OSKM dan Pergerakan: Sebuah Kontemplasi

0

OSKM adalah momen kampus yang paling mewah, dimana seluruh elemen kampus, kabinet, himpunan, dan unit dapat berinteraksi dan berkolaborasi dalam suatu acara yang masif.

Kata-kata dari seorang senior ini saya amini setelah terlibat selama kurang lebih tiga tahun di OSKM. Saya selalu terkesan dengan acara kaderisasi yang katanya pesta kaderisasi terbesar di kampus ini. Begitu masyhur namanya serta menjadi simbol dan wajah dari kaderisasi mahasiswa di kampus ITB. Bila ditilik lebih jauh, tentu semua cerita mengenai OSKM tidak lepas dari sejarah panjang yang telah diukirnya di tanah ganesha.

OSKM dari Masa ke Masa

Sejak pertama kali diadakan pada era orde baru, yakni pada tahun 1992, telah banyak pasang surut dalam keberjalannya untuk mewarnai pendidikan kemahasiswaan. Berbagai konflik terutama pada awal terbentuknya KM ITB membuat OSKM menjadi kegiatan yang ilegal hingga pada akhirnya dinyatakan legal kembali pada tahun 2002 oleh pihak rektorat. Dalam masa-masa ini tentu bentuk kaderisasi yang dirancang adalah agar mahasiswa siap bersatu untuk melawan musuh bersama saat itu, yakni pemerintah yang dianggap sudah bertindak otoriter dan sewenang-wenang dalam 32 tahun era orde baru yang panjang.

Tentu pasca reformasi, terjadi perubahan-perubahan dalam kaderisasi melalui OSKM. Perubahan-perubahan ini melahirkan budaya baru dimana metode fisik yang keras dan kerap menimbulkan kontroversi diganti dengan metode disiplin hingga kemudian berganti kembali menjadi metode-metode yang bersifat pengenalan kehidupan kampus serta menjadi OSKM yang kita kenal saat ini.

Panjangnya sejarah OSKM ini membuat bentuk dan rupa OSKM terus berganti seiring berjalannya waktu. Namun, saya rasa dibalik semua itu sebenarnya OSKM mengandung sebuah semangat yang sama. Sebuah nafas yang menjadi ruh bagi keberlangsungan organisasi mahasiswa: pergerakan. Terlepas dari bentuk dan metode yang diterapkan kita selalu dikenalkan pada hal yang sama dalam setiap OSKM, yaitu pergerakan. Karena pergerakan adalah inti dari tujuan kemahasiswaan. Melalui pergerakanlah peran-peran mahasiswa dapat teraktualisasi. Melalui pergerakanlah kita dapat berkembang sesuai dengan potensi yang kita miliki. Melalui pergerakanlah mahasiswa mampu untuk memenuhi harapan masyarakat untuk memajukan Bangsa Indonesia.

Memahami Pergerakan Mahasiswa

Pertanyaan yang tercetus kini, sebenarnya apakah itu pergerakan? Banyak orang mengidentikkan pergerakan sebagai sesuatu yang berkonotasi negatif. Sebagai contoh pergerakan selalu diidentikkan dengan aksi massa yang berbuntut kericuhan. Sebuah hajatan tanpa arah yang berakhir konflik tanpa solusi. Hal ini diperparah dengan semakin maraknya komentar-komentar skeptis warganet dalam menanggapi aksi mahasiswa. Lantas, apakah itu adalah wajah pergerakan yang sebenarnya? Jawabannya, tidak. Menurut KBBI sendiri, pergerakan berarti perihal atau keadaan bergerak dan kebangkitan (untuk perjuangan dan perbaikan).

Berdasarkan hal di atas, pergerakan kemahasiswaan tentunya adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memperjuangkan perbaikan. Hal ini dilakukan sejalan dengan semangat yang tercantum dalam falsafah dasar kemahasiswaan di Konsepsi KM ITB. Semangat yang dimaksud yaitu bahwa organisasi mahasiswa di lingkup kampus ITB adalah organisasi mahasiswa yang mampu menghasilkan manusia yang memiliki visi masa depan dan mampu menjawab tantangan zaman, dengan kata lain mirip seperti karakter masyarakat madani. Masyarakat ini memiliki nilai partisipatif, aspiratif, mandiri, non-hegemonik, dan beretika.

Maka, pergerakan yang sebenarnya diharapkan muncul dari kalangan mahasiswa yang juga mengandung nilai-nilai tersebut sehingga akan tercapai tujuan dari pergerakan itu sendiri. Tujuan tersebut adalah untuk menjalankan peran-peran mahasiswa dalam menjadi agen perubahan yang mampu menolong masyarakat dan mengembangkan masyarakat, menjadi agen kontrol sosial untuk mengawal keberlangsungan negara, menjadi penjaga nilai-nilai dengan segala idealisme yang dimilikinya, serta menjadi generasi penerus yang cakap dalam memangku jabatan dalam masyarakat.

Untuk mewujudkan hal ini, metode yang dapat dilakukan pun dapat beragam. Mulai dari mengadakan penelitian di kampus dan melahirkan solusi tepat guna bagi permasalahan di masyarakat, melakukan aksi turun ke jalan untuk memberikan stimulus bagi pemerintah untuk membenahi kinerjanya, hingga aktif mengembangkan diri sesuai dengan minat dan bakatnya di organisasi taraf kampus, semua hal tersebut berkontribusi terhadap bentuk pergerakan yang terjadi di kampus. Hal paling buruk yang dapat terjadi pada organisasi kemahasiswaan adalah pergerakannya yang mati.

OSKM sebagai Wadah Penanaman Nilai Dasar Pergerakan

Setidaknya melalui upaya yang telah dilakukan sampai saat ini kita bisa mengawal mimpi untuk kembali berjaya. Kabinet Suarasa KM ITB sebagai pemegang amanah kaderisasi terpusat membawa nilai-nilai pergerakan melalui visinya sebagai suar pergerakan kemahasiswaan. Dalam kepengurusan kabinet ini pun ada nilai yang diusahakan, yaitu Nilai Dasar Pergerakan. Nilai Dasar Pergerakan merupakan nilai-nilai yang menjadi inti dari pergerakan dalam visi kabinet. Dalam Nilai Dasar Pergerakan tersebut, terdapat nilai-nilai yang diupayakan untuk dapat diinternalisasi dalam lingkup KM ITB, yaitu empati, kesatuan, dan semangat kepeloporan.

OSKM 2017 sebagai wadah kaderisasi terpusat terbesar pun memiliki jiwa yang senada, mewujudkan mozaik pergerakan. Mengenalkan identitas dan tanggung jawab mahasiswa dalam mengusahakan solusi atas permasalahan bangsa, meningkatkan semangat pergerakan, dan mengenalkan KM ITB sebagai wadah kolaborasi untuk pergerakan menjadi poin penting dalam mozaik pergerakan yang diusung. Mimpi yang sudah sejalan ini seharusnya dapat menghasilkan produk-produk yang berkualitas serta mampu mengangkat kembali inti kemahasiswaan yang sekarang sudah pudar.

Peran Seluruh Elemen Kampus dalam OSKM

Sudah selarasnya visi kemahasiswaan, setidaknya yang ditunjukkan oleh Kabinet dan OSKM, dengan semangat pergerakan tidak lantas membuat kita bisa berlepas tangan. Namun, sebagai mahasiswa yang memiliki kesadaran akan tanggung jawab dalam mendidik dan membina generasi penerus ada hal-hal yang dapat kita usahakan pula untuk mewujudkan peningkatan semangat kemahasiswaan, setidaknya melalui OSKM sebagai wadah kaderisasi terbesar di kampus ganesha.

Pertama, peningkatan partisipasi lembaga dengan mengirimkan anggota untuk OSKM. Lemabga-lembaga tentu sudah menyadari bahwa dalam OSKM pun terdapat penanaman-penanaman nilai dan juga keterampilan yang akan bermanfaat pula bagi lembaga tersebut. Melalui delegasi, pengetahuan yang didapat dalam OSKM dapat ditransfer ke dalam lembaga-lembaga untuk membantu lembaga tersebut berkembang.

Kedua, menjadikan OSKM sebagai sebuah momen pelecut kolaborasi. Seperti kalimat pertama dalam tulisan ini, OSKM menjadi wadah interaksi dan kolaborasi dari seluruh elemen kampus. Inilah yang menjadi poin penting, bahwa pergerakan dapat diamplifikasi melalui kolaborasi. Terkadang kita terlalu cepat puas akan apa yang ada di hadapan kita sehingga kita melewatkan peluang untuk memberi lebih melalui pergerakan dengan kolaborasi. Dan OSKM, adalah momen yang tepat bagi lembaga-lembaga untuk memulai kolaborasi, setidaknya dalam kaderisasi yang mungkin dapat berlanjut hingga pergerakan tereksekusi.

Terakhir, OSKM harus menjadi pengingat bagi idealisme yang pudar. Bahwa dalam kaderisasi, semua hal harus dipertimbangkan dan disusun dengan rapi, sesuai dengan tujuan dan orientasi yang kita tetapkan. OSKM bisa menjadi momen untuk memahamkan kembali bahwa sejatinya pergerakan kita bukan tanpa arah, bukan tanpa tujuan, tapi merupakan pergerakan yang berkoridor serta mampu memberikan dampak nyata bagi keberlangsungan bangsa dan negara.

Penulis: Fadil Kusuma Wirotama, Manajemen Rekayasa Industri 2013

Menteri Sinergisasi Kaderisasi Lembaga Kabinet SUARASA KM ITB

Share.

Leave A Reply