Pemilihan Presiden Amerika Serikat di Tengah Pandemi

0

Di tengah pandemi COVID-19, Amerika Serikat (AS) tetap menyelenggarakan pemilihan presiden yang telah dilaksanakan pada hari Selasa (3/11) lalu. Pada pilpres kali ini, pasangan petahana Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik berhadapan dengan pasangan Joe Biden-Kamala Harris yang mewakili Partai Demokrat. Partai Republik dikenal beraliran konservatif, sedangkan Partai Demokrat beraliran liberal. Sebelumnya, Joe Biden pernah menjadi wakil presiden pada masa Presiden Barack Obama dan menjadi senator negara bagian Delaware selama 36 tahun.

Hingga Kamis malam WIB, Joe Biden masih memimpin perhitungan electoral college dengan 264 suara. Biden hanya perlu enam suara lagi untuk mencapai suara mayoritas (270 suara), sedangkan Donald Trump tertinggal dengan 214 suara. Masih terdapat lima negara bagian yang belum menyelesaikan perhitungan suara dan menjadi penentu kemenangan sementara calon presiden AS, yakni Nevada, Pennsylvania, North Carolina, Georgia, dan Alaska. Empat diantaranya, yaitu Nevada, Pennsylvania, North Carolina, dan Georgia, memiliki enam atau lebih suara electoral college, sehingga jika Biden mendapatkan suara terbanyak di salah satu saja negara bagian ini, Biden akan (sementara) memenangkan pemilihan presiden kali ini. Selain memilih presiden, warga AS juga memilih anggota legislatif yaitu Senat dan House of Representatives.

Dikarenakan situasi pandemi, beberapa negara bagian AS melonggarkan aturan untuk memilih menggunakan surat. Sebenarnya metode memilih menggunakan surat (absentee voting) sudah dikenal di AS sebelum pandemi, terutama bagi warga negara AS yang berada di luar AS atau sedang dinas militer. Empat negara bagian, yakni Colorado, Utah, Oregon, Washington, dan Hawaii, sudah menerapkan pemilihan dengan surat secara penuh sejak sebelum pandemi COVID-19. Beberapa negara bagian membolehkan memilih dengan surat selama pemilih tersebut mengajukan, sedangkan negara bagian lainnya mengharuskan pemilih memiliki alasan yang jelas.

Selain metode surat, pemilih di mayoritas negara bagian juga dapat memilih lebih dulu (early voting) sebelum hari pemilihan. Berbeda dengan metode surat, pemilihan dilakukan di tempat tertentu. 

Pada Pilpres 2020, beberapa negara bagian mencoba menyesuaikan metode pemilihannya. Dilansir dari NCSL.org, California, Nevada, New Jersey, Vermont, dan Washington D.C. akan menerapkan metode surat pada semua pemilih. Ada pula negara bagian yang mengirim surat pengajuan untuk memilih dengan metode surat kepada semua pemilih. Negara bagian lainnya membolehkan COVID-19 atau penyakit lain sebagai alasan untuk memilih dengan surat. Aturan mengenai pemilihan bervariasi pada tiap negara bagian karena kebijakan mengenai pemilihan diserahkan kepada negara bagian dan tidak menjadi tanggung jawab pemerintah federal (nasional).

Melalui metode surat, pemilih yang terdaftar akan dikirimkan surat suara. Selain di 8 negara bagian yang memakai metode surat secara penuh, pemilih perlu mengajukan permintaan untuk memilih dengan surat sebelum dikirimkan surat suara. Pemilih kemudian memilih di surat suara tersebut serta memberikan tanda tangan untuk verifikasi. Pemilih memasukkan kembali surat suara ke kotak surat, untuk kemudian diambil kembali oleh petugas pos. Proses ini tidak berlangsung selama sehari, melainkan dalam hitungan minggu. Oleh karena itu, metode surat dimulai lebih dulu dibanding dengan metode langsung ke TPS.

Proses pemilihan di AS yang mengadaptasi situasi pandemi dapat menjadi contoh bagi Indonesia yang sebentar lagi akan mengadakan pilkada serentak. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak menunda pilkada serentak 2020, meskipun beberapa kalangan menentang dan khawatir akan munculnya klaster baru COVID-19. Amerika Serikat juga memutuskan tidak menunda pilpres, tetapi pemerintah AS menyediakan alternatif lain untuk memilih tanpa harus mengumpulkan massa di TPS. Indonesia masih memiliki waktu sebulan untuk menyiapkan pilkada yang menyehatkan dan tidak merugikan rakyat.

Bagaimana Sistem Pilpres di AS?

Berbeda dengan Indonesia di mana presiden dipilih secara langsung oleh rakyat, AS menggunakan sistem yang disebut electoral college. Pada electoral college, sebenarnya yang memilih presiden adalah negara bagian, bukan rakyat secara langsung. Setiap negara bagian mendapat jatah suara sesuai jumlah penduduknya ditambah dua suara. Total terdapat 538 suara yang mencerminkan anggota legislatif AS (435 anggota House of Representatives + 100 anggota Senat + 3 suara tambahan untuk Washington D.C.). Calon presiden yang mendapat suara mayoritas pada electoral college, yang artinya 270 suara, akan memenangi pilpres.

Warga negara di setiap negara bagian akan memutuskan kepada calon mana suara negara bagian tersebut diberikan. Semisal California mendapat 55 suara, warga California akan melakukan pemilihan untuk menentukan kepada siapa 55 suara tersebut diberikan. Dua negara bagian, Nebraska dan Maine, membagi suara electoral college mereka secara proporsional sesuai dengan hasil pemilihan. Negara bagian sisanya menganut sistem winner takes all, yang artinya calon yang mendapat suara terbanyak di suatu negara bagian mendapat semua suara electoral college di negara bagian tersebut. Misalnya, di negara bagian Wisconsin yang mendapat jatah 10 suara electoral college, pada pilpres ini Biden mendapat 49,6%, Trump mendapat 48,9%, dan Jo Jorgensen (calon dari Partai Libertarian) mendapat 1,2% suara. Meskipun Biden tidak mendapat suara mayoritas di atas 50% dan hanya menang tipis dari Trump, Biden mendapat seluruh 10 suara electoral college Wisconsin.

Terdapat sejumlah kejanggalan pada sistem electoral college. Yang paling terkenal ialah electoral college tidak menghitung suara orang secara setara. Hal ini disebabkan pemberian dua suara tambahan setelah pembagian suara secara proporsional sesuai jumlah penduduk. Sebagai contoh, negara bagian Florida yang berpenduduk 21 juta mendapat 29 suara. Ini artinya setiap suara mewakili 740.000 warga Florida. Sedangkan negara bagian Vermont yang berpenduduk 600.000 mendapat 3 suara. Artinya setiap suara mewakili 200.000 warga Vermont. Suara 740.000 warga Florida sama dengan suara 200.000 warga Vermont. Artinya, satu suara warga Vermont hampir setara dengan 4 suara warga Florida. Hal ini tentu terdengar aneh bagi orang yang berasal dari negara yang menganut sistem pemilihan langsung seperti Indonesia.

Ketidaksamaan suara ditambah aturan winner takes all membuat hasil electoral college bisa berbeda dengan suara nasional (suara rakyat secara langsung; popular vote). Hal ini tidak terjadi sekali dua kali, tetapi empat kali dalam sejarah ASβ€”1876, 1888, 2000, dan yang terakhir di tahun 2016. Pada tahun 2016, Donald Trump memenangi pilpres dengan 306 suara electoral college (57%) tetapi tidak mendapat suara nasional terbanyak (46%). Lawan utamanya Hillary Clinton hanya mendapat 232 suara electoral college (43%), tetapi mendapat suara nasional lebih banyak dari Trump (48%).

Hal ini membuat sejumlah kalangan ingin AS mengganti sistem electoral college menjadi sesederhana suara rakyat terbanyak. Kalangan yang mendukung electoral college berargumen sistem electoral college ini bertujuan melindungi negara bagian berpenduduk sedikit dari negara bagian berpenduduk banyak. Jika menggunakan suara rakyat secara langsung, negara bagian berpenduduk banyak akan menjadi penentu utama pemilihan, sedangkan negara bagian berpenduduk sedikit tidak dianggap suaranya.

Namun, masalah tadi hanya satu dari sekian masalah yang timbul akibat electoral college. Masalah lainnya ialah hanya orang yang tinggal di negara bagian dan Washington D.C. yang dapat mengikuti pemilihan. Padahal, AS memiliki teritori yang tidak termasuk dalam negara bagian, yakni Puerto Rico, Guam, U.S. Virgin Islands, dan Northern Mariana Islands. Orang yang tinggal di empat teritori ini otomatis tidak memiliki hak untuk memilih.

Selain itu, warga negara bagian sebetulnya tidak memilih untuk memutuskan kepada siapa suara negara bagian diberikan, tetapi memilih elector yang akan mewakili warganya memilih di electoral college. 538 suara sebenarnya tidak berbentuk suara, tetapi orang-orang (electors) yang dapat memilih presiden. 538 electors dari berbagai negara bagian akan berkumpul pada bulan Desember untuk memilih presiden. Inilah pemilihan presiden yang sesungguhnya. Elector diharapkan untuk memilih sesuai keinginan warganya, tetapi elector bisa saja memilih tidak sesuai dengan hasil suara warganya (biasa disebut faithless elector). Beberapa negara bagian mengatasi permasalahan ini dengan menerapkan sanksi bagi faithless elector.

Di antara berbagai pro-kontra mengenai electoral college, AS tetap menggunakan electoral college pada pilpres November ini. Walaupun sudah mendapatkan hasil sementara pada pekan ini, warga AS masih perlu menunggu hingga bulan Desember saat para elector memilih presiden secara resmi di electoral college. Akhir kata, di kala pandemi COVID-19, masyarakat AS tengah menikmati pesta demokrasinya yang berlangsung setiap empat tahun sekali.

Kontributor: Ramadhan Danendra (TI’19)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18)

Share.

Leave A Reply