Peringatan 100 Tahun ITB: “ITB dalam Abad Baru bagi Indonesia Baru”

0
Kampus ITB, dokumentasi Indira Anjanique/Teknik Mesin 2018
Kampus ITB, dokumentasi Indira Anjanique/Teknik Mesin 2018

“Bersama Berkarya bagi Bangsa!”

Kalimat tersebut merupakan salah satu slogan yang digaungkan dalam perayaan 100 Tahun ITB. Gelar wicara berjudul “ITB dalam Abad Baru bagi Indonesia Baru” yang diselenggarakan kemarin (2/7) disiarkan secara langsung di stasiun televisi TVRI. Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara yang akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat.

Acara dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dibuka dengan keynote speech serta sambutan oleh Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D. selaku Rektor ITB. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan video pemaparan mengenai Indeks Pembangunan Manusia yang terus meningkat. Dikatakan bahwa pada tahun 2045, Indonesia memiliki potensi dari bonus demografi dan diproyeksikan memiliki ekonomi terbesar ke-4 di dunia. Pengembangan sumber daya manusia merupakan sumber akselerasi ekonomi, dan sebaliknya, apabila tidak dikelola dengan baik akan menjadi musibah. Oleh karena itu, perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi salah satu penjawaban dari permasalahan tersebut. 

Selama 60 menit keberlangsungan acara, ditampilkan kombinasi narasi, puisi, musik, dan video dokumenter yang menyampaikan pesan dan ajakan bagi bangsa Indonesia untuk optimis meraih masa depan meski saat ini masih berada dalam situasi pandemi. Acara ini dibagi menjadi dua sesi dialog, sesi pertama bertopik “Transformasi Pendidikan di Era ‘New Normal’” dan sesi kedua bertopik “Kewirausahaan dan Industri Berbasis Teknologi”. 

Terdapat empat pembicara pada sesi pertama, yaitu Nadiem Makarim, B.A, M.B.A. selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Reini  Wirahadikusumah, Ph.D. selaku Rektor ITB, Radinka Qiera, S.T. selaku Co Founder dan COO Sekolah.mu, dan Nyoman Anjani, S.T. selaku Founder Pelita Muda dan pelajar di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Tersebar di lokasi yang berjauhan yakni Aula Barat ITB, Aula Timur ITB, Auditorium TVRI, dan Amerika Serikat tidak mengurangi semangat para pembicara.

Prof. Dr. Gede Raka, selaku moderator, memberikan pemaparan mengenai topik di sesi pertama ini. Dialog dilanjutkan oleh Nadiem Makariem, B.A, M.B.A. yang menekankan karakter-karakter penting yang harus dimiliki anak bangsa dalam menghadapi tantangan masa depan. Narasi tersebut dilanjutkan oleh Nyoman Anjani, S.T. yang membagikan pengalamannya sebagai salah satu pelajar di MIT. Dalam ceritanya, ia menyimpulkan bahwa pendidikan di era ‘new normal’ memerlukan adanya pembelajaran yang interaktif, keinginan yang tinggi untuk belajar secara mandiri, serta kolaborasi dan inovasi antara berbagai pihak. 

Radinka Qiera, S.T. mengatakan hal yang serupa dan menekankan bahwa pendidikan di era ‘new normal’ bukan bermaksud untuk menggantikan guru, tetapi transformasi pendidikan untuk kemerdekaan belajar. Prof. Reini  Wirahadikusumah, Ph.D. memberikan pernyataan penutup dengan penjaminan produktivitas di ITB dan penyempurnaan learning system guna kepentingan pembelajaran kedepannya. 

Sesi pertama ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan oleh moderator. Kesimpulan tersebut terdiri dari empat poin utama bagi pendidikan dalam menghadapi ‘new normal‘, yaitu:

1. Proses pendidikan perlu diselenggarakan dengan cara yang kreatif dan pengoptimalan kemajuan teknologi serta bidang lain.

2. Kreativitas  akan diarahkan sebagai proses pemerataan pendidikan dengan lebih cepat. Kreativitas juga diperlukan untuk memunculkan potensi terbaik, guna sebagai inovasi maupun membangun indonesia di bidang sosial budaya yang dimiliki.

3. Lulusan pendidikan hendaknya mampu belajar sepanjang hayat sehingga memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman agar terjadi kolaborasi dan solidaritas bangsa.

4. Lulusan harus berbudi dan berkarakter luas sehingga kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan kemanusiaan, bukan malah menimbulkan bencana.

Sebelum sesi kedua dimulai, terdapat video pemaparan mengenai kewirausahaan dan industri berbasis teknologi. Video pemaparan tersebut berisi pandangan dari beberapa menteri dan founder instansi di Indonesia. Dr. Ir. Arifin Panigoro mengatakan bahwa kewirausahaan merupakan bagian penting pada masa kini. Drs. Teten Masduki menambahkan bahwa ITB adalah institusi yang mampu mengkoordinasikan sains, seni, dan bisnis yang berperan penting dalam UMKM. Agum Gumiwang M.Si. turut menyampaikan pandangannya mengenai revolusi industri ke-4 yang merupakan lompatan besar karena bisa menghasilkan model bisnis baru berbasis digital. Ir. Arifin Tasrif juga memaparkan pandangannya mengenai indonesia yang memiliki sumber daya melimpah namun belum dioptimalkan. Video pemaparan ditutup oleh Geri Azriel Sidik, S.T., M.B.A. yang menyampaikan bahwa perkembangan teknologi saat ini sangat memadai, sehingga memudahkan  generasi muda untuk berkarya.

Sesi kedua dibuka oleh Ir. Dwi Larso, MSIE., Ph.D. selaku Direktur LPDP, Dosen SBM ITB, dan moderator pada sesi ini. Terdapat enam pengisi acara dalam sesi kedua, yaitu Ridwan Djamaludin Ph.D. selaku Deputi Kemenko Marves dan Ketua Ikatan Alumni ITB, Dayu Dara Permata, S.T. selaku CEO of Pinhome, Buntoro selaku Founder CEO PT Mega Andalan Kalasan (MAK), Sharlini Eriza Putri, S.T., M.Sc. selaku Co-Founder dan CEO Nusantics, Dr. (HC) Nurhayati Subakat, Apt. selaku Founder PT Paragon Tech Innovation (PTI), dan Riandita Andra, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku Candidate KTH Royal Institute of Technology. 

Pemaparan sesi kedua dimulai oleh Nadiem Makariem, B.A, M.B.A. yang menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dari dunia pendidikan yang semakin besar. Beliau memaparkan bahwa kampus merdeka akan membantu terciptanya wirausahawan baru yang dibutuhkan oleh Indonesia. Lalu dilanjutkan oleh keresahan Sharlini Eriza Putri, S.T., M.Sc. yang menyampaikan bahwa potensi indonesia itu sangat besar namun masih terdapatnya gap antara jumlah sumber daya dan pekerjanya. Sesuai dengan ideologi pancasila yaitu kedaulatan, rakyat Indonesia diharuskan untuk bisa mengoptimalkan sumber daya tersebut.

Dr. (HC) Nurhayati Subakat, Apt. membagikan cerita mengenai bagaimana beliau merintis bisnisnya hingga saat ini. Menurutnya, terdapat lima karakter yang harus dimiliki seseorang agar berhasil dalam bisnisnya, yaitu ketuhanan, kepedulian, kerendahan hati, ketangguhan, dan inovatif.

Dialog dilanjutkan oleh pemaparan Riandita Andra, S.T., M.Sc., Ph.D. yang juga menjabat sebagai dosen SBM ITB dan saat ini sedang melanjutkan pendidikan di Swedia. Beliau menyampaikan pandangan bahwa saat ini terdapat dua sisi dalam ITB agar dapat memajukan kewirausahaan teknologi Indonesia. Sisi pertama yaitu ITB sebagai institut teknologi nasional yang bisa menciptakan pengembangan teknologi nasional dengan tujuan menciptakan wirausahawan baru. Di sisi lainnya, ITB sebagai pusat penelitian sains nasional juga berfungsi sebagai pencetak ilmuwan. Kedua sisi ini harus ditunjang agar dapat melahirkan bisnis-bisnis baru yang berguna bagi Indonesia.

Di pertengahan dialog, terdapat pemutaran lagu Zamrud Khatulistiwa yang diaransemen dan dinyanyikan oleh para alumni ITB.

Dialog kembali dilanjutkan oleh Ridwan Djamaludin, Ph.D yang memaparkan pandangannya bahwa keinginan indonesia untuk maju sangat besar sehingga kita sendiri yang harus memastikan bahwa Indonesia dapat maju dengan berlandaskan teknologi dan semangat 100 tahun ITB.

Pemaparan dilanjutkan oleh Dayu Dara Permata, S.T.. Beliau menyampaikan bagaimana Pinhome dapat berjalan dan menemui tantangan berupa kurangnya talenta muda yang melek data digital teknologi. Ia mengharapkan ITB dapat mencetak talenta muda yang telaten menghadapi data digital teknologi.

Dialog sesi kedua kali ini ditutup oleh pemaparan dari Buntoro yang menggarisbawahi role model dan ekosistem sebagai sesuatu yang penting untuk menciptakan dan mengembangkan industri berbasis teknologi masa kini.

Acara tersebut berakhir pada pukul 20.00 WIB dengan kesimpulan yang disampaikan oleh Prof. Reini  Wirahadikusumah, Ph.D. selaku Rektor ITB. Dalam kesimpulannya, beliau menyampaikan kebutuhan iklim bisnis dan tatanan sosial yang meluas bagi seluruh masyarakat. Penggambaran In Harmonia Progressio sebagai motto ITB dapat diartikan dengan maju bersama-sama dalam keselarasan dan  kebersamaan. ITB dan alumni ITB bisa mengambil peranan dalam berbagai bidang. Persaudaraan yang lebih erat serta strategis antara ITB dan alumni ITB bisa menjawab tantangan di masa depan. Peningkatan distribusi peran antar sesama alumni secara komprehensif dapat menjadikan ITB dan alumni ITB sebagai agent of change demi meningkatkan kemajuan bangsa.

100 Tahun ITB: Bersama Berkarya bagi Bangsa

Kontributor : Rachmadini Melita Trisnasiwi (AR’18) dan Endrico Dwi Julianto (GD’18)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Dokumentasi Kadek Devi Ghita Saraswati (AR’18)

Share.

Leave A Reply