Hujan Deras Landa Bandung Sepanjang Siang, Pasteur dan Pagarsih Terdampak Banjir Cileuncang

0
Foto : Banjir di daerah Pasteur pada Senin (24/10)

Foto : Banjir di daerah Pasteur pada Senin (24/10)

ganecapos.com, Bandung – Hujan deras yang terjadi sepanjang siang pada Senin (24/10) mengakibatkan sejumlah titik di wilayah barat Kota Bandung terendam banjir cileuncang (banjir yang membawa air dengan jumlah yang banyak dan deras namun surut dengan singkat). Tercatat, banjir terjadi di Jalan Doktor Djundjunan alias Jalan Pasteur dan kawasan Jalan Pagarsih di Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar.
Di Pasteur, luapan Sungai Citepus, merendam jalan setinggi 50-70 sentimeter. Dalam berita yang disampaikan oleh Tribun Jabar, luapan air ini membuat beberapa mobil tenggelam oleh air. Kondisi ini membuat akses di jalan ini nyaris terputus sehingga hanya kendaraan besar yang dapat melewati jalan akses utama dari Jakarta menuju Kota Kembang melalui Jalan Tol Purbaleunyi ini. “Banjirnya setinggi 50-70 sentimeter. Tapi kalau kendaraan besar masih bisa lewat,” ungkap Kasat Lantas Polrestabes Bandung, AKBP Asep Pujiono melalui KBO Lantas AKP Endi Sugandi.
Rendaman air membuat beberapa aktivitas di sekitar Pasteur lumpuh, di antaranya kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 9 Bandung, pengisian bahan bakar di SPBU 34-40116, dan kegiatan perdagangan di sepanjang Bandung Trade Center. Saksi mata mengakui bahwa rendaman banjir ini adalah yang terparah yang pernah dialami dalam beberapa tahun terakhir. Enda (35) pedagang sembako di kawasan tersebut kepada Republika mengatakan genangan air memang kerap terjadi di Jalan Pasteur saat hujan besar mengguyur. Namun, genangan air kali ini dikatakannya paling parah hingga melumpuhkan arus lalu lintas.”Biasanya airnya memang kiriman. Paling parah ini,” ujarnya. Hal serupa dikatakan Aldi Ramdani, petugas parkir Bandung Trade Center kepada Tempo. “Tingginya sepinggang. Jadi air dari seberang jalan masuk ke sini. Di sini air tidak tertampung karena selokannya juga penuh,” ujar Aldi di lokasi, Senin siang. Aldi menambahkan, ketinggian air bertahan hingga dua jam lamanya. Air baru surut sekitar pukul 14.15 WIB. “Mobil ada lebih dari lima (unit) terjebak. Mogok karena airnya tinggi,” lanjutnya. Aldi menjelaskan, Jalan Pasteur memang biasa tergenang banjir. Namun, dari pengalamannya, baru kali ini air mencapai ketinggian 1,5 meter. “Tidak pernah separah ini,” tuturnya. Air yang merendam Jalan Pasteur bertahan hingga surut sekiranya pada pukul 14.30 WIB siang, menyisakan lumpur banjir yang menumpuk di pinggir jalan.
Di Jalan Pagarsih, air limpasan dari Pasteur membuat beberapa mobil yang terparkir di badan jalan hanyut terbawa air. Seorang warga setempat bahkan mengabadikan peristiwa tersebut. Kepada Detik.com, Cepi Setiawan, warga setempat yang menyaksikan limpasan air banjir melintasi Pagarsih, mengaku bahwa banjir ini adalah yang terdahsyat dibandingkan biasanya. “Ini banjir terparah yang pernah terjadi di sini (Pagarsih). Banjirnya deras sekali, mobil aja sampai hilang masuk selokan besar,” kata Cepi di lokasi kejadian. Hanyutnya kendaraan di sepanjang Jalan Pagarsih membuat kepolisian setempat langsung memerintahkan jajarannya untuk mencari kendaraan yang terbawa banjir. “Seperti motor sampah milik kelurahan setempat dan kendaraan roda empat merek Nissan Grand Livina milik warga tersereta air. Dan pihak kita akan mencoba membantu mencari kendaraan tersebut,” ujar Kasubag Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Winarto di Stadion Siliwangi Bandung pada Detikcom.
Selain Pasteur dan Pagarsih, limpasan air terjadi di Jalan Setiabudi dan Jalan Sukagalih. Hal ini disampaikan Sekertaris Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung Agoes Syafrudin kepada Inilah Koran. Banjir yang terjadi sepanjang siang lalu menyebabkan seorang karyawan supermarket Borma cabang Setiabudi, Ade, tewas setelah jatuh ke lubang yang terhubung ke selokan kala air limpasan memenuhi Jalan Setiabudi dekat tempat Ade bekerja.
 
Ketiadaan BPBD kota
Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung Iskandar Zulkarnaen kepada Tempo menjelaskan, tidak hanya di Pasteur, menuturkan banjir terjadi akibat hujan deras yang melanda kota, terutama di wilayah hulu Sungai Citepus. “Banjirnya akibat luapan Sungai Citepus. Hujan cukup besar di atas, seperti di Lembang. Jalur-jalur yang terdampak ada di Pasteur, Pagarsih, Sukamulya,” ucapnya. Sementara, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menyoroti penyebab banjir ini melalui akun Twitter @sutopo_BNPB. “Penyebab banjir Bandung: 1. Jebolnya bendung Citepus, 2. Meluapnya sungai Citepus, 3. Sungai dangkal dan sampah menyumbat sungai/drainase,” cuitnya. Sutopo dalam situs BNPB juga menyoroti ketiadaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang berperan dalam tanggap darurat bencana. Sutopo mengakui bahwa Kota Bandung belum mempunyai organisasi BPBD setempat. “Pemkot Bandung belum ada rencana membentuk BPBD karena masih bisa ditangani Dinas Penanggulangan Pemadam Kebakaran (DPPK). Namun saat terjadi bencana alam seperti saat ini fungsi komando menjadi sulit dilaksanakan,” katanya kepada Viva.co.id. Fungsi tanggap darurat bencana ini dipegang oleh BPBD Provinsi Jawa Barat, dibantu oleh polri, TNI, aparat kelurahan dan Kecamatan.
Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung Denny Zulkaidi kepada ANTARA menuturkan bahwa minimnya drainase di Bandung berperan dalam pemicu terjadinya banjir yang sudah berkali-kali terjadi. Menurut dia, Pemerintah Kota Bandung saat ini harus menghitung ulang kebutuhan akan drainase karena sepengetahuan dirinya rencana perbaikan dan pengadaan drainase di Kota Bandung terakhir kali dilakukan pada tahun 1980-an. “Tapi itu harus ditanyakan lagi ke Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung, karena setahu saya terakhir kali rencana untuk pengadaan drainase itu tahun 1980. Jadi Pemkot Bandung harus membuat master plan drainase,” kata dia. Ia menuturkan ada solusi jangka pendek dan jangka panjang yang bisa dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung untuk mengatasi masalah banjir. Solusi jangka pendek, kata dia, adalah dengan membersihkan drainase dari sampah dan sedimentasi dan solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir adalah memperbanyak ruang terbuka hijau dan ruang terbuka hijau privat di setiap rumah warga. “Idealnya memang jumlah ruang terbuka hijau yang harus dimiliki oleh Pemkot Bandung adalah 20 persen dari total luas wilayah yang ada,” kata dia.
Pemerintah Kota Bandung melalui akun Twitter milik Walikota Ridwan Kamil meminta maaf atas kejadian banjir ini. “Hindari Jln pasteur sdg banjir. Tim @dbmpkotabdg sdh di TKP. Insya Allah sdg siap2 dipasang Tol Air spt Gedebage yg skg tdk banjir. Mhn Maaf,” cuit Ridwan. Ridwan Kamil berjanji, dalam waktu dekat, ruas jalan Pasteur dan Pagarsih akan dipasang tol air sebagaimana yang telah dioperasikan di wilayah Gedebage. Tol air tersebut efektif mengatasi banjir yang rutin terjadi di wilayah tersebut.
Kontributor : Fikri Rachmad Ardi (PL’14)
Share.

Leave A Reply