Festival IT Arkavidia : “Through the Era of Digital Economy”

0

Seminar Arkavidia HMIF ITB di Aula Timur ITB, Sabtu (19/11) - (DT/MH)

Foto : Seminar Arkavidia HMIF ITB di Aula Timur ITB, Sabtu (19/11) – (DT/MH)

ganecapos.com, Bandung — Saat ini perkembangan teknologi informasi (IT) sangat pesat. Tentunya, kita dapat merasakan dampak tersebut baik dalam lingkungan pekerjaan, keluarga, sampai ke kehidupan perekonomian kita. Sebelum berkembangnya IT, kita pasti pernah merasakan banyak waktu yang terbuang untuk memilih barang, antri untuk membayar pajak, pendataan penduduk yang berlangsung manual dan masih banyak lagi. Perkembangan IT nyatanya memudahkan dan dibutuhkan oleh manusia. Jika kita tidak mengetahui dan menguasainya, kemungkinan kita akan menjadi yang terbelakang dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan arus perkembangan yang begitu pesat. Arkavidia 2016 menyampaikan pembaharuan tersebut pada Sabtu (19/11) di Aula Timur, Institut Teknologi Bandung.

Untuk itu sebagai insan intelektual yang menguasai bidang IT, Himpunan Mahasiswa Informatika, Program Studi Teknik Informatika (IF), dan Program Studi Sistem dan Teknologi Informasi (STI) Institut Teknologi Bandung, melihat pentingnya mencerdaskan masyarakat dan mahasiswa mengenai perkembangan IT itu sendiri. Pada tahun 2016, ketiga lembaga tersebut mengadakan sebuah festival teknologi informasi bernama Arkavidia. Festival ini mengangkat fokus perkembangan digital economy dan mengusung tema “Through the Era of Digital Economy”.

“Kita melihat perkembangan IT di Indonesia merambah ke aspek ekonomi kita dan hal itu mendukung pertumbuhan perekonomian kita. Karena itu, sebagai mahasiswa IT kita mau do something untuk memberikan edukasi ke masyarakat tentang perkembangan IT itu” ujar Rahman Adianto (IF’13) selaku Ketua Pelaksana.

Rangkaian Festival IT ini sudah dimulai sejak 8 Oktober 2016. Rangkaian acara tersebut dimulai dari pre-event Arkavidia berupa seminar yang mengangkat tema “Tantangan Indonesia Menuju Cashless Society”. Seminar ini dibawakan oleh Joedi Wisoeda selaku Country Director Ascend Indonesia dan Iwan Setiawan selaku Deputy Director of Bank Indonesia. Seminar ini menjadi pengantar era digital economy untuk para peserta festival IT ini.

Rangkaian acara lainnya adalah Arkavidia Software Technovation Competition. Di kompetisi ini diharapkan dapat menstimulasi orang-orang untuk berinovasi di bidang teknologi perangkat lunak. Tema yang diusung ialah “Inovasi Bisnis Kecil Berbasis Internet”. Kompetisi ini diikuti oleh 42 tim mahasiswa se-Jawa. Setelah seleksi ditetapkan 10 tim finalis yang diadu lagi di hari puncak Festival IT Arkavidia.

Selain kedua mata acara tersebut, seminar, talkshow dan expo menjadi main event festival ini yang diadakan pada hari puncak Festival IT Arkavidia (19/11/2016). Seminar ini dibawakan oleh Dr. Ir. Hari Santosa Sungkari, M.H. selaku Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif. Beliau memaparkan keadaan nyata dunia digital economy dan kesiapan dan langkah yang diambil pemerintah baik dalam infrastruktur maupun regulasi menghadapi perkembangan tersebut. Pada hari puncak festival juga diadakan expo di Basement CC Timur. Expo ini diadakan guna mewadahi mahasiswa dan start-up mensosialisasikan karya dan produk mereka.

Sedangkan pada acara talkshow diisi oleh beberapa pembicara-pembicara yang menguasai berbagai sektor dalam digital economy. Pada sektor venture capital diwakili oleh Prof. Intan Ahmad selaku Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti RI. Sedangkan pada sektor industri diwakili oleh Ardy Alam selaku Chief Product Officer KASKUS Networks dan M. Fajrin Rasyid selaku Co-Founder dan CFO PT Bukalapak.com. Selain itu, ada pula Alamanda Shantika selaku Chief Activist of FemaleDev Kibar yang menjadi elemen aktivits dalam digital economy. Talkshow ini dipimpin oleh moderator Radynal Nataprawira selaku Technology Correspondent CNN Indonesia. Talkshow ini membicarakan bagaimana dan apa yang butuh untuk dipersiapkan oleh berbagai elemen dalam digital economy.

Untuk masuk ke dunia digital economy, kita perlu memiliki visi yang jelas dan memiliki dasar yang kuat. Visi itu merupakan pemecahan masalah terhadap keadaan yang terjadi di masyarakat, dan solusi yang kita tawarkan terhadap masalah itu haruslah memiliki dampak yang luas. Beberapa contoh yang menggambarkan keadaan tersebut adalah aplikasi transportasi berbasis online yaitu Gojek. Selain itu, beberapa nilai yang ditekankan adalah pentingnya kolaborasi.

“Membangun start-up sendiri itu susah, tapi kalau ada kolaborasi akan lebih mudah. Karena setiap orang punya kelebihan untuk menutupi kekurangan yang lain,” ujar Fajrin, Co-Founder Bukalapak.com.

You have a problem. You get the solution” ujar Ardy.

Reporter : Deborah Tampubolon (STEI’16), Michael Hananta (SITH-R’16)

Share.

Leave A Reply