Bincang-bincang Sosmas: Pengaruh COVID-19 terhadap Kegiatan Pengabdian Masyarakat di ITB

0

Ilustrasi kegiatan pengabdian masyarakat. Poster oleh Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18).

ganecapos.com, Senin (8/6) telah berlangsung  webinar “Bincang-Bincang Sosmas”, sebuah program kerjasama lembaga himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) ITB yang terdiri atas Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT), Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME), Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF), dan Himpunan Mahasiswa Farmasi (HMF) ‘Ars Praeparandi’. Acara ini menghadirkan empat pembicara yaitu Ahmad Miftahul Anwar (MT’14), Faris Hafizh Makarim (EP’15), Amsyari Lagenda (SI’16), dan Bagoes Suryo Nugroho (MA’16). Bincang-bincang ini dimoderatori oleh Irvandy Arifin Putra (EB‘17). Perbincangan dimulai dari pembahasan kondisi terkini pengabdian masyarakat (pengmas) ITB hingga solusi pengmas di kala pandemi yang diajukan oleh pembicara.

Menurut Bagoes, pengmas tengah mengalami kondisi new normal. Kegiatan yang sebelumnya dilakukan secara langsung seperti desa binaan, kegiatan mengajar, dan rumah belajar (rumbel), kini harus menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Sebelumnya, pembicara yang juga merupakan Presiden Gerakan untuk Raih Harapan (Geurah) ITB ini menjelaskan bahwa pengmas tidak terbatas pada bentuknya saja tetapi juga pada dampaknya. Ia menganggap Gojek dan Bukalapak juga merupakan pengmas karena sama-sama memberikan dampak bagi masyarakat.

Moderator menyinggung terkait pembuatan ventilator yang diprakarsai oleh Dr. Ir. Syarif Hidayat, salah satu Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Sebagai bagian dari Tim Ventilator Indonesia (Venti-I), Bagoes melihat bahwa alat yang sedang mereka perjuangkan memberi manfaat nyata bagi para pasien COVID-19 yang mengalami kesulitan bernapas. Hal ini juga disebabkan oleh perbedaan harga yang signifikan. Pada umumnya ventilator dijual seharga 500 juta sedangkan Venti-I hanya seharga 10-15 juta. Bagoes menambahkan bahwa ia termotivasi dengan prinsip Syarif di kala pandemi ini yaitu “Lebih baik saya mati sambil berdiri daripada mati dalam keadaan memeluk lutut.”

“Kita suka video call sama warga desa. Selain itu di Geurah kan suka ada magrib mengaji dan akhirnya kita bikin ngaji online,” papar Bagoes yang juga merupakan Ketua Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik ITB 2019. “Ini bisa menjadi alternatif, kita bisa lebih terbuka, kalau kegiatan sosmas lebih luas dari yang kita pikirkan,” sambungnya.

Amsyari melanjutkan perbincangan dengan mengontekstualisasikan kegiatan pengmas dengan gerakan mahasiswa. Ia yang kini menjabat sebagai Menko Sosial Masyarakat Kabinet KM ITB 2020/2021 menyatakan bahwa ada hal yang lebih esensial daripada sebuah metode pengmas. Sejatinya bentuk desa binaan, kegiatan mengajar langsung, dan sebagainya hanya sebuah pengejawantahan metode. Ia meminta agar teman-teman HMJ ikhlas dan legawa untuk mengubah metodenya namun tetap idealis mengejar tujuannya. “Harus kreatif tapi tetap objektif, alias esensinya tidak hilang,” ujarnya.

Konsep social distancing, menurut Faris menuntut untuk memutus metode-metode lama. “Menurut data kemarin, gerakan yang paling sering itu live in.” Menurutnya, mahasiswa ITB mendefinisikan pengmas sebagai gerakan horizontal yang langsung berdampak kepada masyarakat. Faris yang dulu menjabat sebagai Menko Penerapan Karya dan Pemberdayaan Komunitas Kabinet KM ITB 2019/2020 menyatakan bahwa suatu hal yang wajar ketika terjadi kebingungan terkait bentukan pengmas di saat pandemi ini. Ia menyarankan agar lembaga merefleksikan kembali tujuan pengmas tersebut.

“Coba tanya dulu ke pendahulu-pendahulu kita, gerakan ini sebenarnya buat apa, dan mengapa lembaga teman-teman punya rumah belajar. Ingin mengajarkan afektifnya kah, kognitifnya, atau psikomotoriknya.” Poin kedua yang disampaikan Kepala Sekolah Skhole 2017/2018 ini adalah mencoba-coba karena tidak ada yang tahu terkait pemberdayaan masyarakat secara daring. Antar lembaga dapat melakukan sharing prototype untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat yang baik dilakukan secara daring.

“Sebelum pandemi COVID-19 ada rilis kampus ter-impactful dan ITB tidak masuk,” ungkap Anwar sebagai pembuka perbincangannya. Menurut Anwar, dengan adanya COVID-19 ITB bisa berkontribusi lebih. Ia mencontohkan pembuatan ventilator, pencarian kode-kode genetik virus di SITH, bagi-bagi hand sanitizer yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK), dan lainnya. Anwar merupakan alumni ITB yang menjabat sebagai Menko Sosial Masyarakat Kabinet KM ITB 2018/2019. Menurutnya, mahasiswa ITB terkenal sebagai orang yang mudah belajar. Kondisi ini seharusnya bukan menjadi sebuah halangan melainkan sebagai bentuk pembelajaran baru.

Selanjutnya, Bagoes menceritakan pengalamannya ketika diminta seorang dosen untuk membantu tim penanganan COVID-19 di Bandung. Ia membantu mengolah data penyebaran COVID-19 seperti pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP). Bagoes merasa kegiatan ini akan sangat berguna bagi pemerintah kota dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan.

Di sisi lain, Anwar menekankan untuk selalu up to date terkait masalah. Meskipun ada pembatasan untuk tidak bisa bertemu dengan orang-orang, namun kemajuan teknologi seharusnya membuat kita bisa selalu update dan tahu terkait informasi. Informasi yang dimaksud mulai dari informasi pasien sembuh, pasien baru sakit, hingga terkait pendidikan. Ia mencontohkan informasi ajuan PGRI terkait pelaksanaan semester baru untuk dilakukan tahun depan. Anwar menyarankan agar para mahasiswa memperbanyak obrolan dengan teman-teman yang terjun langsung ke lapangan agar mengetahui kondisi aktual. Menurutnya, kita belum bisa menentukan apa yang bisa dilakukan apabila tidak mengetahui informasi.

Webinar “Bincang-bincang Sosmas.” Dokumentasi oleh panitia.

Berbicara soal empati bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan di dalam kelas. Menurut Faris, kondisi pandemi ini membuat kita harus berorientasi untuk berdampak. Banyak masyarakat yang semakin sulit ekonominya. Selain itu, terkait pendidikan jarak jauh, ada daerah-daerah yang belum mendapatkan listrik sehingga berdampak terhadap proses belajar anak-anak. Isu lain yang sedang hangat yaitu terkait ekonomi. Banyak masyarakat di-PHK dan ada pengurangan dana bantuan sosial (bansos) karena akan memasuki new normal. Sementara salah satu dampak pandemi di bidang kesehatan yaitu PMI mulai kekurangan darah.

Dari permasalahan tersebut Faris menggambarkan cara melakukan pemberdayaan ekonomi secara daring. Ia mencontohkan perusahaan pembuat masker. Suatu HMJ bisa melakukan galang donasi untuk modal awal, kemudian HMJ seperti Himpunan Mahasiswa Matematika (HIMATIKA) mungkin bisa membuat basis data yang dapat digunakan untuk menentukan kebijakan. Selain itu, perlu adanya penambahan bansos, karena kondisi seperti ini sangat berdampak kepada pekerja-pekerja di luar seperti anak jalanan dan tunawisma yang biasanya menjajakan dagangannya kepada masyarakat di tempat-tempat umum.

Di lain sisi, Amsyari merasa bahwa pandemi ini mengajarkan beberapa hal baik untuk kegiatan kemasyarakatan. Selama ini mungkin kita merasa  pengmas kita gerakannya besar, teknisnya bagus, dan dari sudut pandang kita berdampak. Namun, belum tentu menurut orang-orang yang menjalankannya. Pandemi ini bisa membuat kita menjadi lebih konseptual, belajar, dan mempersiapkan diri agar kapabilitas kita bisa lebih baik.

Salah satu peserta dalam acara bincang-bincang bernama Donie Parulian sempat menyampaikan cerita mengenai bansos di lingkungannya. Ia menyampaikan bahwa bantuan sosial dari Kemensos sangat membantu, namun terdapat gaduh “di bawah”. Menurutnya, masyarakat merasa bahwa pemerintah pusat telah meminta data sedetail mungkin akan tetapi RT/RW tidak menyalurkan bantuan sebagaimana mestinya. Donie ingin mengajak mahasiswa  melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar untuk menerangkan bahwa bansos akan diberikan secara bertahap supaya tidak memunculkan kegaduhan di kalangan masyarakat.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu penanya menanyakan terkait manajemen anggota di saat pandemi. Bagoes menuturkan bahwa untuk menjaga keberjalanan kegiatan sosial dapat dengan rutin menanyakan kabar anggota. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Faris. Menurutnya, tips lain untuk menjaga hubungan baik dan menjaga kegiatan sosial yang sedang dijalankan adalah dengan mengangkat inisiatif dari anggota. Selain itu, dalam kondisi seperti ini dapat mencari orang yang memiliki semangat dan kita turut membesarkan semangatnya.

Kontributor: Hasna Khadijah (TL’19), Hanifah Zalfa (PL’17)

Editor: Restu Lestari Wulan Utami (BI’17)

 

 

Share.

Leave A Reply