Satoe Indonesia Budidayakan Lele di Desa Warjabakti

0

GANECAPOS.COM — Secara umum, salah satu peran perguruan tinggi yang diutarakan oleh Muhammad Hatta adalah membentuk manusia susila yang memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat. Berangkat dari peran tersebut, Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) hadir dengan  sebuah organisasi nirlaba yang berupaya untuk mengimplementasikan peran yang diungkapkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pertama tersebut. Organisasi yang dimaksud bernama Satoe Indonesia. Badan sosial ini didirikan pada tahun  2006 oleh tiga mahasiswa SBM ITB, yaitu Adityo Wicaksono, Aliya Rajasa, dan Widi Muchlis. Satoe Indonesia berupaya memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan sosial masyarakat sesuai disiplin ilmu manajemen dan kewirausahaan. Selain itu, organisasi ini juga percaya jika proses berkembangnya suatu daerah/wilayah tak lepas dari kemandirian masyarakat itu sendiri. Satoe Indonesia pun muncul dengan menawarkan konsep pengembangan di bidang pendidikan, kesehatan, kepemimpinan, organisasi, dan kesejahteraan masyarakat.

Salah satu kontribusi Satoe Indonesia yang terbaru adalah mengembangbiakkan ternak lele di Desa Warjabakti, Jawa Barat, bekerjasama  dengan  prganisasi GEBRAK Indonesia ITB. Langkah ini diambil dengan melihat potensi dan keinginan yang oleh warga desa itu sendiri, dimana pada awalnya warga ingin melakukan bisnis tersebut namun tidak mengerti cara kerja bisnis seperti apa yang dapat mereka lakukan. Satoe Indonesia kemudian memberikan sentuhan inovasi kepada warga untuk memproduksi abon lele. Inovasi ini ditentukan dengan melihat fakta bahwa abon merupakan produk yang tahan lama dan dapat menggunakan bagian-bagian dari lele yang terkadang tidak diminati oleh masyarakat, seperti bagian kepala.

Satoe Indonesia mengajar lima warga Desa  Warjabakti untuk mengembangbiakkan lele terlebih dahulu. Modal yang diberikan berasal dari hasil kerjasama dengan GEBRAK Indonesia ITB, namun keuntungan yang akan didapatkan akan diberikan dengan porsi 50% untuk warga, 30% untuk Satoe Indonesia, dan 20% untuk investasi dalam pengembangan bisnis lele kedepannya.

Tahapan yang dilakukan dalam proses pembuatan abon lele ini pun terbilang cukup mudah. Lele direbus selama kurang lebih 1,5  jam di dalam api bersuhu sedang, kemudian duri-duri lele dikeluarkan satu persatu dari lele rebus tersebut yang kemudian pada dagingnya akan ditumbuk dan diberikan bumbu rahasia. Hasil racikan tersebut lalu digoreng dan dikeringkan dengan mesin spinner. Abon lele yang telah kering kemudian siap untuk dimasukkan ke dalam kemasan.
Tidak hanya cara pembuatan saja, warga Desa Warjabakti pun diajarkan cara melakukan pemasaran dengan baik dan benar sehingga barang yang telah mereka produksi dapat disalurkan dan diperjualbelikan. Kedepannya, Satoe Indonesia berharap bahwa Desa Warjabakti dapat menjadi market leader dalam industri lele se-Jawa Barat.

“Never Ending Contribution”
–  Satoe Indonesia (www.satoeindonesia.org | satoeindonesia@sbm.itb.ac.id)

Editor : M. Bayu Pratama (GD’14)

Share.

Leave A Reply