Garnama Adam dan Kisah Dibalik Usaha Dagang Seikhlasnya

1

ganecapos.com, ITB – Ditengah-tengah kesibukan dan dinamika berkegiatan di kampus, tak jarang mahasiswa ITB meninggalkan salah satu dari tiga kebutuhan dasar manusia yaitu makan. Berbagai alasan menjadi penyebab mahasiswa mengabaikan kebutuhan biologis ini dan yang paling umum, adalah masalah waktu dan uang. Kesibukan kuliah dan kegiatan lainnya di kampus menuntut pengorbanan waktu mahasiswa dan waktu makan adalah yang paling sering dikorbankan. Terlebih lagi, sebagian mahasiswa harus mengatur keuangan mereka dengan sangat ketat sehingga terpaksa mengurangi biaya makan. Untungnya, seorang pemuda berhasil memberikan pertolongan untuk masalah pelik ini.

Garnama Adam, sosok dibalik usaha dagang seikhlasnya (ARI)

Garnama Adam, atau Adam sapaan akrabnya, adalah sosok yang dikenal mahasiswa ITB sebagai “Si penjual makanan seikhlasnya”. Adam lah yang sering kita lihat berkeliling ke setiap sudut kampus, menjajakan barang dagangannya berupa makanan-makanan dengan porsi yang cukup mengganjal perut dan dengan harga yang dibebaskan kepada pembelinya alias “bayar seikhlasnya”. Melalui usahanya, pemuda asli Bandung alumnus Jurusan Ilmu Pemerintahan salah satu perguruan tinggi ini mampu menolong mahasiswa yang kekurangan baik waktu maupun uang untuk mendapatkan makanan secara mudah sehingga dapat menjalani aktivitas tanpa terganggu rasa lapar.

Konsep bisnisnya yang unik ini ternyata memiliki latar belakang yang cukup menarik. Adam mengaku dirinya telah mulai berjualan sejak masih duduk di bangku SMA. Ia melakukannya karena suka dan memiliki harapan dapat menjadi pengusaha suatu saat nanti. Ketika dirinya mulai kuliah, usahanya sempat terhenti karena kesibukan perkuliahan. Namun menjelang kelulusannya, Adam tergerak untuk kembali melanjutkan bisnisnya.

Awalnya dia mulai mencoba berjualan kripik, “tapi gagal, rugi banget,”kata Adam. “Kemudian saya mulai coba jualan kaos dan baju. Agak optimis awalnya, tapi gagal lagi. Setelah itu sempat mikir untuk nyerah. Yaudahlah mending jadi pegawai saja dan ngelamar kerja. Tapi saya kemudain mikir lagi. Hidup kan cuman sekali, kalau nggak dimaksimalin ya istilahnya kaduhung, gabisa diulang lagi.”

Salah seorang temannya lalu mencoba membantunya untuk tidak menyerah dengan memberikan Adam sebuah buku agar dapat memotivasi dirinya. Buku itu berjudul Rasulullah’s Business School. Melalui buku ini, Adam mendapatkan pelajaran berharga. “Dari yang saya baca, ternyata orang-orang yang gampang nyerah dan gampang bisnisnya hancur itu karena hanya mikirin uang. Dan kerasa oleh saya juga karena itulah saya dulu sering rugi,” tutur Adam. Dia juga diberi nasihat oleh koleganya,”kalau bisnis jangan mikirin uang, orientasinya ke akhirat. Dapat (untung) dunia mah itu bonus saja tapi jangan fokusnya kesana,” jelasnya.

Sejak saat itu, Adam mulai merubah konsep bisnisnya. Namun, perjalanannya tidaklah mudah. Setelah wisuda, uang yang ia miliki hanya berkisar Rp. 200.000,-. Ia tidak ingin meminta uang lagi dari orangtuanya karena malu. Sempat terpikir olehnya untuk meminta pinjaman ke bank, namun ia tidak memiliki apapun sebagai jaminan. Jika ingin berhasil, ia harus memanfaatkan uang yang ia miliki dengan maksimal. Tapi, dia masih bingung mengenai usaha apa yang akan dia lakukan.

Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan skill lain yang ia miliki: memasak. Berbekal petunjuk dari video di situs Youtube, dia memasak beberapa jenis makanan dan mulai menjajakannya secara cuma-cuma. Adam tidak lagi menaruh harga pada dagangannya dan menjualnya seikhlasnya. Dirinya mengaku pasrah mengenai rugi atau untung yang akan dia dapatkan dan mulai menjalankan sistem bisnis yang ia pelajari sebelumnya. Usahanya ini dia mulai sejak Februari tahun lalu.

Kesulitan yang dihadapi tidak berhenti sampai disitu. Perlu beberapa waktu baginya untuk berhasil membuat masakan yang lebih enak. Dia sempat bekerja sama dengan salah satu koleganya, namun kerja sama itu terhenti ditengah jalan karena kondisi kesehatan rekannya. Beberapa temannya meragukan dan menyangsikan usahanya akan berhasil. Respon konsumen pun pada awalnya kurang ramah. Bahkan orangtua Adam awalnya tidak merestui usaha anaknya. “Waktu awal-awal sempet (orangtua) nggak setuju. Mereka pengen saya lebih fokus kerja yang lain. Dan selama belum direstui itu, saya memang gagal terus. Akhirnya mungkin karena udah kasihan juga, terutama ibu saya, mereka jadi balik nyemangatin. ‘Yaudah sok diseriusin’ kata mereka begitu,” tuturnya.

Adam mengakui, usaha dagangnya mulai lancar setelah mendapat restu orangtuanya. Hingga saat ini, Adam belum pernah menderita kerugian dari usahanya ini. Makanan yang ia buat dan jual semakin bervariasi tidak hanya nasi goreng, tetapi juga mie goreng, nasi daging lada hitam, chicken wings, dan lain-lain. Setiap hari, dirinya mampu menjual sekitar 130 porsi makanan dan hampir selalu habis. “Kalau ada sisa jualan, biasanya saya titip ke marbot di salman,” jelas Adam. Ketika dia mulai memindahkan lokasi dagangnya di ITB, dia mengaku mendapatkan respon yang lebih positif. “Kalau anak ITB rasanya lebih welcome dan asik-asik gitu. Responnya positif, jadi enak jualannya. Bahkan sekarang saya udah bisa memetakan, kalau sekitar jam berapa maka daerah kampus mana yang ramai pelanggan,” jelasnya.

Mengenai keuntungan yang ia peroleh, Adam mengakui, “Saya sendiri juga ngerasa aneh. Kondisi setiap harinya kadang berbeda-beda, namun keuntungan yang saya peroleh tetap sama. Pernah sekali ketika saya terlambat berangkat jualan dan sudah banyak mahasiswa yang pulang. Rasanya yang kejual nggak banyak. Tapi ketika saya selesai jualan, alhamdulillah tetap untung,”

Bagi Adam, untung bukan lagi tujuan utamanya berdagang. Adam yakin, jika dirinya ikhlas berjualan dan meniatkan dirinya untuk beramal maka keuntungan dunia akan tiba dengan sendirinya. Dia juga termotivasi dari kesulitan ekonomi yang pernah dialami keluarganya ketika dirinya masih kecil. Dirinya sadar hidup adakalanya diatas dan adakalanya dibawah, sehingga dia ingin bisa menjadi sosok yang lebih mandiri kedepannya. Adam ingin menjadi seperti idolanya, Abdurrahman bin ‘Auf, sosok pengusaha muslim yang sukses namun tak pernah berhenti berjuang dan beramal di jalan-Nya.

Dapur Ikhlas, kedai usaha Adam yang baru dibuka awal tahun ini (ARI)

Ketika Ganecapos mewawancarai Adam, dirinya sempat mengutarakan impiannya untuk memiliki tempat usaha sendiri tetapi tetap dengan konsep bisnis yang sudah ia jalankan sebelumnya. Baru-baru ini, impiannya berhasil terkabul. Adam sudah membuka kedai makanan yang ia beri nama Dapur Ikhlas. Kedai ini beralamat di Jalan Cihapit no 7, Bandung. Melalui kedai ini, dia berharap usahanya dapat menjangkau lebih banyak orang sekaligus menginspirasi orang lain untuk menerapkan konsep bisnis “seikhlasnya” yang ia jalankan.

Kontributor: Anindya Restika Istiqomah (ME’16), Senapati Sang Diwangkara (IF’16), M. Ghani Hidayatullah (TG’15), Afif Hamzens (FT’15)

Share.

1 Comment

Leave A Reply