Opini: Perayaan Tahun Baru di Jepang

0

Tahun baru merupakan momen satu tahunan yang paling berkesan bagi semua masyarakat di dunia. Hampir seluruh masyarakat di belahan dunia mana saja merayakan pergantian tahun baru, khususnya tahun baru masehi. Tahun baru menjadi suatu hal yang berkesan karena biasanya ketika malam pergantian tahun, orang-orang akan berkumpul bersama keluarga dan kerabat untuk merayakan pergantian tahun dan bergembira bersama. Selain itu, mereka juga berdoa atau memu harapan agar di tahun berikutnya akan menjadi tahun yang lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Setiap negara memiliki perayaan atau tradisi yang berbeda-beda dalam menyambut pergantian tahun. Seperti di Indonesia, masyarakat Indonesia biasanya merayakan pergantian tahun dengan cara berkumpul bersama keluarga dan kerabat, makan bersama, pesta, dan juga saling bercerita tentang kehidupan di tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, masyarakat Indonesia juga berbondong-bondong membeli kembang api atau petasan untuk turut memeriahkan malam pergantian tahun. Selain bermain petasan, pada detik-detik pergantian tahun biasanya masyarakat Indonesia berdoa dan berharap agar terdapat keberuntungan di tahun yang akan datang. Hiburan di malam pergantian tahun biasanya diadakan melalui acara-acara musik yang ditayangkan hampir di seluruh televisi swasta Indonesia. Acara tersebut biasanya mendatangkan musisi-musisi terkenal Indonesia.

Masyarakat Jepang pun mempunyai perayaan atau tradisi tahun baru yang jauh berbeda dengan masyarakat Indonesia. Masyarakat Jepang akan mempersiapkan perayaan tahun baru mulai dari tanggal 13 sampai dengan 31 Desember yang disebut dengan nenmatsu. Setelah itu akan dilanjutkan dengan oomisokaβ€”malam terakhir di tahun tersebutβ€”yaitu pada tanggal 31 Desember. Di malam tersebut biasanya stasiun televisi di Jepang akan menyuguhkan acara-acara yang menarik, seperti NHK yang mengadakan perlombaan menyanyi tahunan yang bernama Kouhaku Uta Gassen, yang diadakan oleh stasiun televisi milik pemerintah Jepang tersebut. Perlombaan ini dilakukan oleh dua tim, yaitu tim laki-laki dan tim wanita. Pada oomisoka, selanjutnya akan dilakukan toshikoshi soba, yaitu memakan soba di saat malam pergantian tahun berlangsung. Setelah itu biasanya akan ada bunyi lonceng sebanyak 108 kali dengan harapan semua penderitaan di tahun yang akan datang menghilang, yang disebut dengan joya no kane.

Di hari tahun baru akan dilakukan gantan dan ganjitsu, yang sebenarnya memiliki arti yang hampir sama, yaitu hari di tahun baru. Pada saat gantan, biasanya setiap keluarga akan mempersiapkan masakan yang berbeda atau istimewa, seperti otoso, ozoni, osechi, datemaki, nishiki tamago, kohaku namasu, kazunoko, kuromame, kamaboko, nimono, dan kurikinton. Makanan-makanan tersebut bukan hanya sekadar makanan yang siap dimakan, namun tentunya memiliki arti atau makna tertentu. Sedangkan pada saat ganjitsu biasanya akan dihiasi dengan kagamimochi, hatsumode, hamaya, dan omikuji. Perayaan ini akan dilanjutkan sampai dengan tanggal 3 Januari yang disebut dengan nenshi. Perayaan akan terus dilanjutkan sampai dengan tanggal 15 Januari yaitu disebut dengan matsu no uchi.

Yang menarik dan hampir sama dengan perayaan lebaran di Indonesia adalah di Jepang pun terdapat momen ketika orang tua memberikan amplop berisi uang kepada anaknya, yang dikenal dengan otoshidama. Di pagi hari di tahun yang baru, masyarakat Jepang juga biasanya akan pergi ke daerah pantai atau pegunungan untuk melihat terbitnya matahari yang pertama kali di tahun yang baru. Di hari kedua, biasanya masyarakat Jepang akan menceritakan mimpinya semalam dan mencari makna mimpi tersebut. Masyarakat Jepang pun akan melakukan hal-hal pertama lainnya, seperti penjualan pertama atau tulisan pertama. Pada 7 Januari, masyarakat Jepang akan membuat bubur yang berisikan 7 macam sayuran yang bernama nanakusa gayu atau bubur tujuh rupa. Di hari terakhir, yaitu tanggal 15 Januari, masyarakat Jepang akan melakukan tradisi yang disebut dengan dondo yaki. Tradisi ini dilakukan masyarakat Jepang dengan tujuan untuk membersihkan diri dengan api. Tradisi ini dilakukan dengan cara membuat menara tinggi yang terbuat dari pohon cemara, jerami, dan bambu, lalu ditempatkan di area yang terbuka. Selanjutnya, menara tersebut akan dibakar.

Perayaan tahun baru di Jepang sangat menarik untuk dipelajari. Tahun baru di Jepang bukan hanya sekadar berpesta dan bermain kembang api, akan tetapi dilakukan dengan tradisi dan adat tradisional. Ditambah, setiap tradisinya memiliki makna-makna yang berbeda-beda dan tidak hanya semata-mata dilakukan untuk bersenang-senang dalam menyambut tahun baru.

Penulis: Tubagus Pratama
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18)

Share.

Leave A Reply