Student Summit 2018, Ajang Sinergisasi Arah Gerak untuk Pergerakan KM ITB yang Lebih Berdampak

0

ganecapos.com, ITB―Student Summit 2018—langkah awal sinergisasi arah gerak elemen-elemen KM ITB—semakin dekat. Student Summit 2018 yang akan dilaksanakan pada tanggal 2-3 April 2018 dan 10-12 April 2018 diharapkan dapat berjalan dengan mekanisme yang lebih jelas, persiapan yang lebih matang, dan antusiasme massa KM ITB yang lebih tinggi.

Student Summit 2018 diprediksi akan berlangsung dengan hype yang lebih tinggi dibandingkan Student Summit 2016 dan 2017. Ketua Tim Pelaksana Student Summit 2018, Zalza Puspita Arum (KL’16) menjelaskan metode yang telah dilakukan oleh Tim Pelaksana SS dalam meningkatkan antusiasme lembaga-lembaga untuk mengikuti Student Summit 2018.

“Ada beberapa lembaga yang memiliki hype yang tinggi untuk mengikuti SS, ada yang cenderung turun, mungkin karena urgensi dan arah gerak SS yang kurang terasa. Peningkatan hype kami lakukan dengan roadshow lembaga. Dulu roadshow hanya dilakukan ke unit kegiatan mahasiswa (UKM) saja, sementara sosialisasi ke himpunan dan MWA WM dipegang oleh kabinet,” ujar Zalza, Rabu (25/3).

Zalza menyatakan bahwa Tim Pelaksana SS melakukan roadshow pada seluruh lembaga, termasuk UKM, HMJ, dan MWA WM dengan tujuan untuk penyeragaman informasi. Beberapa roadshow oleh Tim SS dilakukan bersama dengan perwakilan dari Kabinet KM ITB, yang bertujuan untuk memulai sosialisasi arah gerak yang diajukan oleh Kabinet KM ITB.

Akan tetapi roadshow yang telah dilakukan ke lembaga-lembaga di KM ITB dinilai belum maksimal. Calon Menteri Koordinator Dinamisasi Kampus, Said Fariz Hibban (ME’14) mengamini hal tersebut. Menurut Iban, Tim SS telah melakukan tanggung jawabnya dalam melakukan sosialisasi urgensi Student Summit dengan baik. Akan tetapi ada ekspektasi lebih yang berusaha dicapai namun tidak berhasil dilaksanakan.

“Ada beberapa hal yang belum sempat tergali dari lembaga saat roadshow, karena kalau boleh jujur ketika roadshow berlangsung, hampir tidak ada perwakilan dari Kabinet KM ITB yang mendampingi. Saat itu ekspektasi teman-teman dari Kabinet adalah melakukan penggalian lebih dalam, tidak hanya membahas seputar SS dan mencoba menggali keinginan tiap lembaga yang mungkin tidak terbahasakan. Sayangnya hal itu belum terlaksana dengan baik, karena waktu itu ada masalah dalam kestabilan kabinet itu sendiri dan Tim SS sudah langsung bergerak dalam approaching lembaga,” ujar Iban, Kamis (26/3).

 

Evaluasi Pelaksanaan Roadshow Lembaga

Iban mengatakan, seharusnya ada lima hal yang disampaikan oleh Tim SS selama roadshow lembaga, yakni urgensi sinergisasi, rancangan mekanisme SS, potensi lembaga yang diharapkan tersampaikan melalui pengiriman dokumen lembaga, ajuan arah gerak dari tiap lembaga, dan ajuan arah gerak yang murni berasal dari kabinet. Akan tetapi poin terakhir tidak jadi disampaikan oleh Tim SS.

“Sebetulnya rencana awal dari sinergisasi arah gerak ini sudah disampaikan oleh teman-teman Tim SS, akan tetapi lembaga belum paham banget, maka kita harus sisipkan ajuan arah gerak dari kabinet setelah berlangsung tanya jawab dengan lembaga selama roadshow. Harapannya setelah interaksi tersebut berlangsung, mereka (lembaga -red) mendapat inspirasi, setidaknya lembaga memiliki gambaran. Sayangnya hal itu tidak terlaksana,” ujar Iban.

Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Zalza. Zalza mengungkap bahwa sebenarnya ada forum sosialisasi yang direncanakan berlangsung pada hari Kamis (22/3) dengan agenda penyampaian ajuan arah gerak yang murni berasal dari pemikiran Kabinet KM ITB sendiri. Akan tetapi forum tersebut batal dilaksanakan karena kabinet sendiri belum siap dalam mengajukan arah gerak.

“Salah satu hal yang juga menjadi kesulitan Tim SS adalah pelaksanaan roadshow yang terjadi dalam kondisi Kabinet KM ITB belum menyiapkan ajuan arah gerak dengan maksimal. Forum sosialisasi terpusat yang direncanakan dilakukan tanggal 22 Maret 2018 juga akhirnya batal karena Kabinet masih belum siap,” ujar Zalza.

Kondisi tersebut membuat Kabinet dan Tim SS terus memutar otak untuk menjamin kesuksesan Student Summit 2018. Pengumpulan dokumen lembaga yang berisi ajuan rancangan sinergisasi dari tiap lembaga akhirnya dilakukan bersamaan dengan pematangan arah gerak yang sudah dirumuskan oleh Kabinet, sehingga forum sosialisasi yang berlangsung pada hari Rabu (28/3) lalu dapat berjalan dengan baik.

 

Forum Sosialisasi 28 Maret 2018, SS1, dan SS2

Zalza menilai Tim SS sebagai tim pelaksana Student Summit 2018 yang memosisikan diri sebagai pihak netral. Pelaksanaan roadshow dan forum sosialisasi 28 Maret kemarin dilakukan “senetral” mungkin. Tim SS mencegah kecenderungan hal-hal yang dapat “menyetir” SS itu sendiri.

“Selama roadshow, kami hanya menyampaikan apa yang dirasa perlu untuk disampaikan sesuai dengan briefing. Ketika ada pertanyaan yang sifatnya “menyetir”, kami memilih untuk tidak menjawab dan meminta lembaga untuk mencantumkan pertanyaan tersebut dalam dokumen lembaga,” ujar Zalza.

Zalza menyatakan bahwa wujud nyata dari pelaksanaan forum sosialisasi Student Summit yang netral adalah dengan memilih moderator yang netral. Definisi pihak netral menurut Zalza adalah seseorang yang merupakan anggota KM ITB yang bisa berasal dari lembaga manapun sepanjang dirinya merupakan sosok yang cerdas dan tidak berpihak.

“Kami memiliki dua prioritas sebagai kriteria memilih moderator. Prioritas pertama adalah mantan senator, karena kami menilai seorang mantan senator sangat memahami Tap Kongres KM ITB. Prioritas kedua adalah mantan ketua himpunan, karena dianggap dapat melihat potensi dan karakter suatu lembaga dari sudut pandang yang lebih luas,” ungkap Zalza.

Kriteria ini akhirnya digunakan oleh Tim SS dalam memilih senator HMT ITB 2017/2018, Agna Magistra (TA’14) sebagai moderator forum sosialisasi 28 Maret kemarin. Sampai hari Rabu (28/3) kemarin, Zalza mengungkapkan kepada Ganeca Pos bahwa pencarian moderator untuk SS1 dan SS2 masih dilakukan. Akan tetapi Zalza mengatakan bahwa Tim SS terus berusaha untuk memahami karakter lembaga dan mengantisipasi adanya pihak yang kemungkinan akan mencoba untuk “menyetir” forum SS.

 

Perbedaan Student Summit 2018 dengan SS Sebelumnya

Ketika ditanya mengenai hal yang membedakan Student Summit 2018 dengan SS sebelumnya, Zalza berpendapat bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan yang berarti antara SS tahun ini dengan SS tahun-tahun sebelumnya. Zalza mengatakan bahwa pada dasarnya seluruh mekanisme SS tahun ini dilakukan sesuai dengan Tap Kongres KM ITB No. 003 Tahun 2018. Satu-satunya hal yang membedakan SS tahun ini dan SS tahun-tahun sebelumnya menurut Zalza adalah adanya mekanisme pengawasan yang baru pertama kali diadakan dalam sejarah Student Summit ITB.

“Metode pengawasan yang dilakukan adalah penugasan kepada Kabinet KM ITB untuk membuat Tim Pengawasan yang bertugas untuk mengawasi pelaksanaan arah gerak. Arah gerak tersebut nantinya disetujui oleh lembaga-lembaga yang memutuskan untuk menandatangani persetujuan dalam Student Summit dan berkomitmen untuk berkontribusi selama satu tahun ke depan. Tim Pengawasan ini berada di bawah Deputi Sinergisasi Arah Gerak Kemenkoan Dinamisasi Kampus (Dinpus) dan berkedudukan setara dengan Tim Pelaksana SS,” ujar Zalza.

Iban menyoroti Student Summit dari sudut pandang sejarah narasi sinergisasi dalam KM ITB itu sendiri. Menurut Iban, usaha untuk berkolaborasi melalui sinergisasi sebetulnya sudah berlangsung sejak lama.

“Narasi sinergisasi ini waktu itu pertama kali diusulkan pada saat Kabinet KM ITB masa kepengurusan Herry Dharmawan (AE’06) dengan nama KM ITB Summit. Selain itu saat forsos saya menunjukkan juga dokumen Artefak Ganesha, bahwa pada tahun 2001 pun juga ada (narasi sinergisasi -red), namanya Muker KM ITB. Ternyata narasi-narasi kolaborasi itu sudah banyak, hanya saja di tahun 2016 dan 2017 lalu, dan mungkin sampai sekarang, masih muncul pertanyaan untuk apa kita perlu kolaborasi dan sinergisasi. Saya melihat pemahaman esensi kolaborasi dan sinergisasi itu sendiri belum didapatkan lembaga,” ujar Iban.

Iban menilai Student Summit 2016 yang diketuai oleh Harridhi Dzar Tazakka (MS’14) pada awal kepengurusan Kabinet Nyala KM ITB yang diketuai oleh Mahardhika Zein (SI’12) masih menjadi forum guyub-guyub antarlembaga dan ajang ‘pamer proker’ saja. Alhasil Student Summit 2016 tidak memiliki hal yang jelas untuk dikolaborasikan.

“Hal seperti itu terjadi sesimpel karena KM ITB saat itu masih belum paham dengan nuansa pergerakan sinergis itu seperti apa,” ujar Iban.

Mekanisme Student Summit yang lebih matang baru terjadi pada awal kepengurusan Kabinet Suarasa KM ITB yang diketuai oleh Ardhi Rasy Wardhana (TA’13) di tahun 2017. Menurut Iban, kabinet Ardhi telah berhasil menjadi inisiator dalam memunculkan poin-poin arah gerak, yang dianggap merupakan hal yang baru dan belum pernah ada sebelumnya. Akan tetapi Iban juga menganggap Student Summit 2017 yang diketuai oleh Ruth Stephanie (MT’15) tersebut kurang dipropagandakan dengan baik. Namun Iban juga menyoroti kurangnya transfer informasi mengenai urgensi sinergisasi setiap kali regenerasi kepengurusan suatu lembaga berlangsung.

Menurut Iban, ada dua hal yang melatarbelakangi kurangnya kesadaran lembaga dalam KM ITB untuk melakukan sinergisasi. Pertama, adanya anggapan bahwa sinergisasi dan Student Summit adalah kepentingan kabinet saja, bukan kepentingan KM ITB. Hal ini terutama disebabkan karena adanya dorongan secara tidak langsung dari Kongres KM ITB kepada tiap lembaga pada tahun 2016 untuk mempercepat periodisasi kepengurusan sebelum bulan Januari, demi kelancaran sinergisasi. Penyebab kedua adalah kurangnya keinsafan tiap lembaga dan individu sebagai bagian dari KM ITB itu sendiri.

“Ada satu hal yang ingin saya coba untuk guncangkan, yaitu pergerakan lembaga yang cenderung menuju ke arah internal saja. Sejatinya gerakan internal lembaga tidak akan pernah selesai, karena setiap tahunnya orang-orang yang mengisi kepengurusan suatu lembaga akan terus berganti. Seharusnya kita tidak perlu takut untuk melakukan pergerakan eksternal sekecil apapun,” kata Iban.

 

Harapan

Zalza menyatakan bahwa sebetulnya lembaga-lembaga di KM ITB membutuhkan suatu bentuk sinergisasi dan kolaborasi dengan lembaga, hanya saja diperlukan suatu wadah untuk mewujudkannya. Zalza mengajak massa KM ITB untuk menumbuhkan kesadaran tentang sinergisasi itu sendiri.

“Cobalah untuk pahami sinergisasi itu dulu, untuk siapa sinergisasi ini dilakukan, dan tanyakan apakah sinergisasi ini untuk kepentingan pribadi tiap lembaga atau kepentingan bersama. Tim SS sendiri telah merelakan status mereka di lembaga karena memiliki cita-cita yang sama untuk KM ITB yang lebih baik,” pesan Zalza.

Iban juga memiliki optimisme yang tinggi akan adanya sinergisasi sebagai wujud dinamisasi kampus. Sinergisasi arah gerak ini bagi Iban sebenarnya memiliki tujuan yang sederhana, yakni untuk pergerakan KM ITB yang lebih masif dan lebih berdampak.

“Kalau seandainya KM ITB hanya menjadi suatu komunitas, tetapi inti-inti dari komunitas itu bergerak masing-masing, tidak akan ada suatu pergerakan yang berdampak besar dan tepat sasaran. Kalau seandainya ada kolaborasi antarelemen KM ITB, akan timbul suatu pelangi pergerakan yang kuat, sehingga timbul suatu keindahan yang baru dan suatu bargain power dari orang-orang yang memiliki kekuatan masing-masing,” jelas Iban.

 

Kontributor: Michael Hananta Utomo (BE’16), Sachrul Wahyu Hidayat (FTTM’17), Hanifah Zalfa (SAPPK-C’17)

Share.

Leave A Reply