Diklat Terpusat: Persiapan Menuju Kepanitiaan OSKM ITB atau Hegemoni HMJ?

0

ganecapos.com, ITB—OSKM 2018 adalah sebuah ajang kaderisasi awal terpusat yang diselenggarakan setiap tahun oleh KM ITB. Diklat Terpusat (Dikpus) OSKM ITB 2018 akan berakhir pada Senin, 4 Juni 2018. Pada 21-28 Mei 2018 yang lalu, Pers Mahasiswa ITB mengadakan survei terkait diklat terpusat OSKM ITB 2018 kepada mahasiswa ITB 2017. Bagaimana hasilnya?

 

Mayoritas TPB 2017 Mengikuti Dikpus

Survei dilakukan secara daring. Proporsi jumlah responden disesuaikan dengan jumlah anggota angkatan di tiap fakultas. Dari 13 fakultas yang disurvei, didapat 150 responden valid yang dipilih dengan metode stratified systematic random sampling. Tingkat keyakinan pada survei ini adalah 95%.

Berdasarkan hasil survei, 74% atau 111 responden mengikuti Dikpus OSKM 2018. Sisanya—sekitar 39 orang yang mewakili 26% responden—tidak mengikuti Dikpus OSKM 2018. Terdapat nircuplikan sebesar 7,3% terhadap hasil survei pada pernyataan kuantitatif tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa mayoritas TPB 2017 terdaftar sebagai peserta Diklat Terpusat 2018. Persen partisipasi TPB pada Dikpus meningkat jika dibandingkan dengan Dikpus 2017, ketika pesertanya adalah TPB 2016.

 

Ingin Liburan, Alasan Keluarga, dan Kegiatan Lain

Kami menanyakan alasan terkait ketidakikutsertaan 39 responden pada Dikpus 2018. Mayoritas responden (35,9)% menjawab bahwa mereka ingin berlibur. 25,6% responden menyatakan bahwa keluarga adalah alasan mereka untuk tidak mengikuti Diklat Terpusat. 17,9% responden mengikuti kegiatan lain—seperti magang atau sedang mengemban tanggung jawab di kepanitiaan lain—sehingga mereka tidak dapat mengikuti Dikpus. Menariknya, 12,8% responden, secara tersirat maupun tersurat, menyatakan bahwa mereka tidak berminat mengikuti Dikpus.

 

“Katanya, sih, Diwajibkan oleh HMJ.”

Selain menanyakan alasan ketidakikutsertaan, kami juga menanyakan alasan keikutsertaan responden pada Dikpus tahun ini. Hal kelima terbanyak (9%) yang menjadi alasan responden dalam mengikuti Dikpus adalah untuk mendapat relasi. Alasan nomor empat terbanyak (12,6%) responden mengikuti Dikpus adalah untuk mendapatkan pengalaman baru. Alasan nomor tiga dan nomor dua (26,1%) terbanyak adalah karena ingin menjadi panitia OSKM 2018 dan untuk mengembangkan diri.

Alasan terbanyak yang diutarakan oleh responden kami terkait keikutsertaannya pada Dikpus 2018 cukup menarik. 32,4% responden mengikuti Dikpus karena—mereka mendapat informasi bahwa—Dikpus “diwajibkan” oleh “calon HMJ”.

Seberapa pentingkah kegiatan Dikpus dalam keberjalanan orientasi studi jurusan (osjur) HMJ? Mengapa sebagian HMJ mewajibkan calon anggotanya untuk mengikuti Dikpus, tetapi sebagian yang lain hanya sebatas menganjurkan atau tidak mewajibkan?

 

Adhitia Rangga, Kepala Departemen Human Resources MTI: Dikpus Untuk Pemenuhan Profil Kader MTI, Namun Tidak Signifikan

Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) adalah salah satu HMJ ITB yang mewajibkan calon kadernya untuk mengikuti Dikpus.

“(Dikpus diwajibkan—red) dalam rangka pemenuhan profil kader MTI,” ungkap Adhitia Rangga, Kepala Departemen Human Resources (HR) MTI ITB.

Lebih lanjut lagi, profil kader MTI ITB yang dimaksud adalah pemaknaan kemahasiswaan. Adhit beranggapan, lewat Dikpus, calon kader mendapatkan pandangan awal tentang hal tersebut, sehingga saat eksekusi osjur, calon kader cukup dilakukan penyamaan presepsi terkait profil kader yang bersangkutan.

Namun menurut Adhit, Dikpus tidak memberikan efek yang signifikan pada calon anggota dalam mengikuti kaderisasi. Walaupun begitu, Dikpus dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memahami peran mahasiswa secara lebih dalam.

Selain MTI, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) juga mewajibkan calon kadernya untuk mengikuti Dikpus. Dea Prianka, Kepala Divisi Kaderisasi himpunan yang bermarkas di ITB Jatinangor tersebut beranggapan bahwa  Dikpus sangat berguna dalam membantu calon kader dalam mengikuti osjur.

“Kaderisasi bukan cuma dari metode, tapi dari intensitas juga. Dengan adanya kewajiban Dikpus—atau sampai Diklat Divisi (Dikdiv), harapannya starting point mereka tidak dari nol saat PPAB (osjur—red) atau berkemahasiswaan lebih lanjut di HMRH. Performa dan stamina pasti sangat dipengaruhi intensitas berkemahasiswaan, jadi calon-calon anggota HMRH harapannya sudah memiliki stamina dan performa yang cukup untuk berkegiatan yang cukup intens di himpunan,” ujar Depri, sapaan akrab Dea Prianka.

 

Doni Wardoyo, Kepala Departeman Kaderisasi HMS ITB: “Profilnya Bagus Untuk Inisiasi ke Tingkat 3, Tapi Tidak Difokuskan Dulu”.

HMS ITB adalah salah satu HMJ yang tidak mewajibkan calon anggotanya untuk mengikuti Diklat Terpusat.

“Disarankan ikut (Dikpus—red), tapi tidak diwajibkan,” begitu ungkap Doni Wardoyo, Kepala Departeman Kaderisasi HMS ITB.

Doni berpendapat bahwa Dikpus tidak diwajibkan kepada calon kader karena kejaran HMS di profil terpusat tidak terlalu diutamakan. “Saat perumusan tim formatur, saya sudah pantau perkembangan profilnya, kemudian dicocokkan dengan profil untuk tingkat dua yang dirumuskan oleh Departemen Kaderisasi HMS ITB, dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak (mewajibkan Dikpus—red),” jelas Doni kepada Pers Mahasiswa ITB.

 

Artikel oleh Rifqi Khoirul Anam (SI’16)
Survei oleh Tim Litbang Pers Mahasiswa ITB

Share.

Leave A Reply