Terkait Karangan Bunga “Dikti Jangan Mendikte”, Galih Norma: Jangan Sampai Kita Panas Tetapi Tidak Tahu Isu Apa yang Dibahas.

0

ganecapos.com, ITB—Jika kalian Mahasiswa ITB, apakah pada tanggal 4 Juli 2018 lalu kalian melihat karangan bunga di gerbang utama kampus bertuliskan “Selamat Datang di Kampus Radikal”? Karangan bunga tersebut adalah bentuk gimik yang dilakukan oleh Kabinet KM ITB dalam rangka menyambut kedatangan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Natsir, pada acara Peringatan 98 Tahun Perguruan Tinggi Teknik Indonesia (PTTI) di Aula Timur ITB, Selasa (4/07). Natsir berkesempatan memberikan sambutan dan orasi ilmiah pada acara tersebut.

“Isu pendidikan adalah salah satu isu yang strategis dan selalu menjadi agenda yang harus terbahas. Pada awal kepengurusan kabinet tahun ini juga, kita (KM ITB -red) sudah mengeluarkan sikap dalam Aksi 19 Mei, dan ada konten terkait pendidikan disana,” ujar Galih Norma (PL’ 14), Menteri Koordinator Sosial Politik, ketika ditanyai latar belakang adanya karangan bunga tersebut. Salah satu konten terkait isu pendidikan yang dikeluarkan dalam Aksi 19 Mei adalah student loan. Hal tersebut ditambah dengan isu yang sedang hangat belakangan ini, yaitu Kenaikan UKT di ITB.

“Kasus-kasus serupa pun banyak terjadi di kampus-kampus lain, entah itu kenaikan UKT atau uang pangkal, misalnya di UNNES dan UDAYANA,” lanjutnya.

UKT—sesuai namanya—harusnya adalah uang kuliah tunggal, namun Galih mensinyalir terdapat standar ganda pada Permenristekdikti No. 39 Tahun 2017 yang membuka peluang diberlakukannya uang pangkal. Dengan judul “Uang Kuliah (Tak) Tunggal” sebagai tajuk untuk membahas isu ini, Galih juga menyatakan bahwa di ITB, saat tingkat akhir, biaya penggunaan laboratorium, pengerjaan tugas akhir dan wisuda tidak dapat tertutupi lewat UKT, sehingga mahasiswa harus membayar lagi. Selain itu, KM ITB sebagai Koorpus BEM SI berusaha mengakomodir isu-isu serupa yang dialami oleh kampus-kampus lain.

Momentum lain yang menjadi tuntutan KM ITB adalah dituduhnya ITB sebagai kampus radikal oleh Menristekdikti saat Bulan Ramadhan lalu. Galih berharap bahwa pihaknya dapat mengetahui definisi “radikal” yang dimaksud oleh Natsir.

Karangan bunga—ungkap Galih—adalah salah satu agenda terkait isu ini.

“Kita ada dua agenda (terkait isu ini -red), yang pertama adalah menyampaikan ke Pak Natsir secara langsung, dan yang kedua adalah menyampaikan isu ini kepada mahasiswa dan masyarakat secara langsung. Dengan adanya gimik karangan bunga, kita tergugah untuk kembali memanaskan isu ini. Tautan (bit.ly/diktijanganmendikte -red) yang tercantum pada karangan bunga juga bisa menjadi refleksi untuk kita. Jangan sampai masyarakat kampus keburu panas dengan karangan bunganya namun tidak tahu isu apa yang sebenarnya dibahas,” ungkap Galih.

Galih menjelaskan bahwa ia dan beberapa perwakilan KM ITB berkesempatan untuk berdialog dengan Muhammad Natsir setelah acara Peringatan 98 Tahun PTTI selesai, terkait konten pada buku kajian KM ITB tersebut.

Galih mengapresiasi Menristekdikti yang bersedia menerima sambutan dan berdialog dengan pihaknya. Ia juga berpendapat bahwa Natsir memberikan respons yang seolah-olah baik saat dialog tersebut. Namun, Natsir tidak menjawab dengan jelas terkait pertanyaan-pertanyaan yang pihaknya ajukan, baik itu terkait definisi radikalisme di kampus dan kebijakan Menristekdikti terkait UKT.

Perwakilan Kabinet KM ITB Berdialog dengan Menristekdikti, Mohamad Natsir. Sumber: Dokumentasi Pribadi Ade Hilmy

Galih dan beberapa perwakilan Kabinet KM ITB memberikan buku kajian tersebut kepada Natsir. “Bentuk follow up­-nya adalah mengagendakan pertemuan dengan Kemenristekdikti untuk membahas konten buku kajian tersebut lebih lanjut,” ujarnya.

Pertemuan dengan Kemenristekdikti adalah upaya penyampaian isu kepada pihak eksekutif negara. Selain itu, sejak Mei lalu, Kabinet KM ITB sudah mengagendakan pertemuan dengan Komisi X DPR Republik Indonesia, dalam rangka menyampaikan isu kepada badan legislatif yang berwenang. Pihaknya mengusahakan agar dapat menemui Komisi X DPR bulan ini.

“Kita bermain dua arah. Ekskekutif lewat Kemenristekdikti, dan Legislatif lewat Komisi X DPR,” jelasnya.

 

Reporter: Rifqi Khoirul Anam (SI ’16)

Share.

Leave A Reply