Mempertanggungjawabkan Metamorfosis Insan Akademis

0

#MetamorfosisInsanAkademis, tagline yang dengan gagah dipersembahkan oleh panitia Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2015. Panitia telah mempublikasikannya dari jauh-jauh hari sehingga sampai hari ini mungkin telah melekat bersama nama OSKM. Pada tagline ini, panitia tidak memilih kata “mahasiswa” melainkan “insan akademis”. Lantas apa yang membedakan dua istilah tersebut?

Semua pelajar yang terdaftar di suatu perguruan tinggi berhak disebut sebagai “mahasiswa”. Ini sudah menjadi sebutan yang lumrah di Indonesia, orang-orang yang duduk di bangku kuliah tidak lagi sekedar disebut siswa tetapi bertambah “maha”. Berbeda dengan mahasiswa yang merupakan sebutan berdasarkan status, “insan akademis” membawa arti yang lebih menjelaskan peran yang ditanggung para pelajar di perguruan tinggi.

Berdasarkan Konsepsi KM ITB pula bahwa dibutuhkan tiga hal untuk mewujudkan insan akademis tersebut,yaitu pendidikan, kesejahteraan, dan aktualisasi. Massa KM ITB yang telah melewati massa kaderisasi bertahun-tahun, OSKM maupun osjur, seharusnya mengerti setidaknya harus ada pemenuhan ketiga hal tersebut untuk mewujudkan metamorfosis insan akademis.

Di Kumpul Massa atau Formas (Forum Massa) atau juga lebih banyak disebut Forbas (Forum Bebas) pada Senin malam (17/08/15) massa KM ITB menunjukkan mukanya dihadapan para perwakilan yang akan menjadi penyambut mahasiswa baru di ajang OSKM. Tampak mereka menguji panitia pelaksana angkatan 2014, namun pada sejatinya massa himpunanlah yang sedang menunjukkan identitasnya sebagai insan akademis yang lama berkecimpung di kemahasiswaan KM ITB.

Malam itu milik massa himpunan. Mereka mempertanyakan kesiapan dan penguasaan materi angkatan 2014. Mereka ingin yang turun adalah orang-orang yang pantas. Lantas bagaimana mereka menguji mereka yang baru saja melewati massa TPB tersebut?

Kumpul Massa dimoderatori oleh Ketua Kongres KM ITB. Di awal moderator mengajukan dua peraturan saja: saat ada yang berbicara maka yang lain tidak boleh berbicara dan siapa yang tidak setuju dengan peraturan pertama disilakan keluar forum. Peraturan sepihak dari moderator ternyata tidak mendapati penolakan dari massa himpunan maupun panitia pelaksana OSKM yang akan “diadili”. Mungkin mereka tidak tahu saja apa yang akan mereka hadapi.

Satu persatu perwakilan massa himpunan per fakultas maju untuk mengambil alih forum. Ada yang berorasi, ada yang memerintah panitia pelaksana untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama. Ada yang sekedar bertanya, ada yang juga menyimpulkan jawaban yang benar. Ada yang dengan lagak angkuh, ada pula yang tetap dengan sapaan ramah sampurasun.

Tujuan dari kumpul massa tersebut adalah untuk meyakinkan para panitia pelaksana bahwa mereka memikul tanggung jawab sebagai ujung tombak kemahasiswaan. Dari merekalah para mahasiswa baru pertama kali mengenal KM ITB.

Namun sayang, ujung tombak yang dimaksud dibentuk dengan cara yang menafikkan kearifan pendidikan dan aktualisasi. Di kumpul massa, massa himpunan bisa menunjukkan kegagahannya. Namun, tidak bisa memfasilitasi pendidikan dan aktualisasi yang sepantasnya kepada panitia pelaksana yang dikumpulkan pada malam itu. Massa himpunan duduk mengitari lapangan basket dan terkesan membentuk forum untuk menciptakan hiburan versi mereka sendiri.

Malam itu, insan akademis terkukung dirinya. Jawaban mereka sering menemukan cibiran saja. Sesekali terdengar perkataan yang tak pantas diucapkan tetapi mereka hanya bisa diam. Tidak bisa merdeka walau hawa kemerdekaan masih menyelimuti dinginnya Bandung di malam hari. Adapun yang pintar menjadi sekedar hiburan, apalagi yang salah. Sorak-sorai hanya sekedar pelepas dahaga sudah lama tidak berkumpul seramai itu sebagai KM ITB.

Sayangnya juga tidak ada yang memberontak, melawan pengerdilan yang terjadi. Dibiarkannya diri mereka menciut. Uji mental memang berhasil pada malam itu. Tapi siapakah dari panitia tersebut yang keluar sebagai pemenang? Yang kuat dan tangkas dalam membela kebenaran yang ia yakini?

Kelak, adakah yang terkukung bisa menjadikan bebas yang lain untuk bermetamorfosis? Adakah yang dikerdilkan menjadi bisa mendorong insan akademis untuk tumbuh besar?

Terbentur, semoga terbentuk. Titik kritis yang diciptakan oleh massa kampus semoga menyarikan hikmah bagi para panitia yang segera bertugas. Mereka menjadi tahu apa yang harus diperbaiki dari KM ITB dan membentuk generasi baru yang lebih baik dari sekarang. Setiap hal memiliki lebih dan kurang. Orang bijak berkata, yang lebih disimpan, yang kurang dilupakan saja.

Tampaknya masih banyak tantangan untuk menyukseskan metamorfosis insan akademis. Kini, tagline sudah terucap. Panitia OSKM dengan dukungan dari segenap massa kampus harus mempertanggungjawabkan tiga kata tersebut. Tidak cukup hanya menjadi sekedar label publikasi, tetapi seharusnya menjadi motivasi untuk memperbaiki jati diri KM ITB. Sehingga kelak yang akan bergabung dengan KM ITB adalah insan-insan yang terdidik dan merdeka untuk mengaktualkan diri. Tentu panitia pelaksana-lah yang akan menjadi contoh terdekat bagi angkatan 2015.

Tagline ini bukan sembarangan melainkan pertanggungjawaban yang besar. Malulah jika berbangga hati meraih puncak gunung padahal hanya duduk dari kejauhan sambil mengulurkan tangan. Dari perspektif mata, tangan tampak besar menggenggam puncak gunung yang menjadi sebesar ujung jari. Malulah jika bangga dengan gempita pesta kaderisasi terbesar ini tetapi sebenarnya jauh dari tujuan. Dua hari lagi, siapkah untuk benar-benar mulai mendaki untuk mewujudkan tugas perguruan tinggi?

 

Tanpa menghilangkan segala hormat,

Mega Liani Putri

Pemimpin Umum Pers Mahasiswa ITB

Share.

Leave A Reply