Mengawal Isu Kesejahteraan Mahasiswa di Kala Pandemi COVID-19 Melalui Forum Massa

0

Jumat (17/7), diselenggarakan Forum Massa oleh Kemenkoan Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) Kabinet Mahasiswa ITB 2020/2021 untuk menghimpun aspirasi mahasiswa ITB mengenai isu kesejahteraan mahasiswa di kala pandemi COVID-19. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keresahan mahasiswa dan informasi yang simpang siur mengenai banding dan penangguhan Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Forum ini dimulai pada pukul 20.00 WIB hingga 23.00 WIB via daring di Google Meet. Diskusi dipimpin oleh Ghullam Fahreza sebagai perwakilan dari Calon Menko Kesma KM ITB 2020/2021. Turut hadir juga perwakilan-perwakilan HMJ, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Canggih Hawari (MWA-WM ITB), dan Guntur Iqbal (Ketua Kongres ITB).

Forum diawali dengan pemaparan histori langkah advokasi yang dilakukan Kabinet KM ITB oleh Ghullam. Dari pemaparan tersebut, diketahui bahwa proses advokasi terbilang cukup panjang, yakni dimulai sejak April 2020 dan masih berproses hingga saat ini. Ghullam menuturkan bahwa lamanya durasi advokasi diakibatkan adanya lempar-melempar amanah oleh para stakeholder ITB yang bersangkutan terhadap isu ini.

Dari hasil pengawalan, Jumat (17/7) pukul 13.30 WIB, pihak Kemenkoan Kesma ITB mendapat kabar baik dari Kepala Seksi Beasiswa Direktorat Kemahasiswaan ITB terkait kebijakan terbaru Bantuan UKT Mahasiswa. Pertama, Beasiswa UKT adalah bentuk baru dari Banding UKT dan berlaku hingga 8 semester. Kebijakan ini berbeda dengan sebelumnya yang hanya berlaku untuk satu semester. Kedua, adanya bantuan dari kemendikbud berupa subsidi sebesar Rp2.400.000,00/orang yang untuk mahasiswa dengan rentang UKT Rp0,00 hingga Rp2.500.000,00.

Selain pembahasan mengenai proses advokasi, dalam forum disampaikan pula kajian isu UKT dan kesejahteraan mahasiswa yang disusun oleh Kementrian Advokasi Kebijakan Kampus Kemenkoan Kesejahteraan Mahasiswa. Kajian tersebut membahas kebijakan UKT di ITB serta kesejahteraan mahasiswa (finansial, akademik, spiritual, dan arah gerak) di masa pandemi. Dari analisis kondisi dan kajian yang dilakukan, diajukan 13 rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan saat audiensi dengan pihak Rektorat ITB, yaitu Direktur Kemahasiswaan (Ditmawa) dan Direktur Keuangan (Dirkeu) pada Selasa (21/7).

Setelah pemaparan, diadakan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan diajukan oleh Hilya dari Majalah Ganesha, yang menanyakan tentang aturan yang melandasi ITB untuk memublikasikan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) ITB. Canggih menjawab tidak ada peraturan seperti itu dan tidak dijelaskan harus seberapa rinci penjelasan RKAT ITB. Ia mengakui bahwa peraturan mengenai tata kelola keuangan di ITB masih kurang baik. Selain itu, Guntur menambahkan perlunya mengetahui pandangan Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM) terhadap UKT di masa pandemi dan Ghullam menyampaikan bahwa IOM akan mengeluarkan surat untuk membantu advokasi.

Untuk menindaklanjuti isu ini, Kemenkoan Kesma dan Kemenkoan Sosial-Politik (Sospol) Kabinet KM ITB membentuk tim taktis yang dibagi menjadi tiga subtim yakni tim advokasi, tim kajian, dan tim propaganda. Kolaborasi terbuka bagi massa ITB yang berminat. Nantinya, tim ini akan merevisi lebih lanjut kajian dan hasil diskusi pada forum massa serta menentukan arah gerak mahasiswa terkait isu kesejahteraan selama COVID-19. Tim taktis juga akan bersiap untuk menyelenggarakan Kopi Sore bersama Rektorat yang akan membincangkan perihal UKT pada Jumat (24/7) depan.

“Di masa seperti ini dampaknya bukan hanya ke segelintir orang. Oleh karena itu, saya mengajak kita semua untuk bersatu. Lebih baik kita bersama-sama untuk menggalang massa  dalam menyelesaikan masalah ini.” ujar Ghullam.

Kontributor: Humaira Fathiyannisa (TL’18) dan Nurul Izza Fajriani (BM’19)
Editor: Farah Kartika Dewi (OS’18)
Foto Sampul: Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18)

Share.

Leave A Reply