Resensi Film: “The Book of Henry”

0

Oleh: Hafsah Restu Nurul Annafi

Genre: Drama/Thriller
Sutradara : Colin Trevorrow
Produser : Sidney Kimmel, Jenette Kahn, Adam Richman
Penulis : Gregg Hurwitz
Pemain : Naomi Watts, Jaeden Lieberher, Jacob Tremblay, Maddie Ziegler, Dean Norris, Sarah Silverman, Lee Pace
IMDB: 6.6/10
Rotten Tomatoes: 21%

Sebagai salah satu film garapan Colin Trevorrow (“Star Wars: The Rise of Skywalker (2019), Jurassic World (2015)”) yang menurut saya cukup jenius, sungguh disayangkan “The Book of Henry (2017)” hanya mendapat rating rotten tomatoes sebesar 21%. Banyak kritikus yang menilai tone film ini berbelok terlalu tajam dan kecewa dengan ekspektasi film drama keluarga, tetapi berujung thriller. Justru, sebenarnya genre film ini sudah memberitahukan hal itu. Entah apa yang membuat film ini tidak bisa mendapatkan rating lebih tinggi lagi, padahal ide ceritanya baru dan unik. Untuk itu, saya mengulas “The Book of Henry” sebagai film yang tidak termasuk dalam high rating, namun tetap menjadi rekomendasi film layak tonton.

Film berdurasi 105 menit ini dibuka dengan intro yang apik. Tak hanya menampilkan nama-nama seperti pada kebanyakan pembuka film, 2 menit 26 detik pada film ini dikemas dalam bentuk sketsa wajah tokoh dan diselingi semacam gambar teknik/mekanika kerja suatu alat. Pada bagian ini, terlihat Trevorrow sudah ingin menunjukkan salah satu bagian jenius dari film ini: kecerdasan berpikir dan bereksperimen.

Film ini mengisahkan seorang single mother, Susan (Naomi Watts) yang hidup dengan dua anak laki-lakinya, Henry (Jaeden Lieberher) yang berusia 11 tahun dan Peter (Jacob Tremblay) yang berusia 8 tahun.

Cerita dibuka dengan adegan Henry dan Peter yang sedang menunggu bus sekolah. Di dalam kelas, Henry menyampaikan pandangan terkait My Legacy yang ditugaskan oleh gurunya. Dari adegan awal  ini sudah tampak bahwa Henry jenius, ia memiliki pandangan yang jauh lebih dewasa daripada teman-teman seusianya. Bahkan, Henry mendapatkan medali Young Engineer Award atas kecerdasan dan keterampilan tekniknya.

Tak hanya cerdas di sekolah, sosok Henry juga sangat dewasa. Berbagai keperluan rumah tangga diatur oleh Henry, ia sampai menjadi penasihat keuangan di keluarganya. Susan sangat bergantung pada anak sulungnya itu. Meskipun tak dijelaskan dimana ayahnya berada, namun keberadaan Henry sudah menjadi alasan mengapa Susan tak perlu lagi mencari sosok suami. Watts berakting sangat baik dalam menjalankan peran ibu yang mengayomi dan menyayangi kedua anaknya.

Kehidupan mereka bertiga berjalan normal sebelum menemukan ada yang janggal dengan tetangganya. Christina (Maddie Ziegler), gadis yang tinggal bersama ayah tirinya, Glenn Sickleman (Dean Norris), selalu terlihat murung dan menutup diri. Sebagai tetangga sekaligus teman sekelas, Henry yang memiliki rasa ingin tahu tinggi itu penasaran. Karenanya, ia melakukan penyelidikan mandiri dengan mengintip gelagat Christina dan Glenn saat malam hari, melalui jendela kamar tidur Henry. Benar saja, ternyata Glenn melakukan tindakan child abuse terhadap putri tirinya. Mengetahui hal ini, Henry marah sampai-sampai berniat untuk membunuh pria itu. Ia bahkan menuliskan strategi pembunuhannya ke dalam notebook merah, The Book of Henry. Tak main-main dengan niat ini, Henry bahkan membeli buku kriminal untuk studi literasi, mengintai setiap malam, dan meninjau lokasi yang akan dijadikan target sampai mendatangi tempat penjual senapan.

Satu hal yang mengganjal, sebagai seorang anak yang masih berusia 11 tahun, karakter Henry sangat dominan dalam penyusunan strategi pembunuhan. Pada adegan yang memperlihatkan Henry memasuki tempat penjual senapan pun terkesan dipaksakan, sampai-sampai ia tidak ketahuan berada disana. Perlu dipikirkan kembali apakah semua strategi Henry berjalan atas kecerdasannya semata, atau dengan campur tangan keberuntungan.

Ditengah adegan semi-thriller ini, dialog drama keluarga menjadi minor sebab fokus cerita telah berpindah. Ditambah lagi, Henry tiba-tiba dikabarkan mengidap tumor otak. Tentu penonton dibuat terkejut secara bertahap pada bagian tersebut.

Dengan penyakit yang mengharuskan Henry menjalani perawatan di rumah sakit, bagaimana kelanjutan rencana pembunuhan terhadap Glenn? Tampaknya Hurwitz tak kehilangan akal menjawab persoalan ini. Bukannya menjadikan Henry sembuh dan menuntaskan rencana, penonton dibuat sedih sekaligus kaget karena sosok Henry meninggal. Sementara itu, semasa hidup Henry bersikeras untuk menindak pelaku child abuse tersebut, bagaimanapun caranya.

Setelah merasa emosional pasca kepergian Henry, mood penonton dibuat tegang kembali karena ternyata rencana pembunuhan akan dieksekusi. Oleh siapa dan bagaimana caranya? Lagi-lagi Trevorrow berhasil membuat penonton berdebar.

Secara keseluruhan, alur cerita film ini menarik meskipun mengalami tone changing yang signifikan pada beberapa bagian. Lieberher, aktor yang juga bermain di film It (2017) dan It Chapter Two (2019), tampil totalitas dan mendalami perannya sebagai anak super jenius. Ditambah lagi, Jacob Tremblay, yang juga tokoh utama film Wonder (2017), sukses memainkan emosi penonton melalui dialog bersama kakak dan ibunya dalam film ini, menunjukkan hubungan sebuah keluarga yang saling suportif. Sebagai seorang antagonis, akting Dean Norris terkesan terlalu datar, bahkan ia tidak pernah menampakkan sikap agresif atau kekasarannya sepanjang film ini. Mungkin, Trevorrow hanya ingin menunjukkan karakter Glenn melalui penggambaran tokoh lain, seperti saat Henry memata-matai Glenn. Terakhir, Maggie Ziegler seharusnya mendapat apresiasi tinggi sebab meskipun tak banyak dialog yang ia ucapkan, ekspresinya mampu menggambarkan penderitaan hebat seorang korban kekerasan.

Terlepas dari kemampuan akting para tokoh, pesan moral film ini juga patut diacungi jempol. Meskipun tak sedikit film bertemakan child abuse, “The Book of Henry” mampu menegaskan nilai lain, yakni kepedulian terhadap sesama.Henry: “Violence isn’t the worst thing in the world.

Henry: “Violence isn’t the worst thing in the world.”
Susan: What is then?”
Henry: “Apathy.”

Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Ilustrasi: James Goodridge
Foto Sampul: P+A, dimodifikasi oleh Hafsah Restu Nurul Annafi (PL’19)

Share.

Leave A Reply