Festival Tamansari Melawan II: Puing Kota dan Ingatan

0

Suara Ibu-Ibu Tamansari, sebuah paduan suara yang dibentuk mandiri oleh ibu-ibu warga RW 11 Tamansari yang menolak pembangunan rumah deret

ganecapos.com, Bandung―Di antara reruntuhan penggusuran, di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, warga Tamansari yang menolak penggusuran tetap bernyanyi dan berpuisi pada Festival Tamansari Melawan, pukul 19.00—22.00 WIB, Minggu (08/04/2018). Membawa tema “Puing Kota dan Ingatan”, Festival ini mengikutkan para aktivis dan masyarakat yang bersolidaritas dengan pergerakan Tamansari Melawan. Maraton Puisi dilaksanakan sebagai kegiatan utama pada festival ini, dengan agenda pembacaan puisi, musikalisasi puisi, teaterikal puisi, dan nyanyian kemanusiaan.

Aktivis Tamansari Melawan tergabung dalam organisasi Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP) bertindak sebagai pengorganisasi Festival Tamansari Melawan. Festival ini bukanlah festival yang pertama dilaksanakan dengan nama Festival Tamansari Melawan. Pada Sabtu (24/02/2018), juga telah dilaksanakan festival dengan nama yang sama, mengangkat kegiatan musik, ngariung, teater, live mural, lapakan buku dan kajian ruang kota. Sesuai dengan tujuan pada festival yang pertama, festival yang kedua juga dilaksanakan untuk “aktivasi ruang”—sebuah istilah yang mendeskripsikan penghidupan kembali kegiatan-kegiatan masyarakat di ruang yang tidak hidup lagi, dalam kasus ini, lokasi penggusuran di RW 11 Tamansari.

Berbagai individu dari segala komunitas hadir dalam festival. Individu- individu dari Lingkung Seni Mahasiswa (Lisma) Universitas Pasundan, Sastra Rakyat Bandung, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung turut terlihat berpartisipasi dalam acara ini. Orang-orang yang peduli dengan isu penggusuran dalam kota juga ikut merayakan festival ini.

Puing Kota dan Ingatan

Pada pukul 19.00 WIB, beberapa orang yang menjadi panitia tengah menyiapkan acara. Lapak yang menjajakan buku-buku mengenai pembangungan ada di sebelah panggung. Buku-buku ini bebas dibaca oleh pengunjung yang datang. Juga, merchandise yang bertema aktivisme dijual di sana, untuk membiayai kegiatan Tamansari Melawan.

Tidak lama setelahnya, pengunjung—yang sebagian besar adalah anak muda—telah duduk di atas puing rumah-rumah, dialasi dengan terpal. Pembawa acara kemudian segera memulai festival.

Pertama, Saiful, salah satu pembawa acara, menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Mengganggu”. Ia terinspirasi oleh cerita warga korban penggusuran Bandara Kulon Progo. Saiful ikut mendukung pergerakan masyarakat yang melawan penggusuran tersebut dan memprotes pencabutan aliran listrik oleh PLN kepada warga yang masih bertahan.

Pengunjung masih berdatangan saat itu. Panitia acara menambah terpal dan kasur yang dirangkap menjadi tempat duduk tepat di depan panggung.

Suara Ibu-Ibu Tamansari—suatu paduan suara yang dibentuk mandiri oleh ibu-ibu RW 11 Tamansari yang tidak setuju terhadap pembangunan rumah deret—melanjutkan acara. Lagu-lagu perjuangan, seperti “Darah Juang” dan “Buruh Tani” ikut dinyanyikan oleh ibu-ibu ini. Lagu buatan sendiri “Tamansari Juang” dan lagu pop “Kemesraan” didendangkan. Yang sangat menarik hati ketika mereka berpentas adalah bagaimana mereka bersenandung dengan hati.

Cahaya dari lampu sorot dan proyektor yang remang-remang menemani jalannya maraton puisi. Pembacaan puisi dalam maraton bebas dilakukan siapa saja yang ingin mempertunjukkan desak hatinya lewat puisi.

Puisi “Ibunda” oleh Wiji Thukul, “Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon” oleh W.S. Rendra, Surat dari Che Guevara untuk Kawan-Kawan Muda disuarakan di atas panggung, seakan memberi kehidupan pada puing-puing rumah di tengah kota dan membangkitkan ingatan akan perjuangan untuk kebebasan.

Panggilan keresahan akan penggusuran—salah satu rangkaian akhir pertunjukan yang dilakukan oleh aktivis

Segala emosi meluap malam itu: kegelisahan, amukan, sukacita, dan cinta kasih. Mahasiswa dan pemuda dipanggil untuk ikut dalam usaha aktivis Tamansari Melawan. Tepuk tangan penonton mengiringi setiap pertunjukan.

 

Kontras Pembangunan dan Penggusuran

Festival Tamansari Melawan ini memberikan kontras terhadap pembangunan urban Kota Bandung dan realitas penggusuran yang datang di baliknya. Konstras semakin kuat bila kita lihat bahwa panggung festival sederhana berada di bawah sinaran logo Baltos di gedung Balubur Town Square. Kehidupan seperti berjalan biasa di sekitar reruntuhan penggusuran: masyarakat sekitar tetap berkumpul di Taman Film dan pedagang kaki lima masih menjajakan dagangannya. Akan tetapi, warga Tamansari berkumpul di panggung untuk menyuarakan buah pikirannya. Festival ini memberikan suatu pengalaman tak bernilai yang tersembunyi bagi sebagian besar masyarakat Kota Bandung, tetapi nyata bagi yang mengalaminya.

Remang cahaya Balubur Town Square menemani pengunjung festival

Sajak-sajak yang diungkapkan tampaknya juga menggarisbawahi kontras ini. Misalnya, pada pembacaan sajak “Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon” W. S. Rendra, ditemui banyak majas antitesis yang mempertentangkan anggapan bahwa pembangunan berjalan dengan baik dengan kenyataan zamannya. Walaupun ditulis pada tahun 1977, larik-larik sajak tersebut makin menggambarkan keadaan yang dialami warga RW 11 Tamansari yang menolak penggusuran. Sesuai dengan nama kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Puisi yang juga memuat sajak tersebut, sajak ini memotret pembangunan sekarang.

 

Kontributor: M. Fawwaz Abiyyu Anvilen (FTI ’17)

Share.

Leave A Reply