Meresapi yang Tak Kasat Mata Lewat Sekala Niskala

0

“Sepertinya, saya yang jadi bulannya. Terang sekali. Tetapi, lama-kelamaan terangnya menghilang.”

“Saya tidak melihat kamu meredup. Kamu bersinar terang seperti bulan purnama.”

ganecapos.com‒Begitulah secuplik dialog dari Tantra dan Tantri dalam Sekala Niskala, pemenang kategori Generation Kplus dalam ajang bergengsi 68th International Berlin Film Festival atau Berlinale pada Februari lalu. Film besutan sutradara Kamila Andini ini mengisahkan tentang Tantra (Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena) dan Tantri (Ni Kadek Thaly Titi Kasih), sepasang kembar yang sangat dekat. Di awal film, dikisahkan Tantra mengidap penyakit, yang menyebabkan inderanya tidak berfungsi. Kendati begitu, kedekatan Tantri dan adik kembarnya, Tantra, tidak lantas terusik. Di sinilah hal-hal yang mungkin tak kasat mata, justru menggambarkan gerak laku kedua tokoh yang bertalian erat, menari dan melakukan hal menyenangkan lain bersama-sama.

Film yang sebagian besar percakapannya berbahasa Bali ini menampilkan sisi lain dari yang terlihat lewat long shot dan scene-scene panjang. Dengan alur lambat, penonton diajak masuk ke dalam kehidupan tokoh, merasakan berada pada kejadian yang dimainkan. Akan tetapi, penonton mungkin sedikit bosan karena adegan yang statis dan berlangsung lama. Terlebih, alur film sebagian besar berputar pada siang-malam kehidupan Tantra dan Tantri untuk menunjukkan secara intens keindahan persaudaraan mereka ketika gelap datang. Film ini pun tidak banyak menggelar dialog antartokoh.

Dengan latar Pulau Dewata, Sekala Niskala tidak lantas mengekspos keindahan alam secara berlebihan. Pengambilan gambar yang kebanyakan berada di area rumah sakit dan persawahan justru membuat film ini terkesan bersahaja. Meskipun latarnya “itu-itu saja”, sinematografinya yang menawan patut diacungi jempol.

Pemeran utama dari film yang juga memenangkan Grand Prize pada Tokyo Filmex International Film Festival 2017 yakni Thaly Titi Kasih dan Gus Sena merupakan seniman yang berbakat dalam menampilkan seni tari. Dengan koreografi yang apik serta para penari cilik yang tak kalah mahir, tarian yang disajikan tentu mampu menghibur penonton. Ditambah lagi, lagu-lagu Bali yang dinyanyikan Tantri maupun sang ibu menggiring penonton untuk terhanyut dalam suasana.

Banyak nilai luhur yang terkandung dalam 86 menit durasi film ini, seperti bagaimana semestinya saudara saling menyayangi. Atau, tentang ketabahan orang tua meski dirundung duka dan problema pelik. Pada akhirnya, Sekala Niskala mengajarkan bahwa pertalian saudara dapat sedemikian eratnya, di dimensi niskala atau yang tak kasat mata sekalipun.

 

Kontributor: Haura Zidna Fikri (PL’16)

Share.

Leave A Reply