Kucing ITB, Bagaimana Kabarnya?

0

Ilustrasi kucing. Poster oleh Anifa Farah Suryandari (AR’17).

ganecapos.com, Mahasiswa ITB tampaknya sudah tidak asing dengan keberadaan kucing di area kampus. Kucing kampus tersebar di mana-mana dan dapat ditemukan dengan mudah, mulai dari area kantin hingga gedung kuliah. Sudah bukan merupakan hal yang aneh apabila kita mendapati seorang mahasiswa tiba-tiba berhenti untuk mengelus hewan mamalia domestik tersebut. Tak jarang juga dijumpai mahasiswa yang membawa makanan kucing dengan sukarela. Biasanya, mahasiswa akan membawa makanan kucing dalam botol plastik dan kemudian memanggil kucing-kucing dengan suara yang ditimbulkan dari menggoyang-goyangkan botol. Kegiatan pemberian makanan kepada hewan liar seperti itu dikenal dengan nama streetfeeding. Selain streetfeeding, para kucing bisa mendapatkan makanan dari sisa-sisa santapan mahasiswa di kantin-kantin kampus.

Pada tanggal 14 Maret 2020, terbit surat edaran dari Rektor ITB perihal keberlangsungan kegiatan di kampus dalam menghadapi COVID-19. Hal itu mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Kebudayaan RI No. 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (COVID-19) pada Satuan Pendidikan dan Surat Sekjen Dikbud. Sejak tanggal 16 Maret 2020, kegiatan di dalam kampus dibatasi. Hal ini menyebabkan jumlah manusia yang berkegiatan di dalam area kampus berkurang secara drastis.

Lalu, bagaimana nasib kucing-kucing tersebut saat ini?

Akun Instagram Peduli Kucing

Salah satu akun media sosial yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa adalah akun Instagram @kucingitb, yang secara rutin mengunggah foto-foto kucing yang ada di kampus. Pada awal Maret, akun tersebut sempat menyebar poster berisi pembukaan donasi untuk pemberian makan kucing kampus. Pihak pengelola donasi tersebut adalah Komunitas Peduli Kucing ITB, dengan akun instagram @itb_streetfeeding. Kini, akun yang memiliki lebih dari 500 followers tersebut bekerja sama dengan Mama Bety (@mamabetyclub) dalam mengelola kegiatan pemberian makan. Menanggapi keresahan sebagian mahasiswa yang mempertanyakan kondisi kucing yang ada di ITB, reporter Ganeca Pos menghubungi Komunitas Peduli Kucing ITB dan Mama Bety sebagai pihak yang terlibat langsung dalam pemberian makan kucing di kampus.

Karantina Wilayah dan Pemberian Makan

Akun @itb_streetfeeding dikelola oleh alumni ITB. Terbentuknya Komunitas Peduli Kucing ITB berawal dari keprihatinan beberapa orang terhadap kondisi kucing-kucing di kampus. “Awal mulanya, [akun ini]terbentuk [saat]masa-masa lockdown kampus. Sebenernya, temen-temen pribadi prihatin lihat kucing-kucing ditinggal dan banyak yang kelaparan,” ujar perwakilan komunitas tersebut. Komunitas Peduli Kucing ITB terdiri dari mahasiswa hingga alumni ITB.

Perwakilan dari Komunitas Peduli Kucing ITB menjelaskan bahwa awalnya poster donasi hanya disebarkan kepada teman-teman dekat, grup kampus, maupun grup kelas. Kemudian, salah seorang di antara mereka mengunggah poster donasi tersebut ke media sosial sehingga menarik simpati banyak orang. Beberapa menghubungi komunitas tersebut dan menawarkan uluran tangan. Oleh karena itu, dibuatlah akun Instagram @itb_streetfeeding untuk mencari donatur di ranah yang lebih luas serta memudahkan dokumentasi kegiatan pemberian makan selama kampus dalam kondisi karantina wilayah. Selain itu, akun tersebut juga digunakan untuk mencari relawan yang bersedia berpartisipasi dalam kegiatan pemberian makan.

Mama Bety (@mamabetyclub) merupakan akun pribadi milik salah seorang alumni ITB. Sejak surat edaran dari Rektor ITB mengenai pembatas kegiatan kampus keluar hingga akhir Maret, Mama Bety memberi makan kucing-kucing di kampus menggunakan dana pribadi. Kemudian, ia menemukan akun Komunitas Peduli Kucing ITB dan akhirnya bekerja sama dalam pemberian makan. Terhitung hingga akhir Maret 2020, total makanan kucing yang telah diberikan mencapai 40 kg. Di awal masa karantina wilayah, terdapat pihak-pihak lain yang membantu, seperti beberapa petugas satpam yang ikut memberi makan.

Larangan Lisan dan Tertulis

Pada 6 April 2020, petugas keamanan melaporkan adanya perintah langsung dari atasan terkait larangan pemberian makan kucing agar hewan tersebut keluar dari kampus dan mencari makan di luar, karena dinilai membawa penyakit. Perintah tersebut turun langsung dari Direktur Sarana dan Prasarana Herto Dwi Ariesyady secara lisan. Hal tersebut menyebabkan para petugas di bawah Direktorat Sarana dan Prasarana termasuk satpam tidak dapat lagi membantu memberi makan kucing-kucing di kampus. Setelah para tim relawan menempuh jalur diplomasi internal, muncul imbauan di bawah ini.

Imbauan tentang Hewan Peliharaan oleh Direktorat Sarana dan Prasarana. Diambil dari situs web Lembaga Kemahasiswaan ITB.

Imbauan ini berisi enam poin alasan yang secara efektif melarang kegiatan streetfeeding untuk dilanjutkan: (1) Lingkungan Kampus ITB adalah tempat kegiatan belajar, (2) Hewan peliharaan berpotensi membawa penyakit, (3) Hewan peliharaan mungkin mengganggu pendidikan dan penelitian, (4) Sisa makanan mereka mungkin mengundang tikus, yang mungkin membawa penyakit, (5) Hewan terlantar seharusnya dirawat di rumah, dan (6) Kebiasaan memelihara hewan sebaiknya dilakukan dengan bertanggung jawab.

Tidak sampai seminggu, dilakukan razia oleh Direktorat Sarana dan Prasarana. Wadah makanan kucing dirazia, pakan kucing diangkut. Semua petugas di bawah Direktorat Sarana dan Prasarana serta para satpam ditegaskan untuk tidak terlibat dalam pemberian makanan kepada kucing.

Pada 1 Mei 2020, tim relawan mendapat kabar bahwa ada perintah untuk memindahtempatkan kucing-kucing ITB ke wilayah Dago. Mengetahui hal tersebut, para relawan mulai bergerak cepat dan membuka tawaran adopsi. Sampai saat ini, terdapat kurang lebih 8 kucing yang telah diadopsi.

Langkah ini direspons oleh Komunitas Peduli Kucing ITB dengan 5 poin tanggapan, dan bagaimana rencana mereka ke depan untuk kucing-kucing ITB, Sensus-Steril-Adopsi. Langkah Direktorat Sarana dan Prasarana juga menimbulkan kontroversi di antara masyarakat kampus ITB di media sosial, seperti di thread Twitter ini oleh akun @ganymedebebo dan pos ini di Reddit oleh akun u/Martian_Catnip.

Tanggapan Komunitas Peduli Kucing ITB. Diambil dari pos Instagram @itb_streetfeeding.

S.S.A – Sensus, Steril, Adopsi

Kegiatan yang dilakukan tim Komunitas Peduli Kucing ITB dan Mama Bety adalah sensus, steril, dan adopsi atau biasa disingkat SSA. Sensus bertujuan untuk memetakan dan menghitung jumlah kucing di ITB, sedangkan steril berfungsi untuk mengendalikan populasi hewan melalui pengangkatan rahim (untuk betina) atau kastrasi (untuk jantan).  Menurut perkiraan mereka, terdapat sekitar 50-70 kucing yang tersebar di ITB dengan 15-20% di antaranya sudah steril.

Hingga kini, kegiatan adopsi terus dilakukan. Pada akhir Maret, Mama Bety bekerja sama dengan Bakti Meong, komunitas yang dikelolah oleh Mahasiswa Seni Rupa ITB, sebagai salah satu relawan yang membantu menampung kucing untuk sementara waktu sebelum diadopsi.

Kondisi Terkini, Monyet dan Musang di Kampus?

“Solusi dengan melarang ngasih makan kucing, atau membuang kucing, atau memindahkan ke daerah lain sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Kenapa? Satu, hewan seperti kucing dan anjing adalah hewan liar, ya, itu teritorial umumnya. Kalau misalnya ITB disterilkan, [lalu]bersih ga ada kucing sama anjing sama sekali itu tinggal tunggu waktunya ada kucing baru sama anjing baru masuk ke wilayah yang kosong itu. Sama aja, ga selesai,” ujar Mama Bety. Ia menambahkan bahwa manusia bisa hidup berdampingan dengan alam, terutama hewan. Hal tersebut sesuai dengan prinsip One Health yang ada dalam dunia veterinarian. Menurutnya, hal yang harus diperhatikan sekarang adalah bagaimana cara mengurus hewan-hewan tersebut, bukannya cara mengusirnya.

Tidak hanya kucing, di ITB juga terdapat beberapa anjing dan musang. Bahkan monyet pun dikabarkan pernah masuk ke dalam kampus pada pertengahan April. Diduga, monyet tersebut yang dari kebun binatang dan bergerak menuju ke ITB, kemudian turun ke Saraga. Saat ini, monyet tersebut sudah kembali ke kebun binatang.

Kini, pemberian makanan dilakukan di luar pagar kampus. Di samping itu, sampai saat ini Komunitas Peduli Kucing ITB masih membuka donasi dan adopsi.

Keberadaan Kucing Bagi Mahasiswa

Perwakilan Komunitas Peduli Kucing ITB menuturkan bahwa mereka mengumpulkan cerita dari para mahasiswa dan alumni ITB tentang kucing-kucing ITB. Hampir semuanya merasa kucing di ITB tidak mengganggu tetapi membantu. Banyak mahasiswa yang menganggap kucing dapat menolong mereka untuk menghilangkan penat dan pelepas stres akibat beban kuliah.

“Semoga komunitas streetfeeding juga bisa diakui kampus. Donasi sudah terkumpul banyak, orang-orang juga sudah ada, semoga setelah pandemi ini kami bisa berkomunikasi dengan pihak kampus untuk membicarakan solusi terbaik,” ujar perwakilan dari Komunitas Peduli Kucing ITB.

Di Kampus Lain

Tidak hanya di ITB, Rektorat ITS juga menerbitkan surat edaran kepada unit-unit kerja pada 26 Februari 2020 yang berupaya untuk “menciptakan suasana kampus bebas kucing”. Ada ambiguitas tentang bagaimana “suasana” ini dicapai, dan dimana saja sebenarnya “suasana” ini akan diberlakukan. Dalam klarifikasinya setelah perwakilan akun @kucingits bertemu dengan pihak Rektorat ITS, Rektorat ITS menjelaskan dalam pos di akun @kucingits bahwa wilayah yang dimaksud bebas kucing adalah “wilayah departemen, lab, fasilitas olahraga, masjid, Rektorat, perpusatakaan, dan robotika.” Di Twitter, isu ini diangkat oleh akun @KuchinkLine di posnya, yang meminta “bantuan teman-teman untuk berpendapat [tentang hal ini]”. Ini ikut membantu isu ini dibahas tidak hanya dalam ITS, tetapi juga sampai ke liputan beberapa media nasional.

Mundur ke empat tahun yang lalu, Rektor Universitas Indonesia (UI) saat itu Muhammad Anis dipetisi oleh lebih dari 12.500 anggota masyarakat kampus UI atas tuduhan “kekerasan terhadap kucing dan anjing di Kampus UI Depok”. Petisi tersebut menuntut Rektor UI untuk “(1) meminta maaf dan menghentikan kebijakan ‘membersihkan’ kampus dari kucing dan anjing liar dan (2) menugaskan penanggung jawab di UI yang bekerja sama dengan komunitas pecinta hewan dan pemerintah.”

Di Instagram, akun kucing kampus juga tidak hanya dimiliki ITB dan ITS. Misalnya, UGM dengan akun @kucingugm, STAN dengan @kucing.instan, Unpad dengan @kittynangor. Pencarian dengan kata kunci “kucing” dan “nama universitas” bahkan hampir selalu menghasilkan akun Instagram yang berfokus pada kucing di daerah universitas tersebut.

Luasnya dukungan dan kecintaan terhadap kucing di berbagai kampus di Indonesia mungkin menunjukkan bahwa masalah kesejahteraan hewan di kampus menjadi salah satu dari sedikit isu dimana kita bisa menemui konsensus melintangi batasan geografis dan almamater, serta dimana kita bisa menemui aktivisme untuk isu dalam-kampus yang benar-benar datang dari akar rumput masyarakat kampus. Saran untuk para rektor di Indonesia: hati-hatilah terhadap amarah para pecinta kucing.

Kontributor: Hasna Khadijah (TL’19), Nurul Izza Fajriani (BM’19), Muhammad Fawwaz Abiyyu Anvilen (TI’17)

Editor: Humaira Fathiyannisa (TL’18)

 

 

Share.

Leave A Reply