Ceplas-Ceplos Ganecapos

3

Kicauan Dini Hari

Minggu (14/2) sekitar pukul 01.00 WIB, kalangan mahasiswa ITB dikejutkan oleh twit akun Twitter @ceplosanganesha. Tulisan โ€œKami Tidak Dapat Lagi Percaya terhadap Kemampuan Saudara Nada Zharfania Zuhaira sebagai Presiden KM ITBโ€ menjadi awal dari serangkaian โ€œkritikโ€ terhadap Nada Zharfania Zuhaira (TLโ€™16) selaku Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) ITB. Tidak membutuhkan waktu yang lama, twit tersebut telah mencapai seribu retweet pada Rabu (17/2) dini hari. Twit tersebut mendapatkan atensi yang semakin besar tiap harinya.

Empat hari berselang, akun @ceplosanganesha kembali mengeluarkan twit serupa sekitar pukul 02.30 WIB. โ€œKritikโ€ kali ini dilayangkan kepada Guntur Iqbal Kelana Suryadi (PLโ€™17) selaku Ketua Kongres KM ITB. Twit dari akun anonim ini lagi-lagi menuai perhatian, engagement-nya bahkan jauh lebih besar dari twit sebelumnya. Twit tersebut mencapai 600 retweet dalam waktu kurang dari 24 jam. Namun di tengah keributan yang terjadi akibat twiter tersebut, akun @ceplosanganesha menghilang.

Kritik terhadap kinerja pemimpin bukanlah hal yang buruk. Bahkan, hal tersebut dijamin dalam Anggaran Rumah Tangga KM ITB Amandemen 2020 Pasal 5 tentang Anggota KM ITB. Anggota KM ITB diwajibkan mengawasi keberjalanan KM ITB. Definisi mengawasi pada pasal tersebut diperjelas, yaitu berarti turut serta aktif dalam memberikan masukan dan kritik terhadap keberjalanan KM ITB melalui aspirasi ke Kongres KM ITB atau cara-cara lainnya yang tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku di KM ITB. 

Namun, konten berupa โ€œkritikโ€ yang disampaikan oleh akun @ceplosanganesha bukanlah kritik yang baik. โ€œArgumenโ€ yang disampaikan tidak memiliki bukti yang kuat. Terlalu banyak asumsi, spekulasi yang tidak berdasar, dan cacat pikir, sehingga validitas argumen tersebut sangat diragukan. Fokus dari โ€œkritikโ€ yang hendak disampaikan bukanlah performa kepemimpinan, melainkan kehidupan pribadi seseorang. 

Banyak orang yang berspekulasi tentang sosok (atau sosok-sosok) di balik akun ini. Pers Mahasiswa ITB mencoba melakukan investigasi untuk mengetahui dalang di balik rangkaian kicauan kontroversial tersebut.

Tercerahkan

Kami menemukan enam mahasiswa di balik akun @ceplosanganesha, yaitu Guntur Iqbal Kelana Suryadi (PLโ€™17), Muhammad Fawwaz Abiyyu Anvilen (TIโ€™17),ย  Nawaf Alfarizki (FIโ€™18), Zirly Sukarno (ELโ€™18), Jonathan Adriel (FIโ€™19), dan Syah Muhammad Al Akbar (FMIPAโ€™19). Terlepas dari motif masing-masing, terdapat satu tujuan yang mengikat keenamnya, yaitu untuk โ€œmeramaikan massa kampusโ€.

Strateginya ialah dengan membuat banyak akun anonim dengan berbagai persona di Twitter. Metode ini dipilih setelah berkaca dari akun anonim lain (seperti akun @itbfess dan @txtitbfess) yang memang berhasil menginisiasi pembicaraan di kalangan mahasiswa ITB. Setiap akun anonim yang hendak dibuat juga memiliki persona yang berbeda-beda. Hal ini dilakukan untuk merekayasa situasi, sehingga kondisi semakin gaduh. Akun @ceplosanganesha hanya merupakan satu dari sekian akun anonim yang telah mereka buat, tetapi menjadi satu-satunya akun yang cukup berhasil membuat geger kalangan mahasiswa ITB.

Mereka mengakui hal ini pada sidang yang diselenggarakan oleh Institut Sosial Humaniora Tiang Bendera (ISH-Tiben), salah satu unit kajian yang ada di ITB Senin (22/2). Pasalnya, seluruh pelaku, ketika sedang melakukan perbuatan ini, adalah anggota aktif unit ISH Tiben. Namun, akun @ceplosanganesha tidak bergerak atas nama ISH-Tiben. Kemudian, diadakan Musyawarah Anggota Biasa ISH Tiang Bendera Jumat (26/2) untuk menentukan konsekuensi yang tepat bagi perbuatan mereka yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai ISH-Tiben. 

Zirly, Fawwaz, dan Akbar mengakui perbuatan mereka dan bersedia menerima konsekuensinya. Jonathan meninggalkan sidang ketika sedang berlangsung, sementara Guntur dan Nawaf tidak menghadiri sidang tersebut (Nawaf sebelumnya telah mengajukan surat pengunduran diri ISH Tiben). Kini, keenam pelaku telah dicabut keanggotaannya dari ISH-Tiben. Sebelum musyawarah, ketiga pelaku yaitu Zirly, Fawwaz, dan Nawaf telah mengakui perbuatannya dan meminta maaf melalui pesan pribadi kepada Nada (23/2). Pengusul dibuatnya akun ini adalah Jonathan. Menurut pengakuan para pelaku, unggahan pertama (tentang Nada) digunakan untuk menyulut keramaian massa kampus, sedangkan unggahan kedua diinisiasi oleh Guntur sendiri.

Terlalu Cepat

Jika motif utama akun @ceplosanganesha memang untuk mendapatkan publisitas dan โ€œbikin ramaiโ€, maka tak dapat dipungkiri bahwa ia cukup sukses dalam meraihnya. Postingan pertama mendapatkan lebih dari 1.300 retweet, dan postingan kedua di-retweet lebih dari 600 orang. Sejauh ini, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari fenomena meledaknya akun ini di jagat twitter.

Hal ini makin menyadarkan kita bahwa semua orang bisa menjadi โ€œjurnalisโ€. Namun, tidak semua orang dapat menjadi jurnalis yang kredibel. Semua orang dapat menyebarkan informasi secara cepat, meskipun hal itu merupakan berita yang dipenuhi asumsi dan tidak memiliki bukti valid, bahkan hingga menjadi viral. Menurut studi, berita bohong menyebar enam kali lebih cepat di Twitter dibandingkan berita nyata. Dalam studi tersebut disebutkan bahwa berita palsu lebih cepat tersebar di Twitter karena orang-orang me-retweet item berita yang tidak akurat. 

Selanjutnya, masalah pengalihan isu. Seperti yang juga sudah disebutkan @ceplosanganesha dalam tulisan-tulisannya, banyak masalah yang terjadi di ITB. Pemilu Raya KM ITB yang sedang berlangsung, permasalahan UKT, SM ITB, pemenuhan fasilitas selama PJJ, dan lain-lain. Adanya โ€œberitaโ€ sensasional seperti ini berpotensi mengalihkan fokus mahasiswa dari isu-isu yang seharusnya dikawal. Selain itu, โ€œpergerakanโ€ seperti ini juga dapat mendiskreditkan gerakan-gerakan kemahasiswaan lain. Ada kemungkinan masyarakat dan mahasiswa ITB mengasosiasikan โ€œgerakan mahasiswaโ€ dengan pergerakan seperti yang dilakukan oleh @ceplosanganesha, sehingga mendapat citra yang tidak baik. 

Posisi Pelaku sebagai Anggota Kongres KM ITB

Berdasarkan AD/ART KM-ITB Amandemen 2020, Kongres KM ITB adalah lembaga pemegang kekuasaan legislatif di tingkat pusat dalam kehidupan kemahasiswaan di Institut Teknologi Bandung. Lembaga ini merupakan perwakilan dari mahasiswa yang terorganisasi dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan di Institut Teknologi Bandung. Kongres KM ITB menentukan garis besar kebijakan dalam kehidupan kemahasiswaan di ITB. Namun nyatanya, 2 orang di balik akun @ceplosanganesha adalah anggota kongres. Bahkan, salah satunya adalah ketua kongres itu sendiri.

Kongres KM ITB adalah lembaga legislatif yang memiliki pengaruh besar dalam kemahasiswaan di ITB. Hal ini menjadikan keduanya sebagai figur publik. Artinya, di hadapan massa kampus, kepentingan mereka dituntut sebagai cerminan kepentingan massa kampus, terutama kepentingan himpunannya masing-masing. Selain itu, konflik ini juga mengurangi kredibilitas dan mencoreng nama kongres karena adanya kemungkinan konflik kepentingan dalam kongres itu sendiri. 

Ketika tulisan ini dipublikasikan, Guntur telah mengakui perbuatannya kepada pihak HMP PL ITB. Pihak himpunan saat ini tengah melakukan investigasi internal terkait hal tersebut. Badan Perwakilan Anggota (BPA) MTI ITB juga baru saja mengeluarkan TAP penurunan Fawwaz dari posisinya sebagai senator.

Dari Kacamata Penikmat

Fenomena viralnya akun @ceplosanganesha ini cukup menggambarkan kecenderungan mahasiswa ITB dalam menanggapi kabar yang beredar di media sosial. Dengan total 1300 retweet dan 220 replies pada kicauan pertamanya, fenomena ini membuktikan besarnya engagement pengguna twitter terhadap akun tersebut. Tidak terkecuali mahasiswa ITB yang berani menyuarakan pendapatnya untuk menanggapi cuitan akun tersebut. 

Di sisi lain, penyebaran jangkauan kicauan yang seharusnya bisa dihentikan, justru semakin menyebar luas dengan banyaknya retweet yang dilakukan oleh orang-orang yang menyuarakan pendapatnya, dan malah bertindak seperti buzzer. Selain itu, akun tersebut dilaporkan โ€œterhapusโ€ pada tanggal 18 Februari 2021 sekitar pukul 23.20 WIB. Untuk sesaat, warganet dihibur melalui kemenangan fana dengan asumsi berhasil me-report akun anonim tersebut. Namun, akun tersebut ternyata ditutup secara langsung oleh pelaku. Hal ini memperlihatkan tidak cukupnya aduan kepada pihak Twitter untuk membekukan akun tersebut. Kejadian ini cukup mengindikasikan bahwa mahasiswa ITB masih โ€œmenikmatiโ€ konten-konten yang disajikan oleh akun. 

Dapat terlihat bahwa arus diskusi mengenai suatu isu dapat dengan mudah digerakkan dengan kehadiran sosial media. Kemudahan akses ini membuat tersebarnya isu menjadi semakin cepatโ€”yang bahkan tidak diduga oleh si pelaku. Di sisi lain, sebetulnya, akun Ceplosan Ganesha ini bukanlah akun pertama yang hadir dan menggegerkan mahasiswa ITB. Tak lama sebelum ini, banyak pula akun anonim yang berhasil menggegerkan dengan cuitannya yang cukup kredibel. Melalui cuitan tersebut, akun anonim ini memperjuangkan hak-hak mahasiswa ITB. Salah satunya, @suaraganesha10 yang berusaha menyuarakan mengenai kesejahteraan mahasiswa selama kegiatan PJJ. Bahasan yang dibawa oleh akun ini meliputi kebijakan-kebijakan rektorat yang sering kali tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Mulai dari kronologi dan kejelasan wisuda, SM ITB, FRS, hingga perihal beasiswa UKT. Isu ini cukup kontekstual dengan tuntutan massa kampus yang juga beredar di Twitter. Jika dibandingkan, sejak merilis cuitan pertamanya pada tanggal 20 Januari 2021, cuitan ini telah mendapatkan 390 retweet. Angka ini menggambarkan jangkauan yang besar tetapi tidak cukup besar dibandingkan engagement yang didapat oleh Ceplosan Ganesha. Pun dalam perbandingan segi isu yang ditawarkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa massa lebih tertarik terhadap sesuatu yang kontroversial, diindikasikan dari banyaknya retweet, replies, dan likes masing-masing konten.  

Hidupnya @ceplosanganesha dan @suaraganesha secara berdampingan menjadi manifestasi atas sisi anonimitas yang bermata dua. Di sisi lain, kredibilitas serta pertanggungjawaban tetap diperlukan dalam pertukaran informasi. Pada akhirnya, hal yang bisa dikendalikan hanyalah bagaimana cara kita menyikapinya sebagai penerima.

Muhasabah 

Beropini dan berpendapat di ruang publik bukanlah hal yang buruk. Namun, hal tersebut bisa menjadi buruk apabila opini kita tidak melihat permasalahan secara utuh dan opini kita tidak didukung bukti yang kuat. Harapannya, kejadian ini cukup memberikan kita, sebagai pengguna media sosial, ruang untuk berpikir kembali mengenai hal-hal yang kita sampaikan. Di sisi lain, kritik terhadap pemegang jabatan di kampus, dan kritik terhadap sistem juga bukan hal yang buruk. Adanya kritik, diskusi, dan dialog mencirikan iklim demokrasi yang baik. Namun, cara penyampaian sebuah kritik juga harus dipertimbangkan dengan matang.

Sekali lagi, jangan sampai dengan adanya kejadian ini membuat kita mendiskreditkan gerakan-gerakan mahasiswa lain. Fenomena ini juga harus dijadikan pembelajaran bagi seluruh massa kampus. Sudahkah kita partisipatif dengan isu-isu yang terjadi di sekeliling kita? Sudahkah kita mengawal dan mengawasi pergerakan-pergerakan yang dilakukan berbagai lembaga yang ada di ITB? Sudahkah kita mengawasi senator kita? Sudahkah kita mengawasi kabinet? KM ITB dibangun berlandaskan sistem demokrasi dan partisipasi massa. 

Seperti kutipan yang dikutip juga oleh @ceplosanganesha: Sesungguhnya tidak akan berubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. 

Mahasiswa adalah penggeraknya. Sudahkah kita bergerak?

Kontributor: Redaksi Pers Mahasiswa ITB

Share.

3 Comments

  1. Seorang Alumnus Gajah Duduk on

    Sebenernya, saya juga cukup kecewa lihat isu-isu penting KM ITB dieskalasi dengan cara yang tidak baik. Masih ada 1001 jalan ke Roma, dan saya yakin adik-adik mahasiswa juga paham konsep ‘common sense’.

    Semoga kedepannya gak perlu sampai seperti ini lagi. Kalau bisa diobrolkan lewat cara yang santai, kenapa harus bersusah payah membuat narasi negatif..

Leave A Reply