“This Time for Africa!” : Peningkatan Kesadaran dalam Hubungan Indonesia-Afrika

0

 

Foto: Suasana Seminar "This Time for Africa!" di Ruang Pameran Utama Museum KAA (Sahabat Museum KAA)

Foto: Suasana Seminar “This Time for Africa!” di Ruang Pameran Utama Museum KAA (Sahabat Museum KAA)

ganecapos.com, Bandung – Pada Sabtu (17/12), Museum Konperensi Asia Afrika menggelar seminar dengan tema This Time for Africa! di Ruang Pameran Utama Museum. Seminar yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini merupakan pembuka dari kegiatan Pameran Temporal Hubungan Indonesia-Afrika dan serangkaian acara bertajuk Afrika lainnya yang diadakan mulai tanggal 17 – 31 Desember 2016.

Kegiatan dimulai dengan menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya disusul dengan sambutan oleh PLH Kepala Museum KAA, Bapak Devi Noviadi. “Seminar ini beserta rangkaian acara yang akan dilaksanakan setelahnya merupakan wujud pelaksanaan nilai-nilai Dasasila Bandung dan berfokus pada hubungan Indonesia-Afrika yang telah dibangun sejak lama dan masih terjaga dengan baik hingga saat ini,” ungkap PLH Kepala Museum KAA.

Sambutan kedua diberikan oleh Sekretaris Ditjen IDP Kementrian Luar Negeri RI, Bapak Azis Nurwahyudi. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan betapa pentingnya peningkatan pemahaman satu sama lain antara Indonesia dan Afrika.

Acara dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi dan peninjauan bersama Pameran Temporer Hubungan Indonesia-Afrika di Ruang Pameran Temporer Museum. Di pameran ini, peserta seminar disuguhkan dengan napak tilas sejarah perkembangan negara-negara di Afrika semenjak Konferensi Asia-Afrika tahun 1955. Perkembangan politik Afrika seperti penghapusan Apartheid dan Dekolonialisasi Afrika, perkembangan hubungan Indonesia-Afrika, serta potongan-potongan kliping koran Indonesia tentang Konferensi Asia Afrika yang dipamerkan oleh Monumen Pers Nasional Surakarta.

Setelah mengunjungi pameran, dilaksanakan sesi pemutaran video singkat bertemakan KAA dan hubungan Indonesia-Afrika dilanjutkan dengan puncak acara berupa pemaparan dan diskusi. Pemateri seminar adalah Bapak Artanto Salmoen Wargadinata, Pejabat Fungsional Diplomat Indonesia untuk Afrika, dan dimoderatori oleh Bapak Desmond Satria Andrian, Edukator Museum KAA.

Lewat slide berjudul Indonesia-Africa Relationship: Building a Vibrant Solidarity and Partnership, pemateri menjelaskan tentang beberapa fakta sejarah dan kebudayaan Afrika yang ternyata memiliki hubungan atau kesamaan dengan Indonesia. Sejak abad ke-7 Masehi, Indonesia dan Afrika telah berhubungan lewat pelayaran Kerajaan Sriwijaya ke daerah Afrika Timur. Dari pengalamannya bekerja untuk Kemenlu RI di Madagascar, beliau juga menemukan keunikan dimana beberapa bahasa dan desain rumah tradisional disana memiliki kesamaan dengan bahasa dan desain rumah tradisional di Indonesia. Bahkan, diketahui 60% DNA wanita Madagascar memiliki keidentikan atau bahkan sama dengan DNA masyarakat Indonesia.

Dari fakta-fakta ini, pemateri mendorong peserta seminar untuk semakin aktif dalam pengembangan hubungan Indonesia-Afrika. Beliau memberikan tiga poin penting dalam hal ini yaitu persaudaraan abadi, silaturrahmi abadi, dan tali kasih abadi. Menurut beliau, baik Indonesia maupun Afrika memiliki potensi kerjasama dibidang agrikultur, perdagangan, dan multikulturalisme.

Ditengah-tengah seminar, moderator juga turut memperkenalkan seorang Warga Negara Nigeria bernama Farouk beserta teman-temannya dari Afrika yang tergabung dalam YAAA (Young African Ambassadors in Asia). Farouk menceritakan tentang pengalamannya sebagai mahasiswa asing di Indonesia dan memberikan tanggapannya tentang hubungan antara Indonesia dan negara-negara di Afrika. Dia juga mengatakan telah menganggap Indonesia sebagai rumah kedua baginya. Teman-temannya yang berasal dari berbagai negara di Afrika seperti Uganda, Tanzania, Somalia, dan Madagascar juga menceritakan pengalamannya masing-masing dan mengaku merasakan hal yang sama.

Menurut Ketua Pelaksana Acara, Teguh Adhi Primasanto, acara ini merupakan salah satu agenda Museum Konperensi Asia Afrika dalam diplomasi publik untuk mendidik masyarakat mengenai diplomasi-diplomasi yang telah dilakukan pemerintah di kawasan Afrika. Diharapkan dengan adanya acara ini dapat meningkatkan kepeduliaan masyarakat terhadap hubungan diplomatik yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dengan kawasan Afrika sejak berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika pertama tahun 1955 hingga saat ini.

Prima mengatakan, sebelumnya telah dilaksanakan acara serupa yang berfokus pada kawasan Asia. Maka untuk kesempatan kali ini, Museum KAA mengadakan pameran yang berfokus ke kawasan Afrika. Dalam hal ini, Museum Konperensi Asia Afrika bekerjasama dengan beberapa lembaga diantaranya Monumen Pers Nasional Surakarta, Young African Ambassadors in Asia (YAAA), Sahabat Museum KAA, dan Komunitas Film LayarKita.

Pada kesempatan ini pula, penyelenggara acara turut mengundang beberapa elemen pers mahasiswa Kota Bandung.  Menurut Prima, hal ini dilakukan selain karena mahasiswa sebagai generasi pemimpin masa depan merupakan elemen yang paling penting untuk ditingkatkan awareness-nya, juga agar mahasiswa sebagai motor utama diplomasi publik Indonesia dapat dengan aktif menyebarkan pencerdasan yang dilakukan pihak Museum KAA ini ke masyarakat luas.

Reporter : Afif Hamzens (FT’15)

Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD’14)

Share.

Leave A Reply