Pemilu Raya KM ITB 2019: Tidak Ada Bakal Calon Populer

0

ganecapos.com, ITB — Seiring dengan mendekatnya pelaksanaan Pemilu Raya 2019 untuk memilih Presiden KM ITB dan MWA-WM ITB, pengetahuan masyarakat kampus tentang bakal calon yang mungkin maju masih sedikit. Nama-nama bakal calon yang muncul terkerucut menjadi satu atau dua orang yang belum mengumumkan niatnya untuk maju sebagai calon.

Penemuan-penemuan kami didasarkan dari sebuah survei yang dilaksanakan 10-12 Oktober 2019 kepada 143 mahasiswa S1 anggota biasa KM ITB. Survei ini adalah tahap pertama dari rangkaian survei yang akan dilakukan Pers Mahasiswa ITB selama Pemilu Raya 2019 dan Pemilihan Rektor ITB 2020-2025. Survei ini dilaksanakan untuk memberikan wawasan lebih dalam tentang popularitas bakal calon Presiden KM ITB dan MWA-WM ITB.

Sebagian besar massa kampus tidak tahu atau tidak menjawab survei

 

Lebih dari sepertiga (36,36%) responden yang kami hubungi tidak menjawab atau memilih untuk tidak menjawab survei yang kami berikan.

Untuk kategori Presiden KM ITB, sepertiga (32,87%) tidak tahu dan tidak dapat memberikan nama ketika diminta survei. Hanya kurang dari sepertiga (30,77%) yang dapat memberikan nama yang menurut mereka layak untuk menjadi Presiden KM ITB.

Hal yang tidak jauh berbeda ditemui juga pada kategori MWA-WM ITB. Hampir setengah (46,85%) responden tidak tahu dan tidak dapat memberikan nama bakal calon MWA-WM ITB. Hanya seperenam (16,78%) responden yang dapat memberikan nama yang menurut mereka layak untuk menjadi MWA-WM ITB.

Ini merupakan loncatan yang cukup besar dari tahun lalu. Persentase responden yang tidak dapat memberikan nama bakal calon Presiden KM ITB dan MWA-WM ITB hanya berturut-turut 22.2% dan 39,6%. Tren naiknya ketidaktahuan masyarakat kampus ini merupakan lanjutan dari tidak hanya tahun 2018, tetapi juga sejak Pemira 2017 yang membuat Ahmad Wali Radhi (TA’14) sebagai Presiden KM ITB dan Andriana Kumalasari (SI’14) sebagai MWA-WM ITB.

Muncul dua nama utama di survei Presiden KM ITB

Muhammad Dafa Sultan Pasha (SI’16) dan Nada Zharfania Zuhaira (TL’16) muncul sebagai dua nama dengan popularitas tertinggi, berturut-turut dengan persentase (6,29%) dan (4,9%).

Ada 15 nama lain yang ikut muncul sekali-dua kali ke permukaan bersama mereka, seperti Presiden KM ITB saat ini Royyan Abdullah Dzakiy (IF’15), Wakil Menteri Kebijakan Nasional Kabinet “Baracita” Qusairy Wardana Harahap (TK’16), Ketua OSKM 2019 Ibrahim Fadhil (EL”16), Kepala Sekolah 2019/2020 Skhole Zahra Kinanti (TI’17), Ketua Gamais 2019/2020 Said Abdurrahman (AE’17)  dan Kadiv Kajian Strategis MWA-WM ITB 2019/2020 Canggih Hawari (KL’16), .

Dari tujuh belas nama yang muncul, hanya satu nama bakal calon yang telah menunjukkan niatnya secara publik untuk maju sebagai Presiden KM ITB, yaitu Muhammad Dafa Sultan Pasha. Ini terlihat dari foto undangan forum ketuk pintu yang sempat tersebar.

Semua dari tujuh belas nama yang disebutkan dalam survei popularitas ini tidak mencapai ambang batas galat (margin of error) 6,8% yang telah ditetapkan survei. Artinya, bisa saja semua nama yang masuk sebenarnya mendapat perolehan 0%.

Hanya satu nama mendominasi di survei MWA-WM ITB

Ada satu nama yang cukup mendominasi survei popularitas bakal calon MWA-WM ITB, yaitu Canggih Hawari (KL’16) dengan persentase 4,2%.

15 nama lain yang ikut muncul sekali-dua kali ke permukaan, di antaranya Menteri Advokasi Kebijakan Kampus Kabinet “Baracita” Muh Ghullam Reza A (AE’16), Senator HIMATIKA ITB 2019/2020 Adam (MA’16), Menteri Relasi Eksternal dan Pendidikan Lanjut Kabinet “Baracita” Zalza Puspita Arum (KL’6), dan Kabid Materi dan Metode OSKM 2019 Nada Zharfania Zuhaira (TL’17) .

Dari 16 nama yang muncul, tidak ada satu nama pun yang telah menyatakan kepada publik akan maju menjadi calon MWA WM ITB berikutnya.

Semua dari tujuh belas nama yang disebutkan dalam survei popularitas ini tidak mencapai ambang batas galat (margin of error) 6,8% yang telah ditetapkan survei. Artinya, bisa saja semua nama yang masuk sebenarnya mendapat perolehan 0%.

Minim Narasi: Dimana mereka?

Rendahnya jumlah masyarakat kampus yang mengetahui dan menganggap layak nama-nama bakal calon Presiden KM ITB dan MWA-WM ITB memperlihatkan jangkauan bakal calon ini masih sedikit di antara masyarakat kampus.

Hanya satu nama dari nama-nama yang terjalin dalam survei popularitas telah mengumumkan niatnya untuk maju, yaitu Muhammad Dafa Sultan Pasha. Padahal, jendela waktu pengambilan berkas Pemira 2019 akan dibuka sebentar lagi.

Keengganan bakal calon tersebut untuk maju dan mengumumkan niatnya secara publik patut ditelusuri penyebabnya. Ada perasaan ke-’tidakenak’-an politis untuk memberikan gagasan tentang apapun di ruang publik kita. Dan memang saja karakterisasi yang buruk terhadap mereka yang berbicara seperti yang kita lihat pada akun Teleskrin Ganesha dengan jargonnya ‘ke-mahaCV’-an’. Sinisisme ini tidak membantu sama sekali. Contohnya, krisis konstitusional KM ITB dan yang banyak sebut sebagai ‘krisis kepemimpinan’ dalam Pemira tahun lalu dipengaruhi oleh sinisisme tersebut. Krisis lalu seharusnya menjadi momen pembelajaran kita bersama dan tidak terulang pada sekarang.

Bakal calon harus berani menembus konformitas ini dan dapat memberikan narasi, arah gerak maju bagi KM ITB. Kejadian di level nasional akhir-akhir ini seperti aksi #GejayanMemanggil  memperlihatkan bahwa generasi kita adalah generasi dengan kesadaran politik yang paling tinggi sejak Reformasi 1998. Pergerakan mahasiswa tidak menjadi irelevan, tetapi mengambil bentuk-bentuk dan vigor baru yang lebih kreatif dan inovatif dari para pendahulunya. Ini seharusnya memberikan harapan dan jalan baru pada kemahasiswaan kita.

Bakal calon yang ingin maju hendaknya ikut dengan semangat zaman (zeitgeist), memikirkan cara-cara baru mahasiswa dapat mengambil peran dalam masyarakat, dan menekankan pembahasan pada isu-isu yang relevan bagi masa depan. Isu-isu seperti tentang demokratisasi, revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan, singularitas teknologi, dan universitas masa depan seharusnya menjadi isu-isu yang dibahas di sudut-sudut kampus kita. Seperti kata Ketua Rektorium ITB 1978-1979 Soedjana ‘John’ Sapi’ie pada orasi ilmiahnya, mempertahankan posisi ITB sebagai ‘terbaik’ adalah imperatif. Mahasiswa ITB harus menjadi garda terdepan (avantgarde) perkembangan sains, seni, dan teknologi Indonesia.

Metodologi

Batasan

Popularitas yang kami gunakan dalam survei ini didefinisikan sebagai tingkat seseorang diketahui orang lain dan dirasa sesuai dengan kriteria untuk menjadi presiden KM ITB atau MWA WM ITB 2020/2021.

Sampling

SUPEL tahap satu ini dilakukan dengan multistage random sampling yang dilakukan dengan membagi sampel menjadi beberapa strata, kemudian strata tersebut dibagi lagi menjadi beberapa strata yang lebih kecil. Dalam hal ini kami membagi strata berdasarkan angkatan, kemudian tiap angkatan dibagi lagi berdasarkan jurusan. Total responden yang dihubungi berjumlah 143 orang dengan tingkat kepercayaan 90% dan margin of error 6,8%.

Kuesioner

Dalam kuesioner yang kami berikan kepada responden, mereka diharuskan menginput NIM untuk proses validasi. Kemudian di halaman selanjutnya responden diberikan pertanyaan “Siapakah yang layak untuk menjadi Presiden KM ITB 2020/2021 menurut Anda?” dan “Siapakah yang layak untuk menjadi MWA WM ITB 2020/2021 menurut Anda?”. Responden diminta untuk menginput nama yang mereka anggap layak dengan menyertakan minimal jurusan agar identitas calon yang dimaksud cukup jelas. Responden diperbolehkan untuk menginput tanda “-” apabila tidak tahu siapa yang mereka anggap layak.

Catatan

Ada beberapa kekurangan dengan metodologi yang digunakan dalam SUPEL 2019.

Pertama, pembagian strata dilakukan dengan asumsi bahwa seluruh nama yang keluar dari hasil randomisasi akan merespons dan valid responsnya. Pada faktanya, hanya 91 dari 143 (63,64%) responden dalam daftar nama hasil randomisasi menjawab. Ada kemungkinan bias ke strata tertentu. Sebagai contoh, mungkin saja strata Teknik Sipil merespons valid lebih banyak daripada strata Teknik Lingkungan sehingga membuat sampel bias ke Teknik Sipil.

Kedua, rendahnya tingkat balasan memungkinkan bias partisipasi. Hasil SUPEL mungkin menjadi tidak representatif karena responden valid secara tidak proporsional memiliki karakteristik tertentu, yaitu responden valid adalah orang yang partisipatif dan mau menjawab survei. Hal ini membuat hasil SUPEL tidak menggambarkan orang-orang yang tidak partisipatif dalam survei, tetapi akan memilih pada pemira nanti.

Kontributor: Arya Pratama Putra (MA’18), Claresta Dhyhan Ediganiputri (AR’18), Muhammad Fiqri El Islami (MS’17), Humaira Fathiyannisa (TL’18), Muhammad Cikal Merdeka (FI’18), Nuh Theofilus Dwi Putra Hardjowono (ET’18), Nayottama Putra Suherman (AE’18), Sheila Hauna Arifa (PL’18), Muhammad Raihan Aziz (TA’18), Dyanatun Nisa (SI’18), Irfan Muhammad (FITB’19), Alifia Navisha Salama (FTI’19) , Hasna Khadijah Salsabila Lahino (FTSL’19), Ramadhan Danendra (FTI’19), Nurul Izza Fajriani (SITH-S’19), Alden Rayhan Jieputra (SITH-S’19), Fikra Hanifah (FTI’19), Hafsah Restu Nurul Annafi (SAPPK’19), Naufal Aprija Ilwad Al Hadziq (SAPPK’19), Muhammad Bachtiar Alfain (FTI’19), Pocut Nurulya Zulisa (PL-C’18), Made Teja Krisna Devana (FTTM’19), Vindriana Karunia Kantate Tambunan (SAPPK’19), Kadek Demmy Wenanda (FTTM’19).

Share.

Leave A Reply