[WAWANCARA EKSKLUSIF] Arcandra Tahar: Belajarlah Teknologi, Mengembara Dunia

0
Foto : Sosok Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM RI saat diwawancarai eksklusif (MLP/FKW)

Foto : Sosok Arcandra Tahar, Wakil Menteri ESDM RI saat diwawancarai eksklusif (MLP/FKW)

ganecapos.com, Bandung – Pada Sabtu (13/11/16) lalu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, Ph.D. menyambangi ITB untuk mengisi kuliah umum, Studium Generale di Aula Barat. Setelah mengisi kuliah umum pada pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, Beliau melanjutkan agendanya dengan mengisi acara non-formal, yaitu Bincang-Bincang Sore yang diadakan oleh Paguyuban ITB ’89 dengan mahasiswa kelas ET-4006 di sebuah restoran tidak jauh dari Kampus ITB Ganesa. Setelah agenda tersebut, reporter Ganeca Pos berhasil mewawancari secara eksklusif sosok yang sempat menjadi sorotan media karena kasus dwikenegaraannya. Dalam kesempatan tersebut, Beliau bercerita tentang targetnya ke depan di pemerintahan dan opini Beliau khusus sebagai Alumni ITB (Teknik Mesin 1989).

Menurut Bapak, bagaimana seharusnya mahasiswa berperan dalam pengembangan teknologi di Indonesia?

Pertama kita bicara kompetensi dulu ya. Kompetensi dibangun dari keilmuan dulu. Knowledge. Knowledge itu yang harus kita cari dulu, membangun kompetensi. Yang kedua, kita harus membangun skill. Apa bedanya? Kalau knowledge, kita bisa dapatkan dari mana saja. Tapi kalau skill, tidak bisa. Skill itu harus dilakukan sendiri, dicoba sampai bisa. Setelah mendapakan skill, baru experience. Butuh waktu dari skill-labored menjadi experience-labored.

Jadi, apakah bisa tergantikan yang punya pengalaman 10 tahun dengan 1 tahun? Ga bisa. Ga ada obatnya. Obatnya adalah lakukan pekerjaannya selama 10 tahun. Pekerjaan yang ingin kita lakukan, sekarang dalam pengembangan teknologi, mulainya step dari situ dulu. Ga bisa tiba-tiba orang punya skill membangun sesuatu. Awalnya adalah dari ilmu.

Nah mahasiswa, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Kalaupun punya skill, mahasiswa tidak dituntut untuk punya skill. Setelah bekerja nanti dia baru punya skill. Dan skill itu, bekerjalah di bidang itu sampai nanti punya proficiency, punya experience. Nah baru bisa, “Saya bisa mengembangkan teknologi. Saya ingin berbuat sesuatu teknologi.” Gimana caranya skill ga punya, experience ga punya, terus bicara tentang, “Saya mau mengembangkan teknologi.”

Karna ada step-nya, jalannya. Sayangnya ga ada program yang bisa mentransfer ketiga tadi, tiba-tiba pek.

 

Pengalaman Bapak di luar negeri lalu kembali ke Indonesia membawa ide-ide baru. Bagaimana strategi atau cara Bapak membawa ide yang besar itu untuk diterapkan di Indonesia demi sebuah perubahan?

Kita lihat kebutuhan dalam rangka program menaikkan production dulu ya. Kita bicara tentang spesifik oil and gas. Apakah dengan teknologi yang ada sekarang, kita bisa ga menaikkan produksi kita? Jawabannya hampir dikatakan susah. Untuk itu, kita membutuhkan teknologi. Yang jadi permasalahan adalah kalau teknologi baru masuk sementara yang namanya teknlogi bisa berhasil bisa tidak. Sewaktu teknologi berhasil, semua happy. Tapi kalau teknologi tidak berhasil, apa yang terjadi? Nah, kita harus merubah dulu mindset itu. Bagaimana caranya ini, kita butuh teknologi tapi peraturan-peraturan kita, governing kita, belum mendukung seepenuhnya. Nah, sehingga kita tidak terpaku dengan existing technology.

Apa gunanya teknologi baru? Selalu: bisa menjadi lebih efisien, bisa menjadi lebih murah, itu teknologi. Kalau teknologi lebih mahal, bukan teknologi namanya. Menyusahkan diri, itu bukan teknologi namanya. Nah, oleh karena itu, bagaimana cara membawanya? Carilah teknologi yang pas.

Selanjutnya adalah bagaimana kita mengaplikasikannya? Ada aturan-aturan yang menghambat. Nah, bagaimana caranya?

Apakah itu yang memotivasi Bapak untuk masuk ke pemerintahan?

Ada beberapa hal ya, satu hal yang… Coba, kalau perusahaan asing masuk ke Indonesia, apa yang mereka tawarkan? Yang mereka tawarkan pertama adalah teknologi. “Saya punya teknologi untuk mengembangkan ini.” Kemudian yang kedua apa? “Saya bawa capital juga. Saya bawa duit.” Nah sementara kita, teknologi itu berkembang. Sewaktu dia bilang, “Nih, harga sebuah teknologi,” misalnya mobil Kijang, kalau orang ga tau, datang dari dunia mana, dibilang mobil Kijang 1 milyar, dia bayar 1 milyar. Tapi bagi orang Indonesia yang tahu mobil Kijang, mau ga bayar 1 milyar?

Terus dibilang Kijang ini bisa ini, teknologinya begini. Kalau orang yang tau bilang, “Ya ini mobil Kijang, ini bukan mobil Ferrari.” Ya kan?

Bagaimana kita tahu bahwa teknologi Kijang beda dengan teknologi Ferrari? Nah itu kita yang kurang. Sewaktu asing masuk, dia bilang ini teknologi kelasnya Ferrari, eh tahu-tahunya Kijang. Nah ini, bagaimana negara ini melihat sewaktu teknologi masuk, kita bisa megatakan bahwa ini teknologi yang pas buat kita. Yaudah jangan inilah, atau dengan harga sekian.

Nah selama ini, kita punya kelemahan di situ. Menilai bahwa teknologi ini cocok, harga sekian, komersialnya sekian. Kita lemah di situ.

Untuk itu, belajarlah teknologi. Pergilah mengembara di seluruh dunia. Cari itu pengalaman, cari itu teknologi. Semoga nanti dengan ilmu itu, bisa berguna suatu saat.

Bagaimana pendapat Bapak tentang upaya nasionalisasi blok-blok migas?

Nasionalisasi bukan konsep dunia baru. Orang asing berinvestasi harus kita hormati. Dia berinvestasi dengan sebuah resiko kan. Resiko bisnis.

Menurut Bapak, untuk Pertamina sendiri sebagai BUMN, proyeksi ke depannya bagaimana dan bentuk kerja sama apa nanti yang diharapkan terjadi?

Coba lihat ya, kalau kita bicara kedaulatan energi, national oil company harus kita perkuat. Arab Saudi, Aramco, berapa kontribusi Aramco terhadap produksi nasional mereka? Di atas 90%, 95-99%. Perusahaan national oil company yang lain, kontribusinya terhadap produksi nasional di atas 80%. Berapa Petronas? 54% kontribusi Petronas terhadap national production-nya.

Berapa Pertamina? 24%. Kecil. Bagaimana kita mau berdaulat kalau national oil company kita, bukan Pertamina ya, national oil company kita? Intinya adalah mereka harus kuat. Harus kita perkuat.

Kalau dari sektor hulu, bagaimana dengan kepemilikan blok-blok migas?

Kan sudah ada precedent-nya, kita lihat ya Mahakam, Mahakam balik ke Pertamina dulu, pertamina nanti deal B2B dengan yang lain lagi. Pola seperti itu bagi yang sudah diperpanjang sekali, sekali lagi, mungkin polanya Mahakam jadi contoh yang baik. Jangan artikan yang lain ya, tapi mungkin pola itu bisa jadi contoh yang baik.

Terakhir, adakah pesan khusus bagi mahasiswa ITB tentang pengembangan keilmuan lewat kegiatan kemahasiswaan?

Kebetulan, saya juga pernah jadi ketua angkatan, pernah aktif di himpunan. Di mana pun berada, selama menjadi mahasiswa, jadi yang terbaik. Baik itu terbaik dari sisi kegiatan kemahasiswaan, lakukan sungguh-sungguh, maupun dari segi akademik juga. Karena entry level adalah akademik dari kerja. Akademik harus bagus dulu. Tapi jangan sampai akademik saja, kemahasiswaan ga ada. Karena pada intinya entry level masuk, setelah itu apa yang berperan? Apa? Human interaction. Di mana kita peroleh belajar? Organisasi. Ikutlah keorganisasian, tapi akademik jangan tinggal.

Bisa ga? Challenge besar, berat. Benar. Tapi, pengen challenge kan? Itu challenge-nya. Hadapi itu. Takhlukkan itu. “Saya bisa berprestasi dan juga aktif di himpunan.” Mungkin? in sya Allah bisa.

Jangan satu-satu. Yang aktif di himpunan… yang ga aktif di himpunan, akademik bagus. Atau sebaliknya.

Padahal untuk cari kerja, yang pertama dihitung itu IPK sekian. Ini Indonesia lo, bukan di luar. IPK entry level-nya. Ga banyak yang mengatakan: aktif di himpunan menjadi syarat utama. Jarang. Pasti IPK di Indonesia. Setelah masuk baru, kemampuan kita accelerate: human interaction, communication skill, management skill.

 

Reporter: Mega Liani Putri (TL 13) dan Fadil Kusuma Wirotama (MRI 13)

Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD 14)

Share.

Leave A Reply