Bahkan COVID-19 Tidak Bisa Hentikan Pemanasan Global

1

Semua perhatian dunia saat ini tertuju kepada COVID-19. Penyebaran virus yang pada Maret 2020 dinyatakan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO) ini masih berlangsung hingga sekarang. Pandemi ini mengubah segala aspek dalam kehidupan dengan beberapa adaptasi kebiasaan baru, seperti social distancing dan anjuran bekerja dari rumah, guna mengurangi penyebaran virus. 

Sebelum  menghadapi pandemi ini, sebenarnya dunia juga sedang menghadapi sebuah perlawanan berskala global lain, yaitu perubahan iklim. Salah satu aspek perubahan iklim, yaitu pemanasan global, memiliki persamaan dengan pandemi COVID-19 saat ini. Banyak orang masih meragukan kedua fenomena tersebut, meskipun keduanya sudah terbukti keberadaannya. Para ahli yang sadar dan peduli terhadap permasalahan ini terus berjuang di bidang masing-masing untuk mengatasinya.

Kebijakan work from home menimbulkan asumsi bahwa seharusnya pemanasan global berkurang karena aktivitas manusia yang menjadi sumber emisi gas rumah kaca (penyebab pemanasan global) berkurang secara drastis. Seharusnya, pandemi ini dapat menjadi masa istirahat dan pemulihan bagi bumi dari aktivitas yang dilakukan sebelum pandemi yang dapat mempercepat pemanasan global. Namun, berdasarkan data yang terjadi di lapangan, hal tersebut tidak terjadi.

Bulan September 2020 adalah Bulan Terpanas dalam Sejarah

Rabu (7/10), Copernicus Climate Changes Service menyatakan bahwa September 2020 adalah bulan terpanas dalam sejarah. Tahun 2020 juga diprediksi akan masuk ke dalam lima besar tahun terpanas dalam sejarah. Selain itu, ketinggian es di Kutub Utara mencapai rekor kedua terendah dalam sejarah. Para peneliti memperkirakan pada setengah abad ke depan, es di Kutub Utara akan mencair sepenuhnya. β€œKombinasi dari rekor temperatur dan menipisnya es di Kutub Utara pada 2020 menunjukkan pentingnya peningkatan dan pemantauan yang lebih komprehensif di wilayah yang memanas lebih cepat daripada wilayah lain di dunia,” ujar Carlo Buontempo, direktur Copernicus Service.

Memanasnya suhu bumi juga menyebabkan kebakaran hutan. Di wilayah Indonesia dan Amerika Selatan, mayoritas kebakaran hutan disebabkan oleh ulah manusia, dan semakin memperparah dan diperparah oleh pemanasan global. Wilayah Australia awal tahun ini baru mengalami kebakaran hutan terparah dalam sejarahnya.

Pemanasan global juga menyebabkan peningkatan aktivitas topan. Negara-negara Asia di wilayah Samudera Pasifik seperti Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, Taiwan, dan negara pasifik lain sedang menghadapi ancaman topan terutama dengan peningkatan munculnya topan-topan besar. Wilayah Samudera Atlantik juga saat ini mengalami masa-masa tersibuk dalam sejarah dengan kemunculan badai.

Pemanasan Global Menjadi Bahan Bakar Pandemi

β€œKita tahu jika virus dapat bertahan lebih lama di suhu dingin daripada suhu panas, berarti planet yang lebih hangat dapat memperlambat penyebaran virus,” ujar meteorologis Jeff Masters.

Meskipun demikian, hubungan antara pemanasan global dan COVID-19 tidak sesederhana itu. Jeff Masters menambahkan, pandemi ini menyebabkan orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, terutama di ruangan yang memiliki pendingin ruangan, yaitu tempat yang mampu mempermudah penyebaran virus ini. Bernstein mengkhawatirkan adanya penyebaran penyakit melalui nyamuk akibat pemanasan global, karena nyamuk menyukai kondisi yang lembab dan hangat. Ia juga mengkhawatirkan adanya penyebaran penyakit selain COVID-19, seperti malaria, zika, chikungunya, demam berdarah, dan virus nil barat ke tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah menghadapi kasus penyakit tersebut.

β€œRisiko di masa depan memang tidak mudah untuk diramalkan, tetapi perubahan iklim memberikan dampak yang besar dalam beberapa aspek indikator munculnya patogen, seperti temperatur dan pola hujan. Untuk membantu mengurangi risiko dari infeksi penyakit, kita harus melakukan apa yang dapat kita lakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat,” tutur Dr. Aaron Bernstein.

Pemanasan Suhu Saat Malam Hari yang Semakin Cepat

Studi terbaru Universitas Exeter, Inggris, menunjukkan rata-rata suhu pada malam hariβ€”selama 35 tahun ke belakang hingga tahun 2017β€”meningkat lebih pesat daripada rata-rata suhu di siang hari. Pemanasan global memang mempengaruhi suhu di siang dan malam hari, tetapi di beberapa tempat, suhu pada malam hari meningkat setidaknya 0.25 derajat celcius lebih besar daripada saat siang hari. Munculnya awan, terutama awan yang membawa hujan, dianggap berpengaruh terhadap peningkatan suhu pada malam hari. Biasanya, jarang ada awan di wilayah-wilayah dengan peningkatan suhu pada siang hari yang lebih cepat. Juga teramati bahwa wilayah tersebut biasanya memiliki iklim kering.

Daniel Cox, peneliti dari Universitas Exeter dan pemimpin dari studi tersebut, menyatakan bahwa hewan yang hanya aktif pada malam hari atau hanya aktif pada siang hari akan sangat terdampak dari fenomena ini.

β€œPemanasan pada malam hari yang lebih besar berhubungan dengan iklim yang menjadi lebih basah, dan hal ini telah menunjukkan adanya dampak besar terhadap pertumbuhan tumbuhan dan bagaimana spesies, seperti serangga dan mamalia, berinteraksi,” kata Daniel Cox.

Perubahan iklim dan biodiversitas yang terus berkurang selama beberapa tahun terakhir juga memiliki pengaruh terhadap terjadinya pandemi saat ini. Penebangan hutan yang terus dilakukan contohnya, menyebabkan meningkatnya interaksi antara hewan dan manusia karena hewan-hewan yang terusir dari habitat aslinya. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang biasanya hanya terdapat pada hewan dapat menginfeksi manusia.

Penutup

Tanpa disadari, pemanasan global dan pandemi COVID-19 memiliki banyak persamaan dan hubungan sebab-akibat. Diperlukan peningkatan kesadaran diri tentang pemanasan global, karena tidak tertutup kemungkinan, kemunculan dari virus yang tiba-tiba hadir ini bisa jadi akibat dari perubahan iklim yang semakin tidak terkendali.

Kontributor: MuhammadΒ BachtiarΒ Alfain (TB’19)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18)

Share.

1 Comment

  1. Artikel menarik, faktanya lebih rumit dari yang dikira. Peristiwa demi peristiwa sudah selayaknya menjadi evaluasi dan pembelajaran bagi manusia tentang banyak hal.

Leave A Reply