Ada Apa dengan PRS?

1

Sesuai dengan jadwal yang tertera pada laman Sistem Informasi Akademik (SIX), Senin (10/8) merupakan hari pertama Pengisian Rencana Studi (PRS) oleh mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal ini menyebabkan hampir seluruh mahasiswa terjaga hingga dini hari untuk mengamankan mata kuliah yang diinginkan. Namun sangat disayangkan, PRS kali ini terasa lebih “menyakitkan” daripada biasanya. Mahasiswa harus menghadapi berbagai permasalahan dan kendala yang cenderung lebih parah jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Permasalahan sudah dapat dirasakan sejak pukul 23.35 WIB di hari Minggu (09/8) ketika akses menuju laman SIX mulai melambat. Tak lama kemudian, mahasiswa dihadapkan dengan gambar antrean ikonis yang menandakan antrean (queue) sistem menuju laman SIX. Terbiasa menunggu 20-30 menit untuk masuk, mahasiswa angkatan 2018 ke atas dikejutkan dengan antrean tahun ini yang memakan waktu 1 hingga 2 jam. Tidak berhenti sampai di situ, mahasiswa juga (lagi-lagi) harus berkali-kali masuk ke dalam antrean ketika hendak memilih mata kuliah.

Permasalahan lain yang dialami mahasiswa ketika melakukan PRS ialah sebagai berikut:

  1. Ketika melakukan refresh, maka akan kembali ke tampilan awal, yaitu laman login.
  2. Ketika menekan pilihan Login melalui akun INA, akan muncul tulisan “please retry INA login.
  3. Beberapa kali server down sehingga muncul tulisan “error”.
  4. Ketika memilih pengisian Rencana Studi & Perwalian, muncul tulisan “Sudah dipilih” pada opsi “Ambil Mata Kuliah”. 
  5. Ketika mengambil suatu kelas mata kuliah wajib, terlempar ke kelas KKI.
  6. Ketika belum menekan tombol kirim, maka otomatis belum terdaftar sebagai peserta kelas sehingga bisa menyebabkan kelas yang diinginkan penuh selama memilih mata kuliah lainnya.

Hal tersebut menimbulkan kekecewaan mahasiswa. Pasalnya, kendala pengisian Formulir Rencana Studi (FRS) merupakan masalah yang selalu berulang setiap tahunnya dan seakan-akan memburuk di tahun ini. Mahasiswa mulai mempertanyakan upaya dan usaha apa sajakah yang sudah dilakukan oleh Rektorat dalam menangani permasalahan sejauh ini.

Sistem penyelenggaran PRS sendiri terindikasi menjadi salah satu penyebab permasalahan. Pertama, mekanisme selang waktu 15 menit bagi mahasiswa angkatan 2019, 2018, dan 2017 ke atas dirasakan kurang (atau bahkan tidak) efektif. Jika berkaca dari kejadian dini hari, durasi 15 menit bahkan belum cukup untuk log masuk pada akun SIX mahasiswa. Kedua, belum adanya rekayasa sistem yang mendukung mekanisme selang waktu tersebut, dengan memprioritaskan mahasiswa angkatan 2017 ke atas  untuk log masuk dan memilih mata kuliah. Ketiga, sistem “klik kirim” yang baru diperkenalkan tahun lalu berpotensi menciptakan permasalahan lainnya. Mahasiswa yang belum melakukan “klik kirim” berisiko kehilangan kuota pada mata kuliah yang telah ia pilih dan harus memilih mata kuliah lainnya. Hal ini akan menyebabkan mahasiswa “berlama-lama” di SIX dan memenuhi server. Terakhir, kapasitas server yang relatif rendah menyebabkan antrean sistem sangat panjang dan memakan waktu yang terlalu lama.

Kemampuan server SIX Akademik ITB yang buruk dalam menampung jumlah pengakses tidak hanya menyulitkan mahasiswa dalam memilih mata kuliah tetapi juga menimbulkan masalah-masalah lainnya. Akses yang sulit ini menimbulkan kepanikan di antara mahasiswa, terutama mahasiswa angkatan 2019 yang baru pertama kali melakukan pengisian rencana studi. Banyak dari mereka yang resah tidak dapat memilih mata kuliah yang mereka inginkan karena takut kuota mata kuliah tersebut sudah penuh. Ada juga yang baru bisa mengakses laman SIX pukul tiga pagi dan hanya dapat memilih jumlah mata kuliah yang kurang dari beban sks wajib karena semua kelas mata kuliah bersangkutan sudah penuh.

Selain permasalahan sistem, banyak kelas yang tidak dibuka pada PRS kali ini. Hal ini membuat berkurangnya kesempatan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan terkait. Nyatanya, mata kuliah tersebut merupakan mata kuliah yang banyak diminati oleh mahasiswa, seperti Studium Generale. Adanya penambahan kuota di beberapa kelas yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan sejak awal pun turut memperkeruh suasana. Pada mata kuliah Agama Kristen Protestan kuota awal berjumlah 80 orang, lalu secara tiba-tiba kuota dinaikkan menjadi 150 orang. Tidak hanya pada mata kuliah Agama Kristen Protestan, hal serupa juga terjadi di mata kuliah Agama lainnya dan beberapa mata kuliah pilihan jurusan. Belum adanya keselarasan antara kuota kelas dan kemungkinan kebutuhan dari mahasiswa, membuat beberapa mahasiswa harus merelakan untuk tidak mengambil mata kuliah tertentu di semester ini. 

Kemudian ada beberapa sistem mata kuliah yang teknisnya berbeda dari mata kuliah lain namun belum disosialisasikan terlebih dahulu, contohnya: mata kuliah Matriks dan Ruang Vektor dari Prodi Matematika. Mahasiswa Teknik Industri angkatan 2019 tidak dapat memilih kelas di mata kuliah Ruang dan Vektor karena telah dipilihkan secara otomatis.

Kejadian dini hari tadi pun mengingatkan kita akan penyelenggaraan pendidikan tinggi di masa pandemi yang belum cukup inklusif. Mahasiswa ITB yang tidak memiliki jaringan internet cepat dan memadai seolah-olah terenggut haknya. Mereka harus menunggu lebih lama sehingga tidak mampu bersaing memilih mata kuliah seperti mahasiswa lain. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang harus meminta bantuan dari mahasiswa lain untuk mengisi FRS miliknya. Meskipun begitu, jaringan internet yang stabil juga belum dapat dijadikan jaminan untuk dapat mengakses laman SIX ITB. Banyak dari mahasiswa yang sudah menyiapkan kuota (internet) dan akses internet yang cepat, tetapi tetap kesulitan ketika hendak mengakses laman SIX.

Ironis rasanya ketika ITB sebagai institusi pendidikan teknik tertua di Indonesia masih belum bisa mengatasi permasalahan “teknologi” dalam PRS setiap tahunnya. Mahasiswa sangat berharap agar pihak Rektorat dapat dengan tanggap membenahi sistem penyelenggaraan PRS agar kejadian ini dapat berhenti di tahun 2020 dan tidak terulang di tahun selanjutnya. UKT yang jumlahnya tidak mengalami pengurangan mungkin dapat dipergunakan untuk memutakhirkan server SIX yang ada saat ini.

Kontributor: Hasna Khadijah Salsabila Lahino (TL’19), Sheila Hauna Arifa (PL’18), Alifia Navisha Salama (TI’19), Rachmadini Melita Trisnasiwi (AR’18), dan George Michael (AR’18)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Gambar antrean sistem SIX, dimodifikasi oleh George Michael (AR’18)

Share.

1 Comment

  1. Johnson Fernando Yang Jo on

    Untuk matkul Agama dan Etika Protestan, kenaikan yang dinilai tiba-tiba itu sebenarnya hasil perundingan antara dosen dengan koordinator asisten kelas Agama dan Etika Protestan. Karena koordinator asisten kelas Agama dan Etika Protestan baru mengetahui jumlah total peserta tersebut pada hari Sabtu (lewat SIX) dan melakukan perhitungan menggunakan data-data yang pernah dihimpun sebelumnya (walaupun tidak akurat karena dinamika pada lapangan dan keterbatasan waktu) sehingga menghasilkan kesimpulan untuk perlu menaikkan kuota kelas tersebut. Makanya kami meminta penambahan tersebut pada hari minggu malam dan baru direspon oleh pihak MKDU pada keesokan harinya. Jadi sebenarnya bukan sesuatu yang tiba-tiba, tapi memang karena informasinya baru diketahui pada saat waktu mendekati kegiatan peribadatan umat Kristen, makanya ada delay waktu yang cukup panjang.

Leave A Reply