Kemahasiswaan Masa Depan

0

Runtuhnya Tembok Berlin, dari Wikimedia Commons.

Banyak hal yang terdisrupsi tiba-tiba dengan pandemi COVID-19. Interaksi sosial yang biasanya dilakukan secara fisik didorong ke ruang digital, dipicu oleh kebijakan lockdown dan pembatasan sosial. Di kampus, pembelajaran jarak jauh dilakukan, pertama diadopsi oleh UI, UNY, kemudian ITB, dan akhirnya oleh hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Pandemi ini mengakselerasi adopsi teknologi-teknologi yang sebelumnya obskur (berapa yang tahu keberadaan Zoom sebelumnya?) dan meningkatkan ketergantungan kita pada layanan internet. Kegiatan akademik dan nonakademik di kampus mulai beradaptasi: kuliah dilaksanakan lewat Teams, ujian lewat Google Form, dan LPJ himpunan lewat YouTube Live. Secara tidak langsung, ini memperlihatkan bottleneck aliran informasi dalam bagaimana kita melakukan kegiatan kampus sehari-hari. Seiring dilaksanakannya PJJ, kita melihat bahwa pembelajaran oleh mahasiswa dilakukan dengan kebebasan yang lebih luas, interaksi dalam kelas lebih mengalir, dan partisipasi dalam acara himpunan meningkat.

Walaupun begitu, pelaksanaan PJJ menimbulkan banyak dilema dalam pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan ITB yang secara tradisional memerlukan kehadiran banyak orang dalam satu tempat pada satu waktu. Pelaksanaan Wisuda April tahun ini penuh dengan kontroversi dan pertanyaan tentang OSKM 2020 masih mengawang.

Pada akhirnya, COVID-19 mendorong tren yang niscaya (yang kalau tidak karena COVID-19 akan datang juga beberapa tahun lagi) terjadi: Informasi ingin bebas dan ia akan bebas. Jika kemahasiswaan kita tidak mengakui ini, ia akan ditelan dengan mudah oleh arus zaman.

Runtuhnya Kemahasiswaan

Sentimen bahwa KM ITB sudah tidak relevan itu bukan sentimen yang niche di antara mahasiswa ITB. Perdebatan tentang relevansinya bahkan masuk pada bahasan Hearing Pemira tahun lalu di Sunken Court, oleh dulu-calon K3M Nada Zharfania (TL’16) dan Sultan Pasha (SI’16). Perdebatan dilakukan dengan cukup sengit: Nada menyatakan bahwa KM ITB irelevan dalam penampilan dan praktiknya, sedangkan Sultan berpendapat bahwa KM ITB pada praktiknya masih relevan, mengambil dari pengalamannya di pengabdian masyarakat. Walaupun tidak sampai pada diskusi tentang akar masalah, perdebatan ini memperlihatkan bahwa persoalan relevansi KM ITB telah masuk ke alam pikir mahasiswa ITB dan sampai ke pucuk pimpinan KM ITB.

Sinisisme terhadap “aktivis kampus” dan pembagian mahasiswa menjadi kelas mereka-yang-peduli dengan mereka-yang-apatis juga tidak hanya terjadi di ITB. Di UI, insiden pemberian kartu kuning kepada Jokowi oleh saat itu Ketua BEM UI Zaadit Taqwa menjadi trauma bersama dan memperkuat stereotipe “aktivis kampus” yang kritis-hanya-untuk-kritis. Di ITB, pemisahan ini dengan jelas diperlihatkan oleh akun anonim LINE Teleskrin Ganesha yang sekarang inaktif.

Secara tradisional, mahasiswa menjelaskan bagaimana ia fit-in di tengah masyarakat dengan merumuskan identitas posisi, potensi, dan perannya (popope, pepopo, popepo?). Popope ini menjelaskan tanggung jawab mahasiswa sebagai anggota masyarakat yang memiliki privilise pendidikan tinggi, tetapi tetap “bagian dari masyarakat”, yang utama dari yang setara (primus inter pares). Presumsi ini, yang mendasari sekian lama bagaimana mahasiswa melihat dirinya sendiri, semakin dibuktikan salah. Seiring kemajuan teknologi informasi, biaya untuk berkomunikasi menjadi hampir nol, dan privilise pendidikan yang menjadi tembok antara mahasiswa dan nonmahasiswa runtuh. Informasi tidak menjadi makin langka bila disebar, tetapi makin melimpah. Informasi ingin bebas dan ia akan bebas.

Konsekuensinya mengakar. Apa sebenarnya yang membuat kita bisa berbicara tentang kemahasiswaan kita (tidak hanya di ITB) dengan nostalgia yang sangat kuat? Bahwa dulu “kita” bisa ini dan itu? Tembok pemisah informasi ini dapat memberikan penjelasan. Mengambil inspirasi dari teori biaya transaksi untuk organisasi, secara sederhana itu terjadi karena mahasiswa dulu tidak memiliki pilihan lain. KM ITB membentuk monopoli naturalnya sendiri. Biaya untuk berkomunikasi ke luar ITB jauh lebih besar daripada biaya untuk berkomunikasi di dalam ITB. Ini memaksa mahasiswa dulu untuk berkarya hanya dalam lingkungan sekitar ITB. Ini juga menjelaskan keanekaragaman yang sangat besar (warna-warni) dalam aktivitas mahasiswa dulu, misalnya kita melihat pentas malam Iota-Tau-Beta, turnamen DotA antarhimpunan, dan lain-lain.

Tembok figuratif ini juga berperan sebagai petri dish/walled garden bagi kemahasiswaan kita (tidak hanya di ITB!). Ini memungkinkan kultur yang terbentuk dalam lingkungan tertentu mengambil identitasnya yang unik. Kultur tersebut muncul secara evolusioner, beradaptasi dengan tekanan seleksi yang spesifik dalam lingkungannya. Mekanisme inilah yang membuat kemahasiswaan ITB distingtif dengan kemahasiswaan, misalnya UGM.

Artinya juga, tradisi, bias, meme, dan kebiasaan kemahasiswaan “tradisional” yang turun ke kita sangat kompatibel dengan lingkungan dimana ia beradaptasi (lingkungan leluhur kita), tetapi sangat inkompatibel di lingkungan lain (lingkungan kita sekarang). Ambil tradisi Osjur (hazing). Dalam interpretasi tadi, Osjur dapat dianggap sebagai suatu heuristik pendidikan-kilat yang bertujuan untuk meningkatkan kohesi-sosial dan mempersiapkan cadangan kekuatan politik untuk aksi massa. Osjur tumbuh dan berkembang dalam lingkungan politik dan ekonomi yang tak-stabil, kondisi yang belum tentu benar sekarang. Dalam praktiknya juga, generalisasi yang benar dulu (misalnya bahwa secara umum senior lebih pintar daripada junior) diamplifikasi menjadi bias-bias yang terlihat sekarang (contoh paling nyata adalah keributan Osjur HMTL tahun lalu).

Beberapa tahun ke belakang, kita melihat “kegelisahan” di pucuk pimpinan KM ITB. Partisipasi dan oomph di banyak aktivitas kemahasiswaan menurun dengan drastis. Beberapa menganalisisnya dengan menyalahkan perbedaan generasional, metode yang usang, dan branding yang buruk. Akan tetapi, kita dapat menggunakan perspektif yang baru kita dapatan tentang tembok pemisah informasi untuk menjelaskannya dengan lebih komplet.

Dengan runtuhnya tembok ini, kemahasiswaan kita tiba-tiba menemui dirinya sendiri dalam posisi yang benar-benar membingungkan. Kumpulan tradisi yang ia kumpulkan sekian lama dalam waktu semalam menjadi irelevan. Mendadak, ada sesuatu yang baru, berkilau, dan tidak ia pahami di hadapan matanya: StudentsCatalyst, XL Future Leaders, dan perkumpulan-luar-kampus-dengan-nama-dalam-bahasa-Inggris lainnya. Tanpa tembok yang melindunginya dari tekanan pasar di luar dan ketidakmampuannya untuk merespons dengan cepat, kemahasiswaan kita menjadi seperti Burung Dodo, dihancurkan oleh spesies invasif, dan menjadi objek destruksi kreatif pasar hiperkompetitif baru ini.

Kritik-kritik ke mahasiswa sekarang sebagai mahasiswa yang tidak keluar dari zona nyaman dan tidak terhubung dengan masyarakatnya adalah klaim yang salah tempat. Mahasiswa sekarang adalah mahasiswa yang paling terhubung dan sadar tentang apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya daripada mahasiswa-mahasiswa yang datang sebelumnya. Mereka membentuk opini dan bertindak dalam limpahan data dan informasi tentang dunia di sekeliling mereka. Perbedaannya, mereka tidak bergerak lewat kanal KM ITB. Biaya untuk berkoordinasi (dan dengan itu memulai pergerakan) turun pula seiring biaya untuk berkomunikasi turun. Dengan ini, satu orang dapat memiliki pengaruh yang disproporsional terhadap jaringan sosialnya. Maka, argumen untuk mengonsolidasikan kekuatan dalam satu adikuasa pemerintahan mahasiswa menjadi invalid.

Juga, dengan eksposur informasi yang jauh lebih luas, mahasiswa tidak lagi dapat dianggap sebagai suatu monolit yang memiliki satu opini yang sama untuk satu isu tertentu. Pergerakan kemahasiswaan yang secara tradisional “kiri” dan mengambil isu “sosial-politik” inkompatibel dengan pendirian mahasiswa yang berada di spektrum politik lain atau memiliki fokus pada isu lain (misalnya, isu tentang keterbukaan informasi tidak mendapat tempat dalam pergerakan KM ITB). Argumen konsolidasi kekuatan menjadi semakin sulit untuk dijustifikasi.

Beberapa usaha untuk beradaptasi telah dilakukan oleh KM ITB, walaupun hanya secara superfisial. Misalnya, terinspirasi dari pesaing-pesaing barunya, KM ITB mengambil penampilan mereka dan dengan itu membuat branding baru yang ciamik. Untuk menarik perhatian-perhatian generasi baru, katanya. Namun, perubahan yang dilakukan hanya dalam permukaan KM ITB tidak akan menyelesaikan permasalahan mendasar: bahwa KM ITB masih bekerja dalam logika yang memiliki dasar pada asumsi yang secara demonstratif salah.

Runtuhnya tembok pemisah informasi tidak hanya memberikan penjelasan terhadap fenomena-fenomena yang kita lihat, tetapi juga memberikan prediksi bagaimana bentuk kemahasiswaan ke depan jika kemahasiswaan kita tidak beradaptasi. Turunnya biaya komunikasi akan membuat organisasi kemahasiswaan tertarik ke dua polar besar, yaitu organisasi yang masif dan terdesentralisasi serta organisasi niche yang satu ide. Organisasi yang berada di tengah-tengah, birokratik, dan tidak-jelas (opaque) seperti KM ITB akan semakin ditinggalkan. KM ITB akan tereduksi dan tergerus hingga sampai ke fungsi spesifik yang hanya relevan karena dia ada di ITB: kesejahteraan mahasiswa.

Runtuhnya Universitas

Perhatikan lagi bahwa argumen-argumen yang disusun di depan kalian tentang runtuhnya kemahasiswaan dapat dengan mudah digunakan untuk berbicara tentang hal yang sama di universitas. Universitas kita (ITB) didasarkan pada sistem yang dibuat 100 tahun lalu (selamat 100 tahun ITB!), dan lektur/kuliah dalam bentuknya sekarang adalah tradisi ratusan tahun: cara yang sangat costeffective untuk mengajar, tetapi sangat inefisien untuk belajar.

Kebijakan-kebijakan yang kita lihat dari pemerintah, seperti PTN-BH dan Kampus Merdeka; serta kebijakan dari eks-Rektor Kadarsah Suryadi (entrepreneurial university) dan Rektor saat ini Reini Wirahadikusumah (pemerintahan universitas di era VUCA) menjadi bukti nyata bagaimana universitas merespons dan beradaptasi pada runtuhnya tembok pemisah informasi tersebut.

Prediksi yang sama juga dapat kita buat untuk universitas, dan bahkan dalam beberapa kasus telah terwujud. Universitas tertarik ke dua polar: menjadi kursus yang sangat masif dan terdesentralisasi (seperti Massive Open Online Course di edX dan Coursera), serta kampus yang kecil dan niche (seperti Minerva). Universitas tradisional tereduksi ke fungsi yang spesifik dan belum dapat digantikan, seperti riset. Ini terlihat dalam bagaimana ITB juga menjadikan universitas riset sebagai salah satu fokusnya.

Mahasiswa universitas sekarang berada di posisi yang memalukan. Perbedaannya dengan mahasiswa dan nonmahasiswa pada akhirnya hanya berada pada status legalnya. Kita, mahasiswa, pada akhirnya adalah mereka yang cukup pintar untuk belajar dan ujian, tetapi tidak cukup pintar untuk mengetahui apa yang harusnya ia pelajari.

Melihat ke Depan

Lalu ke mana setelah ini semua? Demokratisasi akses ke informasi telah membawa kita ke kemajuan peradaban yang kita nikmati sekarang. Sekali tembok pemisah informasi tersebut runtuh, tidak ada cara untuk membangunnya lagi tanpa paksaan yang sangat kuat. Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah beradaptasi.

Jawaban masalah ini bukan berada pada nostalgia dan mengadopsi kultur lama dengan sedikit modifikasi patchwork baru yang selama ini kita lakukan. Perubahan yang dilaksanakan, sama seperti masalahnya, harus mengakar. Yang pertama yang harus kita lakukan adalah bereksperimen dan berani untuk bereksperimen. Di masa-masa yang penuh ketidakpastian ini, paralysis by analysis adalah hal yang paling buruk yang bisa kita lakukan.

Misalnya, kita dapat mengubah desain institusi KM ITB. Alih-alih memaksakan “gameplay” KM ITB kepada para anggotanya, kita harus mengubah bagaimana KM ITB membuat kebijakan dan mengambil keputusan. Sistem pemerintahan yang menjadi inspirasi KM ITB adalah sistem yang usang, bekerja pada asumsi yang salah sekarang. Misalnya, perwakilan legislasi berdasarkan konstituen tertentu mengasumsikan tidak mungkin diskusi dilakukan dalam satu ruangan dengan ribuan partisipan (sekarang bisa!). Lalu, sistem perwakilan tadi juga mengasumsikan bahwa konstituen memiliki satu concern yang seragam karena kesamaan nasibnya, misalnya berdasarkan konstituen himpunan (tidak juga!). Kita malah melihat perbedaan posisi isu di KM ITB tidak terbagi terlalu jelas lewat himpunannya. Malahan sistem ini malah membuat pemerintahan yang bengkak dan mekanismenya sangat buram bagi anggota biasanya.

KM ITB harus mencari cara untuk mengagregasi preferensi dari individu-individu anggotanya yang sangat divergen, memanfaatkan edge yang didapat dari teknologi informasi, dan dengan itu menurunkan biaya komunikasi di dalam KM ITB. Misalnya, kita dapat mengambil inspirasi dari sistem sortisi, yang mengacak partisipan untuk kegiatan tertentu, dari Athena kuno. Kita juga dapat membuat sistem futarki, vote values but bet beliefs, yang mengandalkan pasar prediksi untuk menentukan kebijakan oleh ekonom Robin Hanson. Kita juga mungkin bereksperimen dengan memberikan bobot pada vote orang tertentu   dibanding yang lain, berdasarkan pengalamannya. Dalam bagian KM ITB lain, kita mungkin bereksperimen dengan meningkatkan atau menurunkan demokrasi. Misalnya, kita mungkin membangun algoritma tertentu untuk resolusi konflik, dan dengan itu menghilangkan keperluan untuk debat sama sekali.

Kita juga melihat bahwa masalah partisipasi di KM ITB adalah bukan masalah tidak ada wadah, tetapi ada wadah lain. Ini bukan menjadi masalah, karena wadah lain yang berspesialisasi dalam isu/fokus tertentu memiliki comparative advantage yang jauh lebih besar daripada lembaga generalist seperti KM ITB. Kita seharusnya malah bersyukur karena ada yang lebih memberikan fokus pada isu tersebut dibanding KM ITB. KM ITB dapat mengambil peran lain, seperti mendorong pembahasan isu-isu yang belum dibahas dalam ruang publik. Peran prioritisasi isu ini dapat memberikan rekomendasi alokasi sumber daya ke para stakeholder. Misalnya, kita dapat memberikan prioritas ke isu-isu yang berdampak, diabaikan, dan kemudahan-untuk-diselesaikan, dengan kerangka dari kelompok altruisme efektif.

Mengingat baru dilantiknya K3M baru, kesempatan KM ITB untuk berubah dari akarnya terbuka lagi. Nada diharapkan dapat menjalani apa yang ia janjikan saat maju sebagai calon. Omongan tentang meningkatkan resiliensi tidak boleh menjadi hanya omongan yang dilapisi gula dan ikut-ikutan tren yang sedang hip saja. Kabinet yang dipimpin Nada juga diharapkan untuk tidak sekadar cocoklogi di permukaan dengan kerangka-kerangka resiliensi buatan organisasi di luar, tetapi juga memahami mengapa pada akhirnya kita harus resilien. Juga, rencana Nada untuk membentuk staf khusus Presiden KM ITB harus belajar dari praktik staf khusus Presiden Indonesia saat ini yang tidak kompeten dan ugal-ugalan.

Kita berada di masa-masa yang pivotal untuk dunia dan untuk KM ITB pula. Apa yang kita lakukan sekarang akan mendefinisikan bagaimana dunia akan terbentuk berdekade ke depan. Kita memiliki hanya dua pilihan untuk KM ITB: berubah atau mati.

Penulis: Muhammad Fawwaz Abiyyu Anvilen (TI’17)
Editor: Restu Lestari Wulan Utami (BI’17)

Editorial adalah produk pemberitaan Ganeca Pos yang memperlihatkan opini Ganeca Pos tentang isu yang hangat dan Ganeca Pos anggap penting untuk pembaca. Editorial ditulis oleh salah satu anggota Redaksi atas persetujuan Dewan Redaksi Ganeca Pos, yang terdiri dari Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi, dan Redaktur Pelaksana.

Share.

Leave A Reply