Audiobook for All: Jawara PKM untuk Tuna Netra

2

Diantara 12 tim Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari ITB yang berangkat ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar pada Selasa (22/8) lalu untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30, terdapat 5 tim yang berhasil menyumbangkan medali untuk mengharumkan nama kampus gajah ini. Salah satunya adalah Tim Macakeun dengan karya mereka, Audiobook for All, yang berhasil memperoleh medali untuk kategori Penghargaan Presentasi Karya Ilmiah Terbaik. Reporter Pers Mahasiswa ITB berkesempatan mewawancarai Tim Macakeun untuk mengulik lebih jauh tentang karya mereka yang berhasil memperoleh medali emas dalam sub-program Pengabdian Masyarakat (PKM-M2) ini.

Halaman depan situs web macakeun.com

Sederhana namun berdampak luas. Itulah yang coba diangkat oleh Tim Macakeun lewat karya audiobook untuk tuna netra. Tim Macakeun yang beranggotakan Muaz Almunziri (TG’13), Haris Askari (TK’13), Muhammad Fadhil (AE’13), dan Faiz Ghifari Haznitrama (IF’15) melakukan sebuah gerakan digitalisasi buku berbentuk audio untuk tuna netra.

Ide audiobook ini berangkat dari kegelisahan akan fasilitas membaca bagi tuna netra yang tergolong sedikit. Umumnya, para penyandang tuna netra membaca melalui buku braille atau dibacakan oleh seorang reader. Namun lewat audiobook yang digagas Tim Macakeun, penyandang tuna netra dapat menikmati fasilitas membaca dimana pun dan kapanpun selama terjangkau koneksi internet melalui website: macakeun.com.

Perjalanan Tim Macakeun dalam mewujudkan audiobook ini tidak selalu mulus. Beberapa kali kejaran target yang harus diselesaikan baru bisa dikerjakan mendekati tenggat waktu. Kesibukan setiap anggota, khususnya kondisi akademik, membuat tim harus bekerja secara efektif dalam waktu singkat. Untungnya, Tim Macakeun tidak sendiri. Mereka bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB dalam pengembangan website. Dalam waktu singkat dan rencana yang matang, tim juga berusaha memperbaiki website dan memperbanyak audiobook. Perbaikan ini dilakukan dengan mempertimbangkan masukan dari pengguna yang juga penyandang tuna netra.

Usaha keras dari setiap anggota berbuah manis. Hingga Senin (28/8) lalu, sudah ada 94 relawan yang siap membacakan buku, 36 buku yang sudah didigitalisasi, dan beberapa koran yang dibacakan setiap harinya. Tim Macakeun juga bekerja sama dengan Komunitas Maya Suara Cerita. Audiobook ini telah disosialisasikan kepada 34 siswa tuna netra dari Yayasan Wiyata Guna dan dalam perencaan untuk dimasukkan dalam kurikulum pembelajaran. Puncak keberhasilan mereka ialah berhasil memenangkan medali emas di ajang bidang PKM Pengabdian Masyarakat dalam perhelatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2017 yang dilaksanakan di Universitas Muslim Indonesia, Makassar pada tanggal 26 Agustus lalu.

Menurut Faiz, dampak positif dapat langsung dirasakan oleh pengguna audiobook. Selain mendapatkan akses membaca dengan lebih terjangkau, pengguna juga dapat merasakan sensasi yang lebih dari sekedar membaca lewat fitur latar suara. Tampilan juga dibuat semenarik dan semudah mungkin, seperti pengaturan kontras warna yang disesuaikan dengan kebutuhan tuna netra low vision (memiliki kemampuan penglihatan namun tidak terlalu jelas—red).

Setelah melalui PIMNAS, audiobook akan dikembangkan dengan menambahkan buku formal seperti buku pendidikan, berkolaborasi dengan gerakan peduli tuna netra lainnya, serta sosialisasi yang merambah ke seluruh panti tuna netra khususnya kota besar seperti Bekasi dan Surabaya. Untuk menghindari risiko pelanggaran hak cipta, audiobook ini dilengkapi fitur kata kunci dan kata kunci tersebut hanya dibagikan kepada yayasan tuna netra terpilih.

Reporter: Mutia A. Paramesti (EB’15)

Editor: Afif Hamzens (FT’15)

Share.

2 Comments

  1. jaka pamungkas on

    “Karena mahasiswa MEMBISU, Terpaksa EMAK yang harus MAJU”
    Ditangkapnya aktivis perempuan yang merupakan kaum ibu, sebenarnya merupakan TAMPARAN bagi MAHASISWA saat ini. Para wanita yang tidak usia muda lagi, ternyata lebih gagah berani bicara di media yang mereka punya .
    Mereka yang sangat tau kebutuhan dapur, harus menyingsingkan lengan baju untuk bersuara pada negeri ini.
    Mereka yang sangat peduli dengan nasib anak cucu, terpaksa harus bergerak inisiatif sendiri untuk maju.
    Dulu mengandalkan mahasiswa sebagai perpanjangan tangan rakyat, namun saat ini mahasiswa sudah terperdaya bujuk rayu penguasa. Disamping mudahnya mendapatkan narkoba membuat empati mahasiswa tidak seperti dulu lagi.
    * Mengutip tulisan Nunik Heriyanti di Kompasiana yang mengulas bagaimana mahasiswa saat ini melihat dunia.
    Kehidupan mahasiswa sekarang sangat jauh berbeda dengan kehidupan mahasiswa pada masa-masa orde baru. Jika dahulu mahasiswa mampu bersikap kritis terhadap segala permasalahan yang terjadi dinegaranya, mampu bersuara untuk menolak ketidakadilan, mampu membela untuk apa yang harus diperjuangkan.
    Hal ini terlihat ketika dahulu mahasiswa mampu bersatu untuk meruntuhkan kepemimpinan yang dianggap otoriter kepada rakyatnya selama 32 tahun pada tahun, atau ketika mahasiswa bersatu dalam sebuah perjuangan untuk menuntut tiga tuntutan atas nama rakyat (TRITURA), dan peristiwa malapetaka 15 januari (MALARI) juga adalah bentuk dari kekritisan dan kesatuan mahasiswa.
    Namun sekarang mahasiwa cenderung apatis, pasif dan cenderung tidak peka dengan apa yang terjadi disekitarnya, khusunya untuk negaranya sekarang.
    Mahasiswa merupakan sosok yang dinilai memiliki tiga nilai positif dari krhisupan sosialnya, yaitu sebagai penyampai kebenaran karena mahasiswa mampu menjadi kontrol bagi kehidupan sosial masyarakat, mahasiswa juga adalah sebagai agen perubahan didalam kehidupan masyarakat karena apa yang dihasilkan dari pemikiran dan basic ilmu seorang mahasiswa mampu membawa hal yang positif bagi masyarakat sekitarnya, dan tentunya mahasiswa adalah pilar penerus bangsa yang akan membawa bangsa ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
    Kehidupan mahasiswa yang terjadi sekarang adalah mahasiswa yang hanya untuk mencari nilai IPK yang tinggi sebagai standar dirinya mencari sebuah pekerjaan. Namun sisi lain dari nilai yang seharusnya menjadi nilai penting dari seorang mahasiswa terlupakan.
    Kebanyakkan dari mahasiswa sekarang hanya menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang), lulus cepat adalah sasarannya, tetapi mereka takut untuk berorganisasi karena bagi mereka adalah organisasi sosial dikampus akan menurunkan nilai IPK mereka. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan itu adalah sesuatu yang salah, nilai IPK bukanlah segalanya, tetapi bagaimana kita bersikap dimasyarakat dan mampu menempatkan diri adalah nilai yang paling penting. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus bangsa ini akan memiliki sebutan sebagai bangsa yang benar-benar apatis, pola pikir dalam masyarakatnya akan terbentuk bahwa segala sesuatu akan terukur oleh nilai. Sungguh ironis!
    Pola-pola inilah yang terjadi dimasyarakat sekarang khususnya dikalangan mahasiswa. Jangan salahkan jika korupsi terjadi, jangan salahkan tindak asusila banyak terjadi, jangan salahkan bahwa lingkungan sosial masyarakat sudah menjadi tempat yang tidak nyaman lagi. Ini terjadi karena mindset dari mahasiswa adalah sebuah nilai tinggi yang harus dikejar dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
    Jika toga dan ijazah dengan nilai yang baik hingga status cumlaude adalah pencapaian terbaik dalam hidupnya maka pola ini sudah tertanam cukup lama dan hampir mendarah daging di sebagian besar masyarakat Indonesia.
    Sebenarnya itupun tidak ada yang salah tetapi bagaimanapun bangsa ini tidak memerlukan sosok yang hanya jago dalam perhitungan matematika dan ekonomi, karena matematika dan ekonomi juga memiliki prinsip mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, ataupun menjadi sosok yang ahli dalam hukum, namun pada kenyataannya masih banyak ketidakadilan terjadi, atau ahli kesehatan yang tidak bisa menyehatkan masyarakatnya.
    Etos kerja dari mahasiswa yang lus dengan nilai yang tinggi cenderung berada pada tingkat yang mengkhawatirkan karena mereka cenderung sulit bekerja sama dalam sebuah tim. Mereka berada pada kecenderungan bersikap individualis. Inilah yang terpola dalam kehidupan mahasiswa sejak masa kuliah karena ingin mendapatkan nilai yang tinggi mereka berusaha dan mengejar secara akademis saja.
    Kehidupan sosial bermasyarakat cenderung terlupakan oleh mereka. Bagi mereka kegiatan diluar akademis adalah suatu hal yang mubazir untuk dilakukan karena hanya akan menghambat prestasi. Pikiran-pikan yang seperti inilah yang memunculkan sikap apatis. Apatis dengan lingkungan yang ada disekitar mereka dan yang hanyalah persepsi semua dapat dilakukan oleh AKU, AKU dan AKU.
    Kemana suara mahasiswa yang dulu menentang ketidakadilan?
    Kemana mahasiswa yang kritis dengan permasalahan di negaranya?
    Kemana gaungan lantang dari mahasiswa?
    Jika mahasiswa tidak mampu bersuara, jika mahasiswa tidak dapat dengan lantang berteriak, siapa lagi yang akan menjadi kontrol dalam masyarakat dan juga pemerintahan? Jika tidak ada kontrol permalahan yang terjadi pada jaman orde baru pastinya akan kembali terjadi, karena pemerintah akan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, ketidakadilan akan merajalela dan kesenjangan kehidupan sosial dalam masyarakat akan sangat terasa. Kediktatoran dari pemerintah inilah yang ditakutkan karena pemerintah akan mencekik rakyat dengan segala peraturan atau kebijakan yang tidak tidak sesuai dengan mestinya.
    Orangtua memang menginginkan anaknya untuk lulus dari bangku kuliah dengan cepat kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan besar. Apakah itu bisa dinilai sebagai sesuatu yang yang dianggap berhasil jika masih ada orang-orang disekitarmu yang masih hidup dipinggir jalan, makan dengan makanan basi, berpendidikan rendah serta tidak memiliki kejelasan dalam hidup? Masih pantaskah kita disebut mahasiswa jika kita hanya mengandalkan nilai yang tinggi dan lulus cepat namun disekitar kita masih menderita?
    Permasalahan yang timbul dari transformasi peran mahasiswa adalah karena mahasiswa pada saat ini cenderung sudah berada dalam lingkungan yang mapan, kehidupan mereka tidak sulit, kehidupan yang bisa dikatakan sebagai kehidupan yang mengusung nilai hedonisme.
    Mahasiswa dijejali dengan arus globalisasi, dunia gemerlap menjadi trend, sex bebas dan obat-obatan terlarang menjadi gaya hidup. Kekritisan menghilang karena mahasiswa sekarang cenderung menggunakan otot daripada otak. Tidak ada lagi gaya hidup membaca buku, tidak ada lagi kegemaran untuk membuka ruang diskusi, yang ada sekarang ada adalah kegemaran untuk nongkrong berjam-jam di sebuah mal, cafe, berhadapan dengan jejaring sosial dan jugamenjadi penyembah gadget terbaru. Semua itu adalah yang membatasi kita unuk dapat bersosisalisasi dengan lingkungan sekitar kita terutama lingkungan sosial kita.
    Menjadi mahasiswa yang konsumerisme mungkin itu adalah yang kata yang cocok untuk menggambarkan keadaan diatas. Mahasiswa yang lebih doyan ke tempat yang hiburan dengan berbagai macam fasilitas yang ada seperti wi-figratis yang biasanya dipakai untuk update status di facebook, atau hanya sekedar bermain game online. Kalau seperti ini kapan mahasiswa mau belajar kritis? Apa masih perlu sebuah kekritisan dari seorang mahasiswa.
    Ketika kebisuan mahasiswa semakin menjadi, maka disitulah hadir para kaum ibu yang tidak bisa diam melihat semua ini terjadi.
    Kaum ibu adalah para manajer handal dalam keluarga. Merekalah yang mengontrol kebutuhan rumah tangga, mereka juga yang lebih keras berpikir bagaimana nasib anak cucu melihat negeri ini begitu porak poranda. Kepedulian seorang ibu itu tulus, ketika para ibu sudah ikut bersuara..maka saat itu lah keadaan genting sebenarnya.
    Jempol untuk kaum ibu….
    Daster berbunga untuk para mahasiswa Indonesia…
    Buat mahasiswa, teruslah bermimpi indah…jangan pernah bangun sampai negeri ini hancur.

  2. Pingback: Semoga Sukses – Hidden Pearl

Leave A Reply