Plinplan Kebijakan Seleksi Mandiri ITB

0

Belum lama ini, kita sempat digemparkan dengan keharusan calon mahasiswa baru ITB yang diterima melalui Seleksi Mandiri (SM) agar memiliki Jaminan Kemampuan Keuangan dalam bentuk rekening bank penanggung jawab dengan nominal minimum 100 juta rupiah. Permasalahan SM ITB yang sempat menemui sedikit titik terang, kini kembali menuai polemik. Pasalnya, di situs daftar ulang, calon mahasiswa yang masuk melalui SM ITB tidak dapat meminta keringanan UKT. 

Kronologi

Pendaftaran SM ITB yang mulai dibuka pada tanggal 1 Juli 2020 membuat beberapa calon mahasiswa baru 2020 melihat hal ini sebagai salah satu peluang masuk ITB. Saat itu, di laman resmi USM ITB, dinyatakan bahwa terdapat dua  golongan UKT bagi mahasiswa Seleksi Mandiri ITB yaitu sebesar, Rp25.000.000,00 dan Rp12.500.000,00. 

Laman Resmi USM ITB

Beberapa hari setelah dibuka pendaftaran, tepatnya pada tanggal 18 Juli 2020,  ITB memperbarui kebijakan terkait SM ITB melalui laman resmi USM ITB. ITB secara tiba-tiba mencantumkan Persyaratan Jaminan Kemampuan Keuangan dengan rekening bernominal minimum 100 juta rupiah. Menuai protes keras, kebijakan ini akhirnya dihapus oleh pihak ITB sehari setelahnya. Pada tanggal 19 Juli 2020, pihak ITB menggantikan kebijakan tersebut dengan adanya Iuran Pengembangan Institusi (IPI).

Tangkapan Layar Laman Resmi USM ITB
Laman Resmi USM ITB

Terdapat inkonsistensi pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Rektorat. Dapat dilihat dari kronologis kejadian bahwa keputusan ITB sering sekali berubah-ubah, dan perubahan yang seringkali vital ini tidak disampaikan secara resmi, hanya disampaikan melalui laman USM ITB. Selain itu, berbagai pihak pembuat keputusan pun terlihat seakan-akan tidak berkoordinasi. Sebagai contoh, ketika didatangi pihak kabinet KM ITB pada tanggal 28 Juli, pihak rektorat menyatakan bahwa Peraturan Rektor ITB Nomor 248/IT1.A/PER/2020 belum sampai ke tangan mereka. Padahal, surat tersebut diterbitkan pada tanggal 13 Juli. 

Awalnya, surat keputusan ini memberi secercah harapan bagi calon mahasiswa baru. Pasalnya, pada tabel pertama pada Lampiran I, dinyatakan bahwa tarif UKT mahasiswa program sarjana non-SBM yang diterima melalui jalur SM dibagi menjadi empat golongan: Rp25.000.000,00; Rp12.500.000,00; Rp1.000.000,00; dan Rp.0,00. 

Peraturan Rektor ITB Nomor 248/IT1.A/PER/2020

Namun, hal ini menjadi kontradiktif saat ITB memperbarui lagi kebijakannya pada tanggal 28 Agustus 2020, bertepatan dengan Pengumuman Hasil Seleksi Mandiri ITB 2020. Laman resmi USM ITB menampilkan informasi yang berbeda dengan sebelumnya. UKT yang harus dibayarkan mahasiswa baru ITB 2020 jalur SM ITB telah ditentukan secara mutlak sebesar 25 juta rupiah. Selain itu, mahasiswa juga harus membayar IPI minimal sebesar 25 juta rupiah. 

Laman Resmi SM ITB Terbaru

Tanggapan

Kabinet KM ITB membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Rektorat. Surat terbuka tersebut berisi tiga poin penting yang terdiri dari:

  1. BPP UKT Mahasiswa Baru 2020 jalur Seleksi Mandiri ITB.
  2. Pengajuan KIP-K bagi mahasiswa baru 2020 jalur Seleksi Mandiri ITB.
  3. IPI untuk mahasiswa baru 2020 jalur Seleksi Mandiri ITB.

Perubahan kebijakan dalam waktu yang relatif cepat merupakan salah satu inti dari permasalahan ini. 

Masalah kedua adalah mengenai Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) bagi mahasiswa baru jalur SM ITB. Berdasarkan laman resmi KIP-K Kemendikbud, KIP-K dapat diajukan oleh seluruh mahasiswa dari berbagai jalur penerimaan, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Begitu pula (seharusnya) dengan mahasiswa baru jalur SM ITB 2020, hal ini juga didukung dengan pernyataan Rektorat pada pertemuan hari Minggu (20/8). Pada saat itu, Rektorat menyatakan KIP-K dapat diajukan dalam jalur SM ITB. Namun, di laman pendaftaran ulang SM ITB tidak ada mengenai pengajuan KIP-K dan nilai UKT sudah mutlak ditentukan sebesar 25 juta rupiah. Hal ini menyebabkan calon mahasiswa yang ingin mengajukan KIP-K masih belum bisa mendaftar ulang akibat adanya syarat untuk mencantumkan bukti pembayaran sebesar 25 juta rupiah. Padahal, dengan adanya KIP-K, mahasiswa baru jalur SM ITB bisa saja terbebas dari nilai UKT yang telah ditentukan. 

Kisah Mereka

Sebuah utas yang dibuat oleh calon mahasiswa baru (camaba) yang masuk ITB melalui SM tahun 2020 viral di Twitter. Melalui utas tersebut,pemilik akun mengeluhkan kebijakan mengenai SM ITB yang berubah-ubah. Ketika hendak mengisi formulir daftar ulang di laman SM ITB, ia kaget karena nominal UKT dan IPI yang harus dibayarkan a masing-masing mutlak sejumlah 25 juta rupiah. Apabila diisi dengan nominal kurang dari 25 juta rupiah, formulir tidak dapat di-submit. Di laman tersebut juga dikatakan bahwa mereka tidak dapat meminta subsidi UKT dan hanya bisa meminta cicilan. Pembuat utas mengatakan bahwa terlintas dalam pikirannya untuk mengambil gap year. “Kondisi ekonomi keluargaku kelas menengah bawah, bayar uang segitu buat kuliah sama aja bunuh diri. Uangnya mau dihabisin buat SM, besoknya mau makan apa keluargaku?”

Cerita lain dipaparkan oleh JA, camaba SITH-S, JA melalui utasnya yang juga cukup viral di Twitter. Utas tersebut berisikan kronologi kebijakan-kebijakan tentang SM yang dikeluarkan ITB. “Intinya thread-nya itu aku bikin sekalian juga [untuk]membantu teman-teman… Aku kan masuk lewat jalur seleksi mandiri, nah kami semua berusaha menyuarakan apa yang kami rasakan. Kok, kayanya tidak adil. Informasi yang beredar di antara kami ini tidak jelas, dan itu merugikan banget,” ceritanya ketika kami wawancara. 

Para camaba yang lolos SM ITB memiliki grup chat untuk saling berbagi informasi. Ketika pertama kali mengetahui adanya perubahan kebijakan yang dilakukan pihak ITB, banyak dari mereka yang merasa sedih dan kecewa. “Awalnya kan beritanya juga masih simpang siur yah, kayak katanya at least masih bisa minta ke UKT kelas 4 (Rp12.500.000,00), tapi kok sekarang sama sekali nggak bisa. Akhirnya, ada yang inisiatif juga mengirim email ke pihak ITB, ada juga yang menghubungi OA LINE Ditmawa, dan semua jawabannya sama: camaba yang masuk melalui jalur mandiri nggak bisa minta keringanan, harus UKT kelas 5. Bisanya minta cicilan doang.”

Tangkapan Layar Percakapan Camaba Jalur SM dengan Akun Resmi LINE Ditmawa ITB
Tangkapan Layar Balasan Surat Elektronik Camaba Jalur SM
Tangkapan Layar Balasan Surat Elektronik Camaba Jalur SM
Tangkapan Layar Balasan Surat Elektronik Camaba Jalur SM

Selain mengecewakan para camaba yang lolos SM ITB, kebijakan baru ini juga membuat para orang tua khawatir. Banyak orang tua camaba yang lolos SM ITB juga menghubungi pihak ITB untuk meminta kejelasan. Orang tua JA merasakan kekhawatiran yang sama. “Orang tuaku  devastated, karena bener-bener berharap agar masalah ini bisa diperjuangkan… Aku mungkin nggak punya KIP-K, tetapi aku juga sebetulnya ekonominya mepet. Cukup berat, sih, untuk uang sebesar itu.”

Menurut JA, sebagai camaba, mereka sebenarnya tidak punya kekuatan yang besar. Satu-satunya hal yang dapat mereka perjuangkan adalah mengeskalasi isu ini di sosial media. Kebijakan seleksi mandiri memang diatur oleh kampus dan besaran UKT yang harus dibayarkan tidak diatur oleh pemerintah. Meski begitu, pihak ITB seharusnya memberikan kejelasan sejak awal. “Kami bukan mempermasalahkan biayanya besar atau gimana, kami cukup sadar bahwa [UKT mahasiswa] SM nih emang buat subsidi silang juga. Tren [UKT] SM [yang]tinggi tuh lumrah. Yang kami permasalahkan ya kebijakan yang berubah-ubah. Di awal dibilang A, tapi sekarang B. Kami menuntut apa yang di awal dijanjikan,” pungkas JA.

Kontributor: Hasna Khadijah Salsabila Lahino (TL’19), Humaira Fathiyannisa (TL’18), dan Rachmadini Melita Trisnasiwi (AR’18)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Almas Azzahra (AR’18), dimodifikasi oleh George Michael (AR’18)

Share.

Leave A Reply