IP Fest 2018, Meningkatkan Ketahanan Energi Melalui Kolaborasi Inovatif

0

IP Fest 2018 (Integrated Petroleum Festival) adalah rangkaian acara yang dibentuk oleh kolaborasi antara HMTM “PATRA” dan alumnus Teknik Perminyakan ITB. IP Fest 2018 diselenggarakan pada hari Sabtu, 24 Februari 2018 di Aula Timur ITB. Tahun ini, IP Fest digelar dengan mengusung tema “Enhancing Energy Resilience through Innovative Collaboration between Stakeholder in the Gas Era”, yang berfokus pada peningkatan ketahanan energi di bidang sumber daya gas. IP Fest 2018 terdiri dari dua acara utama, yaitu lomba dan IP Convex (Integrated Petroleum Convention and Exhibition). IP Convex terdiri dari dua acara utama, yaitu seminar dan pameran tentang teknik perminyakan.

Terdapat empat pembicara yang hadir pada acara seminar. Pembicara pertama, yaitu Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, pernah menjabat sebagai Menteri ESDM periode 2000 – 2009 dan Menteri Pertahanan periode 2009 – 2014. Materi yang disampaikan adalah tentang perkembangan industri gas di Indonesia, terutama hal-hal yang terkait dengan harga gas dan investasi di bidang tersebut.

Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Purnomo, kemajuan pada industri gas di Indonesia dapat dilihat berdasarkan data yang ditampilkan.  Data-data tersebut membahas perpindahan kebutuhan dan kesediaan dari minyak ke gas, perpindahan dari ekspor ke domestik, serta SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) dari keberadaan industri gas di Indonesia pada saat ini.

Pembicara kedua, yaitu Waras Budi Santosa, adalah orang yang sedang menjabat sebagai Kepala Divisi Komersialisasi Minyak dan Gas Bumi saat ini. Banyak hal yang diulas, utamanya terkonsentrasi pada optimalisasi pemanfaatan gas untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional. Dengan data-data yang dipaparkan, tampak bahwa Indonesia hanya memiliki 1,6% cadangan gas dunia, meskipun hasil produksinya mencapai 7,1% produksi gas dunia. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan eksplorasi, karena sejauh ini masih banyak daerah di Indonesia bagian timur yang belum dieksplor. Namun, terdapat beberapa hambatan yang menghalangi diadakannya eksplorasi tersebut.

Waras mengemukakan bahwa kesulitan yang terjadi dapat dikarenakan infrastruktur yang kurang memenuhi. Selain itu, sistem administrasi di Indonesia yang teramat rumit juga dapat menjadi hambatan. Untuk melakukan eksplorasi, dibutuhkan setidaknya lebih dari 300 surat izin yang harus diajukan sebelum diizinkan untuk melakukan eksplorasi. Hal ini dapat berpengaruh pada terhambatnya perkembangan industri gas di Indonesia.

Pembicara ketiga adalah Bambang Iswanto, yang sedang menjabat sebagai Wakil Presiden Pengembangan Reservoir di British Petroleum, yaitu sebuah perusahaan energi yang berasal dari London, Inggris. Penjelasan dimulai dengan pemaparan tentang kondisi Indonesia sekarang ini, kemudian membahas prospek-prospek industri gas di Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dengan memaparkan hal-hal yang ingin dilakukan PT. BP di Indonesia, seperti potensi apa yang ingin mereka kembangkan, tantangan apa yang akan dihadapi ke depannya, program-program berkelanjutan yang ingin dibawa beserta dampaknya, dan lain sebagainya.

Pembicara keempat adalah Salis Aprilian, yang saat ini menjabat sebagai Technical Expert and Strategic Advisor di PT Pertamina (Persero). Salis menjelaskan bahwa Pertamina saat ini tidak hanya berfokus pada minyak saja, tetapi juga mulai mengembangkan sayap ke energi alternatif lainnya, salah satunya adalah gas. Sepanjang penjelasan, ditunjukkan data berupa grafik mengenai berkurangnya jumlah produksi minyak dan meningkatnya produksi gas di Indonesia dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini. Dikarenakan hal tersebut, diperlukan adanya pengembangan di sektor gas bumi perihal sumber, industri, dan harga.

Kemudian, dijelaskan tentang hal-hal yang dilakukan oleh PT. Pertamina (Persero) dalam pengelolaan sumber daya gas. Faktor-faktor yang perlu dipikirkan dalam industri gas juga dipaparkan, termasuk bagaimana PT. Pertamina (Persero) ingin merubah cara pandang masyarakat dalam bidang LNG (Liquefied Natural Gas). Salis juga menyatakan bahwa aplikasi LNG di dunia sudah terdiversifikasi, sehingga industri gas tidak hanya dibangun untuk menghasilkan sumber energi, tetapi juga beragam fungsi lainnya.

Sepanjang seminar berlangsung, terdapat model tiga dimensi dari desain alat yang dapat dilihat oleh para pengunjung, beserta poster edukatif dan foto-foto terkait. Secara keseluruhan, acara ini berjalan dengan sangat baik dan dapat menambah pengetahuan bagi mereka yang tertarik berkarir di bidang industri gas, baik dari sudut pandang ekonomi, manajemen, maupun teknis.

 

Kontributor: Puti Fauzia Imani (IL’16), Rifqi Khoirul Anam (SI’16)

Share.

Leave A Reply