Realita Mahasiswa dalam Pembangunan Daerah 3T

3
Foto : Seminar Daerah 3T, Realita, dan Peran Pemuda (NK)

Foto : Seminar Daerah 3T, Realita, dan Peran Pemuda (NK)

ganecapos.com, Bandung – Hidup nyaman di tengah kota dengan segala fasilitas dan infrastruktur yang layak membuat seseorang cenderung kurang mengetahui dengan kondisi di luar sana, masih menjadi bagian negara Indonesia, di daerah Terdepan, Tertinggal, dan Terbelakang (3T) yang perlu dibenahi. Masalahnya, mereka, terutama generasi muda, masih mengalami kebingungan tentang ‘definisi’ daerah 3T dan apa saja yang dapat dilakukan untuk daerah tersebut. Untuk menjawab kebingungan tersebut, Ekspedisi Pelita Muda ITB menggelar seminar “Daerah 3T, Realita, dan Peran Pemuda” agar generasi muda terutama mahasiswa peduli terhadap daerah 3T di Indonesia. Acara tersebut dilaksanakan Sabtu, 12 November 2016 di TVST C, Institut Teknologi Bandung.

Seminar tersebut mengundang 4 pembicara yang telah lama berkecimpung dalam persoalan Daerah 3T. Pembicara pertama adalah Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA. Ph.D, Direktur Daerah Tertinggal, Transmigrasi, dan Perdesaan Bappenas. “Pembangunan daerah 3T adalah sebuah perubahan social, budaya, dan lainnya,” ujar pak Sumedi yang menyampaikan materi tentang Kebijakan Daerah 3T. Selain itu, beliau menekankan pentingnya membangun kebersamaan terlebih dahulu untuk membangun Daerah 3T.

Materi berikutnya yaitu permasalahan masyarakat daerah 3T dan urgensi pengembangan daerah 3T di sampaikan oleh Junardi Harahap. S.sos, M.si, Ph.D. yang merupakan Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. Masalah utama daerah 3T adalah susahnya akses jalan dan rentannya tindakan ilegal seperti ilegal fishing dan kasus lainnya. Sehingga perlu seorang pemuda dari daerah untuk mau pergi dan tinggal di daerah 3T terutama pulau terluar, guna membangun daerah tersebut. Masalah selanjutnya, terutama untuk 92 pulau terluar di Indonesia adalah kurangnya penjagaan dan rentannya pulau tersebut dikuasai asing dan pada akhirnya jatuh ke negara tetangga. Hal tersebut dapat terjadi karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan enggannya penduduk setempat untuk tetap tinggal menjadi bagian dari Indonesia.

Mengambil cuti akademik satu semester dari ITB demi melakukan penjelajahan ke daerah-daerah 3T di Indonesia tentunya bukan suatu keputusan yang mudah. Namun Eijihadi Alfin, mahasiswa FSRD dan penggagas Ekspedisi Semester Alam yang menjadi pembicara ketiga dalam acara seminar 3T ini mengambil keputusan tersebut.

“Menjadikan Alam sebagai kelas, masyarakat sebagai Dosen, dan Indonesia sebagai kampusnya. Dan dari perjalanan tersebut, saya mendapat banyak sekali pelajaran,” ujarnya di tengah pemaparan pengalaman setelah melakukan enam bulan penjelajahan Ekspedisi Semester Alam.

Terakhir adalah Aat Soeratin, seorang budayawan yang telah mengelilingi 92 pulau terluar di Indonesia. Beliau menekankah soal pentingnya rasa Nasionalisme. Nasionalisme adalah rasa cinta untuk tanah air. Dengan adanya rasa nasionalisme maka akan muncul keprihatinan akan daerah 3T di Indonesia. Untuk itulah, Nasionalisme sangat penting tertanam dalam jiwa pemuda Indonesia.

“Harapannya setelah mengikuti acara ini, Peserta akan memiliki kesadaran dan hatinya tergerak untuk mendalami lebih jauh tentang Indonesia dan membuat gerakan-gerakan seperti ini (gerakan sadar daerah 3T). Untuk itu rencananya Pelita Muda akan mengadakan acara seperti ini tiap tahun,” ujar Rifan Fauza, Ketua Ekspedisi Pelita Muda ITB.

Pelita Muda ITB adalah unit yang bergerak di bidang kemasyarakatan dengan fokus ke pengembangan karakter anggotanya dengan cara mengirim mereka ke daerah 3T dan desa-desa tertinggal di Bandung.

Kalimat penutup dari Eijihadi Alfin ketika menyampaikan materinya nampaknya patut untuk menjadi renungan bagi generasi muda terutama mahasiswa, “Ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan hanya dengan duduk di kampus dan melakukan kajian saja, tapi akan lebih mudah kita pahami ketika kita berada disana, bersama mereka, masyarakat.” Masura Bagatta, selamat beraktivitas!”

Reporter : Nahayuk Kresnawati (AS’15)

Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD’14)

Share.

3 Comments

  1. Halo sahabat ganeca pos.. Nice report ya, semoga banyak yang baca dan terinspirasi dari hasil diskusi kemaren. Saya juga boleh koreksi ya beberapa kata, kayanya ada beberapa yang typo. Pertama, Bappenas bukan ‘Bapernas’; Kedua, Aat Soeratin bukan ‘Soerati’; Ketiga, Ekspedisi Semester Alam bukan ‘Semesta Alam’; Keempat Alam adalah kelas bukan ‘alam adalah buku. Diambil dari tagline semester alam, “Menjadikan alam sebagai kelas, masyarakat sebagai dosen, dan Indonesia sebagai kampusnya.” Sama terakhir kalo saya boleh lengkapin biar ga salah tafsir, “Ada banyak hal yang tidak bisa kita lakukan hanya dengan duduk di kampus dan melakukan kajian saja, tapi akan lebih mudah kita pahami ketika kita berada disana, bersama mereka, masyarakat.” Masura Bagatta, selamat beraktivitas!

Leave A Reply