PKM dan Semangat Berkarya di Kampus Gajah

0

ganecapos.com, Bandung—Menurut hasil kuesioner dalam Open Data KM ITB, 70% mahasiswa ITB tertarik untuk mengikuti PKM. Angka tersebut merupakan nilai yang cukup banyak. Namun, pada pelaksanaan PKM lalu di tahap pengumpulan proposal, hanya terdapat 343 tim yang mengumpulkan proposalnya. Untuk tahun ini pun masih tersisa kuota sekitar seratus proposal. Padahal, dalam tahap pengumpulan proposal, kuota yang diberikan untuk ITB oleh Dikti adalah 700 proposal. Apa pasal mahasiswa ITB masih kurang berminat untuk terjun di Program Kreativitas Mahasiswa ini?

 

Polemik Minimnya Prestasi PKM ITB

Ketua Barudak ITB Juara atau biasa disingkat Baritra tahun 2018, Rifqi Rifaldi Utomo (IF’16), menyampaikan pendapatnya atas fenomena ini. “Itu jadi pertanyaan kita juga. Apakah informasinya belum sampai, atau mereka tidak tertarik, atau belum punya ide. Sebenarnya faktornya banyak dan kita belum pernah mengadakan penelitian terkait itu.”

Performa ITB dalam PKM dapat dikatakan tidak terlalu memuaskan. Pada PKM yang lalu, ITB tidak masuk dalam 10 besar juara PKM dan hanya mengumpulkan dua medali perunggu. Kemudian, untuk PKM tahun 2017 dan 2016, ITB hanya puas di peringkat delapan dan lima.

“Kalau mengapa perolehan kita di Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) fluktuatif, itu tergantung ide yang masuk dan penilaian juri. Sebenarnya yang bisa kita bandingkan itu adalah jumlah proposal masuk, di mana di universitas lain itu memenuhi kuota. Itu berpengaruh lagi ke perbedaan budaya kampus. Misalkan di universitas lain ada yang mewajibkan untuk ikut PKM di tahun pertamanya,” jelas Faldi menyoroti kondisi kampus secara umum.

Namun, ada pula alasan lain yang menyebabkan prestasi ITB di Pimnas selalu mentok. Ibnu Ubaidillah (KI’06) yang merupakan Pembina PKM ITB menuturkan dari segi teknis terkait peserta dari ITB yang sudah mencapai tahap Pimnas, “kita kalah kemarin itu, bukan karena kitanya jelek, bukan. Karena salah administrasi saja. Harusnya kemarin minimal dua emas, dua perak, satu perunggu. Tapi kemarin dari tujuh tim yang maju, enam tim kalah di administrasinya, di artikel ilmiahnya. Artikel ilmiah itu nilainya 25 persen, enam tim ini artikel ilmiahnya ini mereka nol. Kok bisa? Nah artikel ilmiah ini, dari 4 tim yang sudah pasti dapat medali (seharusnya-red.) ini salah. Tim yang pertama, namanya artikel ilmiah itu bahasa Indonesia malah dia bikin bahasa Inggris. Ada lagi, artikel tuh ada yang namanya abstrak. Abstrak itu dia mintanya dua, Indonesia sama Inggris. Dibikin Indonesianya saja, kalau yang ini Indonesia banget. Coret lagi. Ada satu tim lagi, dia sering lihat jurnal internasional, dua kolom. Dia dikasih saran bikinnya seperti ini (satu kolom sesuai contoh dari Kak Ubai-red.), tidak dia bikin satu kolom, dia bikinnya dua kolom, jurnal internasional. Yang terakhir salahnya artikel ilmiah itu maksimal sepuluh halaman, dia bikin enam belas halaman. Kita itu salah, kita itu kalah, bukan karena apa, karena hal kecil. Yang kita lakukan dari tahun ke tahun, dari 2010 salahnya gitu-gitu doang.”

Selain itu, Faldi juga menyatakan kurangnya pendekatan oleh dosen-dosen terhadap mahasiswa ITB, berbeda dengan dosen-dosen di universitas lain yang sigap berinisiatif menawarkan proyek PKM ke mahasiswanya. Ia berargumen, “ada juga yang memang didukung dari dosennya sendiri, memang pengen membantu mahasiswanya untuk mengontrol. Sedangkan di ITB awareness-nya kurang, baik dari mahasiswanya maupun dari dosen kurang aware terhadap PKM.”

Faldi menambahkan pula bahwa hadiah yang diperoleh pun menurutnya tidak terlalu besar, terutama mengingat lini masa PKM yang panjang, nyaris setahun, sehingga mahasiswa agaknya malas dan lebih memilih berlomba di kompetisi lain yang sifatnya jangka pendek. Secara subjektif, PKM menurutnya terkesan kurang bergengsi dan budaya mahasiswa ITB masih kurang untuk bidang kompetisi. Sejalan dengan pernyataan Faldi, Pembina PKM ITB yang menjadi pemrakarsa Ranger PKM ITB juga menyatakan hal serupa.

“Karena ya nggak tertarik. Karena ITB, yang pertama, kurang tersosialisasi. Kalian saja waktu TPB nggak kenal, harusnya kan waktu SSDK, atau apa, dikenalkan yang namanya PKM. Tapi kan tidak ada koordinasi. Kedua, ketika kalian di jurusan, sudah tahu ada lomba-lomba lain, yang keuntungannya jauh lebih menggiurkan. Ngapain ikut PKM, lebih capek. Terus administrasinya lama, orang-orang makin nggak suka lah. Hadiahnya kurang. Tapi kita tidak memungkiri, misal ada anak TPB nih, dia banyak ide (dan ikut PKM-red.), kita kasih tau, ‘terima kasih kepada ini (nama mahasiswa tersebut-red.)’. Sehingga orang tahu, ikut ini bukan karena hadiah, karena dia tahu bahwa dengan dia ikut, dia jadi bagian yang menyumbang nilai akreditasi ITB jadi bagus, 60 persen, lho. Makanya kita bikin apresiasi yang banyak, kan nanti ada jurusan penyumbang terbanyak, atau TPB, atau bagaimana lah. Jadi bukan karena reward tapi karena prestisiusnya, susah soalnya,” beber pria yang akrab disapa Kak Ubai ini.

Lantas, sebenarnya bagaimana mekanisme yang harus dilalui mahasiswa ITB dalam PKM?

 

Dari Pendaftaran Hingga Pimnas

Pendaftaran PKM ITB pada tahun 2018 dilakukan dalam empat batch yang merupakan bagian dari kloter 1 kemudian ditambah dengan kloter 2. Batch 1 dibuka pada Juli lalu, kemudian batch 2 dibuka pada Agustus, batch 3 dibuka sebulan setelahnya yakni pada Bulan September, dan batch 4 dibuka pada Oktober. Pendaftaran terbagi dalam dua kloter, dimana kloter 2 akan ditutup pada 27 November 2018. Pendaftaran tersebut berupa pengisian form dan pengumpulan proposal PKM. Pengumpulan proposal tersebut diperlukan untuk pendaftar PKM 5 bidang, yaitu PKM-P (Penelitian), PKM-KC (Karsa Cipta), PKM-M (Pengabdian Masyarakat), PKM-K (Kewirausahaan), dan PKM-T (Teknologi).

Seperti yang telah diketahui, terdapat 7 bidang dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa. Bidang-bidang tersebut adalah 5 bidang yang tercantum di atas ditambah dengan PKM-AI (Artikel Ilmiah) dan PKM-GT (Gagasan Tertulis). Untuk PKM-AI dan PKM-GT, waktu pendaftaran dan mekanisme yang dilalui relatif berbeda.

Proses pendaftaran ini diawali dengan pengiriman ide, kemudian lembar pengesahan, pengumpulan proposal final, hingga upload proposal setelah memperoleh persetujuan bahwa proposal yang diajukan lolos.

Proses pengumpulan proposal di ITB dilakukan dengan seleksi internal terlebih dahulu. Seleksi internal berupa penentuan lolos atau tidaknya suatu proposal yang diajukan ke Ranger PKM ITB ditentukan dengan prosedur penilaian oleh Tim Ranger PKM ITB. Seleksi ini menentukan jumlah proposal final yang akan diunggah untuk mengikuti seleksi proposal, karena untuk dapat melakukan upload proposal, proposal harus telah lolos seleksi internal sesuai prosedur Dikti.

Dalam rangkaian pendaftaran ini, terdapat beberapa fasilitas yang disediakan, seperti biro jodoh dan kelas privat. Biro jodoh diadakan untuk mempertemukan player, yakni mereka yang memiliki ide namun belum memiliki tim, dan watcher yang belum memiliki ide namun siap membantu dalam tim. Sedangkan, kelas privat adalah fasilitas yang diberikan bagi lembaga untuk mengajukan kelas seputar PKM bagi anggotanya. Selain itu, database terkait judul PKM yang diajukan pada tahun-tahun sebelumnya juga dapat diakses melalui email ke rangerpkmitb@gmail.com. Info lebih lengkap dapat diperoleh di instagram @kelaspkm.

Secara informal, terdapat pula sarana menggali ide-ide yang dapat dikembangkan lewat PKM, seperti Bank Ide Kak Amin. Bank Ide ini merupakan kumpulan ide yang digagas oleh Amin Yahya Zefiansyah (FT’14).

“Dia memfasilitasi orang-orang yang nggak punya ide untuk ikut PKM, jadi dia sudah punya banyak ide,” tutur Faldi. Sarana ini patut dicoba sebagai alternatif lain dari biro jodoh untuk mahasiswa yang ingin berkarya namun belum memiliki ide.

Setelah melakukan upload proposal, diadakan seleksi proposal. Proposal yang lolos seleksi akan memperoleh pendanaan dari Kemenristekdikti. Proses seleksi hingga pengumuman pendanaan ini berjangka waktu sekitar 4-5 bulan. Barulah setelah lolos pendanaan, peserta PKM mengikuti tahap selanjutnya yaitu Monitoring dan Evaluasi atau biasa disingkat Monev. Pada tahap ini, tim-tim peserta PKM akan diminta mempresentasikan progres pelaksanaan program dari proposal yang sebelumnya telah memperoleh pendanaan. Apabila lolos tahap Monev, peserta dapat melaju ke Pimnas atau Pekan Ilmiah Nasional dan berkompetisi untuk meraih kemenangan lewat medali, baik medali presentasi maupun medali dari poster. Terkait proporsi penilaiannya, medali dari presentasi persentasenya 80% dari nilai total, sedangkan dari poster bernilai 20% dari total.

 

Seminar Akbar PKM ITB 2018

Masih dalam masa pendaftaran dan pengumpulan proposal, Kelas PKM yang dikelola oleh Ranger PKM ITB selaku tim suksesi PKM di ITB juga mengadakan Seminar Akbar pada Selasa (6/11) di Aula Timur ITB. Seminar yang bertema “PKM dan Kreativitas” ini terbagi dalam dua sesi berdasarkan fakultas. Pemateri dari Seminar Akbar PKM ITB 2018 adalah Kak Ubai selaku Juri Nasional PKM dan Pembina PKM ITB.

Pada seminar ini, Kak Ubai membagi tips-tips untuk berhasil lolos dalam berbagai tahap di PKM dan menggapai kesuksesan bagi tim PKM. Tips-tips tersebut bervariasi, mulai dari judul proposal yang ternyata sangat mempengaruhi penilaian, hingga tips menghadapi juri di Pimnas. Kak Ubai juga menceritakan pengalamannya ketika ia menjadi peserta PKM hingga pada akhirnya meraih medali, jauh beberapa tahun lalu di masa ia duduk di bangku perkuliahan.

Lewat gelaran ini, sebagai Pembina PKM ITB dengan Ranger PKM ITB, Kak Ubai mempromosikan pula fasilitas bantuan kemudahan dalam mengakses informasi seputar PKM melalui media sosial Ranger PKM ITB. Ia juga menjelaskan sarana untuk memudahkan mahasiswa dalam mengikuti PKM seperti biro jodoh dan database judul.

 

Promosi dan Peningkatan Minat

Pada masa pendaftaran dan pengumpulan proposal ini, Barudak ITB Juara (Baritra) yang merupakan BSO KM ITB untuk PKM ITB dan kompetisi lain seperti Tanoto Student Research Award berharap dapat menjaring peserta PKM sebanyak-banyaknya dan dapat menyebarkan informasi seputar PKM hingga dapat diterima seluruh massa kampus. Hal ini dilakukan untuk mengatasi problem minimnya prestasi ITB dalam Pimnas karena jumlah peserta yang terbilang sedikit, terlebih gengsi untuk PKM dianggap masih kurang. Salah satu rencana yang akan dilakukan adalah melakukan sosialisasi kepada mahasiswa ITB, baik secara terpusat maupun berkunjung ke tiap HMJ dan Fakultas satu per satu.

Ditanya mengenai belum masifnya penyuasanaan Baritra, Faldi berkata,”kita masih koordinasi juga sama Ranger PKM ITB bagaimana ke depannya, masih fase inisiasi. Kita terus improvisasi, kita masih menganalisis lagi metode untuk sosialisasi baiknya seperti apa karena setiap himpunan beda-beda. Kita masih mencari cara juga biar efektif menyampaikan ke TPB.”

Dari pihak ITB, terdapat usaha menarik minat mahasiswa dengan pengadaan mata kuliah KU 4008 Pengembangan Keprofesian bagi peserta PKM yang lolos tahap pendanaan. Apabila peserta melakukan tindak lanjut terhadap program yang diajukan dengan baik dan bersungguh-sungguh, maka peserta akan memperoleh nilai A untuk mata kuliah 2 SKS tersebut.

“Ke pihak mahasiswa kita juga melobi, seperti ke ketua OSKM, namun tidak semuanya berhasil karena banyak kepentingan lain juga kan,” tambah Faldi.

 

Budaya Berkarya

Para dosen yang masih kurang dalam melakukan penawaran bantuan PKM ke mahasiswanya dianggap menjadi salah satu alasan kurangnya budaya berkarya melalui PKM di ITB. Namun, pihak rektorat sendiri sebenarnya sudah suportif, seperti dengan diselenggarakannya mata kuliah Pengembangan Keprofesian ataupun suntikan dana yang memadai.

“Kan biasanya pendanaan itu turun beberapa bulan setelahnya (pengumuman-red.), nah dari LK mendukung dengan memberi pinjaman, jadi sudah bisa memulai mengerjakan proyek PKM lebih awal,” tutur Ketua Baritra 2018 ini.

Sedangkan, untuk ranah mahasiswa, ada beberapa usulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan atmosfer berkarya di kalangan massa kampus. Faldi menyatakan bahwa PKM dimasukkan ke dalam materi Osjur (Orientasi Studi Jurusan) atau bahkan menjadi bagian dari tugas Osjur. Selain itu, PKM juga dapat diangkat lewat OSKM.

“Jadi Kak Mery (Ketua Baritra 2017) pernah punya ide untuk memasukkan PKM ke Osjur. Dulu juga Integrasi membahas PKM kan, yang seperti itu bisa dimasukkan lagi, membantu mensuasanakan bahwa ada PKM ini, lho. Karena memang minat ITB nomor satu kaderisasi nggak sih?” jelasnya.

Ketua Baritra itu sendiri mengakui bahwa pihaknya masih mengalami kendala seperti bingung menentukan cara yang tepat untuk menyebarkan PKM dan semangat kekaryaan ke massa kampus. Pernah suatu kali diadakan pelatihan, namun belum kontinu. Rencananya, ia ingin meningkatkan pelatihan menjadi lebih sering. Ditanya mengenai jumlahnya, ia berkata, “untuk target, kita efektif empat bulan, berarti lima kali lah. Idenya masih dikaji sih, seperti cara menulis yang bagus, cara presentasi, membuat business plan yang bagus, ya untuk kontennya masih dibicarakan.”

Lain halnya dengan Ranger PKM ITB yang target pasarnya lebih luas. Ditemui seusai seminar, Kak Ubai memaparkan rencananya, “kami merekrut guardian team, fokusnya untuk membantu saya untuk tim ITB. Keuntungannya bisa ikut ke Pimnas tapi kerjanya banyak, mengerjakan database, mengurus kelas PKM, macam-macam. Saat ini kan kita mengadakan kelas PKM. Kalau di SMA, kalian tahu pelatihan OSN? Nah saya mau kelas PKM ini seperti pelatihan OSN, nasional. Saya mau kita jadi pionirnya. Kelas PKM itu pengikutnya dari kampus macam-macam, lho, padahal kebanyakan postnya ITB. Tapi kayaknya mereka suka-suka aja.”

Sebagai penutup, Faldi pun menyampaikan bahwa banyak wahana untuk berkarya, seperti Tanoto Student Research Award, Program Mahasiswa Wirausaha, dan juga lomba-lomba yang diadakan oleh berbagai institusi, asalkan ada niat dan usaha.

Menyikapi kondisi budaya berkarya di ITB, ia berpesan,”kita mahasiswa berbasis teknologi, masa nggak berkarya?”

 

Kontributor: Haura Zidna Fikri (PL’16), Thariq Izzah Ramadhan (TI’16)

Share.

Leave A Reply