobjektifikasi seksual perempuan, dan semakin banyak lirik yang mengobjektifikasi seksual perempuan, semakin menguatlah sistem patriarkis masyarakat tersebut.

Perempuan versus Dirinya Sendiri

Salah satu dampak buruk objektifikasi seksual pada individu (dalam hal ini, terutama perempuan) adalah bahwa perempuan belajar untuk mengobjektifikasi dirinya sendiri (self-objectification). Ketika melakukan hal ini, perempuan menginternalisasi perspektif pengamat tentang tubuh mereka dan menganggap penampilan mereka lebih penting bagi konsep diri mereka dibanding atribut mereka yang lain (misalnya kesehatan fisik, emosi, kognisi [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22]). Perempuan jadi menganggap dirinya sebagai objek, sebagai suatu atribut tertentu (misalnya sebatas “cantik” semata), dan melupakan bahwa dirinya adalah manusia yang utuh. 

Pengalaman objektifikasi seksual dapat diperoleh melalui pengalaman pribadi (misalnya catcalling, menatap dengan tidak senonoh, atau pelecehan seksual, atau mendengar lirik dalam lagu Erika) dan penggambaran media (fokus pada bagian tubuh tertentu; reduksi peran perempuan menjadi peran-peran yang fungsinya hanya untuk memenuhi hasrat laki-laki). Membludaknya pengalaman ini membuat perempuan belajar dan beradaptasi untuk fokus pada penampilan mereka daripada atribut mereka yang lain. Hal ini dapat merambat pada penyakit mental: mulai dari gangguan makan hingga depresi.

Perempuan yang melakukan objektifikasi diri memosisikan dirinya untuk memuaskan orang lain. Hidupnya berkutat untuk memenuhi kepuasan dan hasrat orang lain, bukan untuk dirinya sendiri. Ia lebih sering bertanya “apa yang harus kulakukan?” dibanding “apa yang mau kulakukan?”.

Dalam praktiknya, ketika menyanyikan lagu Erika, bahkan ada mahasiswi yang diminta menjadi “Erika” dan diajak ke atas panggung. Meminjam kalimat Remotivi di artikel ini, mahasiswa yang menonton penampilan OSD dan turut menyanyikan lagu Erika “seakan memberikan pengesahan, bahwa lelucon-lelucon yang cenderung merendahkan perempuan adalah sesuatu yang biasa dan memang patut dijadikan bahan tertawaan, bahkan oleh perempuan sendiri. Di sini diperlihatkan [juga]bahwa perempuan seolah mengamini objektifikasi atas diri mereka sendiri.”

Budaya Pemerkosaan

Dengan melakukan objektifikasi seksual, kita turut melanggengkan budaya pemerkosaan (rape culture). Budaya pemerkosaan adalah konsep sosiologis ketika pemerkosaan merebak dan dinormalisasi (dan di-excuse) karena sikap masyarakat tentang gender dan seksualitas.

Budaya pemerkosaan menciptakan kurangnya kesadaran perempuan terhadap pemerkosaan, kecenderungan masyarakat (dan pada beberapa kasus, korban itu sendiri) untuk melakukan victim blaming. Akibat budaya ini pula, banyak perempuan menyatakan bahwa mereka merasa bahwa mereka bahkan tidak dapat mengakui pemerkosaan kepada teman dan keluarga yang paling mereka percayai karena mereka sangat takut akan akibatnya. Takut tidak dipercaya dan dianggap rendah, atau bahkan disalahkan atas insiden yang terjadi (“Baju kamu sih, terbuka!”; “Itu kan pacarmu sendiri… Nggak mungkin dia merkosa.”; “Kamu sih, pulang malam-malam’ terus.”; “Masa, sih? Kamu yakin bukan kamu yang mengundang?”). Selain itu, yang lebih miris, budaya pemerkosaan mewajarkan pernikahan antara korban dan pemerkosa. Bayangkan kamu tinggal serumah dengan perampok yang mencuri barangmu dan menyakitimu. Bayangkan trauma yang harus dirasakan korban tiap hari, melihat pemerkosanya setiap saat.

Budaya pemerkosaan menormalisasi kekerasan seksual, dan mewajarkan terjadinya kasus pemerkosaan. Hal ini membuat korban semakin rentan, dan bahkan menjadi “korban dua kali” apabila ia melanjutkan gugatannya ke jalur hukum, karena orang-orang yang ada dalam proses hukum tersebut mayoritas merupakan orang-orang yang masih ada dalam budaya ini dan buta kesetaraan gender, sehingga memiliki presumsi tidak percaya terhadap pengakuan korban. Kita dapat lihat contohnya dengan jelas pada kasus Ye Seul dalam drama Law School, ketika masyarakat dan rekan-rekan sesama mahasiswanya tidak mempercayai bahwa ia telah diperkosa pacarnya sendiri.

Kekerasan seksual dan tingkatannya. Sumber: Blackburn Center

Tanpa disadari, kita mungkin telah menjadi bagian yang turut menciptakan lingkungan yang menyeramkan itu. Karena terlalu dibiasakan, kita seringkali menganggap remeh hal-hal seperti candaan seksis, catcalling, dan tentu saja—menyanyikan lagu Erika. Ah, cuma gitu doang. Bahkan, seringkali, perempuan sendiri merasa ini bukan masalah. Kalaupun iya—kalau perempuan merasa tidak nyaman, seringkali ia terpaksa mengesampingkan perasaannya ini karena ketika melihat sekitar, semuanya tampak baik-baik saja. Padahal, ada mahasiswa ITB yang menjadi korban kekerasan seksual, seperti yang dicantumkan oleh Shofwan (PL’19) di artikel ini. Kita justru tidak boleh merasa baik-baik saja.

Penutup: “Malam Jalan Masih Panjang…”

Lirik dalam lagu Erika menggambarkan adanya objektifikasi seksual dan budaya pemerkosaan yang rupanya masih ada di institut pendidikan tinggi yang katanya terbaik bangsa ini. Menurutku, yang lebih memalukan dari lirik lagu Erika adalah kenyataan bahwa lagu itu masih sering dinyanyikan. Lingkungan seperti apa yang masih mengizinkan lagu dengan lirik tolol semacam itu dinyanyikan dengan bebas? Kalau ada yang menyangkal bahwa itu hanya bercandaan, argumen itu sama tololnya, karena lagu itu sama sekali tidak lucu. Argumen-argumen seperti “luput” atau “tidak sadar” menggambarkan budaya pemerkosaan sejak dalam pikiran. Budaya seperti apa yang ada di himpunan yang menciptakan OSD? Budaya seperti apa yang ada di ITB? Mampukah kita berubah–maukah kita berubah?

Aku yakin, banyak perempuan yang juga merasa “salah” ketika mendengar lagu Erika. Namun, karena kultur yang begitu langgeng, kita terpaksa diam dan menerima kesalahan itu sebagai hal yang normal. Lantas, bagaimana? Hal paling mudah yang dapat kita lakukan adalah menyadari bahwa hal tersebut salah. Kemudian, yang cukup sulit: bersuara.

Yang harus kita sadari juga adalah bisa jadi pelaku memang tidak menyadari bahwa hal itu salah. Seperti kata Evi Mariani dalam artikel ini, bayi-bayi yang lahir kemarin, hari ini, dan besok di tahun ini adalah anak-anak yang lahir ke dunia yang masih patriarki. Sehingga, objektifikasi seksual dan budaya pemerkosaan barangkali dianggap sebagai barang lumrah. Maka, bersuaralah agar mereka tahu.

Jadi, mengapa kita masih menyanyikan lagu Erika?

“Women are perceived to be appalling failures when we are sad. Women are pathetic when we are angry. Women are ridiculous when we are militant. Women are unpleasant when we are bitter, no matter what the cause. Women are deranged when women want justice. Women are man-haters when women want accountability and respect from men.”

-Serena Williams

Daftar Pustaka

[1] Gervais, et al. 2013. Objectification and (De)Humanization. Nebraska Symposium on Motivation 60, DOI: 10.1007/978-1-4614-6959-9_1. New York: Springer Science & Business Media

[2] Cooper, V.W. Women in popular music: A quantitative analysis of feminine images over time. Sex Roles 13, 499–506 (1985). https://doi.org/10.1007/BF00287756

[3] Greitemeyer, Tobias. 2009. Effects of songs with prosocial lyrics on prosocial thoughts, affect, and behavior. Journal of Experimental Social Psychology, 45(1), p186-190. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2008.08.003.

[4] Bretthauer, B., Zimmerman, T., & Banning, J. H. (2007). A feminist analysis of popular music: Power over, objectification of, and violence against women. Journal of Feminist Family Therapy: An International Forum, 18(4), 29-51. doi:10.1300/J086v18n04_02 

[5] Flynn, M. A., Craig, C. M., Anderson, C. N., & Holody, K. J. (2016). Objectification in popular music lyrics: An examination of gender and genre differences. Sex Roles, 75(3-4), 164-176. doi:10.1007/s11199-016-0592-3 

[6] Primack, B. A., Gold, M. A., Schwarz, E. B., & Dalton, M. A. (2008). Degrading and non-degrading sex in popular music: A content analysis. Public Health Reports, 123(5), 593-600.

[7] Carpentier, F. R. D. (2014). When sex is on the air: Impression formation after exposure to sexual music. Sexuality & Culture, 18(4), 818-832. doi:10.1007/s12119-014-9223-8

[8] Wright, C. L., & Qureshi, E. (2015). The relationship between sexual content in music and dating and sexual behaviors of emerging adults. Howard Journal of Communications, 26, 227-253. doi: 10.1080/10646175.2015.1014982

[9] van Oosten, J.M.F., Peter, J., & Valkenburg, P. M. (2015). The influence of sexual music videos on adolescents’ misogynistic beliefs: The role of video content, gender, and affective engagement. Communication Research, 42, 986-1008. doi: 10.1177/0093650214565893

[10] Burgess, M. C. R., & Burpo, S. (2012). The effect of music videos on college student’s perceptions of rape. College Student Journal, 46, 748-763

[11] Carpentier, F. R. D., Knobloch-Westerwick, S., & Blumhoff, A. (2007). Naughty versus nice: Suggestive pop music influences on perceptions of potential romantic partners. Media Psychology, 9(1), 1-17. doi:10.1080/15213260709336800

[12] Aubrey, J. S., Hopper, K. M., & Mbure, W. G. (2011). Check that body! The effects of sexually objectifying music videos on college men’s sexual beliefs. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 55, 360-379. doi: 10.1080/08838151.2011.597469

[13] Stephens, D., & Few, A. (2007). Hip hop honey or video ho: African American preadolescents’ understanding of female sexual scripts in hip hop culture. Sex Cult, 11(4), 48-69. doi:0.1007/s12119-007-9012-8

[14] Johnson, J. D., Jackson, L. A., & Gatto, L. (1995). Violent attitudes and deferred academic aspirations: Deleterious effects of exposure to rap music. Basic and Applied Social Psychology, 16(1-2), 27-41. doi:10.1080/01973533.1995.9646099

[15] Prichard, I., & Tiggemann, M. (2012). The effect of simultaneous exercise and exposure to thin-ideal music videos on women’s state self-objectification, mood, and body satisfaction. Sex Roles, 67, 201-210. doi:10.1007/s11199-012-0167-x

[16] Bartky, S. L. (1990). Femininity and domination: Studies in the phenomenology of oppression. New York, NY: Routledge.Berger, J. (1972). Ways of seeing. London, England: Penguin.

[17] Berger, J. (1972). Ways of seeing. London, England: Penguin.

[18] de Beauvoir, S. (1952). The second sex (H. M. Parshley, Trans.). New York, NY: Knopf

[19] Fredrickson, B. L., & Roberts, T. (1997). Objectification theory: Toward understanding women’s lived experiences and mental health risks. Psychology of Women Quarterly, 21, 173–206. doi: 10.1111/j.1471–6402.1997.tb00108.x

[20] McKinley, N. M. (1998). Gender differences in undergraduates’ body esteem: The mediating effect of objectified body consciousness and actual/ideal weight discrepancy. Sex Roles, 39, 113–123. doi: 10.1023/A:1018834001203

[21] Kinley, N. M. (2006). Longitudinal gender differences in objectified body consciousness and weight-related attitudes and behaviors: Cultural and developmental contexts in the transition from college. Sex Roles, 54, 159–173. doi: 10.1007/s11199–006–9335–1[22] McKinley, N. M., & Hyde, J. S. (1996). The objectified body consciousness scale: Development and validation. Psychology of Women Quarterly, 20, 181–215. doi: 10.1111/j.1471– 6402.1996.tb00467.x

Kontributor: Humaira Fathiyannisa (TL’18)
Editor : Redaksi Pers Mahasiswa ITB

Share.

Leave A Reply