Mediasi Mahasiswa Telkom dengan Rektorat, Skorsing Dicabut

0
Ketiga Mahasiswa Telkom University mengadakan konferensi pers (Sumber: kbr.id)

Ketiga Mahasiswa Telkom University mengadakan konferensi pers (Sumber: kbr.id)

ganecapos.com, Bandung – Sanksi skorsing yang diberikan pihak rektorat Telkom University kepada tiga mahasiswanya dicabut kembali setelah diadakan mediasi antara rektorat Telkom Univerity dan pihak-pihak yang terkait pada Rabu (15/3) lalu. Mediasi ini juga menghasilkan beberapa kesepakatan lain yang disetujui bersama demi memperjelas segala kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

Setelah aksi massa yang dilakukan Selasa (14/3) oleh aliansi mahasiswa ISBI, Komite Rakyat Peduli Literasi dan beberapa mahasiswa Telkom University, mediasi antara ketiga mahasiswa Telkom University yaitu Sinatrian Lintang Raharjo (Lintang), Fidocia Wima Adityawarman (Edo), dan Lazuardi Adnan Fariz (Fariz) dan pihak rektorat Telkom University akhirnya dilaksanakan pada esok harinya. Mediasi ini didampingi oleh BEM Telkom University sebagai wakil mahasiswa.

Lintang, Edo, dan Faris mendapat skorsing akademik dari pihak rektorat Telkom University terkait kegiatan mereka membuka sebuah tempat membaca gratis yang disebut “Perpustakaan Apresiasi”. Edo dan Lintang mendapat skorsing dengan tuduhan menyebarkan paham Marxisme dan menggelar kegiatan literasi ilegal, sedangkan Faris mendapat skorsing dengan tuduhan memimpin demonstrasi terhadap pimpinan Telkom University atas skorsing terhadap Lintang dan Edo.

Dalam proses mediasi tersebut, dihasilkan beberapa poin yang disepakati secara verbal tanpa perjanjian tertulis. Poin-poin yang disepakati adalah sebagai berikut.

  1. Legalisasi Perpustakaan Apresiasi untuk kemudian dijadikan unit kegiatan mahasiswa.
  2. Penegakan kebebasan berinteraksi di kampus.
  3. Pencabutan skorsing melalui mekanisme lanjutan yang akan dilakukan secepatnya.
  4. Ketiga kawan telah dianggap tidak menyebarkan paham komunisme.
  5. Rektorat meminta masalah ini tidak dibawa ke pihak luar kampus dan diselesaikan secara kekeluargaan oleh internal kampus.

Mediasi tidak didampingi oleh lembaga mahasiswa selain BEM Telkom University dengan alasan BEM Telkom University sudah merupakan representasi dari seluruh mahasiswa Telkom University. Padahal ketiga kawan mahasiswa yang terkena skorsing menganggap BEM Telkom University tidak jelas dalam memosisikan diri dalam kasus ini.

Ketiga mahasiswa tersebut, didampingi oleh Komite Rakyat Peduli Literasi dan kuasa hukum, melakukan konferensi pers di depan kawan-kawan jurnalis dan mahasiswa beberapa saat setelah mediasi. Kuasa hukum ketiga mahasiswa mengatakan akan terus memantau situasi. Apabila pihak rektorat merasa tidak nyaman jika kasus ini terbawa ke pihak luar, kuasa hukum merasa bahwa itulah cara terbaik untuk membela hak dari kawan-kawan yang terkena skorsing. Komite Rakyat Peduli Literasi juga menambahkan bahwa kasus ini merupakan ancaman terhadap demokrasi dan literasi secara umum, sehingga perjuangan secara luas diperlukan untuk menjaga hak mencerdaskan diri tetap terjaga.

Reporter : Rafi Ardianto (BA’15)

Editor : Michael Hananta (SITH-R’16)

Share.

Leave A Reply