KM ITB Samakan Suhu Terkait Multikampus

0
Diskusi bersama terkait permasalahan multikampus di Sekretariat KM ITB (Foto : MBP)

Diskusi bersama terkait permasalahan multikampus di Sekretariat KM ITB pada Jumat (17/06) (Foto : MBP)

ganecapos.com, Bandung – Rencana pengembangan ITB yang akan mendirikan beberapa kampus cabang menjadi sebuah kekhawatiran di dalam tubuh kemahasiswaan kita saat ini. Bagaimana nantinya nasib mahasiswa ITB  yang masih belum mendapatkan kejelasan hingga kini terutama terkait kegiatan kemahasiswaan yang akan mereka lalui. Kehadiran ITB Cirebon menjadi lembaran baru yang harus dipersiapkan oleh KM ITB. Diskusi pembuka terkait Multikampus telah diselenggarakan oleh Kementerian Advokasi dan Kebijakan Kampus yang dihadiri oleh perwakilan lembaga KM ITB pada Jumat (17/06) di Sekretariat KM ITB.

Menteri Advokasi dan Kebijakan Kampus KM ITB, Fauzan Makarim (TM’13), membuka diskusi dengan pemaparan hasil perbincangan dengan beberapa lembaga rektorat dan mahasiswa Jatinangor terkait kondisi pengembangan ITB kini.

Pemaparan dimulai dari kondisi mahasiswa afirmasi ITB Cirebon yang telah memulai masa matrikulasi sebelum memasuki masa Tahap Persiapan Bersama (TPB) di Jatinangor. Mahasiswa afirmasi ITB Cirebon yang diterima melalui jalur undangan sejumlah 60 mahasiswa. Mereka diterima di tiga jurusan berbeda yaitu Planologi, Teknik Industri, dan Seni Kriya yang masing-masing berjumlah 20 mahasiswa. Kehadiran tiga kelas baru dari masing-masing program studi menimbulkan kekhawatiran kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan yang bersangkutan. Menurut Dzikra (BA’13), “Sebaiknya masing-masing himpunan yang bersangkutan memastikan tentang pembukaan kelas kepada Dekanat yang bersangkutan.”

ITB Cirebon adalah salah satu konsep Pendidikan Di luar Daerah (PDD) yang merupakan hasil kerja sama antara ITB dengan Pemprov Jawa Barat. Pembukaan ITB Cirebon yang dilaksanakan tahun ini dirasa terlalu terburu-buru oleh sebagian mahasiswa ITB. Sebelumnya, ITB pun terlebih dahulu berencana untuk membuka program studi baru di daerah Pangandaran, Ciamis. Namun rencana tersebut ternyata didahului oleh pembukaan ITB Cirebon dan ITB Bekasi pada SNMPTN 2016. Walaupun pada akhirnya terjadi pembatalan pembukaan ITB Bekasi karena permasalahan pembebasan lahan yang belum tuntas, ungkap Fauzan Makarim saat bertemu Wakil Rektor Bidang Akademik, Bapak Bermawi.

Selanjutnya, pemaparan pun dilanjutkan dengan kondisi kekinian dari ITB Jatinangor. Tiga tahun ITB Jatinangor beroperasi, memang kondisinya kini sudah jauh lebih membaik. Munculnya gedung-gedung baru seperti gedung II B, sebelumnya Gedung Lab. Komputer, sudah tersedianya 10 sekretariat baru untuk UKM, kondisi penerangan yang sudah mulai terpasang, dan terdapat beberapa kemajuan lainnya. Namun di balik itu, masih terdapat beberapa kendala yang menjadi perhatian mahasiswa ITB Jatinangor di antaranya adalah jam operasional dan menu di Kantin Jatinangor yang terbatas, masalah keamanan di Asrama Putri akhir-akhir ini, hingga belum tersedianya gedung prodi dan sekretariat yang layak untuk Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian ‘Agrapana’. Ditambah masih terbatasnya operasional Transnangor  padahal adanya keharusan mahasiswa ITB Jatinangor untuk bolak-balik ke Ganesha baik dalam perihal kebutuhan akademik maupun kemahasiswaan.

Tentunya, kondisi kekinian dari kampus cabang ITB harus menjadi kegelisahan bersama dalam satu KM ITB bukan beberapa lembaga saja. Dhika, selaku Presiden KM ITB, menambahkan, “Kondisi Multikampus harus menjadi kegelisahan bersama satu KM ITB. Karena kita membayar kewajiban UKT yang sama. Mari kita samakan suhu terkait Multikampus ini!”.

KM ITB pun harus bersiap dengan rencana pembukaan kampus ITB cabang lainnya baik itu di Pangandaran, Walini, bahkan Malaysia yang bisa dibuka kapan saja. Sistem kemahasiswaan kita pun harus dipersiapkan dengan sebaiknya. Ketua Kongres KM ITB, Yehezkiel David (TM’13), menegaskan “Kita akan menyiapkan dokumen rencana strategis kemahasiswaan KM ITB dari tahun 2017-2020 termasuk di dalamnya terkait Multikampus. Hal itu tengah dipersiapkan kini dengan telah dibentuknya tim Ad Hoc.”

Dalam diskusi ini menghasilkan 4 hal yang akan diajukan pada saat kopi sore di awal Agustus 2016 bersama rektorat ITB yaitu :

  1. ITB wajib menyediakan kelayakan fasilitas akademik di Jatinangor atau memenuhi kebutuhan transportasi untuk mahasiswa ITB Jatinangor-Ganesha.
  2. Pembukaan dokumen adendum ITB dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait ITB Cirebon.
  3. Jaminan penyetaraan kualitas antara mahasiswa Jatinangor yang mengulang TPB yang akan digabung proses perkuliahannya dengan mahasiswa afirmasi ITB Cirebon.
  4. Peningkatan kualitas kantin di ITB Jatinangor.

Mari kita samakan suhu di KM ITB terkait Multikampus ini! Karena kita memiliki status yang sama sebagai mahasiswa ITB dengan kewajiban dan hak yang sama.

Reporter dan Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD’14)

Share.

Leave A Reply