Komunitas Anti-vaksin dan Kekeliruan Pemahaman tentang Vaksin di Tengah Pandemi COVID-19

0

ganecapos.com, Pengembangan vaksin normalnya membutuhkan waktu sepuluh hingga lima belas tahun. Kondisi pandemi COVID-19 yang mengkhawatirkan membuat peneliti mau tidak mau mengembangkan vaksin dalam waktu yang singkat. Dilansir dari publikasi University of Cambridge, Jonathan Heeney, Profesor Comparative Pathology menegaskan bahwa vaksin COVID-19 yang efektif bisa didapatkan paling tidak dalam waktu delapan belas bulan. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa vaksin COVID-19 belum bisa diproduksi secara massal hingga akhir tahun 2021, walaupun saat ini sudah terdapat lebih dari seratus kandidat vaksin yang dikembangkan oleh berbagai negara.

Pada dasarnya, masyarakat dunia sangat berharap vaksin COVID-19 bisa segera didapatkan, meskipun sebagian masih keliru dalam memahami vaksin. Ada yang mengira vaksin adalah obat. Ada pula yang berpandangan dengan dikembangankannya vaksin COVID-19 akan menyebabkan virus tersebut musnah dan tidak akan menginfeksi manusia lagi. Padahal COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, selama virus dan orang yang terinfeksi oleh virus masih ada, maka COVID-19 akan selalu ada.

Namun, ternyata tidak semua orang mengharapkan kehadiran vaksin. Penolakan ini disuarakan oleh komunitas anti-vaxxers atau anti-vaksin yang telah ada beberapa tahun belakangan di beberapa negara. Di tengah pandemi COVID-19, komunitas anti-vaksin semakin marak menyuarakan penolakannya. Keberadaan kelompok ini tidak hanya di luar negeri, tetapi juga di Indonesia. Salah satu alasan penolakan tersebut adalah teori konspirasi tentang asumsi penanaman injectable chip untuk mengurangi populasi manusia. Menanggapi informasi yang simpang siur ini, reporter Ganeca Pos menghubungi salah seorang Dosen Sekolah Farmasi (SF) ITB, Catur Riani, Dr. Rer. Nat., Apt., untuk mengklarifikasi beberapa hal terkait vaksin yang sering disalahpahami oleh masyarakat.

Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan oleh Jennifer Czochor dan Audrey Turchick pada tahun 2014, vaksin merupakan agen biologi yang mampu memicu sistem imunitas untuk merespon antigen berupa patogen penyebab penyakit infeksi. Vaksin pertama kali diciptakan oleh Edward Jenner pada tahun 1796 untuk mengatasi penyakit cacar. Catur Riani menjelaskan terdapat dua macam vaksin. Vaksin yang umum dikenal oleh masyarakat merupakan vaksin untuk pencegahan (preventif), sedangkan vaksin jenis kedua merupakan vaksin untuk terapi.

Vaksin preventif merupakan produk farmasi yang fungsinya bukan untuk mengobati, melainkan mencegah terjadinya penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit. Oleh karena itu, vaksin ini diberikan sebelum seseorang sakit atau terinfeksi.  Untuk COVID-19 masuk ke dalam golongan vaksin pencegahan.

Sementara vaksin terapi digunakan untuk terapi atau pengobatan yang diberikan setelah seseorang sakit. Vaksin jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati penyakit kanker. Sistem imunitas yang dipicu oleh komponen vaksin akan menyerang sel kanker. Contoh vaksin terapi yang sudah beredar adalah vaksin terapi kanker prostat.

Mekanisme kerja vaksin cukup kompleks, karena sistem imunitas yang dilatih atau dibentuk ini nantinya harus mengenali patogen yang sebenarnya. Oleh karena itu, komponen dari patogen yang dipilih untuk dijadikan vaksin itu harus tepat. Respon imunitas bisa jadi tidak dapat mengenali patogen sebenarnya akibat komponen tersebut tidak bertahan lama atau tidak cukup. Komponen vaksin terdiri dari bakteri/virus/parasit penyebab penyakit atau bagian dari bakteri/virus/parasit dalam bentuk yang sudah aman, bisa jadi dimatikan atau dilemahkan.

Sistem imun bekerja dengan menghalangi proses penempelan atau masuknya patogen ke sel tubuh atau langsung menghancurkan patogen. Sistem imun yang dipicu bisa berbagai macam jenisnya, bisa berupa antibodi atau sel imun (sel T). Jenis ini tergantung dengan komponen patogen yang digunakan untuk vaksin tadi.

Peneliti berusaha mengembangkan vaksin COVID-19 dalam waktu yang singkat untuk mencegah situasi semakin buruk. Pengembangan vaksin normal harus melewati uji untuk menjamin keamanan dan keefektifannya. “Ada uji untuk menjamin keamanan dan keefektifannya atau disebut  uji praklinik dan uji klinik (fase 1-4). Nah, untuk masa pandemi ini, bukan berarti kita mengabaikan faktor tersebut, tetapi mengujicobakan di skala terbatas untuk yang memang menjanjikan (aman dan efektif) di uji prakliniknya menggunakan hewan percobaan. Produksi pun belum dalam skala besar, karena butuh fasilitas yang mendukung,” papar Catur.

Komunitas anti-vaksin yang marak menyuarakan penolakan terhadap vaksin, berpendapat bahwa pasien tetap sakit, meskipun sudah divaksin. Menurut Catur, ini terjadi hanya karena perbedaan respon. Pada dasarnya, ketika benda asing termasuk vaksin masuk ke dalam tubuh, maka tubuh pasti akan merespon. Respon tersebut ada yang biasa, lemah, tidak merespon, atau merespon secara berlebihan. Sebagai contoh, ada orang yang alergi makan udang atau kacang dan ada yang tidak.

“Jadi tergantung respon individual. Ingat ya, komponen di dalam vaksin tidak hanya patogen, tetapi juga komponen lain atau di bidang farmasi disebut bahan pembantu formulasi,” tekan Catur. “Misalnya, supaya vaksin bisa disuntik, wujudnya harus berupa cairan, karena patogen bukan cairan, maka kita tambahkan air. Tentunya air atau komponen tambahan ini juga harus aman. Tapi tetap respon individu berbeda-beda. Pada uji klinik, vaksin menjamin respon secara umum aman,” sambungnya. Catur juga menerangkan meskipun ada orang yang sakit setelah divaksin, tapi itu tidak separah mereka yang tidak divaksin, karena tubuh paling tidak sudah menyiapkan respon imunitas.

Menurut Catur, akan sulit kembali ke kondisi seperti sebelum terjadi pandemi COVID-19 apabila tidak ada vaksin efektif yang ditemukan. Cara paling baik yang bisa ditempuh untuk kondisi saat ini adalah pencegahan melalui perilaku hidup sehat (cuci tangan), menggunakan masker, dan menjaga jarak (physical distancing).

Terkait konspirasi komunitas anti-vaksin terhadap injectable chip yang dimasukkan ke dalam vaksin, menurut Catur memang sangat mungkin untuk menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh manusia, asalkan ukurannya tepat. Kalau ingin melalui pembuluh darah, maka ukurannya harus lebih kecil daripada pembuluh darah. Hal ini bisa dilakukan dengan nanoteknologi. Namun, dasarnya teknologi ini digunakan untuk kebaikan, seperti memantau kondisi kesehatan, diagnosis, atau menghantarkan obat. Pesan Catur, sebaiknya manusia jangan terlalu berpandangan negatif terhadap teknologi, tapi justru menggali sisi positifnya.

Untuk kasus penyakit infeksi pandemi, tidak ada satu orang pun di dunia yang kebal. Bisa saja ada, tapi tidak bisa dipastikan siapa yang kebal dan siapa yang tidak. Seseorang bisa juga kebal terhadap penyakit bukan karena divaksinasi, melainkan karena pernah terinfeksi patogen. Tubuh merespon sehingga timbul imun yang melindungi.

Kita perlu ingat bahwa terdapat orang tanpa gejala (OTG). Seseorang menjadi OTG bisa karena daya tahan tubuh atau sistem imunitasnya kuat sehingga mengalahkan virus di tubuhnya. Bisa juga virus yang menyerang sudah berubah atau bermutasi sehingga jenisnya menjadi lemah dan menjadi vaksin alami. Kita tidak dapat mengetahui seseorang adalah OTG atau bukan. Jika daya tahan tubuhnya kuat dan OTG tersebut membawa virus, maka OTG ini akan menjadi menjadi carrier, menyebarkan virus kepada orang lain yang daya tahan tubuhnya lemah. Orang yang ditulari OTG bisa mengalami sakit yang hebat.

Eijkman Institute mengunggah tujuh sekuens virus SARS-CoV-2 dari Indonesia ke situs Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID), sebuah institusi yang menyediakan berbagai data urutan genetik virus influenza. Menurut data GISAID, terdapat tiga tipe virus SARS-CoV-2 di seluruh dunia. Menariknya, tiga dari tujuh sekuens dari Indonesia yang diunggah oleh Eijkman Institute berbeda dengan tiga tipe yang disebut GISAID. Hal ini menunjukkan telah terjadi mutasi (perubahan materi genetik) pada virus penyebab COVID-19 dan bisa berpengaruh terhadap keefektifan vaksin yang dibuat.

Menanggapi hal tersebut, Catur menjelaskan tidak semua mutasi virus menyebabkan vaksin menjadi tidak efektif. Vaksin bisa jadi bagian dari patogen, bukan keseluruhan dari patogen. Inilah pentingnya para peneliti melihat apakah mutasi terjadi di bagian virus yang penting untuk memicu sistem imunitas yang protektif atau tidak. Untuk pengembangan vaksin yang mudah termutasi, bagian virus yang dipilih harus yang dipertahankan (tidak mengalami mutasi), tetapi mampu memicu respon imun yang melindungi. Jika tidak bisa menemukan bagian tersebut, maka harus dibuat vaksin secara berkala (seasonal vaccine) seperti yang terjadi pada vaksin virus influenza. Setiap tahun WHO akan meminta para produsen vaksin membuat vaksin influenza jenis tertentu. WHO memutuskan harus memproduksi jenis vaksin tertentu berdasarkan studi dan catatan sejarah kasus atau epidemiologi infeksi influenza.

Untuk kasus COVID-19, perlu atau tidaknya pengembangan vaksin khusus bagi setiap negara, misalnya Indonesia, harus memperhatikan urutan genom (materi genetik) dari virus SARS-CoV-2 terlebih dahulu. Kemudian melihat ada tidaknya perbedaan pada bagian atau struktur yang penting untuk komponen vaksinnya. Virus SARS-CoV-2 sendiri bermutasi 2-4 lebih lambat daripada virus influenza. Mutasi lambat bisa jadi sesuatu yang baik, karena tidak merepotkan dalam membuat vaksin dan tidak perlu membuat seasonal vaccine.

Efektivitas vaksin diukur dari kemampuannya melindungi tubuh dari infeksi patogen yang sebenarnya dalam jangka waktu yang lama. Ada vaksin yang hanya diberikan sekali seumur hidup, seperti vaksin campak. Ada pula vaksin yang harus diberikan berulang dalam jangka waktu tertentu, seperti hepatitis B yakni 10-20 tahun sekali. Vaksin yang hanya bisa melindungi tubuh seseorang misalnya dalam hitungan bulan, artinya vaksin tersebut tidak efektif.

Referensi: Czochor, J., & Turchick, A. (2014). Introduction. Vaccines. The Yale Journal of Biology and Medicine, 87(4), 401–402.

Penulis: Restu Lestari Wulan Utami (BI’17)

Editor: Hanifah Zalfa (PL’17)

Desainer: Bella Sofie Jayanti (AR’17)

 

 

Share.

Leave A Reply