Opini: Sampai Hari Ini, Predator Seksual Kampus Masih Berkeliaran (dan Kita Masih Membiarkannya)

0

Delapan bulan yang lalu, gua dan teman-teman memberanikan diri mengeksekusi keresahan terhadap pelecehan seksual di kampus ITB yang tak pernah “ditengok”. Melalui media sosial Twitter, LINE, dan Instagram, kami merilis “Survei Eskalasi Isu Pelecehan Seksual di ITB”. 

Karena “data” dan “mahasiswa ITB” adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, maka eskalasi ini kami lakukan dalam bentuk survei. Seperti namanya, tujuan survei ini adalah untuk eskalasi isu, yang membuat setidaknya membuat massa kampus “menengok”. Hasil yang ingin ditunjukkan pada saat itu bukan berupa angka, sehingga segala bentuk masukkan mengenai metodologi kami simpan ke dalam kantong. Karena toh yang ingin ditunjukkan adalah pelecehan seksual terjadi di kampus ITB (titik).  Prinsipnya, apabila ada satu saja kasus pelecehan seksual di kampus, harusnya sudah cukup menjustifikasi kita untuk memperjuangkan hal ini.

Hasilnya? Infografis dan laporan berlembar-lembar yang menunjukkan pelecehan seksual terjadi di kampus ITB[1]. Namun, tulisan ini tidak akan membahas mengenai hasil survei yang telah kami publikasikan. Tulisan ini akan mengungkap apa yang tak ditampilkan dalam laporan maupun infografis tersebut.

Pada survei yang kami buat, terdapat kolom cerita mengenai pengalaman terkait pelecehan seksual. Kolom ini tidak wajib diisi dan tidak pernah dipublikasikan. Dari 208 responden, sebanyak 59 responden mengisi kolom tersebut. Dari sejumlah responden tersebut, 11 diantaranya mencantumkan kontak yang dapat dihubungi. Kemudian, kami bersama HopeHelps ITB melakukan approach kepada 11 orang tersebut untuk memastikan kondisi mereka. Syukurlah, 11 orang tersebut mengatakan bahwa mereka sudah berada dalam kondisi yang baik.

Sebagai satu-satunya orang yang membaca cerita tersebut, tentu reaksi pertama yang gua alami adalah marah. Betapa kejamnya fakta bahwa para pelaku ini bebas berkeliaran. Setelah ini, gua akan memberikan gambaran terkait cerita-cerita tersebut dengan sangat hati-hati dan tidak menunjukkan detail karena akan membahayakan penyintas[2]. Cerita yang akan gua sampaikan adalah murni yang gua dengar dari penyintas, namun memang belum divalidasi lebih jauh. Meski begitu, harapannya kalian dapat menyikapinya secara bijak. 

Tahukah kalian bahwa terjadi pelecehan seksual dalam bentuk pencabulan dan pelaku adalah teman seangkatannya? Terdapat pelecehan seksual oleh kakak tingkat dalam bentuk verbal selama ospek jurusan maupun kegiatan himpunan lainnya? Merebaknya kabar burung atau gosip yang berisi fitnah, pelecehan, dan objektifikasi tentang seseorang yang katanya “bisa dipakai”? Penyebaran foto privat tanpa persetujuan yang bersangkutan dengan disertai ancaman? Catcalling ketika melewati sekretariat suatu himpunan? Candaan seksual oleh teman dan kakak tingkat? Pelecehan seksual verbal di media sosial oleh pengajar? Dan masih banyak lagi cerita dari 59 orang berbeda. Gambaran cerita ini seharusnya cukup membuat pembaca marah atau setidaknya sadar bahwa “pelecehan seksual terjadi di kampus ITB”.

Bagi tim ini, eskalasi hanyalah output, tapi outcome-nya lebih dari itu. Dalam jangka panjang, semangat yang kami tanamkan selain kesejahteraan penyintas adalah agar para pelaku, yang selama ini bebas berkeliaran, berhenti dan “diadili”. Selama tidak ada kepedulian dan tidak adanya infrastruktur yang menjamin kontrol terhadap pelaku pelecehan seksual, selama itu pula mereka bebas berkeliaran.

Setelah 8 bulan, senyuman yang muncul atas reaksi massa kampus yang meriah terhadap isu ini berganti menjadi keresahan (lagi). Memang berbagai aksi telah dilakukan, misalnya dengan kehadiran HopeHelps ITB maupun badan di kabinet yang membuka layanan kebutuhan dasar. Tidak ada yang bermasalah dengan mereka. Namun, yang perlu diketahui bahwa core business dari lembaga-lembaga ini adalah “penyediaan layanan”. Bisa dibilang dalam konteks ini, lembaga-lembaga ini bersifat pasif. Ibaratnya mereka mengisi peran mereka dengan stand-by dibalik hotline dan bersiap setiap ada yang menghubungi. Ini memang berjalan, namun tidak menutup fakta bahwa keadaan belum banyak berubah. 

Kenyataannya, 8 bulan telah berlalu namun predator seksual masih saja bebas berkeliaran. Pasca-publikasi laporan, gua mendengar banyak “curhat” dari para penyintas mengenai apa yang mereka alami. Namun, semua cerita itu selalu diakhiri dengan teman-teman kita yang “memaafkan” pelaku. Ini menjadi salah satu faktor mengapa keadaan belum banyak berubah—lembaga yang ada hanya menjangkau penyintas yang melapor.

Lantas, apakah ini kesalahan penyintas yang “mudah memaafkan” pelaku? TIDAK SAMA SEKALI. Prinsip yang harus dipegang adalah pelakulah yang salah. Sudah cukup stigma yang berakibat pada victim blaming menjadi pola pikir yang jahat. Memang, ada 1001 alasan yang melatarbelakangi penyintas berpikir untuk “memaafkan” pelaku, mulai dari relasi kuasa, hubungan pertemanan, dan lainnya. Namun, alasan-alasan ini tidak boleh menyebabkan kita terjerumus dan menyerah pada “status quo”, kondisi eksisting yang ada. Inilah bentuk pembiaran yang tercantum pada judul tulisan ini. Inilah pembiaran yang sadar tak sadar kita lakukan sehingga melanggengkan penjahat seksual melakukan tindakan bejatnya.

Ini bukanlah banyolan semata. Telinga dan mata ini terus menjadi saksi bagaimana predator-predator itu tidak merasa bersalah dan tidak berhenti. Dari predator-predator tersebut, salah satu di antaranya, masih melakukan aksi yang sama hingga sekarang, walaupun eskalasi isu ini telah dilakukan. Lainnya, bahkan ada yang menjabat posisi penting di organisasi pusat maupun lembaga kampus. Bayangkan, beberapa dari kita yang marah ternyata ikut mendukung mereka menjabat. Kita dengan naif tertawa bersama mereka, ikut meloloskan ide-idenya, sementara masih ada orang yang menderita akibatnya. Masih ada orang yang menjadi korban kebejatan disertai nafsunya, yang dengan mudah ia lakukan tanpa merasa bersalah.

Apakah kemudian kita masih merasa aman dengan menganggap predator seksual jauh dari kita? Tidak cukupkah, wahai mahasiswa ITB, dengan fakta bahwa pelaku kekerasan seksual adalah orang terdekat?[3] Tidak cukupkah “Survei Eskalasi Isu Pelecehan Seksual di ITB” yang menunjukkan kakak tingkat dan teman seangkatan adalah pelaku terbanyak?

Sudah saatnya pembiaran yang kita lakukan ini dihentikan. Predator seksual tidak layak dibiarkan dan tidak ditindak atas apa yang telah mereka lakukan. Langkah terkecil adalah membangun stigma yang pro penyintas dan kontra pelaku. Penyintas memerlukan penyadaran dari kita semua bahwa predator seksual tidak bisa dibiarkan. Penyadaran secara tidak langsung melalui pembentukan stigma ini akan ikut mendukung penyintas berdiri tegak melawan para manusia bejat. Normalisasi pelecehan seksual dalam bentuk apapun, seperti candaan pun, harus dihilangkan.

Hal lainnya adalah pembentukan infrastruktur. Sejarah menunjukkan ketika sistem dari atas tidak hadir atau tidak berhasil memuaskan kebenaran, maka gerakan dari bawahlah yang akan bergerak. Ilustrasinya seperti pada film-film Marvel dan superhero lainnya yang menunjukkan ketika para vigilante turun, masalah selesai secara kilat dan tepat. Tak jarang kita melihat bentuk-bentuk baru untuk “mengadili” pelaku di depan publik. Mulai dari thread di Twitter maupun broadcast yang tersebar di berbagai platform yang mengungkap pelaku, serta bentuk lainnya yang menunjukkan “tren” baru dalam pemberantasan pelaku pelecehan seksual.

Pada akhirnya, tulisan ini tidak hanya berisi pesimisme. Menjadi mahasiswa membuat kita berpegang pada fakta (kondisi eksisting), tetapi tidak lupa terhadap mimpi. Menjadi mahasiswa seharusnya membuat kita terus bergerak, mulai dari pertanyaan. Inilah pertanyaan yang sedang berkutat di pikiran gua:

Katanya KM ITB adalah representasi ideal dari Negara Indonesia. Apakah ideal: sebuah sistem yang tidak menyediakan jaminan keamanan bagi penyintas? Apakah ideal: sebuah lingkungan yang di antara pejabatnya adalah predator-predator seksual? Apakah keluarga dalam “keluarga mahasiswa” artinya melindungi penyintas ataukah justru melindungi predator seksual?

Terakhir, ada dua pesan yang ingin gua sampaikan. Pertama, buat pembaca yang memiliki keprihatinan yang sama dengan gua, gua terbuka buat mengajak kalian ikut dalam perjuangan ini. Silakan hubungi gua. Kedua, buat pembaca yang sadar atau tidak sadar bahwa dirinya adalah predator seksual,

Hasta la vista! Get ready, a storm is coming.

Kontributor: Shofwan Hidayat (PL’19)

Editor : Redaksi Pers Mahasiswa ITB


[1] https://issuu.com/pelecehanseksualkampusitb/docs/laporan_hasil_survei_isu_pelecehan_seksual_di_itb

[2] penyintas adalah terminologi yang sering digunakan untuk menyebut mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual dan berjuang menghadapinya. Istilah korban mulai ditinggalkan karena seakan-akan menggambarkan “pasif” dan “lemah”.

[3] https://tirto.id/pelaku-kekerasan-seksual-terbanyak-adalah-orang-dekat-korban-cmrD

Share.

Leave A Reply