Berbagi Cerita Inspirasi Lewat Indonesia Mengajar

1
Cerita Inspirasi dari Alumni ITB, Pengajar Indonesia Muda

Cerita Inspirasi dari Alumni ITB, Pengajar Indonesia Muda

ganecapos.com – Tiga pembicara muda itu menyadarkan hadirin yang berada di dalam ruangan Aula Sipil ITB mengenai urgensi pendidikan di Indonesia yang masih harus diperhatikan. Sabtu (21/05) bertepatan dengan masuknya waktu libur panjang bagi kalangan mahasiswa ITB setelah menuntaskan masa perkuliahan. Ketiga pembicara tersebut adalah alumni pengajar muda Indonesia dalam acara talkshow “Indonesia Mengajar Goes to Campus” yang bekerja sama dengan Skhole ITB Mengajar.

Pada acara tersebut, terdapat beberapa point penting mengenai sisi dunia pendidikan anak-anak Indonesia. Talkshow yang berlangsung selama 4 jam ini memang lebih banyak membahas tentang kualitas pendidikan anak-anak di pelosok negeri.

“Masalah pendidikan adalah masalah kita bersama,“ ungkap Heiva Muzdaliva, alumni Pengajar Muda yang saat itu menjadi salah satu pembicara talkshow. Setuju dengan kalimat tersebut, kami pun terdiam sembari memperhatikan foto-foto yang ditampilkan oleh panitia. Memang benar, urgensi pendidikan bagi anak-anak Indonesia bukanlah menjadi prioritas utama pemerintah, sehingga hal ini merupakan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama. Tak hanya seorang, namun seluruh masyarakat Indonesia.

Selama 5 tahun, Indonesia mengajar berhasil merancang sebuah program dan mengirimkan anak-anak terbaik ke sekolah-sekolah dasar yang memang membutuhkan pengajar karena tercatat bahwa sekolah – sekolah dasar dominan kekurangan pengajar yaitu sebesar 65%. Sejak November 2010 hingga tahum 2015 tercatat telah 617 orang yang dikirim ke daerah untuk menjadi pengajar di sekolah-sekolah dasar di pelosok Indonesia. Menjadi sebuah kepercayaan juga bahwa sebanyak 30.000 murid tercatat telah menjadi murid dalam program Indonesia Mengajar ini dengan skala 9 sampai 10 anak menjadi lebih bersemangat.

Semangat dan motivasi menjadi kata-kata yang ditekankan dalam talkshow ini. Benar yang dikatakan para pembicara, bahwa yang dibutuhkan oleh anak-anak ini bukanlah sesuatu janji-janji yang hebat dan tinggi. Mereka perlu sebuah pemicu untuk melakukan hal-hal yang baik, yaitu semangat. Sesuai dengan tujuan dibentuknya program ini oleh Indonesia Mengajar adalah bukan hanya mengirimkan mereka-mereka yang akan mengajar tetapi mereka yang dapat memberi semangat dan menjadi sosok inspirasi untuk anak-anak di pelosok negeri. “Dia itu gak perlu kata – kata nanti sekolah ke luar negeri tapi dia hanya perlu semangat untuk belajar membaca”  begitu saat Kak Ridwan Wijaya menceritakan salah seorang muridnya yang belum lancar dalam membaca walaupun ia sudah duduk di bangku kelas 6.

Menjadi seorang pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar ini juga tidak mudah. Banyak seleksi yang harus dilewati sebelum akhirnya dikirimkan langsung ke tempat pengajaran. Kak Zakaria bercerita bagaimana dirinya dapat lulus seleksi sampai akhirnya disambut dengan meriah saat tiba di Desa Wayan, Halmahera Selatan, tempat ia ditugaskan. Ada banyak tantangan yang harus dipersiapkan, mental serta fisik yang terutama. Selain daerah yang asing untuk para pengajar namun juga tantangan di dalam membimbing para guru pun dirasakan oleh para pengajar muda. Tantangan bagaimana mereka yang menjadi pengajar muda untuk dapat mendorong para guru agar tenang dan percaya diri dalam mendampingi anak-anak terutama ketika anak-anak mengikuti sebuah event penting seperti perlombaan.

Tantangan untuk para pengajar memang sangat ditekankan pada memotivasi anak-anak. Tidak hanya berlaku untuk para pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar tetapi juga untuk semua pengajar di Indonesia. Ditambah pula dengan kreativitas dan kesungguhan hati dalam mengajar dapat menjadi nilai tambah bagi keberhasilan di dalam mengajar.

Semoga Indonesia kini tidak hanya memiliki persebaran guru-guru yang merata tetapi juga menghadirkan guru-guru yang menjadi sosok inspirator bagi muridnya.

Reporter : Nadya Pasha (FMIPA’15)

Editor : Muhammad Bayu Pratama (GD’14)

Share.

1 Comment

  1. Setuju sekali dengan artikel ini, semoga artikel ini membuka para pengajar dan komponen-komponen pendidikan lainnya untuk turut kembali membangun pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas.

Leave A Reply