Menghidu Dunia Olfaktori Lewat Aroma Karsa

0

ganecapos.com—Aroma Karsa, novel terbaru dari penulis ternama Dewi Lestari atau kerap disapa Dee beredar di pasaran sejak Maret lalu. Novel ini berkisah tentang orang-orang yang memiliki sensitivitas lebih terhadap bebauan. Berfokus pada kemampuan olfaktori, Aroma Karsa sukses mendobrak lewat tema baru yang masih jarang diungkit.

Janirah Prayagung, seorang tua yang merupakan eyang dari Raras Prayagung, menjadi tokoh pembuka dalam Aroma Karsa. Dikisahkan bahwa Janirah merupakan anak pengawal di Keraton Yogyakarta, dan dengan kelihaiannya berhasil mencuri tube berisi pasta sari Puspa Karsa, dan sebuah prasasti lontar tentang Puspa Karsa. Sari Puspa Karsa yang memiliki kekuatan khusus yang dapat mengubah hidup, bahkan dunia, ini diwariskan pada cucunya, Raras, di penghujung hidupnya.

Setting kemudian berganti dengan tokoh Jati Wesi, pemuda yang besar di TPA Bantar Gebang, dengan kemampuan indera penciuman yang sangat kuat. Bekerja di toko parfum tiruan, Jati ditangkap setelah memalsu parfum Kemara, perusahaan milik Raras Prayagung. Alih-alih dipenjarakan, Jati malah dipekerjakan oleh Raras di Kemara, juga diminta tinggal di paviliun rumah Raras, yang kini sudah cukup tua dan memiliki seorang anak, Tanaya Suma.

Tak dinyana, Suma memiliki kasus olfaktori yang sama dengan Jati. Menemukan Jati dengan kemampuan yang sama dan diperlakukan khusus oleh Raras, Suma merasa terancam.

Raras sendiri merupakan tokoh yang penuh ambisi. Keinginan kuatnya mendorong berjalannya Ekspedisi Puspa Karsa, yang ternyata menantang mara bahaya dan menguak rahasia besar. Hanya saja, kisah ekspedisi ini tidak mengambil banyak porsi, terdapat di sebagian akhir buku.

Ambisi, romansa, sejarah, dan misteri mewarnai lika-liku dalam novel setebal 724 halaman ini. Adanya unsur sejarah pada Aroma Karsa menambah daya tarik novel ini bagi pembacanya. Mengandung hal yang tidak biasa, karya Dee yang juga diterbitkan secara digital berformat cerbung ini mengundang rasa penasaran khalayak.

 

Terbit dalam Dua Bentuk

Aroma Karsa yang lahir melalui riset cukup panjang diterbitkan dalam dua bentuk, yakni digital dan cetak. Versi digitalnya telah hadir jauh lebih dulu di tangan pembaca, tepatnya sejak Januari lalu melalui situs bookslife.co. Berbentuk cerita bersambung (cerbung), Aroma Karsa digital memberikan pengalaman membaca tersendiri bagi pelanggannya. Terbit setiap hari Senin dan Kamis, pembaca harus menyimpan rasa penasarannya, karena perlu menanti bagian selanjutnya diunggah.

Dee memberikan wadah bagi pelanggan Aroma Karsa digital untuk bertukar cerita tentang sensasi membaca—dan menunggu—Aroma Karsa. Wadah ini adalah sebuah grup Facebook yang dinamai Digital Tribe Aroma Karsa, dan yang dapat menjadi anggota hanyalah yang merupakan pelanggan penuh, bukan pembeli satuan tiap bagian. Mengikuti obrolan di Digital Tribe Aroma Karsa juga memberi pengalaman berbagi rasa, melihat orang-orang senang, antusias, atau bersedih setelah membaca bagian yang pilu.

Barulah ketika edisi digital hampir tamat, Aroma Karsa edisi cetak diterbitkan. Adanya edisi digital bertujuan memberi pengalaman baru dan memanfaatkan perkembangan zaman. Sedangkan, edisi cetak sudah memiliki pasarnya dan akan tetap digandrungi. Keduanya—digital maupun cetak—memiliki sensasinya sendiri. Bertualang menjelajah dunia penciuman yang jarang diangkat kendati merupakan indera paling primitif meninggalkan kesan yang memikat.

 

Kontributor: Haura Zidna Fikri (PL’16)

Share.

Leave A Reply