Pemilihan Umum Raya 2018: Elektabel, tapi tak Populer?

0

ganecapos.com, ITB— Pengembangan ilmu dan teknologi, kesejahteraan mahasiswa, uang kuliah tunggal, dan revitalisasi fasilitas kampus menjadi isu-isu utama yang menjadi fokus calon pemilih pada Pemira nanti, berada di atas kemahasiswaan multikampus dan pemilihan rektor baru. Calon Pemilih melihat kemampuan berkomunikasi yang baik sebagai kriteria utama yang harus dimiliki bakal calon K3M dan MWA-WM. Sistem pemilihan yang rumit dan penyuasanaan yang kurang merupakan evaluasi pokok terhadap Pemira 2017. Calon pemilih berharap partisipasi massa meningkat dan sistem pemilihan lebih baik pada Pemira 2018.

 

Survei Popularitas dan Elektabilitas (SUPEL) tahunan Pers Mahasiswa ITB yang dilakukan selama Oktober ini memperlihatkan bagaimana calon pemilih akan memilih pada Pemira 2018. Dibagi menjadi dua tahap, SUPEL tahap pertama dilaksanakan untuk mengetahui opini calon pemilih terhadap evaluasi pada Pemira 2017, harapan pada Pemira 2018, isu-isu dan kriteria penting bagi calon pemilih, dan nama-nama yang akan dicek popularitas dan elektabilitasnya di tahap kedua. Di akhir, SUPEL tahap kedua dilaksanakan untuk mengetahui popularitas dan elektabilitas bakal calon K3M dan MWA WM.

 

Evaluasi dan Harapan

Sistem pemilihan yang rumit (26,5%), penyuasanaan yang kurang (26,1%), Pemira yang buruk secara umum (15,4%), partisipasi massa yang rendah (15%), dan calon yang kurang siap (13,7%) menjadi lima evaluasi Pemira 2017 dengan suara tertinggi dari 234 suara dalam SUPEL tahap pertama.

Dengan dibukanya tahap pengambilan dan pengembalian berkas, calon pemilih berharap penyuasanaan Pemira 2018 akan lebih baik (25,1%). Selain itu, partisipasi massa yang tinggi (16,8%), sistem hearing dan rangkaian prapemilihan yang lebih baik (14%), tidak ada politik kotor (11,5%), menghasilkan pemimpin yang baik (9,7%) adalah empat harapan calon pemilih dengan suara tertinggi setelah penyuasanaan yang lebih baik. Harapan terhadap Pemira 2018 ini diambil dari 279 suara, termasuk TPB 2018 yang baru saja menjadi anggota biasa KM ITB.

Isu-Isu dan Kriteria Penting

Pengembangan ilmu dan teknologi (83,5%), kesejahteraan mahasiswa (73,8%), pengabdian masyarakat (68,8%), iklim berkarya nonakademik (55,2%), dan dinamisasi kemahasiswaan multikampus (54,5%) adalah isu-isu yang dianggap harus menjadi prioritas K3M terpilih oleh 279 responden valid dalam SUPEL tahap pertama.

Tren pengembangan ilmu dan teknologi meningkat, setelah tahun lalu 69,3% responden pada SUPEL 2017 bertambah ke 83,5% responden pada SUPEL 2018—peningkatan sebanyak 20,5% dari 2017.

Tren naik tidak hanya dilihat oleh isu pengembangan ilmu dan teknologi. Perhatian pada isu dinamisasi kemahasiswaan multikampus meninggi, dari 42,9% responden pada SUPEL 2017 ke 54,5% responden pada SUPEL 2018—peningkatan sebanyak 27% dari 2017.

Kemampuan berkomunikasi yang baik (91%), wawasan yang luas (87,8%), kemampuan menggalang massa yang baik (79,2%), Pengalaman berorganisasi yang cukup (69,25%), serta relasi internal dan eksternal yang luas (68,1%) adalah lima kriteria utama yang harus dimiliki K3M terpilih dari hasil survei.

Untuk MWA-WM terpilih, uang kuliah tunggal (75,6%), revitalisasi sarana dan prasarana kampus (71,3%), penghimpunan aspirasi mahasiswa (67%), multikampus (66,3%), dan pemilihan rektor baru (34,4%) adalah isu-isu yang dianggap harus menjadi prioritas oleh jumlah responden yang sama.

Seperti tahun lalu, isu multikampus hadir lagi sebagai salah satu isu yang dianggap harus menjadi fokus MWA WM terpilih. Akan tetapi, isu uang kuliah tunggal menjadi isu dengan suara tertinggi oleh responden, menanggapi naiknya uang kuliah tunggal bagi mahasiswa angkatan 2018 dari 10 juta ke 12,5 juta untuk mahasiswa non-SBM.

Seperti kriteria yang harus dimiliki K3M terpilih, MWA WM terpilih dianggap harus memiliki kriteria utama kemampuan berkomunikasi yang baik (93,2%).

Selain itu, peka terhadap permasalahan yang terjadi (83,9%), bertindak taktis dan solutif (78,8%), wawasan yang luas (78,1%), serta relasi internal dan eksternal yang luas (71,3%) menjadi empat kriteria dengan suara tertinggi lainnya bagi MWA WM terpilih.

 

Popularitas

Ilma Mauldhiya Herwandi muncul sebagai bakal calon K3M dengan popularitas tertinggi sebanyak 40% suara dari 230 responden valid. Posisi ini diikuti oleh Faris Hafizh Makarmim dan Nadia Gissma Kusumawardhani secara imbang dengan 34,8% suara. Selanjutnya, bakal calon K3M dengan popularitas mengurut ke bawah adalah Royyan Abdullah Szakiy (31,7%), Jundi Amir Syuhada (27,4%), dan Rafli Herdiansyah (25,6%). Sebanyak 22,2% responden tidak mengenali keenam nama di atas.

Tidak ada bakal calon K3M yang benar-benar mendominasi seperti Said Fariz Hibban dan Agung Cahyo Syamsu dengan berturut-turut 68,7% dan 65,3% suara pada tahun lalu.

Bakal calon dengan popularitas tertinggi tahun ini, Ilma Mauldhiya Herwandi dengan 40% suara hanya memiliki popularitas sedikit lebih tinggi daripada bakal calon dengan popularitas terendah tahun lalu, Alfatehan Septianta dengan 37,74% suara. Sebagai perbandingan, K3M Ahwad Wali Radhi memiliki popularitas 41,1% pada SUPEL tahun lalu.

Jumlah responden yang tidak mengenali bakal calon K3M juga meningkat, dari 8,9% pada 2017 ke 22,2% pada 2018—peningkatan 2,5 kali lipat dari 2017.

Untuk bakal calon MWA WM, hal yang mirip terlihat. Jumlah responden yang tidak mengenali nama-nama bakal calon MWA WM mendominasi, dengan 39,6% suara dari 230 responden. Iqbal Ridalta Putra muncul sebagai bakal calon MWA WM paling populer setelahnya dengan 29,6% suara. Kemudian, bakal calon MWA WM dengan popularitas mengurut ke bawah adalah Andrian Firmanto (23%), Faisal Alviansyah Mahardika (20,9%), Fadhil Al Ansyar (18,7%), Iffah Sulistyawati Hartana (16,1%), dan Fakhri Dwi Nugroho (7%).

Cerita yang sama juga terjadi. Tidak ada bakal calon MWA WM yang mendominasi seperti Reynaldi Satrio Nugroho pada tahun lalu dengan 60,2% suara.

Jumlah responden yang tidak mengenali nama-nama bakal calon MWA WM pada tahun ini (39,6%) justru lebih tinggi daripada popularitas PJS MWA WM Andriana Kumalasari pada SUPEL tahun lalu (36,3%). Jumlah responden yang tidak mengenali bakal calon MWA WM meningkat, dari 18,6% pada 2017 ke 39,6% pada 2018—peningkatan 2,1 kali lipat dari 2017.

 

Elektabilitas

Royyan Abdullah Dzakiy memimpin elektabilitas bakal calon K3M dengan 50% suara dari 230 responden. Kemudian, dengan elektabilitas mengurut ke bawah, posisi ini diikuti Faris Hafizh Makarim (40,4%), Ilma Mauldhiya Herwandi (26,9%), Nadia Gissma Kusumawardhani (23,9%), Rafli Herdiansyah (17%) dan Jundi Amir Syuhada (9,1%). Sebanyak 11,3% responden menganggap tidak ada yang elektabel di antara keenam nama bakal calon K3M tersebut.

Observasi antartahun yang kita lihat di popularitas kontras di elektabilitas. Royyan Abdullah Dzaky dengan 50% suara sangat menonjol jika dibandingkan dengan bakal calon K3M paling elektabel tahun lalu, Said Fariz Hibban dengan 24,64% suara.

Ini juga terlihat untuk bakal calon MWA WM. Mengurut ke bawah, elektabilitas bakal calon MWA WM adalah berikut, Faisal Alviansyah Mahardika (44,8%), Andrian Firmanto (27%), Iffah Sulistyawati Hartama (27%), Iqbal Ridalta Putra (25,6%), Fadhil Al Ansyar (23%), dan Fakhri Dwi Nugroho (3,5%). Angka ini jauh lebih tinggi daripada bakal calon MWA WM paling elektabel tahun lalu, Muhammad Bayu Pratama (26,9%).

Sebanyak 20,9% responden menganggap tidak ada yang elektabel di antara keenam nama bakal calon MWA WM tersebut.

 

Metode

SUPEL tahap pertama dilakukan secara terbuka di akun resmi LINE Ganeca Pos pada 1—6 Oktober 2018. Pengisian survei daring lewat google forms dan terbuka bagi siapa saja. Identitas pengisi survei ini diverifikasi lewat surel, dan kesesuaian nama—NIM. Dari 300 responden yang mengisi, 21 dinyatakan invalid dan 279 dinyatakan valid.

SUPEL tahap kedua dilakukan dengan multistage random sampling dengan strata berdasarkan angkatan dan jurusan atau fakultas bagi mahasiswa TPB. Multistage random sampling dilakukan dengan membagi sampel dalam suatu strata, dalam hal ini angkatan dan jurusan atau fakultas. Survei dilaksanakan melalui permintaan mengisi lewat akun LINE responden. Randomisasi dilakukan dengan NIM; nama responden kemudian diambil lewat data NIM Finder di laman ashura.id/nim. Kontak LINE responden dicari secara personal oleh tim SUPEL 2018. Identitas responden divalidasi secara personal saat kontak dilakukan dengan responden. Segala record yang namanya tidak terdaftar dalam daftar nama responden hasil randomisasi dianggan invalid. Dari 630 responden yang dihubungi, 395 tidak menjawab dan 235 menjawab. Dari 235 yang menjawab, 5 dinyatakan invalid dan 230 dinyatakan valid. Tingkat kepercayaan SUPEL tahap kedua ini 95% dengan error 5%.

Pengarsipan metodologi survei secara lengkap dapat diakses pada laman bit.ly/arsipsupel18

Diskusi

Ada beberapa kekurangan dengan metodologi yang digunakan dalam SUPEL 2018.

Pertama, pada tahap kedua, pembagian strata dilakukan dengan asumsi bahwa seluruh nama yang keluar dari hasil randomisasi akan merespons dan valid responsnya. Pada faktanya, hanya 235 dari 630 (37,3%) responden dalam daftar nama hasil randomisasi menjawab. Dari 235 responden tersebut, 5 (2,1%) respons invalid. Ada kemungkinan bias ke salah satu strata. Sebagai contoh, mungkin saja strata Teknik Kimia merespons valid lebih banyak daripada strata Teknik Industri sehingga membuat sampel bias ke Teknik Kimia.

Kedua, rendahnya tingkat balasan pada tahap kedua memungkinkan bias partisipasi. Hasil SUPEL mungkin menjadi tidak representatif karena responden valid secara tidak proporsional memiliki karakteristik tertentu, yaitu responden valid adalah orang yang partisipatif dan mau menjawab survei. Hal ini membuat hasil SUPEL tidak menggambarkan orang-orang yang tidak partisipatif dan mau menjawab survei, tetapi akan memilih pada Pemira nanti.

Ketiga, pelaksanaan SUPEL tahap pertama secara terbuka memungkinkan terjadinya impersonasi responden. Validasi identitas adalah dengan mencocokkan nama—NIM pada setiap record. Validasi seperti ini tidak membatasi orang mengisi nama dan NIM orang lain sebagai dirinya, dan dengan itu berkali-ali mengisi survei tahap pertama.

Keempat, pertanyaan mengenai elektabilitas pada tahap kedua menghadirkan rekam jejak bakal calon bersamaan dengan kriteria-kriteria yang muncul pada tahap pertama. Rekam jejak yang tercantum pada tahap kedua dalah rekam jejak jabatan dalam organisasi kemahasiswaan dalam ITB. Ada kemungkinan bahwa kriteria-kriteria ini terpenuhi oleh aktivitas selain menjabat dalam organisasi kemahasiswaan. Korelasi ada, tetapi belum tentu kausasi eksis.

 

Hati-Hati: Kegagalan Lembaga Survei AS pada 2016

Skeptisisme publik terhadap bagaimana lembaga-lembaga survei melakukan penelitiannya meningkat di seluruh dunia, setelah kegagalan spektakuler lembaga-lembaga survei di Amerika Serikat pada pemilihan presiden 2016. Huffington Post, misalnya, memprediksikan 98% probabilitas kemenangan untuk Clinton, nominasi Partai Demokrat. Konsorsium Pemilihan di Universitas Princeton juga, memprediksikan lebih dari 99% kemenangan untuk Clinton. Semua orang tahu apa yang terjadi setelahnya.

Syok ini menjalar ke seluruh dunia. Lembaga-lembaga survei ini mengalami krisis eksistensi tentang profesinya sendiri: Mengapa bisa survei-survei sebelum pemilihan presiden AS 2016 menunjukkan kemenangan telak bagi Clinton atas Trump? Apakah memang survei politik ini memang pada dasarnya cacat? Ataukah kesalahan-kesalahan ini dapat dipahami dan diperbaiki?

Nate Cohn, koresponden untuk The New York Times, mengidentifikasi beberapa kesalahan lembaga-lembaga survei ini dalam artikelnya yang berjudul A 2016 Review: Why Key State Polls Were Wrong About Trump.

Pertama, sebuah survei setelah pemilihan dilaksanakan menunjukkan bahwa Trump memenangkan suara pemilih yang ragu-ragu, di atas ekspektasi lembaga-lembaga tersebut.

Kedua, usaha penyaringan pemilih yang kemungkinan besar akan memilih bias ke arah Clinton; di antara pemilih yang kemungkinan besar akan memilih Clinton menang, tetapi kalah pada pemilih yang benar-benar memilih di akhir.

Ketiga, pembobotan terhadap edukasi tidak tepat. Lembaga-lembaga survei tidak memastikan bahwa proporsi antara pemilih dalam strata edukasi tinggi, menengah, dan dasar akan proporsional, sesuai preferensi pemilihan presiden AS 2016.

Melihat ini, Departemen Penelitian dan Pengembangan Pers Mahasiswa ITB bekerja dengan keras untuk mengurangi bias dan kesalahan yang mungkin terjadi. Subbagian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran kita semua ketika kita terlalu percaya dan tidak mengkritisi hasil dengan menyeluruh.

Segala kritisisme tentang SUPEL 2018 dapat diberikan lewat akun resmi LINE Ganeca Pos atau kanal media sosial kami lainnya.

Hidup Demokrasi!

 

Kontributor: M. Fawwaz Abiyu Anvilen (TI ’17), Haura Zidna Fikri (PL’16),  Putia Chairunnisa (GD’16), Michael Hananta Utomo (BE’16), Thariq Izzah Ramadhan (TI’16), Nurcholish Fauzi (KL’16), Rifqi Khoirul Anam (SI’16), Bella Sofie Jayanti (AR’17), Likha Itsmawati (TK’17), Wiga Jihan (PL’17), Humaira Fathiyannisa (FTSL’18), Endrico Dwi Julianto (FITB’18), Sheila Hauna Arifa (SAPPK’18), George Michael (SAPPK’18), Nayottama Putra Suherman (FTMD’18), Claresta Dhyhan Ediganiputri (SAPPK’18), Febrian Surya Admaja (FTSL’18), Arya Pratama Putra (FMIPA’18), Rachmadini Melita Trisnasiwi (SAPPK’18), Adila Zahira (SITH-R’18)

 

Share.

Leave A Reply