24 September 2019: Massa Kembali Bergejolak!

0

ganecapos.com, Gedung DPR/MPRRibuan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, termasuk ITB, dan masyarakat sipil kembali melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR pada Selasa (24/9) lalu. Aksi dilakukan sejak pukul 13.00 WIB.

Massa aksi demonstrasi membawa tujuh tuntutan dalam aksi ini, yaitu

  1. Menolak RKUHP, RUU Pertambangan Minerba, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan; mendesak pembatalan UU KPK dan UU SDA; mendesak pengesahan RUU PKS dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
  2. Batalkan pimpinan KPK bermasalah pilihan DPR.
  3. Tolak TNI dan Polri menempati jabatan sipil.
  4. Stop militerisme di Papua dan daerah lain; bebaskan tahanan politik Papua segera!
  5. Hentikan kriminalisasi aktivis.
  6. Hentikan pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera yang dilakukan oleh korporasi dan pidanakan korporasi pembakar hutan serta cabut izinnya.
  7. Tuntaskan pelanggaran HAM dan adili penjahat HAM, termasuk yang duduk di lingkaran kekuasaan; pulihkan hak-hak korban segera!

Massa aksi demonstrasi berjalan menuju Gedung DPR/MPR.

Massa aksi demonstrasi menyampaikan aspirasi dan opini mereka melalui nyanyian, spanduk, dan properti yang mereka bawa. Massa juga melakukan long march dari arah Stadion Gelora Bung Karno hingga Gerbang Utama Gedung DPR/MPR.

Spanduk yang dibawa salah satu massa aksi demonstrasi dari ITB.

Hingga sekitar pukul 16.00 WIB, aksi demonstrasi masih berlangsung damai dan cukup tertib. Kemudian, mahasiswa mendesak untuk masuk ke Gedung DPR/MPR dan bentrok dengan polisi yang sudah berjaga di setiap gerbang DPR. Polisi menembakkan water cannon dan gas air mata yang menyebabkan barisan mahasiswa terburai. Sebagai balasan, mahasiswa melempari Gedung DPR/MPR dengan batu, dan membakar ban serta sampah di depan Gedung. Beberapa warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi aksi demonstrasi menyirami massa dengan air untuk menetralisasi gas air mata.

Tembakan water cannon ke arah demonstran mahasiswa.

Kerusuhan di depan gedung DPR/MPR.

Gas air mata ini tidak hanya ditujukan ke barisan mahasiswa, tetapi juga menyasar Rumah Sakit Darurat yang dibangun oleh relawan medis. Rumah Sakit Darurat tersebut terletak di daerah Pulau 2. Relawan yang ada di sana berasal dari mahasiswa dan masyarakat sipil.

Salah seorang mahasiswa ITB yang menjadi relawan medis di sana, M. Hilmy Imtihan (MT ‘18) menjelaskan bahwa ketika ia sedang menanggulangi korban yang terluka, gas air mata yang ditujukan untuk membubarkan massa yang sedang beraksi meledak tak jauh dari Rumah Sakit Darurat.

Banyak pasien yang sesak napas menjadi makin sesak napas. Para pasien lantas segera dievakuasi dan Rumah Sakit Darurat dibubarkan. Evakuasi pasien dilakukan dengan cara menggotong atau memapah dikarenakan kurangnya fasilitas seperti tandu ataupun mobil ambulans.

Setelah pasien diantarkan ke tempat yang aman dan diobati secukupnya, para relawan ini pun berpencar menuju lokasi aman atau kembali ke kelompoknya masing-masing. Banyak massa aksi yang mengamankan diri di Stadion Gelora Bung Karno.

Kondisi Stadion Gelora Bung Karno.

Dalam aksi ini, ditengarai keberadaan oknum-oknum provokator yang memperkeruh keadaan. Ada beberapa orang memakai almamater kuning khas Universitas Indonesia, tetapi tidak dengan logo. Ketika kami menanyakan identitas mereka, mereka mengaku sebagai alumni Universitas Indonesia.

Banyak bantuan diberikan kepada massa aksi seperti obat-obatan dan makanan. Sinyal di wilayah sekitar Senayan sempat terganggu sejak pukul 14.00 hingga 18.30 WIB. Ini menyulitkan komunikasi antar massa demonstrasi.

Menurut A’lam Hasnan Habib (PL ’15) selaku Menteri Kooordinator Sosial-Politik Kabinet KM ITB, demo hari ini masih belum cukup berhasil jika dilihat dari kejarannya. “7 tuntutan yang diminta itu belum terpenuhi.”

Meski begitu, A’lam menambahkan, secara pendidikan pergerakan, demonstrasi ini berlangsung baik. Demonstrasi yang dilakukan hari ini cukup memberikan tekanan kepada pemerintah.


Reportase oleh Humaira Fathiyannisa (TL ’18).

Seluruh foto yang digunakan dalam artikel ini adalah dokumentasi Humaira Fathiyannisa (TL ’18), Kerabat Pers Mahasiswa ITB. Artikel dan foto yang digunakan di dalamnya disebarluaskan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional (CC BY-SA 4.0).

Lisensi Creative Commons.

Share.

Leave A Reply