Pariwisata 4.0: Peluang dan Tantangan Menuju Pariwisata Berkelanjutan dalam Menghadapi Persaingan Global (Bagian I)

0

ganecapos.com, Bukittinggi – Pada 27 Oktober 2018, telah dilaksanakan Seminar Pariwisata 4.0 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara yang diselenggarakan hingga tahun 2020 dalam rangka memperingati menuju 100 tahun Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia (P-100 ITB). Topik yang dibahas pada seminar kali ini adalah ‘Peluang dan Tantangan Menuju Pariwisata Berkelanjutan dalam Menghadapi Persaingan Global’, dengan berbagai pembicara dari seluruh penjuru Indonesia.

Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan oleh Prof. Boy Kombaitan selaku Ketua Panitia P-100 ITB, Prof. Dr. Ir. Miming Miharja, ST, M.Sc, Eng, selaku Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi ITB, dan sambutan dari Prof. Dr, Ir. H. Irwan Prayitno, S.Psi, M.Sc, selaku Gubernur Sumatra Barat. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan keynote speech dari Ir. Arcandra Tahar, M.Sc, Ph.D, selaku Wakil Menteri ESDM mengenai potensi investasi pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Acara ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pertama dengan topik ‘Pariwisata Berkelanjutan dan Industri yang Berdaya Saing’, dan sesi dua dengan topik ‘Pariwisata 4.0 untuk Inisiatif di Daerah’. Pada sesi pertama, terdapat dua pembicara, yaitu Drs, I Gede Ardhika selaku mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, dan Denny Setiawan, ST, MT, selaku Dirjen SDPPI Kominfo.

Drs. I Gede Ardhika memaparkan sustainable tourism observatory kepada para peserta acara. Pemaparan dimulai dengan menjelaskan prinsip dasar pariwisata. Setelah itu, Drs. I Gede memaparkan mengenai kepariwisataan yang berkelanjutan. Dikatakan bahwa kepariwisataan berkelanjutan adalah kepariwisataan yang tidak hanya menjaga, memelihara, dan melestarikan, tetapi juga dapat merehabilitasi destinasi wisata tersebut.

Drs. I Gede mengutip ucapan Fuad Hasan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, bahwa kepariwisataan tidak dapat dilihat dari aspek ekonomi semata. Kepariwisataan merupakan bidang yang bersifat multi-dimensi, meliputi berbagai macam aspek kehidupan, seperti aspek biologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, serta ketahanan dan keamanan.

Sesuai dengan definisi bahwa kepariwisataan adalah bidang yang multi-dimensi, maka diperlukan adanya sustainable tourism observatory. Program ini berfungsi untuk melakukan pengembangan pada suatu destinasi wisata.

Community based tourism memainkan peran penting dalam perwujudan kepariwisataan yang berkelanjutan. Dengan menjadikan masyarakat sebagai partisipan dalam mewujudkan kepariwisataan yang berkelanjutan, maka tercipta keterlibatan yang akan menimbulkan kerja sama yang baik antara masyarakat pada daerah destinasi wisata.

Sesuai dengan penjelasan tersebut, stakeholder destinasi wisata dapat menunjuk universitas di wilayahnya sebagai ‘bapak asuh’ untuk ikut membantu mengembangkan kepariwisataan yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Sebagai contoh, ITB dan beberapa perguruan tinggi sudah menjadi ‘bapak asuh’ dan berperan dalam pengembangan kepariwisataan di Pangandaran.

Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa ada aspek-aspek terkait penanganan pemanasan global. Kepariwisataan yang baik adalah kepariwisataan yang harmonis, dimana terdapat keseimbangan antara tiap-tiap aspek kehidupan, dan pemanasan global bukanlah merupakan pengecualian. Dengan memperhatikan aspek tersebut, maka kepariwisataan yang berkelanjutan dapat diwujudkan dengan optimal.

Selanjutnya, dilakukan pemaparan oleh Denny Setiawan, ST, MT. Denny memulai penjelasan dengan membahas Industri 4.0, yang menjadi asal-muasal munculnya istilah pariwisata 4.0 yang dibahas pada seminar kali ini. Dengan mengaitkan perihal Industri 4.0 dengan pariwisata, maka tercipta suatu sudut pandang pariwisata 4.0 dimana terdapat kepariwisataan yang berkelanjutan.

Kemudian, dijelaskan tentang perlunya pengembangan kesiapan infrastruktur TIK di bidang kepariwisataan. Pengembangan teknologi tersebut akan berdampak pada kemudahan berpariwisata, seperti untuk reservasi hotel atau tiket pesawat lewat situs daring. Sejauh ini, untuk mayoritas wilayah di Indonesia sudah memenuhi kebutuhan jaringan 3G dan untuk beberapa kota besar dapat melayani jaringan 4G, dan tentunya masih akan ditingkatkan kedepannya hingga dapat mencapai seluruh wilayah di Indonesia. Semakin cepat Indonesia mempersiapkan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, maka semakin cepat pula perwujudan kepariwisataan yang berkelanjutan.

Setelah itu, dijelaskan pula mengenai lima faktor penting transformasi digital terkait kepariwisataan. Faktor-faktor ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh I Gede Ardhika, bahwa kepariwisataan bersifat multi-disiplin dan multi-dimensi, serta menyentuh berbagai macam aspek kehidupan.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan mengenai kepariwisataan dan pengembangan teknologi, diantaranya adalah mekanisme birokrasi yang mendukung serta partisipasi masyarakat untuk ikut andil dalam mewujudkan hal tersebut. Dengan adanya partisipasi masyarakat, maka dapat ditentukan periode pembangunan jangka panjang dan jangka menengah yang akan dilakukan. Selain itu, di bidang perencanaan, seluruh pemangku kekuasaan harus bekerja bersama-sama dengan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Kontributor: Puti Fauzia Imani (IL ’16), Nurcholis Fauzi (KL ’16)

Share.

Leave A Reply