Vaksinasi COVID-19 di Indonesia

0

Awal tahun 2021 diwarnai dengan dimulainya proses vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Proses tersebut dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kelompok prioritas yang telah ditentukan. Berurutan sesuai tingkat prioritasnya, tahapan tersebut dibagi menjadi empat, yaitu:

  1. Petugas kesehatan serta jajaran lain yang berhubungan,
  2. Petugas pelayanan publik seperti Tentara Negara Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pejabat negara, dsb,
  3. Masyarakat rentan dari sisi geospasial, sosial, dan ekonomi, dan
  4. Masyarakat dan pelaku perekonomian dengan pendekatan klaster yang disesuaikan dengan ketersediaan vaksin.’

Waktu pelaksanaannya terbagi dua, yaitu tahap satu dan dua pada bulan Januari hingga April 2021, sedangkan tahap tiga dan empat pada bulan April 2021 hingga Maret 2022. Penetapan ini disesuaikan dengan roadmap World Health Organization (WHO) Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) dan kajian Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional. Meskipun proses vaksinasi berjalan sesuai rencana, bukan berarti tidak terdapat muncul berbagai permasalahan.

Kisah-Kisah Setelah Vaksinasi

Dilansir dari Kompas.com, Bupati Sleman, Sri Purnomo teridentifikasi positif COVID-19 pada Kamis (21/01). Beliau sebelumnya telah melakukan vaksinasi seminggu sebelum teridentifikasi positif.

“Kami bersyukur setelah dilakukan foto scan paru-paru dan sebagainya, alhamdulilah semuanya kondisinya sangat baik, jadi OTG. Beliau melakukan isolasi mandiri di rumah dinas,” jelas Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya.

Kejadian ini menyebabkan berkembangnya rumor di masyarakat awam. Masyarakat mempertanyakan mengapa Bupati Sleman teridentifikasi positif setelah melakukan vaksinasi. Salah satu rumor yang berkembang adalah infeksi tersebut disebabkan oleh vaksin itu sendiri. Asumsinya, hal ini dikarenakan vaksin tersebut berbahan dasar virus yang telah dilemahkan. 

Rumor tersebut disangkal oleh ahli biologi molekuler Indonesia, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo. Beliau menjelaskan bahwa vaksin yang diberikan merupakan vaksin antibodi IgG yang bersirkulasi di dalam pembuluh darah. Vaksin ini melakukan proteksi, tetapi proteksi yang dilakukan tidak menyeluruh. Hal ini menimbulkan adanya peluang untuk virus tetap masuk ke dalam tubuh, contohnya melalui rongga napas atas.

Beberapa artis tanah air juga menjadi peserta vaksinasi pertama. Hal ini dilakukan sebagai kampanye kepada masyarakat terkait vaksinasi. Para artis tersebut menerima vaksinasi pertama bersama dengan Presiden Joko Widodo pada Rabu (13/01).

Meskipun demikian, masyarakat digegerkan dengan terlihatnya seorang artis mengikuti sebuah pesta di daerah Mampang, Jakarta Selatan, setelah menerima vaksinasi pertama. Satpol PP pun langsung melakukan penyelidikan untuk memeriksa apakah ada unsur pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat.

Kamis (21/01), polisi menghentikan penyelidikan kasus artis tersebut. Penghentian kasus ini dilakukan karena tidak ditemukan adanya unsur pelanggaran yang dilakukan. Polisi menjelaskan bahwa pesta tersebut bersifat privat, dihadiri oleh sedikit orang, dan para tamu juga melaksanakan protokol kesehatan yang berlaku.

“Memang sifatnya privasi, tapi dilakukan dengan protokol kesehatan, seperti tes suhu, tes antigen, juga tidak ada undangan,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Yusri Yunus dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Kamis (21/01).

Vaksin Tidak Memberikan Ketahanan Virus Seumur Hidup

Dilansir dari Medcom.id, Menteri Riset Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyatakan bahwa vaksinasi yang diberikan tidak memberikan ketahanan tubuh terhadap virus seumur hidup. Vaksin yang diberikan menyebabkan terbangunnya herd immunity, yaitu suatu kekebalan kelompok yang harus tetap dipertahankan.

“Paling tidak memotong rantai penularan dan menimbulkan confidence di masyarakat bahwa mereka mulai percaya diri untuk beraktivitas. Tapi dengan tetap mengubah perilakunya dengan lebih care terkait kesehatan dan perlindungan diri,” tutur Bambang dalam webinar “Tantangan dan Kebijakan Pengembangan Vaksin Merah Putih untuk Percepatan Penanganan Pandemi COVID-19” pada Jumat (22/01).

Beliau juga mengingatkan bahwa efektivitas vaksin tidaklah seumur hidup. Mutasi virus juga menjadi pertimbangan penting terhadap perkembangan vaksin tersebut. Vaksin impor yang digunakan saat ini merupakan vaksin sementara sebelum adanya vaksin buatan Indonesia.

Vaksin Merah Putih

Dilansir dari cnbcindonesia.com dan kabar24.bisnis.com, saat ini Indonesia sedang berada pada tahap pengembangan vaksin buatan negeri untuk virus COVID-19. Terdapat enam lembaga yang terlibat dalam pengembangan vaksin tersebut, yaitu Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Indonesia (UI). Vaksin mandiri ini dinamakan vaksin Merah Putih.

Terdapat lima jenis vaksin Merah Putih yang dikembangkan yaitu:

  1. vaksin dengan penggunaan protein rekombinan oleh LBM Eijkman dan LIPI,
  2. vaksin dengan penggunaan adenovirus oleh Unair,
  3. vaksin dengan penggunaan adenovirus dan protein rekombinan oleh ITB,
  4. vaksin dengan penggunaan protein rekombinan oleh UGM, dan
  5. vaksin dengan penggunaan DNA, mRNA dan Viral Like Particle (VLP) oleh UI.

Menristek menjelaskan bahwa perbedaan jenis dan platform dari vaksin ini untuk keperluan jangka panjang dan media pembelajaran teknologi lain dalam pengembangan vaksin tersebut.

Terkhusus untuk vaksin dari UI, Ketua Tim Pengembangan Vaksin Merah Putih UI, Budiman Bela, menyampaikan bahwa platform yang mereka gunakan akan mengambil gen yang dipisahkan dari gen virus lainnya. Gen yang diambil ini adalah gen spike yang nantinya akan diekspresikan ke beberapa varian sel untuk melihat dan menentukan tempat terbaik untuk memproduksi vaksin.

Vaksin DNA tersebut diklaim dapat dikembangkan dengan cepat dan mudah digunakan. Vaksin lain yang tengah dikembangkan, yaitu vaksin RNA, juga digunakan pada vaksin impor seperti vaksin Pfizer dan Moderna. Vaksin ini memiliki keunggulan yaitu dapat menginduksi respon kekebalan yang baik.

Beliau juga berpendapat bahwa vaksin VLP merupakan vaksin yang paling baik. Struktur VLP yang mirip dengan struktur dari virus dan tidak adanya materi genetik di dalamnya sehingga tidak bisa memperbanyak diri di tubuh manusia, menjadi kelebihan dari vaksin ini.

Penutup

Keberadaan vaksin ini diharapkan menjadi salah satu media agar rantai penularan COVID-19 dapat terputus, menimbulkan kepercayaan diri untuk beraktivitas kembali, serta meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan perlindungan diri. Namun perlu diingat bahwa vaksin ini hanya bersifat sementara, sehingga masih terdapat proses panjang yang perlu dilalui hingga pandemi ini benar-benar berakhir.

Kontributor: Muhammad Bachtiar Alfain (TB’19)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18)

Share.

Leave A Reply