Opini: Laporan Hasil Survei Isu Pelecehan Seksual di ITB

0

Pendahuluan

Belakangan ini, isu pelecehan seksual di lingkungan kampus kembali menjadi topik yang ramai dibicarakan. Kasus demi kasus terus bermunculan dari berbagai kampus di Indonesia. Hal ini menunjukkan kasus pelecehan seksual dapat terjadi kapan saja, terhadap siapa saja, dan di mana saja, termasuk di lingkungan kampus.

Berbagai pihak mulai menunjukkan concern untuk meningkatkan awareness serta menyediakan solusi yang tepat. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya lembaga maupun gerakan di dalam kampus dengan kepedulian yang sama, walaupun dengan peran yang berbeda-beda.

Namun, bagaimana kampus ITB merespon perkembangan ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pada tanggal 27 Mei 2020, kami mengeluarkan survei untuk mengumpulkan opini mahasiswa ITB mengenai isu pelecehan seksual. Survei ini dikeluarkan oleh kami—tim independen yang terdiri dari empat anggota, Shofwan Hidayat (PL’19), Azwan Nazamuddin (PL’19), Zarkis Dwi Bernavi (PL’19), dan Selvalya Tsasa (AR’19). Tim independen ini dibentuk atas dasar kepedulian kami terhadap isu pelecehan seksual yang saat itu belum terdengar menjadi bahasan di lingkungan kampus ITB. Berbagai pertimbangan melatarbelakangi mengapa kami bergerak secara independen, diantaranya faktor fleksibilitas dan kerahasiaan. Pada survei tersebut, kami mencantumkan privacy policy yang ketat. Artinya data yang terkumpul diolah secara hati-hati, bahkan bagian dari survei yang bersifat sensitif, hanya diketahui oleh seorang saja. Berbagai langkah kami lakukan secara terukur sehingga dapat dijamin bahwa survei ini memprioritaskan kepentingan korban/pengisi survei.

Perlu ditekankan, survei ini bukan penelitian yang memerlukan tahapan-tahapan akademis. Survei ini tidak bertujuan untuk menghasilkan angka-angka statistik berkaitan dengan isu pelecehan seksual. Survei ini bertujuan untuk mengumpulkan opini mahasiswa ITB terhadap tingkat awareness, pengalamannya terhadap kejadian pelecehan seksual yang dilihat/dialami, serta solusi yang tepat. Survei ini juga bertujuan menunjukkan bahwa pelecehan seksual terjadi di lingkungan ITB.

Setelah eskalasi melalui media sosial Line, Instagram, dan Twitter, survei ditutup pada 28 Mei 2020. Selama lebih kurang dua hari dua malam, didapatkan 208 responden dari berbagai angkatan, yakni 102 responden angkatan 2019, 32 responden angkatan 2018, 35 responden angkatan 2017, 11 responden angkatan 2015, dan 28 responden angkatan 2015 ke atas. Berdasarkan jenis kelamin terdapat 130 responden perempuan, 69 responden laki-laki, dan 9 responden memilih tidak menyebutkan.

Laporan survei ini ditampilkan dalam bentuk tulisan dan infografis yang dimuat dalam platform Issuu, Instagram, dan Twitter. Pemaparan hasil survei dibagi menjadi tiga bagian, yaitu awareness lingkungan kampus terhadap isu pelecehan seksual, pelecehan seksual di kampus ITB, dan solusi.

I. Awareness Lingkungan Kampus terhadap Isu Pelecehan Seksual

a. Pengetahuan Responden tentang Bentuk Pelecehan Seksual

Awareness sangat berkaitan dengan pengetahuan seseorang tentang bentuk pelecehan seksual. Pengetahuan ini perlu diperhatikan, salah satunya agar dapat menentukan pengalaman yang dilihat/dialaminya termasuk pelecehan seksual atau tidak. Untuk memberikan kesamaan pandangan pada bentuk pelecehan seksual yang dimaksud, kami memaparkan bentuk-bentuk pelecehan seksual pada form survei. Bentuk pelecehan seksual ini selanjutnya akan dipaparkan di bagian Pelecehan Seksual di Kampus ITB.

Berdasarkan survei dari pertanyaan, “Apakah sebelumnya kamu tau pengertian dan bentuk pelecehan seksual?”, 175 responden menjawab iya, 3 responden menjawab tidak, dan 30 responden menjawab ragu-ragu.

Dari jumlah tersebut terlihat sebagian besar responden telah mengetahui bentuk pelecehan seksual. Namun, masih terdapat 3 responden yang menjawab tidak dan 30 responden menjawab ragu-ragu.

b. Perkembangan Pembahasan Isu Pelecehan Seksual di Kampus

Untuk mengetahui sejauh mana masalah ini menjadi perhatian di lingkungan kampus, kami memberikan pertanyaan, “Apakah menurutmu isu pelecehan seksual BELUM menjadi masalah yang diperhatikan di kampus ITB?”. Hasilnya, 158 responden menjawab ya, 15 responden menjawab tidak, dan 35 responden menjawab ragu-ragu.

Tentunya keresahan ini perlu ditindaklanjuti dengan kemauan untuk memperbaiki situasi, salah satunya dengan mengeskalasi isu ini agar diperhatikan di lingkungan kampus. Untuk itu, kami mengajukan pertanyaan lanjutan, “Apakah menurutmu isu ini perlu dieskalasi?”. Hasilnya, 185 responden menjawab ya, 5 responden menjawab tidak, dan 20 responden menjawab ragu-ragu.

Dari 5 responden yang menjawab tidak, terdapat responden yang menyampaikan sebaiknya kasus yang ada diselesaikan secara kekeluargaan dan penuh dengan kehati-hatian. Menurut responden tersebut, eskalasi isu dapat memberikan kemungkinan efek samping yang fatal berupa tindakan anarkis serta hal lain yang bisa menjatuhkan korban. Sementara itu, sebagian besar responden yang menjawab iya menyampaikan isu ini perlu dieskalasi karena merupakan hal yang urgent untuk diperhatikan.

c. Pendapat Elemen Kampus terhadap Urgensi Pembahasan Isu Pelecehan Seksual

Untuk mendapat pandangan berbagai elemen lingkungan kampus ITB terhadap urgensi isu ini, kami mengajukan pertanyaan terhadap beberapa pihak, yakni, Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB 2020/2021, Ketua Kongres KM ITB 2020/2021, Dirjen Isu Gender dan Seksualitas Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB 2020/2021, Direktur Utama Hopehelps ITB, dan Ganesha Umbrella Academy. Berikut jawaban atas pertanyaan “Apakah urgent membahas isu pelecehan seksual di kampus kita (iya/tidak)? Dan mengapa hal tersebut urgent/tidak urgent?”.

Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB 2020/2021, Nada Zharfania Zuhaira (TL’16)
“Ya, urgent. Membahas dapat meningkatkan awareness. Adanya awareness akan bahaya & kemungkinan akan adanya pelecehan seksual di kampus dapat meningkatkan usaha-usaha untuk menghadirkan upaya preventif. Menurutku, kunci keberhasilan penanganan kasus pelecehan seksual itu ada dua, sistem yang inklusif dan berpihak pada korban, serta masyarakat kampus yang cerdas. Dan kedua hal ini tidak akan terjadi kalau pembahasan mengenai isu ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu, kurang lebih seperti sex education bagi anak usia sekolah. Jangan sampai kita baru berbicara ketika sudah ada kasus. Tidak perlu ada yang menjadi korban dulu untuk baru memantik kita berubah.”

Ketua Kongres KM ITB 2020/2021, Guntur Iqbal Kelana Suryadi (PL’17)
“Iya, karena hal ini sudah sering muncul ke permukaan/ruang publik kampus kita, sayangnya belum ada tanggapan yang cukup berarti (jika ada sama sekali) mengenai hal ini.”

Dirjen Isu Gender dan Seksualitas Kabinet KM ITB 2020/2021, Mochamad Gacya Putra (PL’18)
Urgent, banget. Hal ini menurut aku pribadi, sudah jelas banyak terjadi, tapi memang belum ada yang menyikapi hal ini dengan serius, terutama sebelum isu ini ter-blow up kemarin. Karena acapkali masalah kekerasan seksual sering kali dianggap remeh karena kultur ‘tabu’ yang ada pada lingkungan kita. Padahal, pentingnya membahas isu ini adalah cerminan perhatian kita terhadap hak-hak asasi manusia. Keterjaminan korban dan solusi terkait adanya masalah kekerasan seksual maupun gender perlu sekali dibahas, even dalam scope skala kampus sendiri.”

Direktur Utama HopeHelps ITB, Monica Cory Angel (TI’17)
“Pastinya urgent, Kenapa? karena kita tidak pernah mendengar di Institut Teknologi Bandung ada suatu bahasan mengenai kekerasan seksual. Kita tahu banyak lembaga independen di luar ITB yang memang terdiri dari mahasiswa-mahasiswa ITB yang sudah menyinggung tentang hal ini, tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apakah di dalam ITB sendiri ada atau tidak korban kekerasan seksual. Lalu menurutku, kasus kekerasan seksual bukanlah salah satu hal yang memerlukan data tertentu untuk membuatnya menjadi urgent. Perlu ditinjau kembali, karena memang ibaratnya kita sedia payung sebelum hujan. Penanganan korban kekerasan seksual baik secara peraturan maupun seperti pengadaan crisis center di kampus, seharusnya seperti payung yang kita siapkan sebelum hujan tiba. Jadi jangan sampai ada korban dulu lalu korban bingung mau lapor kemana karena birokrasi yang berbelit-belit. Seperti yang kita tahu juga, siapa, sih, yang paham tentang kode etik mahasiswa mengenai hal ini? Apakah hal itu bisa diakses secara bebas? Mungkin iya, tapi apakah hal itu sudah dikemas sedemikian rupa sehingga korban kekerasan seksual berani untuk melapor dan mengetahui sanksi yang akan didapatkan oleh pelaku mereka? Tidak. Tidak pernah ada yang bahas hal itu secara gamblang di kampus ini.

Lantas bagaimana kalau selama ini walaupun kita terlebih dulu praduga bahwa ‘tidak ada kasus kekerasan seksual’, tetapi ternyata ada? Lalu orang-orang tidak mau melapor karena tidak ada birokrasi yang cukup bisa diakses dengan mudah dan juga tidak ada budaya yang ibaratnya menjadikan hal ini important. Banyak hal yang memang termasuk dalam kekerasan seksual yang aku rasa dinormalisasi di kampus ini. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku pernah melihat dan ada yang pernah bercerita. Jadi kalau ditanya apakah ada datanya? Datanya ada tapi kalau data konkretnya memang tidak pernah ada lembaga di kampus ini yang membukukan. Atau mungkin ada yang membukukan, tetapi tidak pernah ditampilkan ke publik. Jadi masih berseliweran cerita-cerita tentang kekerasan seksual yang tidak tertangani atau aku masih lihat kegiatan yang termasuk dalam kekerasan seksual di kampus ini. Jadi sebenarnya masalahnya di sini adalah tidak ada yang benar-benar tahu kalau di kampus ini ada atau tidak kekerasan seksual.”

Ganesha Umbrella Academy, disampaikan oleh Sabrina Asyarafi (TPP’15)
“Jelas urgent. Kekerasan seksual bukan sekadar angka kasus dan dengan adanya korban saja sudah membuktikan ada yang tidak beres kalau kampus masih diam saja. Ini harus dicari tahu tentang hukum, fasilitas, penanganan atau apa saja yang kurang dari ITB dalam menangani kekerasan seksual di kampus. Bukan hanya berfokus dalam menangani pelaku juga, tapi dalam pendampingan korban dan perspektif kampus dalam kekerasan seksual maupun kekerasan berbasis gender di kampus.”

Jawaban yang ada menunjukkan elemen di lingkungan kampus ITB yang disebutkan di atas memiliki suara yang sama, bahwa isu ini urgent untuk diperhatikan.

II. Pelecehan Seksual di Kampus ITB

a. Perbedaan Kekerasan Seksual dan Pelecehan Seksual

Perbedaan dari pelecehan seksual dengan kekerasan seksual adalah pelecehan seksual merupakan salah satu dari bentuk kekerasan seksual. Secara definitif, kekerasan seksual adalah perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh, yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual, dan/atau fungsi reproduksi, yang secara paksa bertentangan dengan kehendak seseorang, dan/atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender, atau sebab lain (HopeHelps, 2020).

Sedangkan pelecehan seksual adalah tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Pelecehan seksual ini termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan (Komnas Perempuan, 2017).

b. Penjelasan Bentuk Pelecehan Seksual

Sebelum memasuki pemaparan hasil survei tentang kejadian pelecehan seksual di lingkungan kampus, ada beberapa penjelasan definitif dari pelecehan seksual itu sendiri. Pelecehan seksual menurut Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual oleh Komnas Perempuan termasuk kedalam 15 bentuk kekerasan seksual. Dalam naskah tersebut pelecehan seksual dijelaskan sebagai tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Tindakan yang dimaksud termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Dari pengertian dan berbagai bentuk pelecehan seksual tersebut, kami kelompokkan pelecehan seksual menjadi beberapa kategori atau bentuk sebagai berikut:

  1. Perilaku Menggoda
    Perilaku menggoda dijelaskan berbentuk seperti siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, dan ajakan atau godaan lainnya yang menyebabkan korban menjadi risih dan tidak nyaman.
  2. Pelanggaran Seksual
    Pelanggaran seksual dijelaskan berbentuk colekan atau sentuhan di bagian tubuh, serta penyerangan seksual yang tidak pantas. Kategori ini lebih mengarah pada kontak fisik.
  3. Pelecehan Gender
    Perilaku ini berupa pernyataan menghina atau merendahkan seseorang karena gender seseorang. Menurut WHO sendiri, gender adalah karakteristik perempuan dan laki-laki, seperti norma, peran, dan hubungan antara kelompok pria dan wanita, yang dikonstruksi secara sosial.
  4. Pemaksaan Seksual
    Perilaku pelecehan ini biasa disertai dengan ancaman atau hukuman. Seseorang dipaksa melakukan tindakan seksual yang tidak diinginkannya
  5. Penyuapan Seksual
    Perilaku pelecehan ini berkaitan dengan permintaan aktivitas seksual dengan adanya imbalan atau suap terhadap korban dengan tujuan melindungi pelaku.
  6. Candaan yang Menyinggung Seksualitas
    Candaan ini dapat berupa candaan tentang gender, seks, atau aktivitas seksual korban.

c. Kejadian Pelecehan Seksual (Responden sebagai Saksi)

Setelah menyamakan sudut pandang terhadap definisi dan bentuk pelecehan seksual, kita dapat memasuki pembahasan survei yang kami buat. Dalam survei ini, ada dua pertanyaan inti dalam kejadian pelecehan seksual di kampus. Pertanyaan pertama adalah “Apakah kamu merasa pernah melihat aktivitas pelecehan di lingkungan kampus ITB?” dengan dilengkapi pertanyaan tentang bentuk pelaku pelecehan seksual yang dilihat. Dari 208 responden yang mengaku sebagai mahasiswa ITB dan menyetujui survei yang diisi untuk dibahas, 102 orang mengaku pernah merasa melihat aktivitas pelecehan seksual di lingkungan kampus ITB dengan memberi berbagai bentuk dan pelaku pelecehan tersebut. Selain itu, 30 responden menjawab ragu-ragu dan sisanya menjawab tidak pernah melihat hal tersebut. Responden diberikan pilihan jawaban untuk memilih bentuk pelecehan seksual yang dia lihat. Pilihan jawaban merupakan kategori yang sudah dijelaskan di atas serta ditambahkan satu isian singkat. Responden juga dapat memilih lebih dari satu pilihan jawaban.

Selain itu, beberapa responden juga mengisi bentuk pelecehan seksual yang lebih mendetail dalam pilihan isian singkat, seperti pelecehan melalui verbal, sosial media, menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain, dan bentuk lainnya.

Selanjutnya adalah pelaku pelecehan seksual yang dilihat. Pada survei yang kami buat, pertanyaan tentang (dari kalangan manakah/siapakah) pelaku ini juga diberikan dengan beberapa pilihan jawaban, yakni kakak tingkat, adik tingkat, satu angkatan, dosen, staf, dan isian singkat untuk pilihan lain. Sama seperti pada pilihan bentuk pelecehan seksual, responden juga dapat memilih lebih dari satu pilihan jawaban.

Ada beberapa responden yang mengisi pelaku pelecehan seksual selain dari pilihan yang diberikan melalui pilihan isian singkat, seperti mahasiswa di lingkungan himpunan, orang-orang di sekitar kampus ITB, pengunjung sarana olahraga, pedagang di kawasan kampus, dan lain-lain.

d. Kejadian Pelecehan Seksual (Responden sebagai Korban)

Pertanyaan selanjutnya adalah “Apakah kamu merasa pernah mengalami pelecehan seksual?”. Hasilnya, 70 responden mengaku pernah merasa mengalami pelecehan seksual, 29 responden menjawab ragu-ragu, dan sisanya mengaku tidak pernah mengalami hal tersebut. Jenis atau bentuk pelecehan seksual yang dibahas pun sama seperti pertanyaan sebelumnya. Responden diberi beberapa pilihan jawaban yang bisa dipilih lebih dari satu.

Adapun bentuk-bentuk pelecehan lain yang diisi oleh responden melalui isian singkat adalah menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual, candaan fisik yang melibatkan bagian tubuh sensitif, dan lain-lain. Ada pula responden dari angkatan 2015 ke atas yang menjawab bahwa ia pernah menjadi korban pemerkosaan oleh oknum di luar kampus, meskipun pemerkosaan ini adalah bentuk kekerasan seksual yang terpisah dari pelecehan seksual (Komnas Perempuan, 2017).

Pelaku-pelaku pelecehan seksual yang diisi pada survei pun beragam. Pilihan pada pertanyaan tentang pelaku ini juga sama seperti pertanyaan sebelumnya dan responden dapat memilih lebih dari satu pilihan jawaban.

Seperti pertanyaan sebelumnya, ada beberapa responden yang mengisi pelaku pelecehan seksual melalui pilihan isian singkat. Jawaban yang diberikan di antaranya: mahasiswa di lingkungan himpunan, orang di sekitar kos, oknum atau orang asing di luar ITB, orang di lingkungan gerbang depan ITB, dan lain-lain.

Dari data-data diatas, terlihat bahwa sebenarnya banyak aktivitas pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan kampus dalam berbagai bentuk, seperti candaan, catcalling, bahkan pemerkosaan.

Setelah menelaah kembali data-data yang sudah didapatkan, aktivitas pelecehan yang cukup sering disebut adalah berupa perilaku menggoda dan candaan-candaan yang menyinggung seksualitas. Lalu, pelaku yang banyak disebut dalam aktivitas pelecehan adalah mahasiswa satu angkatan dan kakak tingkat.

Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa hal. Berikut adalah faktor umum yang menjadi penyebab adanya pelecehan seksual.

Pertama, dalam kasus candaan yang menyinggung seksualitas biasa terjadi akibat lingkungan yang terbentuk itu sendiri atau “sexualized environment”. Lingkungan ini sudah “terkontaminasi” dengan segala kebiasaan yang mengandung obsenitas, gurauan berbau seks, grafiti eksplisit, pornografi, poster-poster dan objek yang merendahkan secara seksual, dan sebagainya (LBH Yogyakarta).

Selanjutnya adalah faktor relasi kuasa. Relasi kuasa sendiri adalah suatu ketimpangan antara individu atau kelompok yang memiliki posisi/kedudukan/jabatan/kuasa yang lebih tinggi dengan individu atau kelompok yang ada di bawahnya (secara hierarki). Bentuk kuasa ini tidak selalu terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh korban. Relasi kuasa tidak selalu soal relasi yang bersifat formal dan profesional, dapat juga bersifat informal, horizontal, dan tidak profesional. Contohnya seperti relasi antara kakak tingkat dan adik tingkat, dosen dan mahasiswa, ataupun atasan dan bawahan dalam sebuah organisasi kampus yang sering dimanfaatkan ketimpangannya. Bentuk relasi kuasa ini juga bisa terjadi pada konteks diskriminasi gender. Dengan adanya kondisi tertentu dimana pelaku merasa gendernya lebih baik atau lebih “berkuasa” terhadap gender lain, hal-hal diskriminatif dapat muncul bahkan dapat mengarah ke kekerasan seksual. Dan terdapat banyak faktor lain yang belum dapat dibahas secara keseluruhan. 

e. Kolom Cerita Pengalaman terkait Pelecehan Seksual

Pada survei, kami juga mencantumkan kolom bagi responden yang mau bercerita mengenai pelecehan seksual yang dialami atau disaksikannya. Karena alasan keamanan, kami tidak mencantumkan cerita yang masuk ke dalam laporan ini. Dari 208 responden, sebanyak 59 responden mengisi kolom tersebut. Berbagai bentuk pelecehan seksual diceritakan dalam kolom tersebut, dari candaan hingga pelanggaran seksual yang mengarah ke fisik.

Cerita-cerita yang masuk membuktikan bahwa kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus ITB nyata. Tidak hanya didukung oleh angka, fakta ini juga diperkuat oleh cerita yang disampaikan oleh korban. Fakta lainnya: pelaku masih berkeliaran bebas dan beberapa korban tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika pelecehan tersebut terjadi pada dirinya.

Dari 59 responden, 11 diantaranya mencantumkan kontak yang dapat dihubungi. Selanjutnya kami menghubungi 11 responden yang mencantumkan kontak untuk memberikan opsi pelayanan penanganan kekerasan seksual—mengantisipasi apabila yang bersangkutan masih  dalam proses pemulihan dan membutuhkan pendampingan.

III. Solusi terhadap Isu Pelecehan Seksual

Pada bagian terakhir survei, responden diberi pertanyaan tentang solusi-solusi apa yang menurut mereka tepat untuk mengatasi masalah pelecehan seksual di lingkungan kampus, terutama kampus ITB. Jawaban dari pertanyaan ini berupa kolom yang bersifat uraian sehingga responden bisa berpendapat dan memberikan beragam solusinya.

Dari 208 responden, terdapat 174 responden yang mengajukan beberapa solusi. Sisanya, 34 responden, tidak mengajukan solusi. Secara garis besar, solusi yang diajukan oleh responden dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, antara lain pembentukan lembaga (oleh 71 responden), pencerdasan atau edukasi (oleh 71 responden), regulasi (oleh 22 responden), pemberlakuan sanksi bagi pelaku (oleh 49 responden), serta eskalasi isu (oleh 28 responden). Sisanya, terdapat beberapa solusi yang tidak dapat dikategorikan akibat hanya diajukan oleh segelintir responden, seperti perbaikan infrastruktur kampus (cctv dan penerangan), penyelesaian kasus melalui mediasi antara pelaku dengan korban, perbaikan budaya yang menyinggung gender dan seksualitas, hingga eksekusi kasus dengan mencontoh kampus lain seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Berikut penjelasan rinci mengenai tiap kategorinya.

a. Pembentukan Lembaga

Pembentukan lembaga menurut solusi yang diajukan oleh 71 responden sebenarnya membawa fungsi yang berbeda-beda. Di antara fungsi tersebut adalah sebagai wadah pengaduan, pelaporan dan perlindungan untuk korban (menurut 44 dari 71 responden). Lembaga pengaduan ini juga harus mampu melindungi baik pelapor maupun korban serta mampu memberikan ruang yang aman dan nyaman kepada korban untuk speak up. Dengan adanya fasilitas pengaduan, diharapkan para (calon) pelaku akan berpikir ulang sebelum melakukan tindak pelecehan seksual karena terdapat potensi yang lebih besar untuk mendapatkan sanksi lebih lanjut dari kampus.

Lalu diajukan lembaga yang berfungsi sebagai wadah gerakan penyebar awareness dan pengedukasi (menurut 10 dari 71 responden); dan lembaga dengan layanan konseling (menurut 8 dari 71 responden).

Terdapat 3 responden yang berpendapat agar lembaga-lembaga di ITB seperti kabinet, himpunan, dan konseling saling bekerja sama membentuk wadah pengaduan dan pendampingan yang dapat melindungi korban dan memberikan bantuan hukum terkait. Lembaga tersebut bersifat resmi di bawah Rektor serta terdapat di setiap himpunan dan prodi sebagai perwakilan Rektor, yang ditunjuk langsung oleh ketua himpunan dan prodi (baik Kaprodi sarjana ataupun pascasarjana). Namun menurut 6 responden lain, perlu dibentuk suatu lembaga atau organisasi volunteer dari mahasiswa ITB yang independen dan tidak terintervensi pihak kampus.

b. Pencerdasan atau Edukasi

Dalam mengatasi pelecehan seksual, 71 responden berpendapat perlunya dilakukan pencerdasan atau edukasi terhadap warga ITB. Pemahaman terkait definisi pelecehan seksual yang bukan hanya tindakan fisik namun juga verbal, serta koreksi terhadap perilaku yang memaklumkan pelecehan seksual perlu digalakkan. Pencerdasan tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan awareness melalui penyebarluasan infografis di media sosial, sosialisasi dan penyuluhan kepada massa kampus (baik dari kabinet maupun pihak lain), bystander intervention dalam OSKM dan kegiatan kaderisasi lainnya, juga dengan menyisipkan pendidikan tentang isu ini dalam kurikulum kuliah. Edukasi yang dilakukan pun hendaknya tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa, namun semua kalangan di ITB.

c. Regulasi

Penanganan dalam ranah internal kampus juga disinggung oleh 59 responden. Perwujudannya melalui pemberlakuan peraturan serta kebijakan yang jelas oleh ITB, seperti dengan adanya SOP (menurut 22 responden) dan sanksi bagi pelaku (menurut 37 responden). Kebijakan lain juga perlu diperhatikan seperti dalam keberjalanan perkuliahan, contohnya pelaksanaan bimbingan tugas akhir tidak boleh dilakukan di luar kampus dan setiap melakukan bimbingan perlu izin TU (melalui stempel atau bentuk legalisasi lain).

d. Pemberlakuan Sanksi Sosial bagi Pelaku

Pemberian sanksi sosial dan pengungkapan pelaku ke hadapan publik perlu dilakukan menurut 12 responden.

e. Eskalasi Isu di Lingkungan ITB

Menurut pendapat 28 responden, isu pelecehan seksual perlu diangkat dan digaungkan di lingkungan ITB. Eskalasi yang dapat dilakukan di antaranya dengan speak up melalui kabinet, jurusan, atau rektorat. Hal yang dapat dilakukan di antaranya pembentukan sikap dan tuntutan kebijakan via himpunan, unit, dan kabinet KM ITB kepada Rektorat, dan membuka pembicaraan atau menormalisasi pembawaan isu-isu pelecehan seksual di kampus.

Selain responden, kami juga bertanya kepada elemen di lingkungan kampus mengenai apa yang bisa lembaga tersebut lakukan menanggapi kasus pelecehan seksual. Berikut jawaban atas pertanyaan “Peran lembaga yang dipimpin dalam perkembangan isu ini? Apa yang bisa dilakukan oleh lembaga tersebut?”

Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB 2020/2021, Nada Zharfania Zuhaira (TL’16)
“Isu gender & seksualitas menjadi hal yang kental diangkat oleh Kabinet KM ITB tahun ini.

(a) Kementerian Advokasi Kebijakan Kampus (di bawah Kemenkoan Kesma) memiliki target untuk mendesak Rektorat ITB meratifikasi ‘Peraturan Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus’.

(b) Kementerian Investigasi & Pergerakan Kedaerahan (di bawah Kemenkoan Sospol) punya Dirjen Isu Gender & Seksualitas serta sedang berjejaring dengan komunitas yang memiliki concern dengan isu ini baik di dalam maupun luar kampus (contohnya: HopeHelps ITB, Ganesha Umbrella Academy, dll) untuk menciptakan aliansi yang dapat mendukung advokasi & mengeskalasi gerakan yang sejalan dengan tujuan di atas.

(c) Kementerian Pendampingan & Pendidikan Kesehatan Mental (di bawah Kemenkoan Kesma) memiliki layanan konseling yang akan dapat menangani kasus-kasus khusus yang mengganggu kesejahteraan psikis mahasiswa, salah satunya akibat kekerasan seksual. Konselor kami dilatih langsung oleh lembaga tersertifikasi & juga bekerja sama dengan ITB. Insya Allah penanganannya tidak akan salah serta me-respect privacy.

“Kemenkoan Kesma secara keseluruhan tahun ini juga berkomitmen untuk tidak hanya akan mengurusi urusan-urusan kasus kesejahteraan yang bersifat komunal, tetapi juga kasus khusus yang dialami kelompok/orang tertentu via satgas kasus khusus langsung di bawah Kemenkoan Kesma. Jadi sudah ada “jalur khusus”nya juga yang sudah dipersiapkan untuk mengawal potensi permasalahan spesifik seperti ini, mempersiapkan worst case kalau sampai ada kasus (semoga tidak) dan membutuhkan pengawalan ke rektorat terkait advokasi pemenuhan hak-hak korban, dan lain-lain.”

Ketua Kongres KM ITB 2020/2021, Guntur Iqbal Kelana Suryadi (PL’17)
“Perlu kita akui, bahwa Kongres KM ITB selama beberapa tahun kebelakang tidak membahas hal ini, dan hanya melaksanakan kegiatan tahunan. Namun, sebenarnya peran Kongres KM ITB dapat membentuk suatu statement of belief mengenai bagaimana seharusnya pelecehan seksual ditangani di kampus, atau bahkan membuat peraturan untuk menangani kasus pelecehan seksual dalam skala pemerintahan mahasiswa, secara lebih taktis, sangat mungkin untuk Kongres KM ITB membentuk Komite Penyelidikan Kekerasan Seksual di Kampus.”

Dirjen Isu Gender dan Seksualitas Kabinet KM ITB 2020/2021, Mochamad Gacya Putra (PL’18)
“Kabar baiknya untuk kepengurusan Kabinet KM ITB 2020/2021 telah dibentuk Kedirjenan Isu dengan fokus utama terhadap Gender dan Seksualitas di bawah Kementerian Kebijakan Daerah. Jadi harapannya, isu kekerasan seksual maupun isu terkait gender dan seksualitas dapat dieskalasikan dengan baik. Untuk menanggapi Isu Kekerasan Seksual di dalam kampus sendiri, Kedirjenan sedang berusaha membuat aliansi atau wadah untuk memperjuangkan isu ini di ranah kampus dengan pihak-pihak yang memang concern terhadap isu ini (internal KM ITB—Kabinet, unit, HMJ, dan organisasi rintisan; serta eksternal), agar seyogyanya isu ini dapat dieskalasikan dan diadvokasikan dengan baik di kampus kita dan menjadi fokus utama, baik dari segi kemahasiswaan secara umum ataupun dari segi akademik.”

Direktur Utama HopeHelps ITB, Monica Cory Angel (TI’17)
“Mungkin menyambung ke pertanyaan kedua, yang HopeHelps coba lakukan adalah membuka komunikasi dengan korban-korban kekerasan seksual yang selama ini mungkin terlalu takut untuk bercerita. Karena ketika seorang korban memilih untuk bercerita, banyak risiko yang bisa terjadi.”

“Hal itu tidak bisa dipungkiri apalagi dengan sistem hukum kita yang masih seperti ini—baik di dalam maupun di luar kampus. Karena kemarin kami (HopeHelps ITB) sudah sempat membedah peraturan kampus, dan banyak celah yang kami rasa kurang bisa dijelaskan untuk seseorang yang mengambil resiko sebegitu besar untuk melaporkan kasus kekerasan seksual ke pihak kampus. Ketika mereka melapor, tidak hanya mendapat pandangan sinis mungkin ya dari lingkungan setempat kalau hal ini terbocorkan, tetapi juga mungkin dari keluarga sendiri karena memang kegiatan-kegiatan yang berbau seksual walaupun hal itu merujuk ke kekerasan seksual masih dipandang sebagai suatu hal yang tabu. Akhirnya malah menyalahkan korban atau victim blaming

“Mungkin hal yang harus diubah terlebih dulu ialah persepsi masyarakat yang selama ini lebih banyak victim blaming terhadap korban-korban kekerasan seksual. Misalnya dengan pertanyaan kenapa bajunya terbuka? Padahal ada data yang membuktikan kalau selama ini kekerasan seksual yang sering terjadi justru bukan kepada orang yang berbaju minim (detik.com). Justru orang dengan celana atau rok panjang adalah orang-orang yang paling banyak mendapat kekerasan seksual. Jadi sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan baju. Aku percaya selalu ada dresscode tertentu seperti memakai pakaian yang sopan ke kantor itu aku setuju, tapi Apakah seseorang dengan baju yang tidak sopan harus di-punish oleh masyarakat dengan embel-embel dia yang salah dalam kasus kekerasan seksual? Apakah memang sudah stereotype masyarakat masa kini untuk mengkotak-kotakan orang-orang berpakaian minim sebagai letak kesalahan? Apakah hal itu yang kita ingin lakukan di masa yang sudah maju seperti ini? 

“Oleh karena itu HopeHelps ITB hanya ingin membuka media komunikasi untuk korban-korban kekerasan seksual kalau mereka butuh bantuan kita. Kita menyediakan tiga layanan yaitu psychological first-aid, hukum, dan psikologis. Untuk psychological first-aid ini kami sudah dilatih untuk menyediakan sejenis pendampingan utama secara psikologis yang pertama dan cepat tanggap. Kami hanya ingin korban punya pilihan. Kalau korban hanya ingin cerita boleh, tapi kalau mereka juga pengen ditemani atau didampingi ke jalan administratif atau hukum kampus (maksudnya di dalam kampus sendiri) atau mereka ingin ada eskalasi isu juga boleh. Hal-hal tersebut yang ingin kami dampingi. Tapi kalaupun sampai ke pengadilan tinggi juga bisa kami dampingi. 

Selain komunikasi, tugas kami juga mengedukasi. Memang end-goals terbesar kami agar korban berani bicara dan bercerita. Bukan agar mereka viral, tapi agar korban merasa lega dan tidak sendirian. Karena menurut aku kita zalim ketika kita tidak pernah berusaha untuk mencari data tapi kita bertanya urgensinya apa. Hal ini akan menjadi cycle yang terus-menerus berjalan dari tahun ke tahun kalau nggak pernah ada yang speak up tentang hal ini tapi orang-orang terus bertanya.

“Ketika ada yang speak up tentang hal ini, orang-orang justru bertanya “Data lo mana? Urgensinya apa?”, ini justru cycle yang toksik dan aneh menurut aku. Bagaimana kita bisa bicara tentang urgensi dan data ketika segala upaya untuk speak up selalu dikritik oleh lapisan-lapisan mahasiswa? Mungkin menurut aku kita perlu untuk berpikir positif tentang eskalasi isu ini sebagai upaya mencari data. Selama upaya mencari data ini tidak diidentifikasikan sebagai usaha-usaha untuk membeberkan data korban atau membuat korban viral dengan tujuan-tujuan politis tertentu bagi suatu lembaga tertentu, menurutku itu merupakan hal baik karena memang kita ingin membuktikan dulu kesalahan sistemnya ada di mana juga mengapa orang-orang tidak berani melapor. Kalau kasus kekerasan seksual aku yakin pasti ada karena aku sendiri pun mengalami juga mendengar, tapi adakah yang cukup berani untuk mengeluarkan statement akan serius dalam menangani kasus ini dan mencari celah-celahnya di mana? Itu belum ada. Karena hal tersebut belum ada, maka belum ada masalah yang tercipta untuk menjadi urgensi. Jadi mungkin untuk pertanyaan pertama agak salah diucapkan karena kita tidak akan menemukan urgensinya kecuali kita dive-in ke dalamnya.”

Ganesha Umbrella Academy, disampaikan oleh Sabrina Asyarafi (TPP’15)
“Saat ini kami sedang fokus membangun jejaring, secara internal kami sedang melakukan banyak diskusi dan belajar untuk memperdalam pengetahuan dan awareness kami terkait isu gender dan hak asasi manusia. Kita mengutamakan fungsi sebagai support group dulu.”

Penutup

Demikian pemaparan hasil survei isu pelecehan seksual di ITB. Tentunya masih terdapat banyak kesalahan dalam survei maupun laporan ini. Berbagai upaya telah kami lakukan untuk mengurangi kesalahan data dan metode survei. Namun, perlu ditekankan terlepas dari kesalahan data dan metode survei tersebut, fakta bahwa pelecehan seksual terjadi di kampus ITB tidak terelakkan. Bahkan, terlepas terjadi atau tidaknya pelecehan seksual di kampus ITB, awareness dan tindakan solutif perlu dilakukan karena setiap lingkungan berkemungkinan terjadi pelecehan seksual dan kita tidak pernah tau kapan hal itu terjadi.

Laporan ini bersifat terbuka, artinya semua pihak/individu dapat memanfaatkannya. Sekali lagi, survei dan laporan ini menekankan prioritas korban/pengisi survei. Tidak ada data yang bersifat personal sehingga dapat membahayakan korban/pengisi survei. Tidak ada data yang bersifat spesifik sehingga menyinggung pihak tertentu. Kami bertanggung jawab terhadap apapun yang berkaitan dengan survei dan laporan ini.

Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terbentuknya laporan ini dalam bentuk dukungan, pengisian survei, kritik, saran, serta bantuan lainnya. Kami juga menyampaikan permintaan maaf apabila terdapat hal yang kurang berkenan.

Semoga dengan semua usaha yang kita lakukan, tercipta kampus ITB yang aman bagi kita semua. Perjalanan masih panjang, tidak berhenti hingga laporan ini dipublikasikan. Perjuangan ini perlu didukung dan diupayakan oleh semua elemen yang ada di kampus ini.

Tentunya kami masih menerima saran/masukan melalui kontak yang tertera dibawah ini.
Line : shofwanhidayat1453
Whatsapp : 085716548029
Email : shofwanhid@gmail.com

Dipublikasikan pertama kali pada Jumat (07/08) di laman https://issuu.com/pelecehanseksualkampusitb/docs/laporan_hasil_survei_isu_pelecehan_seksual_di_itb, disunting oleh Pers Mahasiswa ITB

Penulis: Shofwan Hidayat (PL’19), Zarkis Dwi Bernarvi (PL’19), Azwan Nazamuddin (PL’19), dan Selvalya Tsasa Apriani (AR’19)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Infografis dan Foto Sampul: Shofwan Hidayat (PL’19), Zarkis Dwi Bernarvi (PL’19), Azwan Nazamuddin (PL’19), dan Selvalya Tsasa Apriani (AR’19)

Share.

Leave A Reply