Energi Non-Konvensional : Katalisator Kemandirian Energi Bangsa

0
images (6)

Grafik Kebutuhan Energi Indonesia 2010-2030 (Foto : ESDM)

ganecapos.com – Energi merupakan eksistensi yang tak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia, terutama pada zaman modern ini. Sejak tahun 1800-an, minyak, gas, dan batubara telah menjadi energi yang paling digemari hampir di seluruh dunia. Hal itu merupakan imbas dari penemuan mesin uap dan internal combustion engine pada masa revolusi industri. Memasuki dekade 1900-an hingga 2000, ledakan penduduk serta kemajuan teknologi dan perkembangan industri membuat minyak dan gas semakin digemari dan menjadi sebuah pra-syarat bagi pembangunan.

Hal tersebut membuat minyak dan gas mempunyai fungsi yang sangat strategis bagi sebuah Negara yang memiliki produksi berlimpah. Pada awal dekade 1970-an, Indonesia pernah mencapai produksi minyak berlimpah sejak puncak produksi Lapangan MINAS. Saat itu, produksi mencapai 853.000 BOPD (Barrel Oil Per Day) dan meningkat menjadi 1,6 juta BOPD pada sekitar tahun 1977, sedangkan konsumsi hanya sekitar 122.000 BOPD dan meningkat menjadi 400.000 BOPD pada 1977. Artinya kita mendapatkan surplus lebih dari 75% total produksi. Namun, memasuki tahun 1998, ledakan penduduk, kemajuan teknologi serta terjadinya krisis ekonomi membuat kondisi berubah 180 derajat, ditambah dengan minimnya eksplorasi saat itu. Pada saat ini, produksi minyak kita sekitar 860.00 BOPD, namun konsumsi sudah melampaui 1,4 juta BOPD (ESDM,2012). Hal ini membuat Pemerintah Indonesia memutar otak dan menentukan kebijakan — kebijakan baru terkait energi. Kebijakan energi tersebut tertuang pada Peraturan Presiden (PERPRES) no.5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Salah satu pasokan energi yang tertuang dalam Bauran Energi Primer Nasional adalah memanfaatkan pasokan energi non-konvensional. Dari sekian banyak potensi energi non-konvensional tersebut, tulisan ini akan mengupas 2 sumber energi non-konvensional yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, yaitu Coal Bed Methane (CBM) dan panas bumi.

Coal Bed Methane

Coal Bed Methane pada tambang batubara (Foto : energyjustice.net)

Coal Bed Methane pada tambang batubara (Foto : energyjustice.net)

Coal Bed Methane (CBM) adalah gas bumi, utamanya metana, yang terkandung dalam lapisan batubara di bawah permukaan akibat proses penjadian batubara selain air dan batubara itu sendiri. Batubara memiliki kemampuan menyerap gas. Jika tekanan gas semakin tinggi, maka kemampuan batubara untuk mengadsorpsi gas juga semakin besar. Beberapa orang (atau perusahaan) menggunakan istilah lain, yaitu Coal Seam Gas (CSG).

Berdasar penelitian Advance Resource International Inc. (ARI) bersama dengan DitJen Migas, Indonesia memiliki potensi cadangan (resource) CBM sebesar 453.3 TCF yang terbagi ke dalam 11 (sebelas) cekungan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai Negara dengan cadangan CBM terbesar ke-6 di dunia.

Dengan potensi yang ada seharusnya Indonesia mampu meningkatkan produksi CBM namun pada pelaksanaannya hal itu belum terjadi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya pengembangan CBM Indonesia, antara lain :

a. Kurang tersedianya peralatan operasi.

Kolaborasi yang baik antara lembaga — lembaga terkait adalah kunci dari permasalahan ini, misalnya Lemigas, yang juga telah mengembangkan rig CBM dengan harga yang relatif lebih murah. Kontribusi dari Kementrian Perindustrian juga diperlukan dalam menangani masalah ini.

b. Tumpang tindih lahan dengan pemegang kegiatan pengelola batubara.

Dalam hal ini, Pemerintah merupakan kunci untuk menentukan keekonomisan dari suatu wilayah kerja CBM atau batubara. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah melakukan pemetaan pada wilayah kerja, sehingga dapat dibagi daerah dengan prospek penambangan batubara dan prospek eksploitasi CBM.

c. Biaya pengembangan yang tinggi dan lamanya Break Event Point.

Untuk mengatasi masalah ini, maka Pemerintah selayaknya memberi insentif fiskal pada kontraktor. Insentif dapat berupa keringanan pajak atau kredit investasi, terutama saat proses masih mencapai dewatering phase.

d. Kualitas SDM dan teknologi yang kurang memadai.

Pelatihan dan penguasaan teknologi sangat dibutuhkan, dan harus didorong oleh kesiapan dari Pemerintah.

Geothermal atau Panas Bumi

Salah satu lokasi pengembangan Panas Bumi di Jawa Barat (Foto : ESDM)

Salah satu lokasi pengembangan Panas Bumi di Jawa Barat (Foto : ESDM)

Menurut Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang Panas Bumi, yang dimaksud dengan panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem Panas Bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan.

Statistik menunjukkan bahwa potensi panas bumi Indonesia mencapai 29.000 MWe (Badan Geologi Indonesia, 2013). Analisis oleh Kementrian ESDM juga menghasilkan potensi yang sama, lebih tepatnya 28.994 MWe (ESDM,2013). Jumlah tersebut membuat Indonesia sebagai Negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia, dengan memiliki cadangan kurang lebih 40% dari cadangan panas bumi dunia. Di sisi lain, geothermal juga menempati peringkat 4 sebagai energi utama dalam pembangkit listrik. Maka, geothermal seharusnya menjadi jawaban pemerintah atas Mega Proyek 35.000 MW dan permasalahan elektrifikasi pada Bangsa ini yang baru mencapai angka 86,4% (ESDM, 2013). Namun, menurut data dari PT PERTAMINA Geothermal Energy (PGE), potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 1,4835 GW dari 11 pembangkit listrik, atau hanya sekitar 5% dari total potensi yang ada.

Lalu, mengapapanas bumi Indonesia tidak berkembang pesat? Dalam tulisan ini, akan dipetakan kendala — kendala tersebut dan solusinya, antara lain :

a. Ketidakpastian cadangan yang tinggi.

Solusi yang juga diusulkan pada saat laporan World Wildlife Fund (WWF), Igniting the Ring of Fire : A Vision for Developing Indonesia’s Geothermal Power pada 7 Mei 2012 adalah kebijakan asuransi eksplorasi yang diberikan pada Perusahaan yang melakukan eksplorasi geothermal.

b. Biaya pengoperasian yang tinggi.

Untuk menghemat biaya alat, kemampuan rancang bangun dan rekayasa dalam negeri merupakan sektor yang harus dibenahi. Selain itu, dibutuhkan pemodelan kinerja reservoir secara menyeluruh untuk berbagai kemungkinan lapangan agar pengoperasian kegiatan eksploitasi terintegrasi dan terencana dengan baik.

c. Proses perizinan yang rumit.

Area untuk PLTP sering kali berada di kawasan pegunungan atau hutan konservasi, sehingga proses perizinan akan melibatkan banyak stakeholder. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan perizinan satu pintu yang terintegrasi mulai dari proses eksplorasi hingga penyelesaian lapangan. jual.

d. Ketidakpastian hukum dan harga jual.

Perlu adanya hukum yang jelas mengenai mekanisme pemenang tender seperti dalam bisnis migas. Agar harga jual listrik dari PLTP kompetitif, perlu diberikan insentif fiskal pada kontraktor seperti tax holiday.

Untuk memaksimalkan potensi ini, peran peneliti dan akademisi sangatlah penting dalam mewujudkan pengembangan teknologi berbasiskan inovasi. Pemanfaatan geothermal di Negara Filipina serta elektrifikasi di Negara Vietnam yang mencapai lebih dari 90% adalah bukti nyata dari peran peneliti dan akademisi yang terintegrasi dengan baik. Perguruan Tinggi Indonesia harus membuka mata terhadap dunia industri agar tercapai link and match antara riset dan perkembangan kondisi industri saat ini.

Seleksi alam telah membuat energi Indonesia tidak lagi menjadi komoditas, namun menjadi aset strategis untuk memajukan Bangsa Indonesia. Karena itu, kemandirian energi menjadi hal yang wajib dimiliki oleh Indonesia untuk terus memutar roda perekonomian Negara. Pengembangan sektor energi non-konvensional merupakan suatu jalan untuk mencapai tujuan mengembangkan energi non-konvensional, menjadi katalisator menuju kemandirian energi Bangsa Indonesia.

Sumber : “Danny Hidayat” https://medium.com/@kajianenergi.patraitb/danny-hidayat-5512e0964f70

HMTM ‘PATRA’ ITB

Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD’14)

Share.

Leave A Reply