Kepastian Kepindahan Mahasiswa ITB Cirebon

0

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Jaka Sembiring dalam wawancaranya dengan reporter Ganeca Pos. Poster dibuat dengan modifikasi dari dokumentasi ITB, oleh Hafsah Restu Nurul Annafi (PL’19).

ganecapos.com, Awal tahun 2020, Wakil Rektor Bidang Akademik (WRAM) periode lalu Bermawi Iskandar Priyatna memastikan bahwa kepindahan mahasiswa ITB Cirebon angkatan 2018 dan 2019 ke ITB Cirebon akan dilakukan pada Agustus 2020. Bulan Maret 2020, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga mengumumkan bahwa  perkuliahan di ITB Cirebon akan dimulai pada Agustus mendatang. Akan tetapi, hingga dua bulan menjelang permulaan semester akademik baru, belum ada keputusan resmi terkait kepindahan tersebut. 

Di lain sisi, mahasiswa ITB juga mempertanyakan terkait kepastian kegiatan akademik semester depan: apakah dilaksanakan secara daring atau luring? 

Tidak Jadi Pindah pada Agustus 2020?

Pada 7 Juni 2020, program studi Perencanaan Wilayah dan Kota dikabarkan tidak akan pindah ke ITB Cirebon pada Agustus 2020. Informasi tersebut diperoleh dari pesan yang diteruskan dari seorang dosen yang mengurus kemahasiswaan ITB Cirebon, Naya Cinantya Drestalita. Nabiilah Mujahidah (PL’17), Penanggung Jawab Sementara (PJS) HMP PL Komisariat ITB,  membenarkan informasi tersebut. Kepindahan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Cirebon diundur hingga tahun depan, tetapi belum dapat dipastikan apakah akan dimulai pada semester genap (Januari) atau semester ganjil (Agustus). Nabiilah yang akrab disapa Bilam menjelaskan bahwa informasi terkait pengunduran kepindahan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Cirebon disampaikan oleh pihak program studi, tetapi tanpa informasi resmi dari Rektorat ITB. 

Sama halnya dengan jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, jurusan Teknik Industri Cirebon juga dipastikan tidak pindah ke ITB Cirebon pada Agustus 2020. Informasi tersebut dikuatkan juga oleh Muhammad Pemihardi (TI’17) selaku Ketua BSO Cirebon MTI ITB. Informasi tersebut resmi diperoleh dari pesan singkat yang dikirim oleh dosen Teknik Industri Bunga Kharissa Laras Kemala kepada Rifqi Qinthara (TI’18) melalui LINE pada 11 Juni 2020. Rifqi Qinthara merupakan Manajer Proyek Kepindahan di BSO Cirebon MTI ITB. Pemi, sapaan Muhammad Pemihardi, menjelaskan bahwa mahasiswa Teknik Industri Cirebon angkatan 2018 dan 2019 pun belum siap apabila harus pindah ke ITB Cirebon pada Agustus 2020, mengingat kebutuhan akan laboratorium dan tempat tinggal mahasiswa, misalnya kos, belum terpenuhi. 

Berbeda dengan dua program studi sebelumnya, belum ada kepastian terkait kepindahan program studi Kriya. Hedi Juwandani (KR’17) selaku Ketua BSO Cirebon di Himpunan Mahasiswa Kriya Tekstil dan Keramik “TERIKAT” ITB,  pun mengaku belum memperoleh informasi dari pihak program studi. Hedi menjelaskan bahwa kebutuhan akademik mahasiswa jurusan Kriya sulit dipenuhi apabila perkuliahan dilaksanakan secara daring. “Kalau di [jurusan]Kriya, itu bisa dibilang hampir 75% perkuliahannya itu praktik semua,” jelasnya. Salah satu hal yang cukup mengganggu kenyamanan mahasiswa, menurut Hedi, adalah sulitnya mengerjakan tugas praktik tanpa tatap muka secara langsung dengan dosen pengampu mata kuliah. Selain itu, kebutuhan akan pemenuhan fasilitas untuk kegiatan non-akademik di ITB Cirebon juga menjadi hal yang disoroti oleh Hedi, misalnya kegiatan berhimpun, sehingga sekretariat himpunan juga harus disediakan. 

Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) keempat yang sudah dibuka di ITB Cirebon adalah Teknik Geofisika, PSDKU terbaru yang dibuka pada tahun 2019. Teknik Geofisika ini juga belum dipastikan kepindahannya. Widjra Cyiena Christi Natafrisca (TG’18), anggota Komisi Legislasi BPA HIMA TG “TERRA” ITB, menuturkan bahwa dari pihak program studi beberapa kali memang mengadakan pertemuan dengan mahasiswa Teknik Geofisika 2019, tetapi hingga saat ini belum ada kejelasan terkait kepindahan tersebut. Menurut Widjra, karena mahasiswa Teknik Geofisika 2019 merupakan angkatan pertama jurusan Teknik Geofisika Cirebon, mereka cukup bingung dengan ketidakpastian ini. Berdasarkan penarikan aspirasi yang dilakukan oleh BPA HIMA TG “TERRA” ITB, mahasiswa Teknik Geofisika 2019 tidak hanya mempertimbangkan ruang kelas, laboratorium, dan perpustakaan, tetapi juga kebutuhan akan kegiatan berhimpun. 

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (WRAM) Jaka Sembiring menjelaskan bahwa di tengah pandemi ini setiap kebijakan yang diambil memang selalu dievaluasi dari hari ke hari. Ini merupakan salah satu penyebab belum adanya keputusan pasti terkait kepindahan mahasiswa ITB Cirebon ke Kampus ITB Cirebon.

Alasan Mahasiswa ITB Cirebon Hendak Dipindahkan pada Agustus 2020

MWA WM ITB Canggih Hawari (KL’16) menyampaikan bahwa keputusan terkait kepindahan mahasiswa ITB Cirebon yang disampaikan pada Januari 2020 lalu, dilakukan dengan mempertimbangkan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) ITB 2020. RKAT tersebut disahkan oleh Majelis Wali Amanat (MWA) ITB dengan nomor 23/SK/I1-MWA/PR 2019 dan ditetapkan di Bandung pada tanggal 6 Desember 2019. Dalam RKAT tersebut, pada BAB II memang disebutkan bahwa pada tahun akademik 2020/2021, kegiatan akademik di ITB Cirebon yang berlokasi di Kecamatan Arjawinangun dimulai karena pembangunan Kampus ITB Cirebon tahap I sudah hampir selesai di kecamatan tersebut. 

Akan tetapi, dalam agenda  “ITB Talks: Menyapa Sivitas Akademika” yang ditayangkan secara langsung melalui kanal Youtube ITB pada 13 Mei 2020, disebutkan bahwa kampus ITB Cirebon yang sudah selesai dibangun berlokasi di Kecamatan Watubelah. Kampus Watubelah ini dalam rencananya diperuntukkan bagi mahasiswa S2 dan S3, sedangkan kampus Arjawinangun diperuntukkan bagi mahasiswa S1. Menanggapi hal tersebut, Jaka menyampaikan pembangunan Kampus ITB Cirebon di Kecamatan Watubelah sudah selesai. Pembangunan yang belum selesai adalah Kampus ITB Cirebon yang berlokasi di Arjawinangun. Selama pandemi COVID-19, pembangunan kampus di Kecamatan Arjawinangun memang terhambat, mengingat material bangunan menjadi sulit didapatkan.

Apabila nanti memang harus dipindahkan Agustus ini, ada kemungkinan mahasiswa S1 juga akan melaksanakan kegiatan akademik di Watubelah terlebih dahulu. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah hingga saat ini Rektorat ITB belum mengeluarkan keputusan resmi terkait kepindahan mahasiswa ITB Cirebon angkatan 2018 dan 2019 ke Kampus ITB Cirebon pada Agustus 2020. 

Langkah yang Diambil Rektorat ITB 

Jaka menyampaikan bahwa keputusan terkait kepindahan ini harus dilihat dari berbagai sisi, terutama melihat kondisi pandemi akhir-akhir ini. Rektorat ITB selalu melihat perkembangan COVID-19 setiap harinya dalam merumuskan kebijakan. Keputusan terkait kepindahan ke ITB Cirebon sendiri belum mencapai kesimpulan karena ITB juga mempertimbangkan banyak hal dan berkoordinasi dengan Tim Implementasi Cirebon, Tim Satgas Corona ITB, Pemerintah Kota Cirebon, dan Kampus ITB Jatinangor. 

Berdasarkan surat edaran yang dikeluarkan oleh Sekretaris Institut nomor 664/IT1.A/DA.08/2020, masa transisi menuju Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) berlangsung pada 30 Mei-12 Juni 2020. Masa transisi yang direncanakan digunakan untuk mematangkan rencana dan melakukan orientasi dalam rangka menuju budaya AKB ini akhirnya diperpanjang hingga 28 Juni 2020 berdasarkan surat edaran Sekretaris Institut nomor 668/IT1.B03/HK.00/2020. Keputusan ini dibuat karena Pemerintah Kota Bandung memperpanjang PSBB hingga 26 Juni 2020. Berdasarkan informasi dari MWA-WM ITB, dari perbincangan dengan Rektor ITB, keputusan yang dimatangkan selama masa transisi tersebut kemungkinan besar akan disampaikan pada 15 Juni 2020. Akan tetapi, hingga pada tanggal 15 Juni 2020 keputusan tersebut belum ada, sejalan dengan pernyataan Jaka karena perpanjangan PSBB di Kota Bandung.

Berdasarkan surat edaran Rektor ITB, Sekretaris Institut, dan Direktur Pendidikan, Jaka memaparkan pada prinsipnya semester depan ITB akan melaksanakan kegiatan akademik secara daring. “Secara prinsip kita akan melaksanakan semester depan itu full daring kecuali yang tidak bisa daring,” ujar Jaka. Kegiatan yang dimaksud bukan hanya kuliah dalam kelas, melainkan juga kerja praktik dan praktikum. Semua kegiatan akademik diupayakan dilaksanakan secara daring kecuali ketika dekan, dekanat, Wakil Dekan Bidang Akademik (WDA), atau ketua program studi menyatakan sebaliknya. Saat ini, Rektorat ITB tengah memetakan prodi mana saja yang tidak bisa melaksanakan kegiatan akademik secara full daring semester depan. 

“[Rektorat] ITB itu sangat menjaga aset utamanya. Aset utama itu mahasiswa, dosen, tendik. Itu aset utama,” tambah Jaka. Menurut Jaka, aset utama ini terkadang tidak menyadari bahwa [Rektorat] ITB sangat menjaga mereka. “Terkait dengan Cirebon, tentu sama. Mahasiswa Cirebon pun baik di Kampus Cirebon, di Kampus Jatinangor, di Kampus Ganesha, sama. Prinsipnya bagaimana supaya perkuliahan atau kegiatan akademik itu sebisa mungkin tetap daring,” pungkasnya. 

Harapan Mahasiswa ITB Cirebon

Mewakili teman-temannya sebagai mahasiswa ITB Cirebon,  Bilam berharap, “Kebutuhan dasar mahasiswa ITB Cirebon harus terjamin [tempat tinggal, studio, laboratorium].” 

Masih banyak yang harus dipikirkan terkait kepindahan ini, terutama kebutuhan dasar seperti tempat tinggal atau indekos, rumah makan, serta toko alat tulis dan penunjang perkuliahan, “[misalnya]Anak [jurusan]Kriya, [harus]dekat dengan penjual bahan material,” lanjut Bilam.

Selain itu, Bilam juga menghendaki adanya transparansi informasi secara berkala dari rektorat ke prodi kemudian ke mahasiswa terkait kepindahan kampus. Hal yang tidak kalah penting ialah mahasiswa tetap memiliki semangat berhimpun dan berkemahasiswaan meskipun iklim kampusnya akan berganti.

Kontributor : Hafsah Restu Nurul Annafi (PL’19), Sheila Hauna Arifa (PL’18), Restu Lestari Wulan Utami (BI’17)
Editor: Muhammad Fawwaz Abiyyu Anvilen (TI’17)

Share.

Leave A Reply