Kereta Api Bandung : Mau Dibawa Ke Mana?

0
Foto : Diskusi Keilmuan tentang Kereta Api Bandung pada Selasa (30/08) / (LVPD)

Foto : Diskusi Keilmuan tentang Kereta Api Bandung pada Selasa (30/08) / (LVPD)

ganecapos.com, Bandung – Selasa, 30 Agustus 2016, dilaksanakan kajian mengenai permasalahan yang sedang hangat yaitu kereta api Bandung. Kajian ini dihadiri oleh 60 peserta dari berbagai himpunan dan unit kajian di ITB. Secara berurutan, kajian ini dipaparkan oleh MTI (Keluarga Mahasiswa Teknik Industri), HMP (Himpunan Mahasiswa Planologi), Ir. Christian Harijanto, selaku alumni ITB yang mengurus proyek kereta api, dan Kabinet KM ITB.

Igung, perwakilan MTI, memaparkan tentang bisnis di PT KAI yang selama ini masih belum balik modal. Bisnis PT KAI akan bangkrut jika hanya mengandalkan tiket dan tonase. Apalagi, jika PT KAI sekaligus juga mengurusi pembangunan dan pengembangan infrastrukturnya. Oleh karena itu, wajar jika PT KAI menyewakan aset mereka terutama non-railways (lahan yang tidak digunakan sebagai jalur kereta api aktif) seperti lahan perdagangan kepada pihak swasta.

Selanjutnya, perwakilan HMP, Tamara, memaparkan bahwa TOD (Transit Oriented Development) memiliki banyak keuntungan terutama di dalam mengurangi eksternalitas yang diakibatkan oleh transportasi. Studi TOD di Bandung sendiri menunjukkan potensi yang kuat dengan 9 titik sasaran pengembangan. Permasalahannya terdapat pada pelepasan hak milik yang saat ini menjadi buah bibir di Stasiun Bandung. Pemaparan dilanjutkan oleh Ir. Christian Harijanto mengenai proyek kereta api cepat di Bandung.

“Proyek itu dana hibah dari Prancis. Jika kelak dikembangkan, dananya masih pinjam,” ungkap Bapak Ir. Christian Harijanto.

Proyek kereta api cepat sudah ditetapkan berdasarkan geografis dengan tetap mempertahankan cagar budaya yang ada di Stasiun Bandung. Hasil analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) juga menunjukkan bahwa proyek ini layak dilaksanakan. Namun, saat ini yang menjadi polemik adalah penggusuran lahan milik PT KAI yang ditempati warga sebagai perumahan dan pertokoan. Penggusuran ini mnejadi fokus perhatian dari media-media di Bandung akhir-akhir ini.

Selanjutnya, Luthfi Muhammad Iqbal yang akrab disapa Obe juga mengungkapkan kejanggalan yang terjadi saat pemaparan kronologi pra dan pasca-konflik stasiun Bandung. Diakuinya, hasil wawancara dengan warga menunjukkan bahwa pada tanggal 4 April 2016 sudah ada surat penundaan penggusuran untuk menyelesaikan pemindahan kuasa hukum lahan. Namun, 26 Juli lalu pasukan gabungan besar secara langsung menggusur lokasi tanpa adanya surat pemberitahuan.

Menariknya, saat dilakukan diskusi, pertanyaan pertama datang dari mahasiswa yang berkuliah di Medan mengenai SWOT kereta api cepat di Bandung, mengingat di Medan sudah ada kereta api cepat yang ironisnya tidak diminati warga. Christian menanggapi bahwa proyek di Medan memang unik karena warga lebih suka naik mobil agar dapat beristirahat di tengah-tengah perjalanan. Pembangunan kereta api cepat pun akan diintegrasikan dengan objek wisata di wilayah Bandung sehingga nantinya warga dapat pergi berwisata langsung dari stasiun menggunakan transportasi umum yang disediakan di sekitar stasiun.

Dalam diskusi juga disebutkan bahwa untuk membiasakan masyarakat menggunakan transportasi umum seperti kereta api, masyarakat memerlukan kesadaran sejak dini. Misalnya, meminta anaknya pergi ke sekolah menggunakan layanan angkot. Namun, sistem transportasi juga dapat dianalogikan sebagai lingkaran setan. Pasalnya, pengembangan TOD yang bertujuan untuk membentuk masyarakat yang pro-transportasi umum dan mengurangi kemacetan lalu lintas dapat menimbulkan persepsi masyarakat untuk kembali menggunakan kendaraan pribadi ketika transportasi sudah lancar.

Peserta juga menanyakan pengembangan TOD yang bertujuan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena dikhawatirkan pembangunan TOD justru dapat mematikan mata pencaharian masyarakat yang dulu tinggal di sekitar wilayah TOD Bandung.

Sehingga, menarik rasanya untuk ditelusuri lebih lanjut permasalahan kereta api di Bandung dalam multi-disiplin ilmu tanpa mengabaikan aspek sosial-humaniora.

Reporter : Luh Putu Viona Damayanti (MRI’14)

Share.

Leave A Reply