Relokasi PKL Jalan Ganesha: Suara Hati dan Harapan Pedagang

2

ganecapos.com, ITB – Menjelang perayaan usianya yang ke-100 tahun, ITB dirasa perlu melakukan penataan kawasan disekitarnya. Sebenarnya, penataan telah sering kali direncanakan pada masa-masa sebelumnya walaupun belum dieksekusi hingga kini. Namun kali ini, ITB tampak cukup serius untuk melakukan program penataan kawasan Jalan Ganesha dengan memberikan amanat tersebut kepada Alumni ITB angkatan 1977 (Angkatan ’77). Proses penataan ini terdiri dari banyak rancangan, salah satunya yang menarik untuk dibahas adalah relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang saat ini beroperasi dipinggir Jalan Ganesha.

Pada bulan November tahun lalu, tepatnya hari Sabtu (7/10), diadakan pertemuan berupa diskusi dan rapat mengenai penataan Jalan Ganesha antara pihak alumni Angkatan ’77 dan perwakilan PKL, yaitu Bapak Mujahidin (Kepala Koperasi Makmur Jaya) dan Bapak Rohendi (Humas Paguyuban PKL Gapura Ganeca). Pertemuan ini diadakan di Kantor Senat Akademik ITB di Jalan Dipati Ukur. Pak Mujahidin mengatakan, pertemuan tersebut membahas tentang rencana relokasi PKL Ganesha ke Jalan Gelap Nyawang. Nantinya, akan dibangun gedung bertingkat di daerah Gelap Nyawang sebagai tempat PKL berdagang. Pak Mujahidin mengakui, saat itu belum ada keputusan yang diambil diantara kedua belah pihak dan masih sebatas kesepahaman saja.

Sejak pertemuan tersebut, keduanya mengakui tidak pernah ada kontak lagi antara pihak PKL dan Angkatan ’77. Pak Mujahidin mengatakan, “sayangnya kita memang nggak nyimpen kontak pihak Angkatan ’77 nya. Jadi setelah itu memang nggak ada kontak dan kabar lagi (dari pihak Angkatan ’77) dan kitanya juga nggak ada kontak untuk menghubungi.”

Pada dasarnya, pihak PKL menyetujui rencana Angkatan ’77 tersebut, namun tetap ada pertimbangan-pertimbangan tertentu. ”Kami sebenernya siap dan setuju, asalkan dalam prosesnya tidak mengganggu aktivitas kami berjualan. Kami mencari makan besok ya dari hasil hari ini. Kalo keganggu sehari atau bahkan dua hari, bisa merugikan kami,” jelas Pak Rohendi. “Nanti kalo ada pembangunan gedung di Gelap Nyawang, kan pedagang disana juga pasti keganggu. Jadi kalau bisa, ada sistem dimana pembangunan tetap berjalan tetapi pedagang tidak terganggu, agar sama-sama enak.”

Pak Mujahidin juga memberikan tanggapan yang serupa. Dirinya mengaku mendukung proyek yang direncanakan Angkatan ’77 ini. Ia juga mengapresiasi cara pendekatan yang dilakukan Angkatan ‘77 saat pertemuan pada November lalu yang dinilai lebih baik dibandingkan pendekatan-pendekatan yang dilakukan pengurus penataan kawasan terdahulu. “Pada dasarnya kita nggak ada masalah, yang penting kita tetep bisa mencari nafkah. Yang penting kebutuhan anak dan keluarga kami masih bisa kami penuhi,” jelasnya.

Selain itu, pihak PKL tidak ingin pengalaman buruk di masa lalu terulang kembali. “Dulu pernah juga ada rencana relokasi waktu awal tahun 2003. “Kami semua sudah pindah, eh malah nggak ada apa-apa. Bahkan jadinya ada pedagang baru yang muncul,” jelas Pak Rohendi. Dirinya mengakui mengalami kerugian yang cukup signifikan pada saat itu karena sempat tidak berjualan dan akhirnya berpengaruh pada nasib keluarganya. Kedua anak tertuanya terpaksa menghentikan cita-cita tinggi mereka dan menyelesaikan pendidikan sebatas tingkat D2 dan SMA saja. Bahkan saat mengurus kelulusan keduanya Pak Rohendi sudah kesulitan akibat kekurangan uang.

Menurut Pak Rohendi, yang paling ia harapkan pada proyek kali ini adalah adanya kepedulian. Dirinya menginginkan, relokasi dan penataan ini mengutamakan rasa kepedulian dibandingkan dengan faktor-faktor lain. “Kalau dasarnya kepedulian, pikiran kami akan cenderung positif bakal dibawa ke keadaan yang lebih baik. Nah, siapa sih yang nggak mau dibawa ke keadaan yang lebih baik?” jelasnya. Dirinya juga masih percaya dengan sivitas akademika ITB dan yakin teknologi yang mereka pelajari pasti digunakan untuk keperluan masyarakat umum.

Pada kesempatan lain, Bapak Dwi Riyatno selaku Sekretaris Paguyuban PKL Gapura Ganeca menjelaskan, “secara garis besar, bagaimana keterlibatan PKL disini masih belum jelas. Karena memang belum ada kabar apa-apa dari pihak Angkatan ’77 (setelah pertemuan pada bulan November 2017), kami belum berani menyikapi lebih jauh karena takut malah jadi ke-geer-an. Tetapi kami juga ingin menyiapkan diri, sehingga kami nggak bingung pas proyeknya mau dilakukan.”

Dirinya mengaku sempat mencoba mengirimkan surat untuk meminta mediasi perihal relokasi tersebut, namun masih belum ada tanggapan. Intinya. Menurut Pak Dwi, pihak PKL saat ini menginginkan kejelasan keberjalanan proses ini. Dirinya mengatakan, pihak PKL menginginkan adanya komunikasi dua arah yang baik antara pihak PKL Ganesha dan Angkatan ’77. Komunikasi ini diharapkan dapat menghapus kegelisahan-kegelisahan yang mungkin muncul di kalangan PKL.

Kontributor: Afif Hamzens (FT’15), Hamdi Alfansuri (PL’15), Hanifah Zalfa (SAPPK-C’17), Likha Itsmawati (FTI’17), Restu Lestari (SITH-S’17)

Share.

2 Comments

Leave A Reply