Lika-liku Wisudawan April ITB Mencari Kepastian

1

Di tengah pandemi COVID-19 yang merebak ke penjuru dunia, berbagai institusi berusaha memutar otak untuk menjaga kelangsungan kegiatannya, tak terkecuali ITB dengan perhelatan rutin wisuda, dalam hal ini Wisuda April Tahun Akademik 2019/2020. Namun, tentu selain milik Rektorat ITB, wisuda ini adalah milik wisudawan, dan sayangnya, tidak ada komunikasi dua arah yang efektif antara Rektorat ITB dan wisudawan. Dengan simpang siurnya informasi, wisudawan April ITB meraba dalam kegelapan, sejatinya apa yang akan Rektorat ITB siapkan untuk mereka.

Perempuan itu melenggang ke dalam Gedung Rektorat ITB dengan gamang. Sebelumnya, ia memperoleh kabar dari Humas ITB bahwa ia diminta untuk melaksanakan rekaman pidato kelulusan pada Senin itu (6/4). Sesampainya di lokasi rekaman, ia terkejut karena penataan ruangan yang telah sedemikian rupa disiapkan. Ada podium, mikrofon, juga protokoler. Dalam kesempatan tersebut, ternyata dilakukan pula rekaman pidato rektor. Ia bertanya-tanya apakah seremoni wisuda untuk kelulusannya akan dilakukan secara daring. Perempuan yang selama ini sebenarnya menginginkan prosesi wisuda dilakukan secara langsung dan bukan daring ini pun tidak kuasa melakukan apapun ketika menyadari situasi tersebut di akhir sesi rekamannya, terlebih ia juga baru sadar kalau dirinya merupakan satu-satunya perwakilan wisudawan S1 ITB yang berpidato di sana.

Dilema Perwakilan Wisudawan April S1 ITB 2020

Uthe (MT’15) merupakan salah satu wisudawan April 2020 dari jurusan Teknik Material. Ia bercerita kepada Ganeca Pos bahwa ia dihubungi oleh pihak Program Studi Teknik Material untuk menjadi nomine wisudawan menginspirasi dari Teknik Material beberapa waktu lalu. Ia hanya diminta untuk menuliskan cerita mengapa ia layak untuk dinominasi. Hingga pada tiga minggu lalu, ia menerima pesan dari pihak Humas ITB yang memintanya untuk menyiapkan pidato.

“Aku tanya ke Humasnya, ‘Ini teks yang saya buat sebenarnya untuk dibukukan, atau diapakan?’ Terus kata ibunya ‘kemungkinan nanti akan take video karena wisudanya virtual, jadi bikinnya gaya pidato.’ Nah, di situ aku mulai curiga,” tuturnya.

Uthe pun mencoba menyampaikan informasi tersebut ke grup WhatsApp Wisudawan April 2020, bahwa ia dihubungi oleh Humas ITB dan memperoleh kabar kemungkinan wisuda daring, juga bertanya apakah ada yang memperoleh informasi serupa. Ia berharap jangan sampai wisudawan April 2020 hanya dibuat iya-iya saja dengan keputusan Rektorat. Namun, rekan-rekannya mengajak untuk positive thinking saja dan menyampaikan bahwa telah ada surat edaran mengenai wisuda format khusus. Karena ketidakpercayaan wisudawan lain, ia pun mencoba menghubungi MWA WM ITB 2019/2020 Faisal Alviansyah Mahardika (FI’15) yang juga merupakan salah satu wisudawan April 2020 dan memperoleh jawaban serupa.

Dihubungi di kesempatan lain, MWA WM yang akrab disapa Acle ini pun menuturkan bahwa kala itu, Rektorat menyatakan belum ada pembahasan mengenai keberlanjutan wisuda dan mereka masih fokus untuk mengurus ijazah digital. Pada kurun waktu yang sama pula, tanggal 19 Maret 2020, diterbitkan surat penjelasan mengenai wisuda khusus pengganti Wisuda April 2020. Salah satu bagian dalam Surat Penjelasan No. 233/I1.B01.5/PP/2020 tersebut berbunyi

Bagi lulusan yudisium April 2020, ITB akan mencari kesempatan untuk penyelenggaraan wisuda dengan format khusus, pada kondisi dan waktu yang dipandang kondusif bagi penyelenggaraan tersebut. ITB sangat memahami dan menyadari arti penting prosesi wisuda bagi segenap lulusan ITB beserta para orang tua dan keluarga terkait, dan juga bagi segenap sivitas akademika ITB.

Pernyataan inilah yang membuat sebagian besar wisudawan berpikir positif bahwa akan ada pelaksanaan prosesi wisuda yang sekiranya “memberikan arti penting bagi wisudawan dan keluarga”. Salah satu anggota grup WhatsApp Wisudawan April 2020 pun menyebutkan bahwa Uthe tidak menyampaikan bahwa dirinya menjadi perwakilan wisudawan—pada saat itu Uthe memang masih belum mengetahui statusnya—sehingga ucapannya mengenai wisuda daring terkesan seperti asumsi belaka.

Terlepas dari polemik komunikasi antarwisudawan ini, terdapat satu hal yang nyata: kesimpangsiuran informasi yang diberikan oleh Rektorat kepada wisudawan.

Tidak terdapat perkembangan informasi yang berarti hingga Uthe dikontak kembali oleh Humas ITB untuk melakukan rekaman pidato hari Senin (06/04) lalu. Ia mengaku kaget dan bingung karena ketika dihubungi sebelumnya, ia memperoleh kesan yang santai dan pidatonya ini bukan untuk hal yang penting, sepenting rekaman pidato perwakilan Wisudawan April S1 ITB 2020. Uthe kembali bertanya apakah wisuda dilakukan secara daring, dan pihak Humas ITB menyatakan kemungkinannya seperti itu.

Dengan kondisi telah meninggalkan grup WhatsApp Wisudawan April 2020 karena permasalahan sebelumnya, Uthe pun bertanya terkait situasi di grup kepada rekannya yang menjadi anggota; rekannya menjawab bahwa grupnya masih sepi. Uthe yang bingung akhirnya hanya memberi tahu rekan satu jurusannya tersebut. Hari Senin tiba dan ia berangkat ke Gedung Rektorat ITB untuk melakukan rekaman.

“Aku kaget karena set-up-nya niat banget, semuanya direkam, bahkan suara protokoler juga direkam. Aku akhirnya beraniin nanya, ‘kak ini rekamannya serius banget, memang mau dipakai buat apa? Terus bapaknya jawab, ‘iya kan nanti kalian wisudanya tuh virtual gitu, jadi semua prosesinya bakal direkam semua di sini, baru nanti diedit, ya semacam wisuda virtual gitu deh,” kisahnya.

Uthe pun merasa putus asa dan sedih. Ia merasa bersalah karena ia yang sebelumnya pernah mengajak teman-temannya untuk mempertanyakan wisuda daring namun kini wajahnya lah yang akan terpampang sebagai perwakilan Wisudawan April S1 ITB 2020 apabila wisuda daring benar-benar dilaksanakan.

Ia menceritakan perasaannya, “sampai aku panik pas disuruh janji lulusan ITB. Aku takut terlihat hipokrit, aku yang mengajak orang untuk wisuda offline, tapi aku juga yang akan muncul pas videonya dirilis, aku yang diminta salam ganesha, aku malu. Aku tuh kemarin pakai toga, sementara teman-temanku nggak ada yang pakai toga sampai corona selesai. Aku bukan bangga jadinya, jadi takut. Takut jadi public enemy.”

Acle selaku MWA WM ITB 2019/2020 pun tidak tahu menahu akan adanya proses rekaman yang disiapkan untuk pelaksanaan wisuda. Ia baru mendengar kabar ini ketika berbincang dengan Ganeca Pos pada Rabu (8/4) pagi. Dengan wisudawan yang dipusingkan oleh simpang siurnya informasi dan kejutan dari Rektorat, tidak bijak rasanya bagi Rektorat untuk memutuskan berbagai kebijakan ini secara sepihak dan membiarkan wisudawan yang juga punya kepentingan tanpa kejelasan.

Kebijakan yang Berubah-ubah dan Belum Jelasnya Alokasi Biaya Kelulusan Wisudawan

Terlepas masalah perihal bentukan prosesi wisuda, terdapat hal-hal yang lebih krusial lagi bagi sebagian besar wisudawan. Untuk sekadar memperoleh ijazah yang merupakan hak dasar wisudawan, mekanismenya sempat berubah-ubah. Ini tentu menghambat wisudawan yang memiliki kebutuhan untuk melanjutkan pendidikannya ataupun mencari pekerjaan. Pada Pengumuman dari Direktorat Pendidikan ITB No. 240/IT1.B04.2/PP/2020, dinyatakan bahwa ITB akan menerbitkan ijazah dan transkrip digital yang dapat diunduh oleh wisudawan mulai tanggal 4 April 2020. Adapun untuk kondisi yang sangat diperlukan, wisudawan dapat melakukan pengambilan dokumen ijazah fisik pada tanggal 6-9 April 2020. Akan tetapi, pada tanggal 4 April 2020, ijazah yang sebelumnya dapat diunduh ditarik kembali. Tunggu pidato rektor terlebih dahulu, begitu penjelasan Direktur Pendidikan ITB.

Kemudian, terbit Surat Edaran Sekretaris Institut No. 537/IT1.B03/DA.08/2020 pada tanggal 6 April 2020 yang memuat bahwa ijazah dan transkrip nilai serta buku wisuda digital dapat diunduh sejak tanggal 8 April 2020 setelah wisudawan menyelesaikan kewajiban administrasinya dengan membayar persyaratan biaya kelulusan sejumlah Rp 550.000,00 ditambah biaya Dana Lestari minimal sejumlah Rp 150.000,00 untuk S1, Rp 200.000,00 untuk S2, dan Rp 250.000,00 untuk S3. Untuk pengambilan ijazah bentuk kertas, buku cetak wisuda, toga, dan kelengkapannya dapat dilakukan setelah situasi memungkinkan. Padahal, sebelum perubahan tiba-tiba pada 4 April ini, telah ada beberapa wisudawan yang mengunduh dan mendapatkan ijazah digitalnya, tanpa membayar persyaratan biaya kelulusan tersebut.

Pidato Sambutan Rektor ITB kemudian diunggah pada kanal Youtube Institut Teknologi Bandung pada larut malam tanggal 7 April 2020. Dalam tayangan tersebut, ditampilkan pula nama-nama wisudawan April program doktor, magister, dan sarjana dengan predikat cum laude. Barulah pada 8 April 2020 wisudawan S1 dapat mengunduh ijazah digital mereka dengan catatan telah membayar biaya kelulusan dan dana lestari sebesar Rp 700.000,00. Namun, wisudawan yang membutuhkan ijazah fisik untuk keperluan mendesak masih belum dapat mengambil dokumen tersebut hingga waktu yang belum ditentukan.

Munculnya pidato sambutan Rektor ITB melalui kanal digital membangun kecurigaan wisudawan bahwa barangkali wisuda format khusus yang dimaksud adalah penyampaian pidato secara daring ini. Terlebih, Rektor ITB Reini D. Wirahadikusumah, dalam sambutannya sempat berucap, ”Atas pertimbangan akan situasi yang berkembang dan pentingnya langkah yang efektif, pimpinan ITB dengan berat hati mengambil keputusan untuk meniadakan penyelenggaraan prosesi wisuda kedua ITB tahun akademik 2019/2020.”

Dengan dugaan pelaksanaan wisuda memang dilakukan secara daring, wisudawan pun mempertanyakan mengapa nominal yang dibayarkan sama seperti wisuda-wisuda sebelumnya dimana terdapat prosesi wisuda di Sasana Budaya Ganesha. Akhirnya, wisudawan pun menuntut penjelasan akan bentukan wisuda dan transparansi biaya kelulusan melalui surel maupun media sosial. Salah seorang wisudawan April menyampaikan dua pertanyaannya kepada akun @itbofficial di Twitter, yakni terkait bagaimana kejelasan prosesi wisuda khusus untuk wisudawan April, apakah yang dimaksud adalah pidato Rektor dan ijazah digital, serta jika memang begitu, ia mempertanyakan bagaimana transparansi biaya kelulusan yang harus dibayarkan lagi oleh wisudawan. Wisudawan lain menyampaikan cuitan senada yang berbunyi, “Baiklah. Dari awal sudah saya sampingkan seremoninya, @itbofficial. Yang saya butuhkan di sini adalah transparansi dan penjelasannya.”

Tentu tuntutan tersebut beralasan karena sebelumnya Rektorat memang belum menjelaskan secara gamblang, alih-alih meminta pendapat wisudawan, terkait bentukan wisuda yang akan dilaksanakan. Wisudawan hanya menerima perubahan demi perubahan dan ketidakpastian. Hingga artikel ini ditulis, terdapat 157 komentar yang sebagian besar berupa keluhan wisudawan pada video sambutan yang diunggah tersebut. Jumlah dislike pun lebih banyak dibanding jumlah like yang diperoleh, dengan angka 134 like dan 841 dislike yang kemungkinan merupakan bentuk kekecewaan wisudawan.

Jawaban dari Rektorat dan Pekerjaan Rumah yang Tersisa

Pada tanggal 8 April 2020, Acle menghubungi Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Jaka Sembiring sebagai pihak yang mengurus ijazah, serta Sekretaris ITB Widjaja Martokusumo, dan Kepala Biro Komunikasi dan Humas ITB Naomi Haswanto Sianturi  selaku pihak yang mengurus wisuda. Dari sana, didapatkan jawaban untuk beberapa hal yang dipertanyakan oleh wisudawan April.

Naomi menjelaskan tentang perincian biaya yang harus dibayarkan wisudawan, yaitu toga seharga Rp300.000,00 hingga Rp350.000,00, buku wisuda dan ijazah hardcopy seharga Rp200.000,00 dan dana lestari sebesar minimal Rp150.000,00. Menurutnya pula, biaya Rp700.000,00 ini murni untuk wisudawan dan tidak ada hubungannya dengan prosesi wisuda karena sudah ada anggaran tersendiri untuk prosesi wisuda yaitu sebesar lima miliar untuk tiga kali wisuda dalam satu tahun, dan anggaran ini dialokasikan untuk biaya gedung, konsumsi, dll. Pada surat edaran, tidak tertera batas waktu pembayaran biaya yang harus dibayarkan oleh wisudawan ini.

Mengenai format wisuda, Rektorat ITB menyampaikan pula bahwa mereka belum memikirkan format khusus wisuda kelak seperti apa tapi yang jelas akan ada. ITB belum bisa menjamin waktu dan teknis prosesi wisuda nanti. Pihak Rektorat ITB mengaku sangat paham akan pengertian wisuda untuk wisudawan. Rektorat sudah merencanakan virtual graduation berupa tayangan Youtube seperti pidato Rektor yang sebelumnya sudah ditayangkan dan ucapan dari perwakilan wisudawan. Namun virtual graduation bukanlah format wisuda khusus yang disebutkan dalam surat edaran. Hal tersebut merupakan “itikad baik dari pihak rektorat kepada wisudawan April 2020”.

Jawaban demikian sepertinya telah membuka titik terang bagi wisudawan, meskipun, hal tersebut jauh berbeda dengan pernyataan-pernyataan dari Rektorat ITB sebelumnya. Contohnya, dalam video sambutan Rektor ITB kepada wisudawan dan berita ITB yang dirilis pada 8 April 2020 berjudul “Pertama di Indonesia, ITB Menerbitkan Ijazah Digital dengan Tanda Tangan Elektronik Bersertifikat”, dinyatakan bahwa prosesi wisuda kedua ITB tahun akademik 2019/2020 ditiadakan. Dari pernyataan Uthe sebagai perwakilan wisudawan April S1 ITB, Humas ITB pun ketika menghubunginya untuk rekaman pidato menyatakan bahwa proses tersebut dilakukan untuk keperluan wisuda yang akan dilakukan secara virtual.

Meski menimbulkan pertanyaan apakah rencana ini telah disiapkan sejak awal atau terdapat perubahan rencana setelah situasi memanas, tentu wisudawan berharap bahwa hasil diskusi mengenai wisuda format khusus yang masih disiapkan ini akan ditepati oleh Rektorat dan diberikan informasi detailnya lebih lanjut. Akan tetapi, melihat Rektorat yang belum memberikan kepastian bentukan prosesi wisuda dalam wisuda format khusus yang dijanjikan, pemberian biaya kelulusan dengan perincian biaya buku cetak wisuda, toga, dan kelengkapannya merisaukan wisudawan yang hendak membayar biaya tersebut. Hal lain yang juga membuat wisudawan resah dan penting menjadi catatan untuk ditindaklanjuti adalah perihal penyamarataan hak wisudawan dalam memperoleh ijazah digital, seperti wisudawan yang kebetulan telah berhasil mengunduh ijazah, tanpa harus membayar biaya kelulusan.

“Yang ingin diperjuangkan adalah penyamarataan hak wisudawan untuk mendapat ijazah digital. Kan ada yang udah dapat ijazah digital tanpa bayar tuh tapi kenapa yang belum dapat harus bayar?” gugat Acle.Kendati Rektorat baru memberi penjelasan setelah Acle selaku bagian dari wisudawan April ITB 2020 sekaligus eks-MWA WM ITB menghubungi beberapa pemangku kepentingan di Rektorat, setidaknya saat ini ada penjelasan resmi dari pihak Rektorat. Kegiatan wisuda memang sudah seharusnya beradaptasi dan menyesuaikan kondisi luar biasa ini. Namun, tidak semestinya wisudawan ditelantarkan begitu saja–harus ada transparansi dan pemenuhan hak bagi para wisudawan, baik itu persamaan hak dalam mendapatkan ijazah digital, kemudahan memperoleh ijazah fisik, ataupun koordinasi terkait prosesi wisuda, yang harus terus dikawal.

Penulis: Haura Zidna Fikri (PL’16), Humaira Fathiyannisa (TL’18)
Editor: Muhammad Fawwaz Abiyyu Anvilen (TI’17)

Share.

1 Comment

  1. Pingback: Kemahasiswaan Masa Depan

Leave A Reply