Kolaborasi Nyata Berbuah Prestasi

0

GANECAPOS.COM — Bulan Februari lalu, tepatnya pada tanggal 6-7 Februari 2016 diselenggarakan Grand Final Engineering Physics Week (EPW) di Surabaya, Jawa Timur. EPW merupakan sebuah ajang kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Tehnik Fisika ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) sejak tahun 2009. Ajang tersebut terbagi menjadi empat event yaitu Engineering Physics Challenge (EPC), Indonesian Line Tracer Competition (ILTC), Smart Inovation of Writing (SNOW) and National Optics Seminar (NOS).

Institut Teknologi Bandung (ITB) turut berpartisipasi dengan mengikutsertakan mahasiswanya ke cabang kompetisi SNOW 7th. SNOW merupakan lomba karya tulis Ilmiah yang diperuntukkan untuk mahasiswa aktif jenjang sarjana dan diploma serta siswa SMA dan sederajat, dengan membawa tema “Smart and Green Builiding for Population Growth Solution”. Untuk kategori mahasiswa sendiri, tantangannya tidak hanya merencanakan sebuah bangunan yang Green tetapi juga bersifat Smart. Dalam kompetisi ini, ITB berhasil meloloskan dua tim, dengan salah satunya diketuai oleh Akhmad Ridlo Iqbal Mukaffi (FT’12) bersama kedua anggotanya, Wanda Yusuf Alvian (MT’12) dan Bintang Alfian Nur Rachmad (GL’12), berhasil meraih peringkat kedua dalam kompetisi tersebut.

Pada awalnya, mereka yang kebetulan mereka berasal dari daerah yang sama ini mengikuti kompetisi karena ajakan Wanda yang sebenarnya berniat untuk mengisi waktu luangnya. Meski sudah tingkat empat sewaktu memutuskan untuk mengikuti kompetisi ini di semester lalu, ketiganya mengaku belum disibukkan dengan tugas akhir. Menurut penuturan Bintang, EPW merupakan ajang kedua terbesar di ITS dilihat dari jumlah pesertanya yang mencapai kisaran 6000 peserta. Untuk SNOW sendiri, di kategori mahasiswa terdapat sekitar 500 peserta dengan 150 peserta yang berhasil lolos abstrak, 10 tim terbaik yang lolos final, hingga dipilih tiga terbaik sebagai pemenang. Penilaiannya ditekankan pada enam aspek yaitu daya tampung dan luas lahan yang digunakan, desain bagunan, pengelolahan limbah dan air, integrasi sumber energi, inovasi dan aplikasinya, dan smart system yang dikonsepkan dalam bangunan.

Konsep Smart Building

Pada kompetisi ini, tim Ridlo mengonsep sebuah bangunan dengan tema Advanced Octagonal Residence (AOR), sebuah konsep bangunan hunian berbentuk segi delapan dengan dua puluh lantai. Tujuan dari konsep tersebut adalah memaksimalkan lahan yang ada. Dibuat dengan delapan segi dengan masing-masing segi mewakili delapan penjuru mata angin, setiap sudut bangunan diharapkan dapat memberikan view yang berbeda-beda. Dari total 20 lantai, 17 lantai merupakan hunian dan sisanya berupa lobi dan taman. Kontur tanah sebenarnya memungkinan membangun lebih dari 20 lantai, namun menurut mereka hunian adalah sebuah tempat beristirahat bukan sebuah penjara. Menurut Bintang, 20 lantai adalah ketinggian ideal dari sebuah hunian yang dirancang untuk “memanusiakan manusia”

Smart building yang diperlombakan dalam kompetisi ini sebenarnya adalah sebuah sistem otomatisasi, sehingga AOR sendiri memberikan konsep tersebut melalui sistem otomatis penghemat energi di setiap ruangan. Kelalaian manusia memang tidak bisa dihindarkan dengan sistem ini, namun dapat diminimalisir. AOR dikonsep agar sistem dapat mematikan energi yang sudah tidak digunakan secara otomatis jika terdeteksi sudah tidak ada aktivitas di sebuah ruangan.

Pengalaman nyata dari kolaborasi

Disamping konsep yang diperlombakan, hal unik yang dimiliki oleh tim ini berada pada komposisi anggotanya, dengan anggota yang berbeda jurusannya. Dalam menyusun konsep bangunan ini, setiap anggota memiliki perannya masing-masing. Sebagai contoh, Ridlo berfokus pada struktur bangunan, sementara Wanda pada pemilihan material bahan bangunan dan Bintang pada desain bangunan dan kontur tanah. Dalam prosesnya, mereka mendapat bantuan dari dosen pembimbing tugas akhir Ridlo, yakni Ir. FX. Nugroho Soelami, MBEnv., Ph.D dari Teknik Fisika dengan keahlian ilmu di bidang fisika bangunan serta konservasi energi dalam bangunan. Disamping itu, mereka juga mendapat dukungan dari rekan-rekan di Teknik Sipil dan Arsitektur, terutama dalam membuat maket yang dipelajari secara otodidak. Disamping itu, banyak pengalaman unik yang mereka dapatkan selama keberlangsungan perlombaan, mulai dari Wanda yang tidak bisa hadir di final karena kerja praktek, maket yang terkena tumpahan susu dalam perjalanan dengan menggunakan kereta, hingga presentasi dan maket yang dikumpulkan menjelang tenggat yang diberikan panitia. Pengalaman seperti itu menjadi cerita yang tidak akan dilupakan di akhir semester mereka berkuliah.

Bagi Bintang, mengikuti sebuah kompetisi seperti ini merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa. “Mengikuti sebuah lomba tidak harus terpaku dengan basic jurusan tetapi bergantung pada passion dan bagaimana kita dapat enjoy tapi tetap totalitas”, ujar Bintang. Menurutnya, minat mahasiwa ITB dalam mengikuti lomba-lomba untuk tingkat nasional terbilang masih kurang jika dibandingkan dengan perguruan tinggi lainnya. Banyak mahasiswa yang lebih tertarik dengan ajang internasional, padahal ajang kompetisi tingkat nasional terkadang justru lebih sulit dimenangkan. Padahal, kita dapat melihat ide-ide anak bangsa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang mungkin saja lebih inovatif dari yang dibayangkan kita selama ini.

Keinginan seseorang untuk berkarya dan menambah pengalaman dengan mengikuti lomba-lomba yang membutuhkan ide seperti EPW ataupun PKM memang tidak bisa dipaksakan, karena minat mahasiswa yang berbeda-beda. Namun, berkuliah di ITB adalah suatu hal yang patut disyukuri dan dimanfaatkan, karena dapat menambah relasi dengan berbagai kalangan, seperti akademisi yang ahli di bidangnya hingga rekan-rekan mahasiswa yang beragam dari setiap program studi. Sadar ataupun tidak, hal ini dapat bermanfaat bagi masa depan. Jadikan kesempatan tersebut sebagai motivasi untuk unjuk prestasi, baik di tingkat institut, lokal, nasional, maupun internasional.

Kontributor: Afif Hamzens, Mentari Kasih, dan Adelina Kristin S.

Share.

Leave A Reply