Unjuk Dengar Sunken Court: Massa Kampus Soroti Kasus Pemira MWA WM 2016

0
Foto : Foto bersama massa kampus sebagai bentuk dukungan terhadap MWA WM pada saat unjuk dengar Sunken, Minggu (20/11) (MH)

Foto : Foto bersama massa kampus sebagai bentuk dukungan terhadap MWA WM pada saat unjuk dengar Sunken, Minggu (20/11) (MH)

ganecapos.com, Bandung — Penangguhan masa pemira MWA WM akibat tidak dapat melanjutkannya salah satu kandidat yang disebabkan sisa nilai dari kandidat tersebut telah berada di bawah stadar yang ditetapkan oleh Panpel Pemira. Permasalahan tersebut pun menjadi topik hangat di kalangan mahasiswa ITB akhir-akhir ini. Pembahasan ini diangkat juga pada saat unjuk dengar kandidat K3M ITB di Sunken Court, Minggu (20/11). Hearing kandidat K3M yang pada awalnya biasa saja seketika menjadi ramai dengan tanggapan dari massa kampus tentang kegagalan Pemira MWA WM ITB 2016.

Panasnya pembahasan kegagalan Pemira MWA WM ini dimulai dari aksi sekelompok massa kampus. Aksi tersebut membawa propaganda “MWA WM bukan anak tiri. #terusanaksiapa?”. Aksi ini menuntut kandidat K3M untuk ikut mengangkat kasus Pemira MWA-WM tersebut. Namun nyatanya, massa hearing sunken menolak kondisi ini untuk diangkat dengan alasan ingin mendengarkan gagasan kandidat K3M.

Hal ini mendorong aksi menuntut Kandidat K3M lebih menyuarakan pentingnya MWA WM kepada peserta hearing pada malam itu.

Pada kesempatan tersebut Fadjrin (MB’16) menuntut kepada kandidat K3M, “Kalau kalian hanya mengandalkan massa untuk membahas tentang masalah ini, bagaimana permasalahan ini akan dikomunikasikan dengan baik kepada massa kampus kalau tidak ada inisiatif dari kalian. Tolong sampaikan urgensi keberadaan MWA WM kepada massa bagi kalian sebagai kandidat K3M!”

Menanggapi tuntutan tersebut, para kandidat pun menyatakan pemikirannya masing-masing tentang urgensi keberadaan MWA WM.

“Ini menjadi penting karena tahun depan ketika UKT naik, bila tidak ada MWA WM tidak ada yang mewakili suara kita (di MWA-red.). Teman-teman harus menyampaikan aspirasi (mengenai Pemira MWA WM -red.) ini (ke senator masing-masing -red.),” papar Aditya Purnomo Aji (PL’13) selaku kandidat K3M nomor urut 1.

Kandidat K3M nomor urut 2, Ardhi Rasy Wardhana (TA’13), menyambut positif aksi massa kampus tersebut. “Saya berpendapat bahwa hal ini bagus bila ditunjukkan bahwa ada permasalahan (dalam Pemira MWA WM -red.),” papar Ardhi. Ardhi juga berpendapat bahwa massa kampus kurang menyadari fungsi MWA WM. “Sebetulnya masalah-masalah seperti UKT, multikampus, sampai jam malam ada porsinya di MWA WM,” tambah Ardhi.

Pemira MWA WM saat ini sedang memasuki masa penangguhan karena tidak terpenuhinya syarat minimal dua kandidat. Seperti diketahui, Kandidat MWA WM nomor Urut 2, Bimo Aryo Tyasono (IF’13), telah didiskualifikasi karena memiliki nilai tersisa sebesar -16 dari 150 yang diberikan di awal Pemira. Masa penangguhan ini berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan oleh Kongres KM ITB. Nantinya akan diputuskan bagaimana kelanjutan Pemira MWA WM. Masa penangguhan ini juga menjadi masa penentu kelanjutan Pemira MWA WM.

Aksi ini ditutup dengan damai oleh pihak penyampai aspirasi dan massa kampus. Hal tersebut diabadikan dalam foto bersama sebagai bentuk dukungan tentang butuhnya wakil mahasiswa untuk menjadi kacamata mahasiswa di antara Majelis Wali Amanat.

Kurang antusias massa, Pemira MWA WM sisakan satu kandidat

Pesta demokrasi terbesar di ITB yakni Pemilu Raya K3M dan MWA WM tengah berlangsung. Akan tetapi partisipasi dan antusiasme massa kampus terbilang kecil. Sebagai bukti, dalam setiap hearing calon K3M maupun MWA WM jumlah peserta forum selalu kurang dari batas kuorum lembaga yang ditetapkan oleh panitia pelaksana Pemira. Namun, kehadiran massa kampus dalam hearing K3M cenderung lebih banyak dibandingkan hearing MWA WM. Hearing MWA WM dengan jumlah peserta paling sedikit terjadi pada saat hearing yang mengundang massa unit. Tentunya, ini menjadi evaluasi besar untuk meningkatkan antusias massa terhadap kehadiran MWA WM.

MWA WM dibutuhkan untuk memutuskan dan menyampaikan aspirasi berbagai kebijakan seperti kenaikan UKT maupun ITB multikampus. MWA WM yang menjadi penyalur aspirasi mahasiswa ITB di ranah strategis dengan berbagai stakeholder seperti Rektorat, Senat Akademik, Gubernur Jawa Barat, hingga Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) juga perlu menjadi sorotan mahasiswa ITB. Peran MWA WM tentunya harus lebih dipahami oleh seluruh mahasiswa ITB baik S1, S2, S3, maupun mahasiswa internasional.

Massa kampus perlu lebih memahami urgensi adanya MWA WM sebagai penyalur aspirasi antara mahasiswa dengan stakeholder kampus. Sosialisasi lebih lanjut tentang MWA WM dan perannya sangat diperlukan. Dalam hal ini, K3M harus mampu berperan menjadi agen sosialisasi. Dengan demikian, MWA WM juga menjadi wadah aspirasi yang efektif, selain melalui kabinet, terutama dalam isu-isu yang menjadi fokus utama MWA WM.

Reporter : Michael Hananta (SITH-R’16), Anindya Restika Istiqomah (FITB’16), Haura Zidna Fikri (SAPPK’16), dan Deborah Tampubolon (STEI)

Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD’14)

Share.

Leave A Reply