Mencermati Fakta: Di Balik Isu Negatif terkait Industri Kelapa Sawit di Indonesia

0
Judul Buku    : Mitos dan Fakta Industri Minyak Kelapa Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi,
                dan Lingkungan Global
Penulis       : PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute)
Penerbit      : PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute)
Tahun Terbit  : 2016
Tebal Buku    : 154 halaman

GANECAPOS.COM — Pada Sabtu, 27 Februari 2016 di Nation Building Corner, Perpustakaan Pusat ITB, Himpunan Mahasiswa Biologi (Himabio) “Nymphea” ITB mengadakan acara bedah buku mengenai permasalahan kelapa sawit di Indonesia bekerja sama dengan PASPI. Dalam acara ini disampaikan mengenai garis besar isi buku tersebut beserta hasil kajian sementara Himabio Nymphea tentang permasalahan kelapa sawit.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu-isu kontroversial mengenai industri kelapa sawit di Indonesia makin ramai diperdebatkan. Bukan hanya orang-orang yang terlibat langsung di dalamnya, melainkan juga orang-orang awam yang terutama aktif mengikuti perkembangan terkini lewat media sosial. Perdebatan tersebut telah melebar pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan; terutama yang berkaitan dengan perhatian masyarakat global. Bahkan, pernah ada sebuah gerakan labelisasi “palm oil free” pada jaringan pangan multinasional.

Namun, tak sedikit dari isu yang dilontarkan hanyalah bagian dari kampanye negatif pihak-pihak yang merasa tidak senang dengan keberhasilan industri kelapa sawit di Indoensia. Bertolak dari alasan tersebut, PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute), bekerja sama dengan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), berinisiatif membuat sebuah buku berjudul Mitos dan Fakta Industri Kelapa Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global yang menjabarkan kebenaran-kebenaran di balik berbagai kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit yang terjadi di Indonesia.

Buku ini terdiri dari delapan bab, dengan bab pertama membahas sejarah masuknya kelapa sawit ke Indonesia dan perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia, dan sisanya membahas berbagai mitos seputar industri kelapa sawit diikuti dengan penjabaran fakta-fakta dari masing-masing mitos tersebut. Masing-masing dari tujuh bab yang membahas tentang mitos dan fakta tersebut memiliki subtopik bahasan yang berbeda. Ketujuh subtopik dari Bab 2 hingga Bab 8 yakni: minyak sawit dalam persaingan minyak nabati global; industri minyak sawit dalam perekonomian Indonesia; perkebunan kelapa sawit dalam isu sosial dan pembangunan pedesaan; perkebunan kelapa sawit dan pengurangan kemiskinan; Indonesia dalam isu lingkungan global; perkebunan kelapa sawit dan isu lingkungan; dan tata kelola perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.

Untuk sebuah buku dengan tujuan nonkomersial, buku ini dibuat dengan sangat baik dan tidak terkesan asal-asalan. Pembahasan poin-poin permasalahan dibuat secara sistematis: pada setiap poin yang dibahas disertakan latar belakang singkat terkait poin tersebut, dilanjutkan dengan panjabaran fakta yang didukung data dari sumber-sumber yang jelas, dan ditutup dengan kesimpulan. Selain itu, data-data yang dicantumkan disajikan dalam bentuk grafik, diagram, ataupun tabel dengan rapi dan jelas sehingga mudah dipahami.

Namun demikian, masih banyak hal yang perlu diperbaiki. Salah satunya mengenai tata tulisan. Hal yang paling mengganggu terkait tata tulisan pada buku ini adalah kemunculan singkatan-singkatan secara tiba-tba tanpa disertai keterangan sehingga akan membingungkan orang awam. Ambil contoh penggunaan singkatan CPO (Crude Palm Oil). Mungkin saja penggunaan kata-kata crude palm oil bukan hal yang asing bagi kalangan perindustrian, tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang awam yang lebih familiar dengan label minyak kelapa sawit. Kesalahan-kesalahan semacam ini kerap terjadi, contohnya CSR, PIR, dan lain-lain. Kemunculan sebuah singkatan seharusnya disertai keterangan dari singkatan tersebut; terlebih apabila singkatan tersebut diambil dari kata-kata dalam bahasa asing.

Berikutnya adalah mengenai data-data yang disertakan untuk mendukung argumen-argumen yang disajikan dalam buku ini. Meskipun sumber dari masing-masing data tersebut jelas dan resmi, ada beberapa hal yang wajib diperhatikan dan dicermati; salah satunya penyajian data yang kurang mencukupi. Contoh terkait ada pada poin Mitos 4-02: Manfaat yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit hanya dinikmati oleh mereka yang terlibat langsung dalam perkebunan kelapa sawit (eksklusifme), yakni pemilik kebun dan tenaga kerja/karyawan. Pada salah satu paragraf dalam pembahasan poin tersebut, dinyatakan bahwa peningkatan produksi minyak kelapa sawit memberi manfaat ekonomi pada perkebunan kelapa sawit sekitar 60 persen dan pada sektor di luar perkebunan kelapa sawit sekitar 40 persen. Pernyataan ini tidak didukung bukti yang menguatkan selain dari hasil penelitian Amzul (2011) yang mendata sektor-sektor tersebut. Tidak ada data mengenai bagaimana hubungan dan apa kaitan antara peningkatan produksi minyak kelapa sawit dengan kemajuan masing-masing sektor yang disebutkan sehingga argumen yang diberikan kurang meyakinkan.

Secara keseluruhan, konten buku ini sangat memadai untuk menjawab isu-isu simpang siur yang beredar di masyakarat terkait industri kelapa sawit di Indonesia. Namun demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dikritisi terkait bukti-bukti yang disajikan di dalam buku ini agar kemudian dapat digunakan sebagai referensi untuk membangun perndustria Indonesia, khususnya kelapa sawit, yang lebih baik. Lagi pula, memang benar bahwa industri kelapa sawit di Indonesia dalam skala besar juga menimbulkan permasalahan, terutama terkait lingkungan. Di sinilah peran para akademisi Indonesia: para peneliti, dosen, termasuk juga mahasiswa.

Sudah siapkah kita untuk membangun?

Kontributor : Melati Puspadewi

Share.

Leave A Reply